Ketika laba perusahaan naik tajam, investor sering berharap dividen naik proporsional — padahal dalam praktik, dividen per saham (DPS) hampir selalu bergerak lebih lambat dari laba. Model Lintner menjelaskan kenapa: manajemen sengaja meratakan (smoothing) dividen secara bertahap menuju target payout ratio, bukan mengikuti laba secara mekanis tahun demi tahun.

Cara Pakai

Dua slider mengendalikan simulasi: Target payout ratio (persentase EPS yang ingin dibagikan dalam jangka panjang) dan SOA/speed of adjustment (seberapa cepat DPS bergerak menuju target itu tahun ini). Panel “Perhitungan bertahap” menampilkan empat langkah berurutan — Target DPS, selisih terhadap DPS tahun lalu, perubahan DPS (ΔDPS), dan DPS tahun ini — sementara grafik memplot lintasan dari DPS tahun lalu ke DPS tahun ini, dengan Target DPS sebagai titik referensi yang tidak sepenuhnya tercapai.

Rumus Kunci

$$Target\ DPS_t = EPS_t \times Payout_{target}$$$$\Delta DPS = SOA \times (Target\ DPS_t - DPS_{t-1})$$$$DPS_t = DPS_{t-1} + \Delta DPS$$

di mana $SOA \in [0,1]$ adalah speed-of-adjustment — semakin mendekati 1, semakin cepat DPS mengejar target.

Contoh Angka

PT Kopi Nusantara Tbk: EPS tahun ini Rp 500/lembar, DPS tahun lalu Rp 150/lembar, target payout ratio 40%, SOA 0,40.

  1. Target DPS = Rp 500 × 40% = Rp 200
  2. Selisih = Rp 200 − Rp 150 = Rp 50
  3. ΔDPS = 0,40 × Rp 50 = Rp 20
  4. DPS tahun ini = Rp 150 + Rp 20 = Rp 170

Dengan SOA 0,40, manajemen hanya menutup 40% dari selisih menuju target — DPS naik dari Rp 150 ke Rp 170, masih menyisakan gap Rp 30 menuju Target DPS Rp 200. Kalau SOA digeser ke 1,0, DPS tahun ini akan langsung menjadi Rp 200 penuh; kalau SOA 0, DPS tetap Rp 150 seperti tahun lalu.