Memesan ulang stok tepat saat kehabisan itu terlambat — perlu waktu tunggu (lead time) sebelum kiriman baru datang, dan selama itu permintaan tetap berjalan dan tidak selalu sama tiap hari. Reorder point (ROP) menentukan level stok pemicu pemesanan ulang, dan safety stock (SS) adalah buffer ekstra yang menjaga dari fluktuasi permintaan selama masa tunggu itu — dua angka inti dalam manajemen persediaan berbasis service level.

Cara Pakai

Widget ini mensimulasikan warung kelontong dengan lead time pemasok tetap 4 hari dan rata-rata permintaan 12 pak beras/hari. Geser service level (target probabilitas stok tidak habis) dan variabilitas permintaan harian (σ). Widget menghitung safety stock dan reorder point, lalu menggambarkannya di atas kurva distribusi normal permintaan selama lead time — area merah adalah sisa risiko kehabisan stok (1 − service level).

Rumus Kunci

$$\mu_L = \mu_{harian} \times L$$$$\sigma_L = \sigma_{harian} \times \sqrt{L}$$$$SS = z \times \sigma_L = z \times \sigma_{harian} \times \sqrt{L}$$$$ROP = \mu_L + SS$$

di mana $\mu_{harian}$ = rata-rata permintaan harian, $L$ = lead time (hari), $\sigma_{harian}$ = simpangan baku permintaan harian, dan $z$ = nilai z dari inverse CDF normal standar pada probabilitas service level.

Contoh Angka

Ambil nilai default widget — warung “Bu Sri”: μ harian = 12 pak, L = 4 hari, service level 95%, σ harian = 3,0 pak.

  • μL = 12 × 4 = 48 pak (rata-rata permintaan selama lead time)
  • σL = 3,0 × √4 = 6,0 pak
  • z (untuk service level 95%) ≈ 1,64
  • SS = 1,64 × 6,0 ≈ 9,9 pak
  • ROP = 48 + 9,9 ≈ 57,9 pak

Artinya, Bu Sri harus memesan ulang beras begitu stok tersisa sekitar 58 pak, agar peluang kehabisan stok sebelum kiriman berikutnya datang hanya sekitar 5%.