Laba di laporan laba rugi tidak sama dengan uang di rekening bank — usaha yang untung di atas kertas tetap bisa kehabisan kas kalau piutang lambat tertagih sementara utang ke pemasok harus dibayar lebih cepat. Anggaran kas menjembatani celah ini dengan memproyeksikan penerimaan dan pengeluaran kas bulan demi bulan, memakai studi kasus Warung Makmur.

Cara Pakai

Atur pola penagihan penjualan (persentase tunai dan persentase tak tertagih; sisanya otomatis tertagih bulan berikutnya) serta termin pembayaran ke pemasok. Widget menghitung skedul penerimaan, pengeluaran, dan saldo kas kumulatif 6 bulan, lalu menandai bulan mana yang defisit dan berapa total pembiayaan jangka pendek yang dibutuhkan.

Rumus Kunci

$$Penerimaan_t = Penjualan_t \times \%Tunai + Penjualan_{t-1} \times \%Tertagih\ Berikutnya$$$$\%Tertagih\ Berikutnya = 100\% - \%Tunai - \%Tak\ Tertagih$$$$Pengeluaran_t = Pembelian_{t-Termin} + Biaya\ Operasional\ Tetap$$$$Pembelian_i = Penjualan_i \times Rasio\ HPP$$$$Saldo_t = Saldo_{t-1} + Penerimaan_t - Pengeluaran_t$$

Contoh Angka

Data tetap “Warung Makmur” (Rp juta): penjualan Jan–Jun = 42, 38, 55, 60, 48, 70; penjualan Desember (sebelum periode) = 45; rasio HPP = 65% dari penjualan; biaya operasional tetap = Rp9 juta/bulan; saldo kas awal Januari = Rp15 juta. Nilai default slider: tunai = 40%, tak tertagih = 10% (sisa 50% tertagih bulan berikutnya), termin pemasok = 30 hari.

Pembelian per bulan (65% × penjualan): Des = 29,25, Jan = 27,30, Feb = 24,70, Mar = 35,75, Apr = 39,00, Mei = 31,20.

Detail dua bulan pertama:

  • Penerimaan Jan = 42×40% + 45×50% = 16,80 + 22,50 = Rp39,30 juta
  • Pengeluaran Jan (termin 30 hari → bayar pembelian Desember) = 29,25 + 9 = Rp38,25 juta
  • Saldo akhir Jan = 15 + 39,30 − 38,25 = Rp16,05 juta
  • Penerimaan Feb = 38×40% + 42×50% = 15,20 + 21,00 = Rp36,20 juta
  • Pengeluaran Feb (bayar pembelian Jan) = 27,30 + 9 = Rp36,30 juta
  • Saldo akhir Feb = 16,05 + 36,20 − 36,30 = Rp15,95 juta

Melanjutkan pola yang sama sampai Juni, saldo kumulatif berturut-turut: Rp23,25 juta (Mar), Rp30,00 juta (Apr), Rp31,20 juta (Mei), dan Rp43,00 juta (Jun) — kas tidak pernah negatif sepanjang 6 bulan, sehingga Warung Makmur tidak butuh pembiayaan jangka pendek pada pola ini. Coba geser persentase tunai lebih rendah atau termin pemasok ke 0 hari untuk melihat bulan mana yang mulai defisit.