Pabrik dengan tiga produk dan satu stasiun kendala (mesin atau proses yang kapasitasnya paling terbatas) tidak bisa memproduksi semua permintaan sekaligus. Pertanyaannya: produk mana didahulukan? Naluri umum memilih produk dengan margin per unit terbesar — dan justru di situ keputusan bisa salah besar. Theory of Constraints (TOC) menyediakan kerangka yang benar: karena yang langka adalah menit di stasiun kendala, produk harus dinilai dari throughput per menit kendala, bukan per unit.

Kalkulator ini menghitung ranking TOC lengkap dengan alokasi mix: mengisi permintaan produk prioritas tertinggi sampai habis menit kendala, lanjut ke peringkat berikutnya, lalu merangkum total throughput dan laba maksimum setelah biaya tetap. Tabel input mendukung 2–4 produk dengan data harga, bahan baku, menit kendala, dan permintaan maksimum.

Cara Pakai

Lengkapi tabel Data produk: Nama Produk, Harga Jual, Biaya Bahan Baku, Menit Kendala/unit, dan Permintaan Maks (opsional — kosongkan bila permintaan tak terbatas), lalu isi Kapasitas stasiun kendala tersedia (menit) dan Biaya operasi tetap bila diperlukan. Tabel hasil menampilkan ranking Throughput/menit kendala, unit dialokasikan, menit terpakai, dan kontribusi tiap produk; diagram membandingkan throughput per unit vs per menit supaya jebakan ranking per unit terlihat langsung.

Rumus Kunci

$$T_u = \text{Harga jual} - \text{Biaya bahan baku}$$$$\text{Prioritas} = \frac{T_u}{\text{menit kendala per unit}} \quad (\text{Rupiah per menit kendala})$$$$\text{Laba maksimum} = \sum T_u \times \text{unit dialokasikan} - \text{biaya tetap}$$

Contoh Angka

Data default dengan kapasitas kendala 2.400 menit:

ProdukThroughput/unitMenit/unitThroughput per menit
EkonomisRp40.0001Rp40.000 (1)
StandarRp70.0002Rp35.000 (2)
PremiumRp300.00015Rp20.000 (3)
  • Alokasi: Ekonomis 800 unit (800 menit) → Standar 400 unit (800 menit) → sisa 800 menit untuk Premium 53 unit
  • Total throughput ≈ 800×40rb + 400×70rb + 53×300rb ≈ Rp75,9 juta
  • Produk Premium yang marginnya paling tebal justru peringkat terakhir — kalau diprioritaskan, 2.400 menit hanya menghasilkan 160 unit dan throughput Rp48 juta: kehilangan Rp27,9 juta hanya karena salah urutan prioritas