Harga Pokok Produksi (COGM) sering tertukar dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) di laporan laba rugi, padahal keduanya mengukur hal berbeda: COGM adalah biaya barang yang SELESAI diproduksi, sedangkan HPP Penjualan adalah biaya barang yang benar-benar TERJUAL. Widget ini menelusuri alurnya langkah demi langkah, dari tiga elemen biaya produksi sampai jembatan ke HPP Penjualan.
Cara Pakai
Masukkan Bahan Baku dipakai, Tenaga Kerja Langsung, dan Biaya Overhead Pabrik sebagai total biaya produksi. Sesuaikan dengan Persediaan BDP awal/akhir untuk mendapatkan COGM, lalu sesuaikan lagi dengan Persediaan Barang Jadi awal/akhir untuk mendapatkan Harga Pokok Penjualan (HPP Penjualan) yang masuk laporan laba rugi.
Rumus Kunci
$$Total\ Biaya\ Produksi = Bahan\ Baku + TKL + BOP$$$$COGM = BDP_{awal} + Total\ Biaya\ Produksi - BDP_{akhir}$$$$Barang\ Tersedia\ Dijual = Barang\ Jadi_{awal} + COGM$$$$HPP\ Penjualan = Barang\ Tersedia\ Dijual - Barang\ Jadi_{akhir}$$Contoh Angka
Data default UMKM Keripik Singkong “Renyah Jaya” (1 bulan): Bahan baku dipakai = Rp12.000.000, TKL = Rp6.000.000, BOP = Rp4.000.000, BDP awal = Rp1.500.000, BDP akhir = Rp2.200.000, Barang Jadi awal = Rp3.000.000, Barang Jadi akhir = Rp5.000.000.
- Total biaya produksi = 12.000.000 + 6.000.000 + 4.000.000 = Rp22.000.000
- COGM = 1.500.000 + 22.000.000 − 2.200.000 = Rp21.300.000
- Barang tersedia dijual = 3.000.000 + 21.300.000 = Rp24.300.000
- HPP Penjualan = 24.300.000 − 5.000.000 = Rp19.300.000
HPP Penjualan (Rp19.300.000) lebih rendah Rp2.000.000 dari COGM (Rp21.300.000) — selisihnya persis sama dengan Persediaan Barang Jadi akhir dikurangi awal (5.000.000 − 3.000.000 = 2.000.000). Artinya sebagian keripik yang diproduksi bulan ini belum terjual, masih menumpuk sebagai stok di gudang.