Master budget bukan satu anggaran tunggal, melainkan rangkaian sepuluh sub-anggaran yang saling terhubung — angka keluaran satu anggaran menjadi angka masukan anggaran berikutnya. Widget ini memetakan seluruh jalur input-output tersebut secara visual dan interaktif.

Cara Pakai

Klik kotak mana pun pada diagram untuk melihat sub-anggaran mana yang menjadi input (garis hijau, mengalir masuk) dan mana yang menerima output-nya (garis merah, mengalir keluar). Badge angka di pojok tiap kotak menunjukkan urutan wajib penyusunan — anggaran bernomor kecil harus selesai lebih dulu sebelum anggaran bernomor besar bisa disusun.

Rumus Kunci

Master budget adalah skema alur, bukan satu rumus tunggal. Sepuluh sub-anggaran dan hubungan input-nya:

  1. Anggaran Penjualan — titik awal; tidak menerima input dari sub-anggaran mana pun.
  2. Anggaran Produksi ← Penjualan
  3. Anggaran Bahan Baku ← Produksi
  4. Anggaran Tenaga Kerja Langsung ← Produksi
  5. Anggaran Biaya Overhead Pabrik (BOP) ← Produksi
  6. Anggaran Beban Penjualan & Administrasi ← Penjualan
  7. Anggaran Harga Pokok Penjualan (HPP) ← Bahan Baku + Tenaga Kerja + BOP
  8. Anggaran Laba/Rugi ← Penjualan + HPP + Beban Penjualan & Administrasi
  9. Anggaran Kas ← Penjualan + Bahan Baku + Tenaga Kerja + BOP + Beban Penjualan & Administrasi
  10. Anggaran Neraca ← Laba/Rugi + Kas — titik akhir.

Contoh Angka

Ilustrasi Konveksi “Rajut Makmur” (UMKM manufaktur), mengikuti alur di atas:

  • Penjualan: proyeksi 1.000 pcs × Rp50.000/pcs = Rp50.000.000
  • Produksi: butuh 1.000 pcs terjual + 50 pcs persediaan akhir = 1.050 pcs diproduksi
  • Bahan Baku: 1.050 pcs × Rp15.000/pcs = Rp15.750.000
  • Tenaga Kerja: 1.050 pcs × Rp8.000/pcs = Rp8.400.000
  • BOP: 1.050 pcs × Rp5.000/pcs = Rp5.250.000
  • Total biaya produksi = 15.750.000 + 8.400.000 + 5.250.000 = Rp29.400.000 ÷ 1.050 pcs = Rp28.000/pcs
  • HPP (untuk 1.000 pcs terjual): 1.000 × Rp28.000 = Rp28.000.000 (sisa 50 pcs × Rp28.000 = Rp1.400.000 jadi persediaan akhir)
  • Beban Penjualan & Administrasi: Rp6.000.000
  • Laba/Rugi: 50.000.000 − 28.000.000 − 6.000.000 = Rp16.000.000
  • Kas (asumsi seluruh transaksi tunai): penerimaan Rp50.000.000 − pengeluaran (15.750.000+8.400.000+5.250.000+6.000.000=Rp35.400.000) = Rp14.600.000
  • Neraca: laba ditahan bertambah Rp16.000.000 dan kas bertambah Rp14.600.000 — dua angka inilah yang mengunci sisi aset dan ekuitas neraca akhir periode.

Rantai ini menunjukkan kenapa urutan penyusunan tidak bisa dilompati: angka Rp28.000/pcs di HPP baru bisa dihitung setelah tiga anggaran produksi (bahan baku, tenaga kerja, BOP) selesai lebih dulu.