Perusahaan dengan kekuatan monopoli tidak bisa begitu saja menjual sebanyak-banyaknya di harga setinggi-tingginya — mereka harus memilih titik pada kurva permintaan yang memaksimalkan laba, dan pilihan itu selalu menyisakan kerugian efisiensi bagi masyarakat. Widget ini menunjukkan kenapa posisi MR di bawah D adalah kunci penjelasan itu, sekaligus mengukur besarnya kerugian tersebut.
Cara Pakai
Widget mensimulasikan BBCA sebagai penyedia layanan tanpa pesaing kuat di suatu wilayah. Geser Kelandaian permintaan untuk mengubah elastisitas (semakin curam, semakin inelastis) dan Biaya marjinal (MC) untuk mengubah biaya produksi. Grafik menampilkan kurva D, MR, dan garis MC horizontal, dengan segitiga terarsir yang menunjukkan area kerugian bobot mati (DWL). Klik tombol perbandingan untuk melihat titik output & harga yang akan terjadi seandainya pasar ini bersaing sempurna (P = MC). Kartu bawah menampilkan Harga Monopoli, Output Monopoli (Q*), dan nilai DWL.
Rumus Kunci
Permintaan linear: $P = A - BQ$, dengan MR (turunan dari TR = PQ):
$$MR = A - 2BQ$$Output monopoli didapat dari syarat MR = MC:
$$Q_m = \frac{A - MC}{2B}$$Harga monopoli dibaca dari kurva D pada $Q_m$:
$$P_m = A - B \times Q_m$$Output persaingan sempurna (P = MC): $Q_c = \dfrac{A - MC}{B}$. Kerugian bobot mati:
$$DWL = \frac{1}{2} \times (Q_c - Q_m) \times (P_m - MC)$$Contoh Angka
Dengan titik acuan permintaan Q₀=10 ribu unit @ P₀=Rp 55 ribu, kemiringan B = 6 (sedang), dan MC = Rp 30 ribu:
- Intersep efektif: A = 55 + 6 × 10 = 115
- Qm = (115 − 30) / (2 × 6) = 85/12 = 7,1 ribu unit
- Pm = 115 − 6 × 7,1 = Rp 72,5 ribu/unit
- Qc = (115 − 30) / 6 = 14,2 ribu unit (andai P = MC)
- DWL = 0,5 × (14,2 − 7,1) × (72,5 − 30) = 0,5 × 7,1 × 42,5 = 150,9 (nilai relatif)
Monopolis menjual lebih sedikit (7,1 ribu unit) di harga lebih tinggi (Rp 72,5 ribu) dibanding skenario persaingan sempurna (14,2 ribu unit @ Rp 30 ribu) — selisih itu menghasilkan kerugian bobot mati senilai sekitar 150,9, transaksi yang sebetulnya saling menguntungkan tapi batal terjadi.