Lini produksi keripik singkong sebuah UMKM dijadwalkan beroperasi 8 jam sehari — tetapi berapa jam mesin benar-benar menghasilkan produk baik pada kecepatan penuh? Pertanyaan itu dijawab OEE (Overall Equipment Effectiveness), metrik inti Total Productive Maintenance (TPM) yang memadatkan tiga jenis pemborosan mesin — waktu berhenti, kecepatan merosot, dan produk cacat — menjadi satu angka antara 0–100%.
Yang membuat OEE jujur adalah cara menggabungkannya: tiga rasio dikalikan, bukan dirata-rata. Tiga angka yang masing-masing terdengar lumayan (82%, 75%, 96%) ternyata hanya menghasilkan OEE 59% — memperlihatkan bahwa kerugian kecil di banyak titik berkompound menjadi kebocoran besar.
Cara Pakai
Geser tiga slider — Availability (waktu operasi vs terjadwal), Performance (kecepatan aktual vs ideal), dan Quality (unit baik vs total unit). Formula di panel hasil menampilkan perkaliannya secara eksplisit, badge menunjukkan tingkat OEE, dan diagram batang memosisikan hasil terhadap dua garis ambang: 60% rata-rata industri dan 85% world-class. Uji juga sensitivitas: naikkan salah satu rasio ke 100% dan lihat betapa terbatas pengaruhnya bila rasio lain masih rendah.
Rumus Kunci
$$OEE = \text{Availability} \times \text{Performance} \times \text{Quality}$$$$\text{Availability} = \frac{\text{waktu operasi}}{\text{waktu terjadwal}}, \quad \text{Performance} = \frac{\text{output aktual}}{\text{output ideal}}, \quad \text{Quality} = \frac{\text{unit baik}}{\text{total unit}}$$Contoh Angka
Nilai default studi kasus: A = 82%, P = 75%, Q = 96%.
- OEE = 0,82 × 0,75 × 0,96 = 59,0% — Perlu perbaikan besar (di bawah 60%)
- Bagaimana bila performance diperbaiki menjadi 95%? OEE = 0,82 × 0,95 × 0,96 = 74,8% — naik ke level rata-rata industri
- Performance adalah penghambat terbesar (75%), jadi perbaikan harus diarahkan ke sana dulu — bukan mengejar quality yang sudah 96%
Urutan prioritas seperti contoh kedua itulah kegunaan praktis OEE: satu angka untuk menilai, tiga komponen untuk memutuskan di mana memulai perbaikan.