stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Keamanan Web dan Mobile
Program Studi Bisnis Digital • FEB

Teknologi Web & Mobile

Pertemuan 12 — Keamanan Web dan Mobile

Mengenali ancaman siber, memahami mekanisme pertahanan, dan mengambil keputusan bisnis yang tepat soal keamanan produk digital — tanpa perlu jadi programmer.

RPS MINGGU 13 • 2×50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengenali risiko keamanan web/mobile dan menilai kelayakan mekanisme pertahanannya dari perspektif pengambil keputusan bisnis. Secara rinci:

CAPAIAN 1
ANCAMAN
Mengidentifikasi jenis ancaman umum terhadap sistem web dan aplikasi mobile beserta dampak bisnisnya.
CAPAIAN 2
PERTAHANAN
Menjelaskan cara kerja enkripsi, autentikasi berlapis, dan kepatuhan regulasi (UU PDP) secara konseptual.
CAPAIAN 3
RISIKO
Menghitung estimasi kerugian finansial akibat insiden keamanan dan menyusun skor prioritas mitigasi.
CAPAIAN 4
KEPUTUSAN
Menimbang trade-off keamanan versus kenyamanan pengguna (UX) dalam keputusan produk digital.

Rp 91 Juta Akun, Satu Malam

Mei 2020: forum peretas internasional mengklaim menjual data ~91 juta akun pengguna Tokopedia — nama, email, nomor telepon, dan kata sandi terenkripsi. Tokopedia mengonfirmasi adanya insiden peretasan.

DAMPAK REPUTASI
KEPERCAYAAN
Pengguna ragu bertransaksi; kompetitor (Shopee, Bukalapak) langsung memanfaatkan momentum.
DAMPAK REGULASI
SANKSI
Kementerian Kominfo (kini Komdigi) memanggil manajemen; era sebelum UU PDP 2022 belum ada denda administratif eksplisit.
DAMPAK OPERASIONAL
RESET
Seluruh pengguna dipaksa reset kata sandi; tim keamanan bekerja nonstop berhari-hari.
Kasus ini bukan yang terakhir — BPJS Kesehatan (2021, ~279 juta data diduga bocor) dan berbagai startup lain mengalami insiden serupa. Keamanan digital adalah risiko bisnis nyata, bukan sekadar isu teknis.
Bagian 1 dari 3
Lanskap Ancaman Siber
Sebelum bicara solusi, kita harus mengenali musuh: apa saja jenis ancaman yang menyerang aplikasi web dan mobile, dan mengapa masing-masing berbahaya bagi bisnis.

Tiga Pilar Keamanan Informasi (CIA Triad)

Setiap keputusan keamanan — teknis maupun bisnis — pada akhirnya menjaga tiga hal ini. CIA di sini bukan singkatan lembaga intelijen, melainkan kerangka klasik ilmu keamanan informasi.

CONFIDENTIALITY
KERAHASIAAN
Data hanya bisa diakses pihak yang berwenang. Contoh: nomor kartu kredit pelanggan Tokopedia tidak boleh terlihat oleh sembarang karyawan.
INTEGRITY
INTEGRITAS
Data tidak boleh diubah tanpa izin. Contoh: saldo rekening di aplikasi mobile banking harus akurat, tidak bisa dimanipulasi peretas.
AVAILABILITY
KETERSEDIAAN
Sistem harus bisa diakses saat dibutuhkan. Contoh: situs e-commerce tidak boleh down saat flash sale 12.12.
Hampir semua ancaman yang akan kita bahas menyerang salah satu — atau ketiga — pilar ini. Jadikan kerangka CIA sebagai "peta" Anda sepanjang kuliah hari ini.

Coba Sendiri: Klasifikasikan Ancaman ke Pilar CIA

Pilih sebuah skenario ancaman, lalu amati pilar mana — kerahasiaan, integritas, atau ketersediaan — yang paling terdampak.

Ancaman Umum: Manusia dan Mesin

Ancaman siber datang dari dua sisi: rekayasa sosial (menipu manusia) dan perangkat lunak jahat (menyerang sistem). Berikut empat yang paling sering menyerang bisnis digital Indonesia.

