Dalam dunia ideal, perusahaan mendanai semua proyek dengan NPV positif. Tapi di lapangan, dana investasi sering dibatasi — oleh kebijakan manajemen, keterbatasan pinjaman, atau prioritas strategis. Saat itu terjadi, memilih proyek berdasarkan NPV terbesar saja bisa jadi keputusan yang boros; Profitability Index (PI) menjawab pertanyaan yang lebih tepat: proyek mana yang memberi nilai tambah terbesar per rupiah dana yang tersedia?
Cara Pakai
Widget menampilkan 5 proyek ekspansi dengan investasi dan NPV masing-masing, dengan batas dana manajemen Rp 1.000 juta. Centang proyek untuk membentuk kombinasi Anda sendiri, lalu bandingkan total NPV-nya dengan dua strategi ranking: NPV mutlak (naif, mengambil proyek NPV terbesar dulu) dan Profitability Index (mengambil proyek PI tertinggi dulu). Klik tombol optimum untuk langsung menerapkan kombinasi ranking PI.
Rumus Kunci
$$PI = \frac{PV(\text{arus kas masa depan})}{\text{Investasi awal}} = \frac{NPV + \text{Investasi awal}}{\text{Investasi awal}}$$Strategi ranking (pendekatan greedy dalam batas dana $B$): urutkan proyek berdasarkan $PI$ (atau $NPV$) menurun, lalu ambil proyek satu per satu selama total investasi yang terpakai masih $\leq B$.
Contoh Angka
Lima proyek dengan batas dana Rp 1.000 juta:
| Proyek | Investasi (Rp jt) | NPV (Rp jt) | PI |
|---|---|---|---|
| Cabang Kemang | 400 | 120 | 1,30 |
| Cabang Depok | 300 | 105 | 1,35 |
| Renovasi Pabrik | 500 | 130 | 1,26 |
| Mesin Roasting Baru | 200 | 50 | 1,25 |
| Cabang Bekasi | 350 | 154 | 1,44 |
Ranking PI menurun: Bekasi (1,44) → Depok (1,35) → Kemang (1,30) → Pabrik (1,26) → Roasting (1,25). Ambil berurutan selama dana cukup: Bekasi (350) + Depok (300) = 650, lalu Kemang (400) melebihi batas → lewati, lalu Roasting (200) masih muat → total investasi Rp 850 juta, total NPV = 154+105+50 = Rp 309 juta.
Ranking NPV mutlak menurun: Bekasi (154) → Pabrik (130) → Kemang (120) → Depok (105) → Roasting (50). Ambil berurutan: Bekasi (350) + Pabrik (500) = 850, sisanya (Kemang, Depok, Roasting) semua melebihi sisa dana → total investasi Rp 850 juta (sama!), tapi total NPV hanya 154+130 = Rp 284 juta.
Dengan jumlah dana terpakai yang persis sama (Rp 850 juta), ranking PI menghasilkan NPV Rp 25 juta lebih tinggi — bukti bahwa saat dana dibatasi, efisiensi per rupiah (PI) mengalahkan besaran NPV mutlak.