Berapa banyak utang yang sebaiknya dipakai perusahaan? Trade-off theory menjawabnya dengan menyeimbangkan dua kekuatan: penghematan pajak dari bunga utang (tax shield) di satu sisi, dan biaya kebangkrutan atau financial distress di sisi lain. Model ini jadi kerangka standar untuk memahami kenapa struktur modal punya titik optimal, bukan sekadar “makin banyak utang makin murah”.
Cara Pakai
Geser rasio utang (D/V) untuk melihat nilai perusahaan bergerak sepanjang kurva trade-off, dibandingkan dengan garis MM tanpa pajak (datar) dan MM dengan pajak (naik terus). Sesuaikan slider risiko bisnis untuk melihat titik optimal (D/V*) bergeser — makin berisiko bisnisnya, makin kecil kapasitas utang amannya. Tombol ⌖ Optimum langsung melompat ke titik puncak kurva.
Rumus Kunci
$$V_L(x) = V_U \times \left(1 + T_C x - A_0 \, k \, x^4\right)$$$$x^{*} = \left(\frac{T_C}{4 A_0 k}\right)^{1/3}$$di mana $V_U$ = nilai perusahaan tanpa utang, $x = D/V$ = rasio utang, $T_C$ = tarif pajak efektif (PPh Badan 22%), $A_0$ = konstanta severitas dasar biaya kebangkrutan, dan $k$ = pengali risiko bisnis. Suku $T_C x$ merepresentasikan tax shield (naik linear); suku $A_0 k x^4$ merepresentasikan PV biaya distress (naik konveks, mendominasi pada rasio utang tinggi).
Contoh Angka
PT Nusantara Pangan Tbk (ilustrasi): $V_U$ = Rp 500 miliar, $T_C$ = 22%, $A_0$ = 0,859375, risiko bisnis baseline $k$ = 1,0×.
Titik optimal: $x^{*} = (0,22 / (4 \times 0,859375 \times 1))^{1/3} = (0,064)^{1/3} = 0,40$, yaitu D/V* = 40%.
Pada D/V = 40%: $V_L = 500 \times (1 + 0,22 \times 0,4 - 0,859375 \times 1 \times 0,4^4) = 500 \times (1 + 0,088 - 0,022) = 500 \times 1,066 = $ Rp 533 miliar — nilai maksimum di titik optimal.
Kalau utang didorong lebih jauh ke D/V = 60%: $V_L = 500 \times (1 + 0,132 - 0,111) = 500 \times 1,021 = $ Rp 510,3 miliar — nilai justru turun karena biaya kebangkrutan mulai mendominasi tax shield tambahan.