Saat perusahaan mengumumkan stock split, dividen saham, atau dividen tunai, harga saham langsung berubah drastis di hari itu juga — dan sering disalahpahami investor pemula sebagai kabar baik atau buruk. Padahal secara teoretis, keempat jenis aksi korporasi ini hanya mengubah bentuk kekayaan pemegang saham, bukan nilainya.

Cara Pakai

Pilih jenis aksi korporasi, masukkan harga saham awal, lalu geser rasio/besaran aksi (labelnya berubah otomatis: rasio split, rasio reverse, persentase dividen saham, atau nominal dividen tunai per lembar). Kalkulator menghitung harga teoritis baru, jumlah lembar baru, dan membuktikan lewat grafik batang bahwa total nilai kekayaan (harga × lembar, ditambah kas untuk dividen tunai) tetap sama sebelum dan sesudah aksi.

Rumus Kunci

Stock split (1 lama menjadi N baru):

$$P_1 = \frac{P_0}{N}, \quad Lembar_1 = Lembar_0 \times N$$

Reverse split (N lama menjadi 1 baru):

$$P_1 = P_0 \times N, \quad Lembar_1 = \frac{Lembar_0}{N}$$

Dividen saham (rate $r$ = persentase lembar tambahan):

$$P_1 = \frac{P_0}{1 + r}, \quad Lembar_1 = Lembar_0 \times (1 + r)$$

Dividen tunai (D per lembar):

$$P_1 = P_0 - D$$

Dalam semua kasus, prinsip kekekalan nilai berlaku:

$$P_0 \times Lembar_0 = P_1 \times Lembar_1 + Kas\ Diterima$$

Contoh Angka

PT Warung Rakyat Tbk. (WRKT, fiktif): harga saham awal $P_0$ = Rp 2.000, jumlah lembar beredar $Lembar_0$ = 500.000.000, jenis aksi = stock split dengan rasio 1 : 5 ($N$ = 5).

  • Harga teoritis baru: $P_1$ = 2.000 / 5 = Rp 400
  • Jumlah lembar baru: $Lembar_1$ = 500.000.000 × 5 = 2.500.000.000 lembar
  • Nilai kekayaan sebelum = 2.000 × 500.000.000 = Rp 1.000.000.000.000 = Rp 1.000 miliar
  • Nilai kekayaan sesudah = 400 × 2.500.000.000 = Rp 1.000.000.000.000 = Rp 1.000 miliar (tetap sama)

Seorang investor yang tadinya memegang 1.000 lembar seharga Rp 2.000 (senilai Rp 2 juta) sesudah split akan memegang 5.000 lembar seharga Rp 400 (tetap senilai Rp 2 juta) — jumlah lembarnya bertambah, tapi kekayaannya tidak berubah.