Model keuangan yang bagus tidak hanya memberikan angka base case — ia juga menunjukkan seberapa rapuh angka itu terhadap perubahan asumsi. Analisis sensitivitas adalah cara paling praktis memahami risiko model.
Cara Pakai
Masukkan asumsi base case dan variabel yang ingin diuji. Atur persentase variasi (biasanya ±10%, ±20%, ±30%). Kalkulator menampilkan tabel sensitivitas dan tornado chart yang merangking variabel berdasarkan dampaknya.
Konsep Kunci
One-way sensitivity: ubah satu variabel, ceteris paribus. Cocok untuk memahami driver tunggal.
Two-way sensitivity table: ubah dua variabel bersamaan — menghasilkan matriks nilai. Misalnya: baris = WACC (10%–15%), kolom = pertumbuhan pendapatan (3%–8%) → lihat kombinasi mana yang masih menghasilkan NPV positif.
Skenario: namai kombinasi asumsi (Pessimistic, Base, Optimistic) → bandingkan NPV/IRR antar skenario.
Contoh Angka
Proyek manufaktur, NPV base = Rp 250 miliar. Hasil one-way sensitivity (±20%):
| Variabel | NPV jika −20% | NPV jika +20% | Swing |
|---|---|---|---|
| Harga jual | Rp −85 M | Rp 585 M | Rp 670 M |
| Volume penjualan | Rp 50 M | Rp 450 M | Rp 400 M |
| WACC | Rp 320 M | Rp 190 M | Rp 130 M |
| Biaya capex | Rp 310 M | Rp 190 M | Rp 120 M |
Tornado chart menempatkan harga jual di posisi teratas — risiko paling material. Implikasi: lindungi harga dengan kontrak offtake, hedging, atau pricing power sebelum investasi disetujui.