Setiap bisnis yang menjual dengan persediaan dan piutang punya jeda waktu antara mengeluarkan kas untuk membeli bahan/barang dan menerima kas kembali dari pelanggan. Jeda inilah yang harus didanai — baik dari modal sendiri maupun pinjaman modal kerja (KMK) — dan Cash Conversion Cycle (CCC) adalah cara mengukurnya secara presisi.
Cara Pakai
Timeline menunjukkan perjalanan hari sejak beli bahan (hari ke-0): segmen hijau adalah DIO (barang di gudang), segmen merah adalah DSO (piutang belum cair), berujung di terima kas. Garis putus-putus vertikal menandai DPO — hari perusahaan mulai membayar pemasok. Rentang antara DPO dan “terima kas” (bracket merah) adalah CCC — periode yang harus didanai sendiri. Bar di bawahnya membagi kebutuhan modal kerja menjadi plafon KMK dari bank vs modal sendiri, sesuai persentase sharing yang diatur slider.
Rumus Kunci
$$CCC = DIO + DSO - DPO$$$$\text{Kebutuhan Modal Kerja} = CCC \times \text{Biaya Operasi Harian}$$$$\text{Plafon KMK} = \text{Kebutuhan Modal Kerja} \times \text{Sharing Bank}$$Contoh Angka
Toko Kelontong Maju Jaya, biaya operasi (COGS + beban tetap) ≈ Rp8.000.000/hari, dengan DIO = 40 hari, DSO = 15 hari, DPO = 35 hari, dan sharing bank 70%.
- CCC = 40 + 15 − 35 = 20 hari
- Kebutuhan modal kerja = 20 × Rp8.000.000 = Rp160.000.000
- Plafon KMK dari bank (70%) = Rp112.000.000
- Sisa didanai modal sendiri (30%) = Rp48.000.000
Artinya, selama 20 hari antara membayar pemasok dan menerima kas dari pelanggan, toko ini butuh Rp160 juta dana talangan operasional — dan bisa mengajukan plafon KMK sekitar Rp112 juta ke bank untuk menutupnya.