Ekspansi butuh dana besar, dan pertanyaan klasik manajer keuangan adalah: danai dengan utang atau terbitkan saham baru? Jawabannya bergantung pada seberapa besar EBIT (laba operasi) yang diproyeksikan — analisis EBIT-EPS memetakan pada tingkat EBIT berapa masing-masing alternatif pendanaan lebih menguntungkan bagi pemegang saham.

Cara Pakai

Geser EBIT proyeksi untuk membandingkan EPS (laba per saham) jika ekspansi didanai utang versus saham baru. Grafik menampilkan dua garis EPS yang berpotongan di titik indiferen — di bawah titik itu saham baru lebih baik, di atasnya utang lebih baik karena efek leverage keuangan.

Rumus Kunci

$$EPS_{utang} = \frac{(EBIT - I_D)(1-T)}{S_D}, \qquad EPS_{saham} = \frac{EBIT(1-T)}{S_E}$$$$EBIT^{*} = \frac{I_D \times S_E}{S_E - S_D}$$

di mana $I_D$ = beban bunga tambahan akibat utang, $T$ = tarif pajak (PPh Badan), $S_D$ = jumlah saham beredar jika didanai utang (tetap), $S_E$ = jumlah saham beredar jika didanai saham baru, $EBIT^{*}$ = titik indiferen.

Contoh Angka

PT Nusantara Ritel Tbk butuh dana ekspansi Rp 200 miliar. Opsi (a) obligasi bunga 10%/tahun, saham beredar tetap 100 juta lembar. Opsi (b) rights issue Rp 2.000/lembar (menerbitkan 100 juta lembar baru). PPh Badan T = 22%.

  • $I_D$ = 200 × 10% = Rp 20 miliar/tahun
  • Saham baru terbit = 200 miliar / Rp 2.000 = 100 juta lembar; $S_D$ = 100 juta lembar, $S_E$ = 200 juta lembar
  • Titik indiferen: $EBIT^{*} = \dfrac{20 \times 200}{200-100} = \dfrac{4.000}{100} = $ Rp 40 miliar
  • Pada $EBIT^{*}$: EPS = (40−20) × 78% × 1.000 / 100 = Rp 156/lembar (sama untuk kedua opsi)

Pada EBIT proyeksi Rp 60 miliar (di atas titik indiferen):

  • EPS utang = (60−20) × 78% × 1.000 / 100 = Rp 312/lembar
  • EPS saham baru = 60 × 78% × 1.000 / 200 = Rp 234/lembar

Artinya: pada EBIT Rp 60 miliar, pendanaan utang menghasilkan EPS Rp 78/lembar lebih tinggi — leverage memperbesar keuntungan pemegang saham lama karena laba tambahan di atas beban bunga tidak perlu dibagi ke pemegang saham baru.