Banyak pos biaya di dunia nyata bukan murni tetap atau murni variabel, melainkan biaya campuran (semivariabel) — ada komponen yang tetap dibayar berapa pun aktivitasnya, ditambah komponen yang naik-turun mengikuti volume. Metode High-Low memisahkan keduanya hanya dari dua titik data: aktivitas tertinggi dan terendah.

Cara Pakai

Widget menampilkan delapan bulan data biaya operasional vs unit terjual. Pilih titik aktivitas tertinggi dan terendah dari dropdown — secara baku keduanya adalah bulan dengan unit terjual paling banyak dan paling sedikit. Garis merah pada grafik adalah estimasi High-Low yang terbentuk dari dua titik itu; garis putus-putus dari titik lain ke garis tersebut menunjukkan residual yang diabaikan metode ini.

Rumus Kunci

$$b = \frac{Biaya_{tinggi}-Biaya_{rendah}}{Aktivitas_{tinggi}-Aktivitas_{rendah}}$$$$a = Biaya_{tinggi} - b \times Aktivitas_{tinggi}$$

di mana $b$ = biaya variabel per unit aktivitas, dan $a$ = estimasi biaya tetap per periode.

Contoh Angka

Data Warung Bakso “Pak Slamet” — titik tertinggi Bulan 8 (420 mangkuk, Rp3.500 rb) dan titik terendah Bulan 1 (100 mangkuk, Rp1.350 rb):

  • $b = \dfrac{Rp3.500\text{ rb} - Rp1.350\text{ rb}}{420 - 100 \text{ mangkuk}} = \dfrac{Rp2.150\text{ rb}}{320\text{ mangkuk}} = $ Rp6,72 rb/mangkuk
  • $a = Rp3.500\text{ rb} - (6{,}71875 \times 420) = Rp3.500\text{ rb} - Rp2.821{,}875\text{ rb} = $ ≈ Rp677 rb/bulan

Jadi estimasi fungsi biaya: Y = 677 + 6,72·X (ribu Rp). Artinya, biaya tetap operasional warung sekitar Rp677 ribu/bulan berapa pun mangkuk yang terjual, ditambah sekitar Rp6.720 untuk setiap mangkuk tambahan yang terjual. Kalau bulan depan diproyeksikan terjual 500 mangkuk, estimasi biaya operasional = 677 + 6,72 × 500 = Rp4.037 ribu.