Instrumen pasar uang seperti SPN, SBI, dan NCD tidak membayar kupon berkala — investor membelinya dengan harga di bawah nilai par (diskon) dan menerima nilai par penuh saat jatuh tempo. Selisihnya adalah “bunga” implisit. Masalahnya, yield yang dikuotasikan pasar (yield diskonto) secara sistematis understate return riil yang sebenarnya diterima investor.
Cara Pakai
Geser tingkat diskonto (d) dan tenor untuk melihat harga beli instrumen dibanding nilai par Rp 1.000.000, serta perbandingan dua angka yield: yield diskonto (angka yang dikuotasikan di pasar) versus yield investasi/bond-equivalent yield (BEY, return riil yang sesungguhnya didapat pembeli).
Rumus Kunci
$$\text{Harga} = \text{Par} \times \left(1 - d \times \frac{t}{360}\right)$$$$BEY = \frac{\text{Par} - \text{Harga}}{\text{Harga}} \times \frac{365}{t}$$di mana $d$ = tingkat diskonto tahunan, $t$ = tenor dalam hari.
Contoh Angka
Instrumen dengan nilai par Rp 1.000.000, tingkat diskonto d = 8,0%, tenor t = 91 hari.
- Harga = 1.000.000 × (1 − 8,0% × 91/360) = 1.000.000 × (1 − 0,020222) = Rp 979.778
- Diskon = 1.000.000 − 979.778 = Rp 20.222
- BEY = (20.222 / 979.778) × (365/91) = 0,020640 × 4,010989 = 8,28%
- Selisih terhadap yield diskonto kuotasi = 8,28% − 8,00% = 0,28 poin persentase
Artinya: instrumen yang “dijual dengan yield 8,00%” sebenarnya memberi return riil 8,28% bagi pembeli — angka kuotasi selalu lebih kecil dari return sesungguhnya.