Bank pada dasarnya adalah lembaga intermediasi: menghimpun dana dari penabung dengan satu suku bunga, lalu menyalurkannya sebagai kredit dengan suku bunga yang lebih tinggi. Selisih inilah yang jadi sumber utama laba bank, dan mengukurnya dengan benar — bukan sekadar selisih suku bunga nominal — penting untuk menilai kesehatan dan efisiensi sebuah bank.
Cara Pakai
Widget ini mensimulasikan bank cabang fiktif dengan dana pihak ketiga (DPK) tetap Rp250 juta. Geser tiga input: bunga kredit ke debitur, bunga simpanan ke penabung, dan porsi DPK yang disalurkan sebagai kredit (sisanya jadi cadangan/idle, tidak berbunga). Widget menghitung pendapatan bunga dari kredit yang disalurkan, dikurangi beban bunga yang dibayar atas seluruh DPK, menghasilkan Net Interest Income (NII) dan Net Interest Margin (NIM).
Rumus Kunci
$$NII = \left(DPK \times \text{porsi} \times r_{kredit}\right) - \left(DPK \times r_{simpanan}\right)$$$$NIM = \frac{NII}{DPK \times \text{porsi}} \times 100\%$$di mana $DPK$ = dana pihak ketiga, $\text{porsi}$ = pecahan DPK yang disalurkan sebagai kredit (dana produktif), $r_{kredit}$ dan $r_{simpanan}$ = suku bunga kredit dan simpanan. Spread kasar sekadar $r_{kredit} - r_{simpanan}$, bukan NIM.
Contoh Angka
Ambil nilai default widget: DPK = Rp250 juta, bunga kredit 11,0%, bunga simpanan 3,0%, porsi disalurkan 80%.
- Dana disalurkan sebagai kredit = 250 juta × 80% = Rp200 juta
- Pendapatan bunga kredit = Rp200 juta × 11,0% = Rp22,0 juta
- Beban bunga simpanan = Rp250 juta × 3,0% = Rp7,5 juta (dihitung atas seluruh DPK, bukan hanya yang disalurkan)
- NII = Rp22,0 juta − Rp7,5 juta = Rp14,5 juta/tahun
- NIM = 14,5 ÷ 200 × 100% = 7,25%
Spread kasar (11,0% − 3,0% = 8,0 pp) terlihat lebih besar dari NIM (7,25%) karena 20% DPK (Rp50 juta) tidak produktif tapi tetap dibebani bunga simpanan.