Anuitas adalah skema pembayaran tetap yang paling umum dipakai untuk KPR, KPM, dan pinjaman berjangka lain — nasabah membayar jumlah yang sama tiap periode, tapi di balik layar komposisi pokok dan bunga di dalam angsuran itu terus bergeser. Memahami mekanisme ini penting bukan cuma untuk debitur yang membandingkan tenor, tapi juga untuk analis kredit yang menyusun jadwal amortisasi.
Cara Pakai
Masukkan pokok pinjaman, bunga per tahun, dan tenor. Pilih jenis anuitas — biasa (angsuran di akhir periode, standar KPR bank umum) atau dimuka (angsuran di awal periode, kadang dipakai leasing). Kalkulator menghitung angsuran tahunan tetap, lalu menggambarkan jadwal amortisasi sebagai diagram batang bertumpuk (pokok vs bunga) untuk tiap tahun tenor.
Rumus Kunci
Anuitas biasa (ordinary annuity — pembayaran di akhir periode):
$$A = P \times \frac{r}{1 - (1+r)^{-n}}$$Anuitas dimuka (annuity due — pembayaran di awal periode):
$$A_{dimuka} = \frac{A}{1+r}$$di mana $A$ = angsuran per periode, $P$ = pokok pinjaman, $r$ = suku bunga per periode, $n$ = jumlah periode. Bunga periode ke-$t$ dihitung dari saldo pokok yang tersisa: $bunga_t = saldo_{t-1} \times r$, dan pelunasan pokok periode itu adalah $A - bunga_t$.
Contoh Angka
Pokok pinjaman P = Rp 300 juta, bunga r = 7,5% per tahun, tenor n = 10 tahun, anuitas biasa.
- $(1+r)^{-n} = 1{,}075^{-10} = 0{,}4852$
- $A = 300 \times \dfrac{0{,}075}{1 - 0{,}4852} = \dfrac{22{,}5}{0{,}5148} = \mathbf{Rp\ 43{,}7\ juta/tahun}$
- Total dibayar selama 10 tahun = 43,7 × 10 = Rp 437 juta
- Total bunga = 437 − 300 = Rp 137 juta
Di tahun pertama, bunga = 300 × 7,5% = Rp 22,5 juta — itu 51,5% dari angsuran Rp 43,7 juta. Kalau memakai anuitas dimuka dengan parameter yang sama, angsurannya turun menjadi 43,7 ÷ 1,075 = Rp 40,7 juta/tahun, karena bunga periode pertama tidak perlu dibayar (pelunasan pokok terjadi lebih cepat).