Departemen pendukung (seperti Kantin atau Bengkel Pemeliharaan) tidak menjual apa pun — tapi biayanya tetap harus “menumpang” ke produk lewat departemen produksi supaya harga pokok produk lengkap. Masalahnya, departemen pendukung sering saling melayani satu sama lain juga, dan tiga metode alokasi ini berbeda dalam cara menangani layanan silang tersebut.
Cara Pakai
Kasus PT Meubel Nusantara: dua departemen pendukung — Kantin (biaya awal Rp 900 juta) dan Bengkel Pemeliharaan (Rp 600 juta) — melayani dua departemen produksi, Produksi Rangka dan Produksi Finishing, sekaligus saling melayani satu sama lain. Pilih salah satu dari tiga tombol metode dan amati diagram alir panah beranimasi: warna panah dan angka menunjukkan besar alokasi, sementara kotak departemen produksi menampilkan total yang “diterima” pada tiap metode.
Rumus Kunci
Metode Langsung — layanan antar-departemen pendukung diabaikan sepenuhnya; alokasi hanya berdasar proporsi pemakaian oleh departemen produksi:
$$\text{Alokasi ke Produksi}_j = \text{Biaya Dept. Pendukung}_i \times \frac{\text{\% Pemakaian oleh Produksi}_j}{\sum \text{\% Pemakaian oleh Semua Dept. Produksi}}$$Metode Bertahap (step-down) — departemen pendukung dialokasikan berurutan, satu arah (yang sudah dialokasikan tidak menerima balik):
$$\text{Dept. Pendukung}_1 \to \text{Dept. Pendukung}_2 \text{ (+ Produksi)} \to \text{Dept. Pendukung}_2 \to \text{Produksi (saja)}$$Metode Timbal-balik (reciprocal) — layanan dua arah dihitung serentak via sistem persamaan simultan:
$$S_1 = C_1 + \alpha_{21} \cdot S_2 \qquad S_2 = C_2 + \alpha_{12} \cdot S_1$$di mana $C_i$ = biaya awal departemen pendukung $i$, $\alpha_{ij}$ = persentase layanan dept. $i$ yang dipakai oleh dept. $j$, dan $S_i$ = biaya total departemen $i$ setelah memperhitungkan layanan timbal-balik.
Contoh Angka
Data dasar: Kantin (S1) Rp 900 juta dialokasikan dengan proporsi Rangka 50% : Finishing 30% : Bengkel 20%. Bengkel (S2) Rp 600 juta dialokasikan dengan proporsi Rangka 40% : Finishing 40% : Kantin 20%.
Langsung — proporsi antar-pendukung diabaikan, sisa proporsi produksi dinormalkan ulang:
- Kantin ke produksi saja: Rangka 50 : Finishing 30 (total 80) → Rangka = 900 × 50/80 = Rp 562,5 jt, Finishing = 900 × 30/80 = Rp 337,5 jt
- Bengkel ke produksi saja: Rangka 40 : Finishing 40 (total 80) → Rangka = 600 × 40/80 = Rp 300 jt, Finishing = 600 × 40/80 = Rp 300 jt
- Total diterima: Rangka = 562,5 + 300 = Rp 862,5 jt; Finishing = 337,5 + 300 = Rp 637,5 jt
Bertahap (Kantin dialokasikan lebih dulu, termasuk ke Bengkel):
- Kantin 900 jt → Bengkel 20% = Rp 180 jt, Rangka 50% = Rp 450 jt, Finishing 30% = Rp 270 jt
- Bengkel sekarang = 600 + 180 = 780 jt, dialokasikan hanya ke produksi (proporsi 40:40 → 50%:50%) → Rangka = Rp 390 jt, Finishing = Rp 390 jt
- Total diterima: Rangka = 450 + 390 = Rp 840 jt; Finishing = 270 + 390 = Rp 660 jt
Timbal-balik — selesaikan sistem persamaan $S_1 = 900 + 0{,}2 S_2$ dan $S_2 = 600 + 0{,}2 S_1$:
$$S_1 = 900 + 0{,}2(600 + 0{,}2 S_1) = 1.020 + 0{,}04 S_1 \implies S_1 = \frac{1.020}{0{,}96} = \textbf{Rp 1.062,5 jt}$$$$S_2 = 600 + 0{,}2 \times 1.062{,}5 = \textbf{Rp 812,5 jt}$$Lalu dialokasikan ke produksi dengan proporsi aslinya:
- Dari S1 (1.062,5 jt): Rangka 50% = Rp 531,25 jt, Finishing 30% = Rp 318,75 jt
- Dari S2 (812,5 jt): Rangka 40% = Rp 325 jt, Finishing 40% = Rp 325 jt
- Total diterima: Rangka = 531,25 + 325 = Rp 856,25 jt; Finishing = 318,75 + 325 = Rp 643,75 jt
Perhatikan: di ketiga metode, total yang diterima Rangka + Finishing selalu Rp 1.500 juta (= 900 + 600) — hanya pembagiannya yang bergeser, dari (862,5 / 637,5) di metode Langsung, ke (840 / 660) di Bertahap, ke (856,25 / 643,75) di Timbal-balik.