‹ Daftar slidePertemuan 13: Statistik Inferensial: Uji Kelayakan Model dan Hipotesis
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Statistika Bisnis
Pertemuan 13 — Statistik Inferensial: Uji Kelayakan Model dan Hipotesis
Menguji apakah model regresi berganda kita layak dipakai (uji F) dan apakah tiap variabel prediktor benar-benar berpengaruh (uji t) — langkah terakhir sebelum menyimpulkan hasil regresi.
RPS minggu 14 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Kerangka Uji Hipotesis
Sebelum menghitung, kita perlu sepakat: apa itu H0, H1, tingkat signifikansi, dan dua jenis kesalahan yang bisa terjadi saat menyimpulkan.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu:
Kelayakan Model
Uji F
Simultan — seluruh variabel bersama
Menghitung dan menginterpretasikan uji F untuk menjawab: apakah model regresi secara keseluruhan layak dipakai untuk menjelaskan variabel Y?
Signifikansi Parsial
Uji t
Individual — satu variabel per satu
Menghitung dan menginterpretasikan uji t untuk menjawab: apakah masing-masing variabel prediktor (X1, X2, dst.) berpengaruh signifikan terhadap Y?
Kedua uji ini adalah langkah wajib setelah model regresi berganda selesai dibangun dan lolos uji asumsi klasik — tanpa keduanya, kesimpulan regresi belum bisa dipercaya.
Di Mana Posisi Kita dalam Alur Semester?
Perjalanan Anda menuju kesimpulan regresi yang bisa dipertanggungjawabkan:
Model regresi yang lolos uji asumsi klasik (P12) belum tentu layak dipakai — kelayakan itu baru ditentukan lewat uji F dan uji t hari ini.
Hipotesis Nol (H0) vs Hipotesis Alternatif (H1)
Setiap uji statistik dimulai dari dua pernyataan yang saling bertentangan:
H0 — Hipotesis Nol
Pernyataan "status quo" — tidak ada pengaruh/hubungan. Kita anggap benar sampai data membuktikan sebaliknya.
Uji F: semua koefisien regresi = 0 (model tidak layak)
Uji t: satu koefisien tertentu = 0 (variabel itu tidak berpengaruh)
H1 — Hipotesis Alternatif
Pernyataan yang kita duga benar dan ingin dibuktikan lewat data.
Uji F: minimal satu koefisien ≠ 0 (model layak)
Uji t: koefisien itu ≠ 0 (variabel itu berpengaruh signifikan)
Kita tidak pernah "membuktikan H0 benar" — kita hanya bisa menolak H0 (ada cukup bukti) atau gagal menolak H0 (bukti belum cukup).
Tingkat Signifikansi (α), p-value, dan Aturan Keputusan
Tingkat Signifikansi
α = 5%
Standar riset bisnis (umum: 1%, 5%, 10%)
Batas toleransi risiko salah menolak H0 padahal H0 sebenarnya benar. Ditetapkan peneliti sebelum menguji data.
p-value
≤ α?
Peluang hasil seekstrem ini terjadi jika H0 benar
Dihitung dari data. Jika p-value lebih kecil dari α, hasilnya dianggap "terlalu ekstrem untuk kebetulan" → tolak H0.
Sepanjang deck ini kita pakai α = 5% (0,05) — konvensi paling umum dalam riset bisnis dan sosial di Indonesia maupun internasional.
Dua Jenis Kesalahan: Error Tipe I dan Tipe II
Kondisi Sebenarnya
Kita Gagal Tolak H0
Kita Tolak H0
H0 sebenarnya BENAR
Keputusan tepat
Error Tipe I (α) — "false positive"
H0 sebenarnya SALAH
Error Tipe II (β) — "false negative"
Keputusan tepat
Contoh bisnis: menyimpulkan promosi digital berpengaruh terhadap omzet (tolak H0), padahal sebenarnya tidak — perusahaan lanjut boros anggaran promosi berdasarkan kesimpulan yang keliru. Itulah Error Tipe I.
Bagian 2 dari 3
Uji Kelayakan Model — R² dan Uji F
Kasus kita: model omzet UMKM dari biaya promosi digital dan jumlah follower Instagram, n = 25 UMKM mitra Tokopedia. Apakah modelnya layak secara keseluruhan?
Koefisien Determinasi (R²) dan Adjusted R²
R² (R-squared) mengukur persentase variasi Y yang dijelaskan model. Adjusted R² mengoreksi R² agar tidak "menggembung palsu" saat variabel prediktor ditambah.
Model menjelaskan 80% variasi omzet UMKM; sisa 20% dijelaskan faktor lain di luar model (SSE = 170).
Adjusted R²
78,2%
n=25, k=2 prediktor
Sedikit lebih rendah dari R² biasa — angka inilah yang lebih jujur dipakai saat model punya lebih dari satu prediktor.
Logika Uji F: Membandingkan Variasi Terjelaskan vs Tak Terjelaskan
Uji F membandingkan rata-rata variasi yang dijelaskan model (MSR) dengan rata-rata variasi yang tidak terjelaskan (MSE). Kerangka ini disebut tabel ANOVA (Analysis of Variance).