PHISHING
PENIPUAN
Email/pesan palsu menyamar sebagai bank atau marketplace (mis. "BCA" palsu) untuk mencuri kata sandi atau kode OTP.
MALWARE
PERUSAK
Malicious software — perangkat lunak jahat yang menyusup lewat lampiran email, aplikasi bajakan, atau tautan mencurigakan.
RANSOMWARE
PEMERAS
Mengunci/mengenkripsi data perusahaan, lalu meminta tebusan agar data dikembalikan.
DDOS
BANJIR
Distributed Denial of Service — membanjiri server dengan lalu lintas palsu hingga situs tidak bisa diakses pengguna sah.

Ancaman Khas Aplikasi Web

Situs web punya celah spesifik karena menerima input dari pengguna (formulir login, kolom pencarian, kolom komentar). Dua yang paling klasik:

SQL INJECTION

Peretas menyisipkan perintah database ke kolom formulir (mis. kolom login) untuk "menipu" sistem agar membocorkan atau menghapus data — tanpa perlu tahu kata sandi asli.

Analogi: menulis "kalimat sakti" di kolom nama supaya pintu gudang data terbuka sendiri.
XSS (CROSS-SITE SCRIPTING)

Peretas menyisipkan skrip berbahaya di kolom yang tampil ke pengguna lain (mis. kolom ulasan produk), lalu skrip itu berjalan otomatis saat dibuka pengunjung lain.

Analogi: menaruh jebakan di ulasan produk yang otomatis "meledak" saat dibaca pembeli lain.
Anda tidak perlu bisa menulis kodenya — cukup paham bahwa setiap kolom isian pengguna adalah pintu masuk potensial, sehingga tim developer wajib memvalidasi setiap input.

Ancaman Khas Aplikasi Mobile

Aplikasi mobile menyimpan data langsung di perangkat pengguna dan meminta banyak izin akses (permission) — dua sumber risiko yang tidak dimiliki web murni.

PERMISSION ABUSE
IZIN BERLEBIH
Aplikasi senter minta akses kontak & lokasi — data itu bisa dijual atau disalahgunakan tanpa sepengetahuan pengguna.
INSECURE STORAGE
PENYIMPANAN LEMAH
Kata sandi/token disimpan polos (tidak terenkripsi) di memori HP — mudah dibaca jika perangkat dicuri atau di-root.
FAKE APP
APLIKASI PALSU
Tiruan aplikasi resmi (mis. "m-banking palsu") diunggah di luar Play Store/App Store resmi untuk mencuri kredensial.
Pelajaran bisnis: setiap izin (permission) yang diminta aplikasi Anda harus punya alasan jelas — semakin sedikit izin diminta, semakin rendah risiko sekaligus semakin tinggi kepercayaan pengguna saat instalasi.

Hitung dari Nol: Biaya Kerugian Akibat Downtime

Kasus: toko online UMKM naik kelas beromzet rata-rata Rp 24.000.000/hari (buka 24 jam). Serangan DDoS membuat situsnya down selama 6 jam. Berapa estimasi kerugiannya?

SIMULASI KERUGIAN DOWNTIME
LangkahPerhitunganNilai
IdentifikasiOmzet harian = Rp 24.000.000; downtime = 6 jam dari 24 jam
Omzet per jam24.000.000 ÷ 24Rp 1.000.000/jam
Kerugian penjualan langsung1.000.000 × 6Rp 6.000.000
+ Biaya pemulihan (~25% dari kerugian langsung)6.000.000 × 25%Rp 1.500.000
TOTAL KERUGIAN ESTIMASI
Rp 7.500.000
6.000.000 + 1.500.000 — belum termasuk kerugian reputasi jangka panjang

Coba Sendiri: Hitung Kerugian Downtime Bisnis Anda

Ubah omzet harian dan lama downtime, lalu amati bagaimana estimasi kerugian total berubah, termasuk biaya pemulihan.

Bagian 2 dari 3
Mekanisme Pertahanan
Setelah mengenal ancaman, kita bahas alat pertahanan utama yang wajib Anda pahami sebagai pengambil keputusan produk: enkripsi, autentikasi berlapis, dan kepatuhan regulasi.

Enkripsi, HTTPS, dan Gembok di Alamat Situs

Enkripsi mengubah data menjadi kode acak yang hanya bisa dibaca dengan "kunci" yang benar. Ini fondasi keamanan komunikasi web dan mobile.

