Keputusan menyewa (lease) versus membeli aset dengan utang muncul di hampir semua bisnis yang butuh alat produksi, kendaraan, atau peralatan mahal — mulai dari armada UMKM sampai pesawat maskapai. Kedua opsi punya arus kas berbeda yang butuh dibandingkan dalam nilai kini (present value), bukan sekadar angka nominal per tahun.

Cara Pakai

Masukkan harga beli aset, biaya sewa per tahun, suku bunga pinjaman, tarif PPh Badan, dan nilai sisa aset di akhir horizon (tetap 5 tahun). Kalkulator menghitung PV biaya bersih membeli (harga dikurangi PV tax shield depresiasi dan PV nilai sisa) versus PV biaya bersih menyewa, lalu menampilkan selisihnya sebagai NAL.

Rumus Kunci

$$NAL = PV(\text{Beli}) - PV(\text{Sewa})$$$$PV(\text{Beli}) = P - \sum_{t=1}^{n} \frac{Dep_t \times T_c}{(1+r^*)^t} - \frac{S}{(1+r^*)^n}$$$$PV(\text{Sewa}) = \sum_{t=1}^{n} \frac{L \times (1-T_c)}{(1+r^*)^t}$$

di mana $r^* = Rd \times (1-T_c)$ adalah biaya utang setelah pajak (discount rate), $Dep_t = (P-S)/n$ adalah depresiasi garis-lurus per tahun, $S$ = nilai sisa, dan $L$ = sewa per tahun.

Contoh Angka

Armada motor listrik UMKM ekspedisi: harga aset $P$ = Rp150 juta, sewa $L$ = Rp40 juta/tahun, bunga pinjaman $Rd$ = 9,0%, PPh Badan $T_c$ = 22%, nilai sisa 15% dari harga (Rp22,5 juta), horizon 5 tahun.

  • Discount rate setelah pajak: $r^* = 9{,}0\% \times (1-22\%) = 7{,}02\%$
  • Depresiasi garis-lurus: $(150 - 22{,}5)/5 = Rp25{,}5$ juta/tahun
  • PV sewa neto pajak (5 tahun, Rp40 juta × 78%): Rp127,9 juta
  • PV tax shield depresiasi (Rp25,5 juta × 22% per tahun): Rp23,0 juta
  • PV nilai sisa: Rp22,5 juta didiskon 5 tahun = Rp16,0 juta
  • PV(Beli) = 150 − 23,0 − 16,0 = Rp111,0 juta
  • PV(Sewa) = Rp127,9 juta
  • NAL = 111,0 − 127,9 = −Rp16,9 juta

NAL negatif berarti membeli dengan utang lebih murah sekitar Rp16,9 juta (dalam nilai kini) dibanding menyewa selama 5 tahun.