UMKM keripik singkong Renyah Jaya punya empat tahap produksi berurutan: persiapan bahan, pengolahan, pengemasan, dan pengiriman. Setiap tahap punya kapasitas mesin dan tenaga kerja berbeda — dan di sinilah banyak usaha kecil salah menghitung: mereka menambah alat di tahap yang sudah cepat, padahal output lini terkunci di tahap tersempit. Konsep bottleneck (leher botol) menyatakan bahwa kapasitas seluruh lini sama dengan kapasitas tahap terlemahnya.
Kalkulator ini memvisualkan prinsip MIN dengan diagram batang: tahap terpendek otomatis ditandai merah sebagai bottleneck, garis putus-putus menunjukkan level kapasitas lini yang berlaku bagi seluruh proses, dan caption menghitung total kapasitas menganggur yang terbuang di tahap-tahap lain.
Cara Pakai
Geser keempat slider tahap — 1. Persiapan Bahan, 2. Produksi/Pengolahan, 3. Pengemasan, 4. Pengiriman — dalam satuan bungkus per jam. Perhatikan tiga hal: batang mana yang ditandai ▲ bottleneck, angka Kapasitas lini = MIN(…) di header formula, dan kapasitas menganggur total pada keterangan bawah. Coba juga pola umum di lapangan: naikkan pengolahan dari 50 menjadi 100, dan lihat bottleneck berpindah ke pengemasan (70) — kapasitas lini hanya naik ke 70, bukan 100.
Rumus Kunci
$$\text{Kapasitas lini} = \min(\text{kapasitas tahap}_1, \dots, \text{kapasitas tahap}_n)$$$$\text{Idle capacity} = \sum_{i \ne \text{bottleneck}} (\text{kapasitas}_i - \text{kapasitas}_{bottleneck})$$Contoh Angka
Kapasitas default: persiapan 90, pengolahan 50, pengemasan 70, pengiriman 110 bungkus/jam.
- Kapasitas lini = MIN(90, 50, 70, 110) = 50 bungkus/jam — dibatasi Produksi/Pengolahan
- Kapasitas menganggur = (90−50) + (70−50) + (110−50) = 120 bungkus/jam terbuang
- Selama shift 8 jam, lini maksimum memproduksi 50 × 8 = 400 bungkus, berapa pun cepatnya tahap lain
Untuk perencanaan bisnis, angka 400 bungkus/shift inilah dasar realistis target penjualan dan pengadaan bahan baku — bukan kapasitas tahap tercepat yang menggoda di atas kertas.