‹ Daftar slidePertemuan 10: Bias Perilaku dalam Keputusan Keuangan Personal: overconfidence, loss aversion (pengantar)
RPS minggu 10 · 2x50 menit
Bias Perilaku dalam Keputusan Keuangan Personal
Overconfidence & loss aversion — pengantar behavioral finance
Pertemuan 10 · Mata Kuliah Wealth Management · Program Studi Manajemen FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Mengapa Manusia Tidak Selalu Rasional dalam Keuangan?
Dari asumsi homo economicus menuju behavioral finance — psikologi di balik keputusan investasi dan konsumsi.
Dari Homo Economicus ke Manusia Sungguhan
Teori keuangan klasik mengasumsikan manusia adalah homo economicus: selalu rasional, punya informasi lengkap, dan konsisten memaksimalkan keuntungan.
Asumsi Klasik (Homo Economicus)
Selalu memproses informasi secara akurat
Preferensi risiko konsisten sepanjang waktu
Tidak terpengaruh emosi atau cara pertanyaan diajukan
Selalu memilih opsi dengan nilai harapan tertinggi
Realita (Manusia Sungguhan)
Terbatas kemampuan mengolah informasi (bounded rationality)
Preferensi berubah tergantung cara opsi dibingkai (framing)
Emosi (takut, euforia) memengaruhi keputusan finansial
Sering pakai jalan pintas mental (heuristik), bukan hitungan penuh
Behavioral finance lahir untuk menjelaskan kesenjangan antara model rasional di atas kertas dan perilaku investor sungguhan di dunia nyata.
Apa itu Behavioral Finance?
Behavioral finance adalah bidang yang menggabungkan psikologi kognitif dengan teori keuangan untuk menjelaskan mengapa investor sering menyimpang dari rasionalitas.
Tonggak Sejarah
Daniel Kahneman & Amos Tversky memperkenalkan Prospect Theory (1979) sebagai alternatif teori utilitas yang menjelaskan bagaimana orang sesungguhnya menilai risiko dan kerugian. Kahneman menerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002 atas kontribusi ini — sebuah pengakuan besar bahwa psikologi layak masuk ke jantung ilmu keuangan. Richard Thaler, murid intelektual gagasan ini, menerima Nobel Ekonomi tahun 2017 atas kajian "nudge" dan perilaku ekonomi.
Dua bias yang akan kita bedah hari ini — overconfidence dan loss aversion — adalah dua dari bias paling berpengaruh dalam literatur behavioral finance sejak temuan Kahneman & Tversky.
Dua Sistem Berpikir: Cepat vs Lambat
Kahneman membagi cara berpikir manusia menjadi dua sistem — pembagian ini menjelaskan mengapa bias muncul begitu mudah dalam keputusan sehari-hari.
Heuristik vs Bias: Jalan Pintas yang Bisa Menyesatkan
Heuristik
Jalan pintas mental yang membantu keputusan cepat dengan informasi terbatas — umumnya berguna, menghemat waktu & energi kognitif.
Bias
Penyimpangan sistematis dari rasionalitas yang muncul ketika heuristik diterapkan pada situasi yang salah, menghasilkan keputusan keliru berulang.
Fokus pertemuan hari ini: overconfidence (terlalu percaya diri atas kemampuan/informasi sendiri) dan loss aversion (kerugian terasa lebih berat daripada keuntungan setara) — dua bias yang paling sering merusak portofolio investor ritel.
Bagian 2 dari 3
Overconfidence Bias
Ketika investor terlalu yakin pada kemampuan dan informasi yang dimilikinya — dan bagaimana hal itu merusak imbal hasil portofolio.
Overconfidence: Definisi dan Tiga Bentuknya
Overconfidence adalah kecenderungan menilai terlalu tinggi keakuratan pengetahuan, kemampuan prediksi, atau kualitas informasi yang dimiliki sendiri.
Overestimation
Melebih-lebihkan kemampuan/kinerja diri sendiri, mis. yakin bisa memprediksi arah IHSG minggu depan.
