Metode periodik adalah cara paling sederhana menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP): tidak perlu mencatat biaya setiap transaksi penjualan satu per satu, cukup hitung sekali di akhir periode dari selisih persediaan awal, pembelian, dan persediaan akhir hasil stock opname fisik.
Cara Pakai
Masukkan Persediaan Awal (stok di gudang saat periode dimulai) dan Pembelian Bersih (barang dagang yang dibeli sepanjang periode) — keduanya membentuk barang tersedia dijual. Lalu masukkan Persediaan Akhir (sisa stok hasil stock opname di akhir periode); selisihnya dengan barang tersedia dijual adalah HPP. Diagram menelusuri alur barang masuk gudang → tersedia dijual → keluar sebagai HPP atau tersisa sebagai persediaan akhir → dibandingkan dengan penjualan untuk mendapat laba kotor.
Rumus Kunci
$$HPP = Persediaan\ Awal + Pembelian - Persediaan\ Akhir$$$$Barang\ Tersedia\ Dijual = Persediaan\ Awal + Pembelian$$$$Laba\ Kotor = Penjualan - HPP$$Contoh Angka
Data default Toko Sembako Bu Sari (Rp juta, sebulan): Persediaan Awal = Rp10jt, Pembelian Bersih = Rp25jt, Persediaan Akhir = Rp8jt, Penjualan = Rp60jt (tetap).
- Barang tersedia dijual = 10 + 25 = Rp35jt
- HPP = 35 − 8 = Rp27jt
- Laba kotor = 60 − 27 = Rp33jt
Sekarang bandingkan kalau di akhir bulan ternyata stok gudang tersisa lebih banyak, misalnya Persediaan Akhir naik jadi Rp15jt (barang tidak laku sebanyak perkiraan):
- Barang tersedia dijual tetap = Rp35jt (tidak berubah, karena awal & pembelian sama)
- HPP = 35 − 15 = Rp20jt (turun Rp7jt)
- Laba kotor = 60 − 20 = Rp40jt (naik Rp7jt)
Laba kotor naik bukan karena toko tiba-tiba lebih untung, melainkan karena lebih banyak barang yang dibeli TIDAK terjual dan masih tersimpan sebagai aset (persediaan) di neraca — belum diakui sebagai beban HPP di laporan laba rugi. Ini sebabnya nilai persediaan akhir yang akurat sangat menentukan kewajaran laba kotor yang dilaporkan.