Dalam perdagangan global, pemenang tender sering bukan produsen termurah, melainkan produsen yang paling pandai menekan total landed cost di sisi importir: nilai barang ditambah ongkos angkut dan bea masuk yang harus dibayar sampai barang siap dipakai. Bagi eksportir Indonesia, senjata utamanya adalah jaringan FTA — ACFTA, AJCEP, AIFTA, hingga RCEP — yang memangkas tarif dari level MFN ke tarif preferensi, kadang hingga nol, selama syarat kandungan lokal (Rules of Origin) terpenuhi.
Kalkulator ini membandingkan dua skema secara berdampingan: semua barang masuk dengan tarif MFN versus memanfaatkan preferensi FTA. Karena margin ekspor manufaktur Indonesia tipis (sekitar 5–10 persen), selisih duty yang tampak kecil sering kali menentukan menang-kalah di pasar tujuan.
Cara Pakai
Klik salah satu tombol skema — ACFTA (China), AJCEP (ASEAN-Japan), AIFTA (India), atau RCEP (regional) — lalu atur FOB value, Freight + asuransi, Kurs USD/IDR, dan bila perlu Tarif MFN / Tarif preferensi FTA secara manual. Slider Duty ad-valorem memilih basis hitung: CIF (umum dipakai, basis = FOB + freight) atau FOB. Baca hasil pada diagram batang bertumpuk dan tabel perhitungan: total landed cost kedua skema serta penghematan dalam USD, persen, dan Rupiah.
Rumus Kunci
$$\text{Basis (CIF)} = \text{FOB} + \text{Freight \& asuransi}$$$$\text{Duty} = \text{Basis} \times \text{tarif}$$$$\text{Total landed cost} = \text{Basis} + \text{Duty}$$$$\text{Hemat FTA} = \text{Landed}_{MFN} - \text{Landed}_{FTA}$$Contoh Angka
Ekspor mesin ringan ke China dengan FOB USD 50.000 dan freight USD 4.000, tarif MFN 12%, preferensi ACFTA 0%, kurs Rp15.800.
- Basis CIF = 50.000 + 4.000 = USD 54.000
- Duty MFN = 54.000 × 12% = USD 6.480 → total landed MFN = USD 60.480
- Duty FTA = 54.000 × 0% = USD 0 → total landed FTA = USD 54.000
- Hemat = USD 6.480 (10,7%) ≈ Rp102 juta sekirim
Terhadap margin ekspor 5–10%, penghematan 10,7% dari landed cost adalah selisih antara memenangkan kontrak dan kalah harga — asalkan dokumen Form E dan kandungan lokal terpenuhi.