IN TRANSIT
HTTPS / TLS
Mengenkripsi data selama perjalanan antara HP/laptop Anda dan server (mis. saat mengetik password login). Ditandai ikon gembok di address bar browser.
AT REST
ENKRIPSI DATABASE
Mengenkripsi data saat tersimpan di server, sehingga meski database dicuri, isinya tetap berupa kode acak yang tak terbaca.
Data Asli → [Kunci Enkripsi] → Kode Acak → [Kunci Dekripsi] → Data Asli
Cek sederhana: sebelum mengetik data sensitif di sebuah situs, lihat apakah alamatnya diawali https:// (bukan http:// tanpa "s") — "s" berarti secure, komunikasi Anda terenkripsi.

Coba Sendiri: Bandingkan Waktu Bobol Enkripsi

Ubah panjang kunci enkripsi, lalu amati bagaimana waktu bobol berbeda drastis antara komputer klasik dan komputer kuantum.

Autentikasi: Memastikan "Anda Benar-Benar Anda"

Password saja mudah dicuri lewat phishing. Solusinya: autentikasi berlapis — menggabungkan beberapa "bukti identitas" sekaligus.

FAKTOR 1
SESUATU YANG DIKETAHUI
Password, PIN — hal yang hanya Anda tahu. Paling lemah karena bisa dicuri lewat phishing.
FAKTOR 2
SESUATU YANG DIMILIKI
Kode OTP di HP, aplikasi authenticator — hal yang hanya Anda punya secara fisik.
FAKTOR 3
SESUATU YANG MELEKAT
Sidik jari, wajah (biometrik) — hal yang menyatu dengan diri Anda.
MFA/2FA (Multi/Two-Factor Authentication) = menggabungkan ≥2 faktor. Contoh: login m-banking BCA butuh password (faktor 1) + kode dari token/OTP (faktor 2) — meski password bocor, peretas masih terhalang faktor kedua.

Coba Sendiri: Uji Kekuatan Password Anda

Ubah panjang dan variasi karakter password, lalu amati bagaimana entropi dan estimasi waktu bobolnya berubah.

Kewajiban Hukum: UU Pelindungan Data Pribadi

UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (PDP) mewajibkan setiap pengendali data (termasuk aplikasi Anda) menjaga keamanan data pribadi pengguna — bukan lagi pilihan, tapi kewajiban hukum.

KEWAJIBAN UTAMA
PERLINDUNGAN
Wajib menerapkan langkah teknis (mis. enkripsi) & organisasi untuk mencegah kebocoran; wajib lapor insiden ke otoritas & pemilik data maks. 3×24 jam.
SANKSI ADMINISTRATIF
~2% OMZET
Denda administratif dapat mencapai maksimal ~2% dari pendapatan tahunan, bervariasi menurut tingkat pelanggaran (Pasal 57 UU PDP).
Sektor keuangan punya lapisan tambahan: bank & fintech juga tunduk pada aturan OJK soal keamanan sistem informasi (mis. POJK Penyelenggaraan TI). Aplikasi Anda kelak mungkin diatur lebih dari satu regulator sekaligus.

Coba Sendiri: Estimasi Denda UU PDP Perusahaan Anda

Masukkan pendapatan tahunan dan tingkat pelanggaran, lalu amati berapa estimasi denda administratif menurut UU PDP.

Hitung dari Nol: Skor Prioritas Risiko

Kasus: tim keamanan aplikasi fintech P2P lending menilai risiko "kebocoran data pengguna karena API belum terenkripsi penuh". Formula standar: Skor Risiko = Probabilitas × Dampak (skala 1–5 masing-masing).

SIMULASI SKOR RISIKO
LangkahPerhitunganNilai
IdentifikasiProbabilitas = 4/5 (banyak endpoint lama tanpa enkripsi); Dampak = 5/5 (data finansial + kena UU PDP)
Skor risikoP × D = 4 × 520
Skor maksimum skala5 × 525
Persentase risiko20 ÷ 25 × 100%80% — PRIORITAS TINGGI
KEPUTUSAN
MITIGASI SEGERA
Skor >15/25 (60%) → wajib ditangani sebelum fitur baru dirilis

Coba Sendiri: Petakan Risiko di Matriks 5x5

Ubah skor probabilitas dan dampak suatu risiko, lalu amati posisinya di matriks heatmap dan apakah butuh mitigasi segera.

Bagian 3 dari 3
Studi Kasus & Keputusan Bisnis
Kita tutup kuliah dengan menerapkan semua konsep tadi ke studi kasus nyata, lalu belajar menimbang trade-off keamanan versus kenyamanan pengguna dalam keputusan produk.