F = MSR ÷ MSE = (SSR/dfregresi) ÷ (SSE/dfresidual)
Sumber Variasi
df
Arti
Regresi (SSR)
k = 2
Jumlah variabel prediktor (X1, X2)
Residual (SSE)
n−k−1 = 22
Sisa data setelah dikurangi prediktor & konstanta
Total (SST)
n−1 = 24
n = 25 UMKM − 1
Semakin besar F-hitung, semakin dominan variasi yang berhasil dijelaskan model dibanding variasi yang tersisa sebagai "kebetulan" (residual/galat/error).
Kalau F-hitung jatuh di kanan F-tabel → H0 ditolak → model layak secara simultan.
Uji F hanya bicara "keseluruhan model" — belum tahu variabel mana yang berpengaruh. Itu tugas uji t di bagian berikutnya.
Bagian 3 dari 3
Uji Hipotesis Parsial — Uji t dan Interpretasi Koefisien
Model sudah terbukti layak secara keseluruhan. Sekarang: variabel mana yang benar-benar berpengaruh terhadap omzet UMKM?
Logika Uji t: Menguji Satu Koefisien Regresi
Uji t membandingkan besarnya koefisien (b) dengan standard error-nya (Se) — seberapa besar koefisien itu relatif terhadap "ketidakpastian" pengukurannya.
thitung = bi ÷ Se(bi) | df = n − k − 1
H0 & H1 untuk variabel X1
H0: b1 = 0 (biaya promosi tidak berpengaruh)
H1: b1 ≠ 0 (biaya promosi berpengaruh)
Aturan keputusan (dua-arah)
|thitung| > ttabel → tolak H0 (signifikan)
|thitung| ≤ ttabel → gagal tolak H0
Hitung dari Nol #2: Uji t untuk Biaya Promosi Digital (X1)
Dari output regresi: koefisien b1 = 2,5 (setiap Rp1 juta promosi → omzet naik Rp2,5 juta), Se(b1) = 0,5, n = 25, k = 2, α = 5%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Koefisien regresi (b1)
dari output regresi
2,5
2. Standard error (Se b1)
dari output regresi
0,5
3. t-hitung
b1 ÷ Se(b1) = 2,5 ÷ 0,5
5,0
4. Derajat bebas (df)
n − k − 1 = 25 − 2 − 1
22
5. Bandingkan dengan t-tabel
t-tabel (α=5% dua-arah, df=22)
≈ 2,074
Kesimpulan
Signifikan
|t-hitung| (5,0) > t-tabel (≈2,074) → tolak H0
Setelah Signifikan: Membaca Arah dan Besaran Koefisien
Tanda Koefisien
+ / −
Arah hubungan dengan Y
Positif (+): X naik → Y naik. Negatif (−): X naik → Y turun. Contoh kita: b1=2,5 (positif) → promosi menaikkan omzet.
Besaran Koefisien
Rp2,5 jt
Interpretasi praktis, bukan cuma statistik
Signifikan secara statistik BELUM TENTU besar secara bisnis. Selalu tanyakan: apakah dampak Rp2,5 juta ini berarti bagi keputusan manajerial?
Jebakan umum: signifikansi statistik ≠ signifikansi praktis. Sampel besar bisa membuat koefisien kecil sekalipun jadi "signifikan" secara statistik.
Studi Kasus Terintegrasi: Membaca Output Regresi Lengkap
UMKM fesyen mitra Tokopedia, n=25. Model: Omzet = a + b1(Promosi) + b2(Follower). Hasil olah data (SPSS/Excel):
Bagian Output
Angka
Kesimpulan
R² / Adj. R²
80,0% / 78,2%
Model menjelaskan porsi besar variasi omzet
Uji F (kelayakan model)
F=44,0 > F-tabel ≈3,44
Model layak (H0 ditolak)
Uji t — Promosi (X1)
t=5,0 > t-tabel ≈2,074
Signifikan, arah positif
Uji t — Follower (X2)
t=1,3 < t-tabel ≈2,074
Tidak signifikan pada α=5%
Kesimpulan bisnis: model layak dipakai, dan biaya promosi digital adalah pendorong omzet yang terbukti signifikan — follower Instagram saja belum cukup meyakinkan pada data ini.
Jebakan Umum yang Harus Anda Hindari
Multikolinearitas
Kalau X1 dan X2 saling berkorelasi tinggi (mis. biaya promosi dan follower sama-sama naik bersamaan), uji t bisa "menyembunyikan" pengaruh sebenarnya — koefisien jadi tidak stabil meski model tetap layak (uji F tetap tinggi).
R² Tinggi ≠ Model Benar
R² tinggi tidak menjamin hubungan itu kausal (sebab-akibat), dan tidak menjamin variabel yang dipilih relevan secara teori bisnis — tetap perlu logika & domain knowledge.
Uji F & uji t adalah alat konfirmasi statistik, bukan pengganti logika bisnis. Selalu kombinasikan hasil angka dengan pemahaman konteks industri Anda.
Latihan Kelas: Uji Kelayakan Model Anda Sendiri
Kerjakan berpasangan (10 menit), gunakan data hipotetis berikut untuk model Penjualan Toko Online = a + b1(Rating Toko) + b2(Jumlah Ulasan), n = 20:
Data Diberikan
SST = 500, SSE = 125
b1 (Rating) = 3,0, Se(b1) = 0,9
α = 5%, k = 2 prediktor
Tugas Anda
Hitung R² dan F-hitung — apakah model layak?
Hitung t-hitung untuk Rating Toko — signifikankah?
Tuliskan satu kesimpulan bisnis untuk manajer toko