Kalau pedagang menaikkan harga, omzet belum tentu ikut naik — bisa juga malah turun kalau pembeli lari ke pesaing atau mengurangi beli. Elastisitas harga permintaan mengukur seberapa peka kuantitas yang diminta terhadap perubahan harga, dan dari situ kita bisa memprediksi apakah kenaikan/penurunan harga menguntungkan atau merugikan total revenue.

Cara Pakai

Widget ini mensimulasikan warung UMKM yang menjual gorengan di sepanjang kurva permintaan linear. Geser Harga awal (P₁) dan Harga baru (P₂) — kuantitas yang diminta pada masing-masing harga dihitung otomatis dari kurva permintaan. Hasilnya tampil di tiga kartu: Ed (midpoint) dengan label ELASTIS/UNITER/INELASTIS, TR sebelum (total revenue pada P₁), dan TR sesudah (total revenue pada P₂). Grafik di bawah menunjukkan kurva permintaan beserta dua kotak luas P×Q yang merepresentasikan total revenue pada masing-masing titik harga.

Rumus Kunci

Elastisitas dihitung dengan metode titik-tengah (midpoint), yang simetris terhadap arah perubahan harga:

$$E_d = \frac{(Q_2 - Q_1) / \left(\frac{Q_1+Q_2}{2}\right)}{(P_2 - P_1) / \left(\frac{P_1+P_2}{2}\right)}$$

Kurva permintaan yang dipakai widget: $Q = 500 - 0{,}02P$. Total revenue pada tiap titik:

$$TR = P \times Q$$

Klasifikasi: $|E_d| > 1$ → elastis, $|E_d| < 1$ → inelastis, $|E_d| \approx 1$ → uniter.

Contoh Angka

Harga naik dari P₁ = Rp 8.000 ke P₂ = Rp 10.000.

  • Q₁ = 500 − 0,02 × 8.000 = 340 porsi/hari; Q₂ = 500 − 0,02 × 10.000 = 300 porsi/hari
  • ΔQ = −40, rata-rata Q = 320; ΔP = 2.000, rata-rata P = 9.000
  • Ed = (−40/320) / (2.000/9.000) = (−0,125) / (0,222) = −0,56INELASTIS
  • TR₁ = 8.000 × 340 = Rp 2.720.000/hari; TR₂ = 10.000 × 300 = Rp 3.000.000/hari

Karena permintaan inelastis, kenaikan harga 25% hanya menurunkan kuantitas 11,8% — total revenue justru naik dari Rp 2,72 juta menjadi Rp 3,00 juta per hari, jadi pedagang untung.