Walkthrough: Membedah Kasus Tokopedia 2020

Mari terapkan kerangka CIA dan konsep hari ini untuk membedah kasus di slide pembuka, langkah demi langkah, seperti yang dilakukan tim investigasi keamanan sungguhan.

LANGKAH 1–2: DETEKSI & DAMPAK
  • Deteksi: data dijual di forum peretas → pilar confidentiality (kerahasiaan) dilanggar.
  • Dampak langsung: ~91 juta akun terpapar (nama, email, telepon, password terenkripsi).
LANGKAH 3–4: RESPONS & PENCEGAHAN
  • Respons: paksa reset password massal + investigasi + notifikasi ke pengguna & regulator.
  • Pencegahan ke depan: audit keamanan berkala, enkripsi at rest lebih kuat, MFA wajib untuk akun admin internal.
Password yang bocor dilaporkan terenkripsi (hashed) — inilah kenapa slide 11 tadi soal enkripsi at rest bukan sekadar teori: itu lapisan yang membatasi kerusakan meski database dicuri.

Dilema Produk: Keamanan vs. Kenyamanan Pengguna

Keamanan maksimal sering membuat pengalaman pengguna (UXuser experience) memburuk. Sebagai pengambil keputusan produk, Anda harus menimbang trade-off ini secara sadar.

TERLALU KETAT
PENGGUNA KABUR
Login butuh 5 langkah verifikasi → pengguna frustrasi, tingkat abandonment (batal transaksi) naik, kompetitor lebih "mudah" menang pasar.
TERLALU LONGGAR
DATA BOCOR
Login cukup password lemah tanpa MFA → mudah dipakai, tapi risiko peretasan & sanksi UU PDP melonjak.
Praktik terbaik: keamanan berlapis adaptif — MFA wajib hanya untuk transaksi berisiko tinggi (transfer besar, ganti nomor HP), sementara aktivitas ringan (lihat saldo) cukup satu faktor. GoTo & bank digital banyak menerapkan pola ini.

Checklist Keamanan Minimum untuk Startup/UMKM Digital

Anda belum tentu jadi developer, tapi sebagai pengambil keputusan produk, gunakan daftar ini untuk menanyakan kesiapan tim teknis Anda.

AreaPertanyaan Wajib DitanyakanStatus Ideal
Komunikasi dataApakah seluruh situs/aplikasi sudah pakai HTTPS?Wajib, tanpa kecuali
LoginApakah tersedia MFA/2FA, minimal untuk akun admin?Wajib untuk admin & transaksi besar
Penyimpanan dataApakah password disimpan ter-hash/terenkripsi, bukan teks polos?Wajib mutlak
KepatuhanApakah ada kebijakan privasi & prosedur lapor insiden sesuai UU PDP?Wajib sebelum launch
Izin aplikasiApakah setiap permission yang diminta punya alasan fungsional jelas?Minimal perlu (least privilege)

Latihan Diskusi Kelompok (15 Menit)

Bentuk kelompok 3–4 orang. Kasus: Anda adalah tim produk sebuah startup marketplace UMKM baru yang akan launch bulan depan.

TUGAS 1 — SKOR RISIKO

Pilih satu skenario ancaman (phishing ke penjual, API belum terenkripsi, atau fake app). Beri skor Probabilitas × Dampak (skala 1–5), lalu tentukan apakah masuk kategori prioritas tinggi (>60% dari skor maksimum).

TUGAS 2 — TRADE-OFF

Rancang satu kebijakan keamanan berlapis adaptif untuk aplikasi Anda: kapan MFA wajib, kapan cukup satu faktor? Justifikasi dengan pertimbangan bisnis, bukan hanya teknis.

Setiap kelompok presentasi ringkas (~2 menit) di akhir sesi diskusi. Siapkan angka konkret, bukan jawaban abstrak.

Rangkuman & Persiapan Minggu Depan

CHEAT SHEET HARI INI
  • CIA Triad: Confidentiality, Integrity, Availability.
  • Ancaman: phishing, malware, ransomware, DDoS, SQL injection/XSS (web), permission abuse/fake app (mobile).
  • Pertahanan: HTTPS/enkripsi, MFA/2FA, kepatuhan UU PDP.
  • Alat keputusan: biaya downtime, Skor Risiko = P × D.
TUGAS & MINGGU DEPAN
P13
Baca hasil diskusi kelompok Anda → kumpulkan skor risiko & kebijakan MFA (format bebas, 1 halaman). Pertemuan 13: Prototipe Interaktif & Uji Usabilitas — bawa laptop.