Selisih antara biaya bahan baku aktual dan standar (variance) bisa berasal dari dua sumber yang sama sekali berbeda tanggung jawabnya: harga beli yang meleset dari negosiasi pembelian, atau kuantitas pemakaian yang meleset dari efisiensi produksi. Memisahkan keduanya adalah dasar evaluasi kinerja standard costing yang adil.

Cara Pakai

Kasus Toko Roti Bu Siti (UMKM) memakai tepung terigu sebagai bahan baku utama. Widget ini menghitung dari empat input independen: harga aktual (AP) dan harga standar (SP) per kg, serta kuantitas aktual (AQ) dan kuantitas standar (SQ) dalam kg. Hasilnya ditampilkan sebagai tiga batang horizontal bertanda — Varians Harga (PV), Varians Efisiensi (QV), dan Varians Total — dengan warna hijau untuk favorable (F, aktual lebih hemat dari standar) dan merah untuk unfavorable (U, aktual lebih boros).

Rumus Kunci

$$PV = (AP - SP) \times AQ$$$$QV = (AQ - SQ) \times SP$$$$\text{Varians Total} = PV + QV$$

di mana $AP$ = harga aktual/kg, $SP$ = harga standar/kg, $AQ$ = kuantitas aktual (kg), $SQ$ = kuantitas standar (kg).

Contoh Angka

Ambil nilai default widget: AP = Rp12.800/kg, SP = Rp12.000/kg, AQ = 1.100 kg, SQ = 1.000 kg.

  • PV = (AP − SP) × AQ = (12.800 − 12.000) × 1.100 = 800 × 1.100 = Rp880.000 (U) — tepung dibeli Rp800/kg lebih mahal dari standar, kali 1.100 kg yang dipakai.
  • QV = (AQ − SQ) × SP = (1.100 − 1.000) × 12.000 = 100 × 12.000 = Rp1.200.000 (U) — pemakaian 100 kg lebih boros dari standar, dinilai pada harga standar.
  • Varians Total = 880.000 + 1.200.000 = Rp2.080.000 (tidak menguntungkan)

Kedua varians sama-sama unfavorable bulan ini: pembelian membayar lebih mahal (tanggung jawab manajer pembelian) DAN produksi memakai lebih banyak tepung dari standar (tanggung jawab manajer produksi). Karena keduanya searah, total varians Rp2.080.000 murni akumulasi dua masalah berbeda — bukan hasil saling meniadakan seperti yang bisa terjadi kalau salah satunya favorable.