Aset tetap seperti mesin atau kendaraan dipakai bertahun-tahun, jadi biayanya tidak diakui sekaligus saat dibeli — melainkan dialokasikan secara bertahap ke tiap periode pemakaian lewat penyusutan (depresiasi). Metode garis lurus adalah cara paling sederhana dan paling umum dipakai UMKM maupun perusahaan besar untuk melakukan alokasi ini.
Cara Pakai
Widget ini mensimulasikan penyusutan mesin jahit konveksi UMKM “Rajut Ceria” dari tiga input: harga perolehan, nilai residu, dan umur manfaat. Grafik menampilkan nilai buku aset yang turun bertahap (tangga) setiap tahun menuju garis putus-putus nilai residu, dan tabel di bawahnya merinci beban penyusutan, akumulasi penyusutan, serta nilai buku untuk setiap tahun sampai umur manfaat berakhir.
Rumus Kunci
$$\text{Beban Penyusutan per Tahun} = \frac{\text{Harga Perolehan} - \text{Nilai Residu}}{\text{Umur Manfaat}}$$$$\text{Nilai Buku}_t = \text{Harga Perolehan} - (\text{Beban Penyusutan per Tahun} \times t)$$Contoh Angka
Ambil nilai default widget — mesin jahit konveksi “Rajut Ceria”: harga perolehan Rp 60.000.000, nilai residu Rp 10.000.000, umur manfaat 5 tahun.
- Beban penyusutan per tahun: $(60.000.000 - 10.000.000) \div 5 = $ Rp 10.000.000/tahun
| Tahun | Beban penyusutan | Akumulasi penyusutan | Nilai buku |
|---|---|---|---|
| 0 | — | — | Rp 60.000.000 |
| 1 | Rp 10.000.000 | Rp 10.000.000 | Rp 50.000.000 |
| 2 | Rp 10.000.000 | Rp 20.000.000 | Rp 40.000.000 |
| 3 | Rp 10.000.000 | Rp 30.000.000 | Rp 30.000.000 |
| 4 | Rp 10.000.000 | Rp 40.000.000 | Rp 20.000.000 |
| 5 | Rp 10.000.000 | Rp 50.000.000 | Rp 10.000.000 |
Di tahun ke-5, akumulasi penyusutan mencapai Rp 50.000.000 dan nilai buku tepat menyentuh nilai residu Rp 10.000.000 — setelah itu beban penyusutan berhenti diakui, karena metode garis lurus mengalokasikan biaya perolehan aset ke periode pemakaiannya, bukan mencatat penurunan harga jual pasar aset yang sesungguhnya.