Angka Rupiah mentah di laporan laba rugi sulit dibandingkan lintas tahun atau lintas perusahaan berbeda skala. Analisis common-size menormalisasi laporan ke bentuk persentase — vertikal untuk melihat struktur biaya dalam satu tahun, horizontal untuk melihat laju pertumbuhan tiap pos lintas waktu — dua teknik dasar yang jadi langkah pertama sebelum analisis rasio yang lebih dalam.
Cara Pakai
Toko Makmur Jaya (UMKM dagang) punya data laba rugi 2023–2026. Pilih mode Vertikal untuk melihat tiap pos sebagai persentase Penjualan tahun yang sama, atau mode Horizontal untuk melihat tiap pos sebagai indeks terhadap nilainya sendiri di tahun dasar (indeks = 100). Pada mode Horizontal, geser tahun dasar untuk mengubah titik acuan.
Rumus Kunci
Common-size vertikal:
$$\%\text{Pos}_t = \frac{\text{Nilai Pos}_t}{\text{Penjualan}_t} \times 100\%$$Indeks tren horizontal (basis tahun $b$):
$$\text{Indeks Pos}_t = \frac{\text{Nilai Pos}_t}{\text{Nilai Pos}_b} \times 100$$Contoh Angka
Data Toko Makmur Jaya (Rp juta): Penjualan 500→620→750→900 (2023–2026); HPP 300→360→460→560; Laba Kotor 200→260→290→340; Beban Usaha 120→150→170→200; Laba Bersih 80→110→120→140.
Common-size vertikal (basis Penjualan tiap tahun = 100%):
- HPP 2023 = 300/500 = 60,0%; HPP 2026 = 560/900 = 62,2% → naik 2,2 poin persentase
- Laba Bersih 2023 = 80/500 = 16,0%; Laba Bersih 2026 = 140/900 = 15,6% → turun 0,4 poin persentase
Meski Laba Bersih dalam Rupiah naik dari Rp 80 juta ke Rp 140 juta, marginnya justru menipis — HPP tumbuh lebih cepat dari penjualan.
Indeks tren horizontal (basis 2023 = 100):
- Penjualan 2026 = 900/500 × 100 = indeks 180 (tumbuh 80% dari 2023)
- HPP 2026 = 560/300 × 100 = indeks 187 (tumbuh 87%)
- Laba Bersih 2026 = 140/80 × 100 = indeks 175 (tumbuh 75%)
HPP tumbuh paling cepat (indeks 187) melampaui Penjualan (indeks 180), sementara Laba Bersih tumbuh paling lambat (indeks 175) — konsisten dengan temuan common-size vertikal: margin Toko Makmur Jaya tergerus perlahan sepanjang 2023–2026 meski omzetnya terus naik.