Overplacement
Merasa lebih baik daripada orang lain (rata-rata), mis. "analisis saya lebih tajam dari 90% investor lain".
Overprecision
Terlalu yakin pada ketepatan estimasi sendiri, mis. sangat yakin target harga saham tepat di angka tertentu.
Ketiga bentuk ini sering muncul bersamaan pada investor yang baru mengalami beberapa kali keberuntungan berturut-turut — fenomena yang oleh psikolog disebut illusion of control.
Overconfidence di Pasar Modal: Dampak Overtrading
Riset behavioral finance (Barber & Odean, 2000-an) menemukan investor yang paling percaya diri justru bertransaksi paling sering — dan menghasilkan imbal hasil paling rendah.
Mekanisme
Yakin punya informasi/insight lebih baik dari pasar
Biaya transaksi kumulatif menggerus imbal hasil bersih
Turnover portofolio tinggi tidak berkorelasi dengan kinerja lebih baik
Investor paling aktif bertransaksi sering underperform vs strategi beli-tahan
Hitung dari Nol #1: Biaya Overtrading Akibat Overconfidence
Portofolio Rp100.000.000. Biaya transaksi round-trip (beli+jual) ≈0,6% dari nilai transaksi. Trader overconfident bertransaksi 24x/tahun, investor pasif 2x/tahun.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai portofolio
—
Rp100.000.000
2. Biaya per round-trip
0,6% × Rp100.000.000
Rp600.000
3. Total biaya trader overconfident
24 × Rp600.000
Rp14.400.000
4. Total biaya investor pasif
2 × Rp600.000
Rp1.200.000
5. Selisih biaya per tahun
Rp14.400.000 − Rp1.200.000
Rp13.200.000
6. Selisih sebagai % portofolio
Rp13.200.000 / Rp100.000.000
13,2%
Interpretasi
Semata karena overtrading, trader overconfident kehilangan ~13,2% nilai portofolionya per tahun dalam biaya transaksi — jauh sebelum mempertimbangkan apakah analisisnya benar atau salah.
Studi Kasus: Overconfidence Investor Ritel di BEI
Lonjakan jumlah investor ritel domestik di Bursa Efek Indonesia sejak 2020 memunculkan pola perilaku yang konsisten dengan temuan overconfidence global.
Pola yang sering diamati: investor pemula yang untung di beberapa transaksi pertama saat pasar sedang naik cenderung menaikkan ukuran posisi dan frekuensi transaksi secara signifikan, mengabaikan diversifikasi.
Risiko: ketika arah pasar berbalik, posisi besar yang dibangun atas dasar rasa percaya diri berlebihan justru menimbulkan kerugian jauh lebih besar dibanding jika porsi risiko dijaga wajar sejak awal.
Pelajaran untuk Anda: keberuntungan jangka pendek bukan bukti kemampuan analisis — evaluasi kinerja investasi idealnya dilakukan atas banyak siklus pasar, bukan beberapa transaksi saja.
Bagian 3 dari 3
Loss Aversion
Mengapa kerugian terasa lebih menyakitkan daripada kesenangan keuntungan yang setara — dan dampaknya pada keputusan menjual aset.
Loss Aversion & Prospect Theory
Prospect Theory (Kahneman & Tversky, 1979) menunjukkan orang menilai kerugian dan keuntungan secara asimetris relatif terhadap titik referensi (mis. harga beli).
Kurva kerugian jauh lebih curam daripada kurva keuntungan — artinya penurunan nilai sebesar Rp X terasa jauh lebih berat daripada kenaikan Rp X yang sama besarnya.
Hitung dari Nol #2: Koefisien Loss Aversion
Eksperimen klasik: seseorang ditawari taruhan 50:50 — menang Rp1.000.000 atau rugi Rp1.000.000. Mayoritas orang menolak meski nilai harapannya nol.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Taruhan simetris (50:50)
menang Rp1.000.000 / rugi Rp1.000.000
EV = Rp0
2. Nilai harapan (expected value)
0,5 × Rp1.000.000 − 0,5 × Rp1.000.000
Rp0
3. Rata-rata ambang penerimaan riset
potensi menang minimum agar orang mau ikut
≈Rp2.250.000
4. Koefisien loss aversion (λ)
Rp2.250.000 / Rp1.000.000
≈2,25
Interpretasi
λ ≈2,25 berarti kerugian terasa ~2,25 kali lebih berat secara psikologis daripada keuntungan setara — agar taruhan terasa "adil", potensi untung harus jauh lebih besar dari potensi rugi.
Coba Sendiri: Hitung Total Biaya Bias Perilaku Investor
Ubah frekuensi transaksi dan ambang penerimaan taruhan — amati berapa besar biaya overtrading dan koefisien loss aversion bergerak bersamaan.
Disposition Effect: Konsekuensi Praktis Loss Aversion
Loss aversion mendorong pola perilaku klasik dalam investasi: disposition effect — menjual pemenang terlalu cepat, menahan pecundang terlalu lama.
Saham Untung
Investor cenderung cepat menjual untuk "mengunci" keuntungan — takut untung yang sudah ada hilang lagi.
Saham Rugi
Investor cenderung menahan lebih lama, menghindari "merealisasikan" kerugian — berharap harga kembali ke titik beli.
Akibatnya: portofolio investor terisi mayoritas saham rugi yang ditahan, sementara saham berkinerja baik sudah lama terjual — kebalikan dari strategi optimal "biarkan untung berlari, potong rugi cepat".
Walkthrough: Disposition Effect pada Saham BBCA
Ikuti langkah pengambilan keputusan seorang investor ritel yang memegang dua saham dengan kinerja berlawanan.
Langkah 1 — Situasi Awal
Investor membeli saham BBCA di harga Rp9.000/lembar dan saham lain (Saham X) di harga Rp1.000/lembar, masing-masing Rp10.000.000.
Langkah 2 — Pergerakan Harga 3 Bulan Kemudian
BBCA naik ke Rp9.900 (untung 10%). Saham X turun ke Rp850 (rugi 15%).
Langkah 3 — Dorongan Psikologis (Loss Aversion)
Investor tergoda menjual BBCA untuk "mengamankan" untung 10%, dan menahan Saham X berharap harganya kembali ke Rp1.000 agar tidak perlu "mengakui" rugi.
Langkah 4 — Hasil Sesungguhnya (6 Bulan Kemudian)
BBCA (dijual terlalu cepat) justru terus naik ke Rp11.000. Saham X (ditahan) terus turun ke Rp600 — investor kehilangan potensi untung BBCA dan memperbesar rugi Saham X.
Overconfidence vs Loss Aversion: Ringkasan Perbandingan
Pasang aturan stop-loss & take-profit sebelum membeli
Otomasi keputusan jual-beli (mengurangi campur tangan emosi)
Evaluasi kinerja berbasis portofolio, bukan per saham
Prinsip umum: buat aturan sebelum emosi muncul — keputusan yang dirancang saat tenang jauh lebih rasional daripada keputusan saat harga bergerak liar.
Latihan & Diskusi Kelas
Kerjakan secara berpasangan, waktu 15 menit, lalu presentasikan singkat ke kelas.
Instruksi
Identifikasi satu pengalaman pribadi (atau keluarga) yang mencerminkan overconfidence dalam keputusan finansial — investasi, usaha, atau pembelian besar.
Identifikasi satu pengalaman yang mencerminkan loss aversion — menahan aset/keputusan rugi terlalu lama.
Rancang satu aturan konkret (seperti pada slide sebelumnya) yang bisa mencegah pengulangan bias tersebut di masa depan.
Siapkan 1 perwakilan pasangan untuk berbagi temuan secara singkat (maksimal 2 menit) ke kelas.
Ringkasan Pertemuan 10
Yang Sudah Dipelajari
Behavioral finance menjelaskan penyimpangan dari rasionalitas klasik
Pertemuan berikutnya akan melanjutkan ke topik perencanaan warisan dasar (estate planning) — bagaimana kesadaran atas bias perilaku juga relevan saat menyusun keputusan finansial jangka sangat panjang.