stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-11
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 11: Asumsi Regresi Berganda dan Penyimpangannya
Program Studi Bisnis Digital • FEB Undip

Statistika Bisnis

Pertemuan 11 — Asumsi Regresi Berganda dan Penyimpangannya

Model regresi berganda hanya bisa dipercaya kalau asumsi di baliknya terpenuhi. Hari ini kita bongkar asumsi itu satu per satu — dan apa yang terjadi kalau dilanggar.

RPS minggu 12 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Mengapa Asumsi Itu Penting?
Mengenal lima asumsi klasik di balik regresi berganda — dan kenapa mengabaikannya berbahaya.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan asumsi regresi berganda dan mengenali penyimpangannya. Secara rinci:

CAPAIAN 1
KONSEP
Menjelaskan lima asumsi klasik regresi berganda dan mengapa masing-masing dibutuhkan.
CAPAIAN 2
DETEKSI
Mengenali gejala multikolinearitas dan autokorelasi dari indikator sederhana.
CAPAIAN 3
HITUNG
Menghitung VIF (Variance Inflation Factor) dan statistik Durbin-Watson dari data sederhana.
CAPAIAN 4
DAMPAK
Menjelaskan konsekuensi tiap penyimpangan asumsi terhadap kesimpulan bisnis kita.

Kalau Asumsi Dilanggar, Kesimpulan Bisa Menyesatkan

Bayangkan seorang analis di sekuritas menyusun regresi berganda: harga saham BBCA diprediksi dari suku bunga acuan BI dan volume transaksi harian. Hasilnya rapi, R² tinggi — tapi ia lupa satu hal penting.

MASALAH 1
DUA X SALING MIRIP
Suku bunga acuan dan yield SUN bergerak nyaris identik — model bingung membedakan pengaruh masing-masing.
MASALAH 2
DATA BERURUTAN WAKTU
Data harian berturut-turut — harga hari ini sering "mirip" harga kemarin, bukan acak.
AKIBAT
KEPUTUSAN SALAH
Koefisien & uji signifikansi jadi tidak bisa dipercaya — rekomendasi beli/jual bisa keliru.
Regresi dengan R² tinggi TIDAK otomatis berarti model valid. Kalau asumsi di baliknya dilanggar, angka R² yang bagus itu bisa menipu — inilah alasan kita wajib memeriksa asumsi sebelum menyimpulkan apa pun.

Lima Asumsi Klasik Regresi Berganda

Kelima asumsi ini disingkat dengan istilah BLUE (Best Linear Unbiased Estimator — penaksir linear tak bias terbaik) dalam metode Ordinary Least Squares (OLS).

Linearitashubungan X→Y lurusTanpaMultikolinearitasX tak saling miripHomoskedastisitasvarians error konstan(detail P12)TanpaAutokorelasierror tak "berpola waktu"NormalitasResidualerror ∼ distribusi normal(detail P12)
Hari ini kita fokus pada linearitas, multikolinearitas, dan autokorelasi — homoskedastisitas dan normalitas residual akan diuji formal dengan software minggu depan (Pertemuan 12).

Asumsi 1: Hubungan Linear & Spesifikasi Model Benar

Regresi berganda mengasumsikan hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) berbentuk garis lurus, bukan lengkung.

CONTOH TERPENUHI
LINEAR
Penjualan UMKM naik proporsional terhadap anggaran iklan digital — tiap tambahan Rp1 juta iklan, penjualan naik dengan besaran relatif konsisten.
CONTOH DILANGGAR
NON-LINEAR
Efek iklan menurun setelah anggaran terlalu besar (diminishing returns) — hubungannya melengkung, bukan garis lurus.
Kalau hubungan sebenarnya melengkung tapi dipaksa dimodelkan garis lurus, prediksi model akan meleset sistematis di ujung-ujung data — solusinya bisa transformasi variabel (mis. logaritma) atau menambah suku kuadratik.

Asumsi 2: Variabel Bebas Tidak Saling "Mirip"

Multikolinearitas (multicollinearity) terjadi ketika dua atau lebih variabel bebas (X) berkorelasi sangat tinggi satu sama lain — model jadi bingung membagi "jasa" siapa yang menjelaskan Y.

Analogi: dua orang mendorong mobil bersamaan dari arah yang sama — sulit mengukur seberapa besar sumbangan tenaga masing-masing orang secara terpisah.
CONTOH KASUS
SUKU BUNGA & YIELD SUN
Suku bunga acuan BI dan yield SUN 10 tahun bergerak nyaris bersamaan — keduanya dipakai sekaligus sebagai X memprediksi harga saham.
GEJALA AWAL
TANDA CURIGA
Koefisien berubah drastis atau tanda (+/−) tidak masuk akal saat satu variabel ditambah/dihapus dari model.
Bagian 2 dari 3
Mendeteksi Penyimpangan
Menghitung VIF untuk multikolinearitas, statistik Durbin-Watson untuk autokorelasi, dan mengenali pola heteroskedastisitas.

Hitung dari Nol: Variance Inflation Factor (VIF)

VIF mengukur seberapa "terinfeksi" satu variabel bebas oleh variabel bebas lain. Caranya: regresikan X1 terhadap X lainnya, ambil R²-nya.

KASUS: X1 = SUKU BUNGA ACUAN, DIREGRESIKAN ATAS X2 & X3 LAINNYA
LangkahPerhitunganNilai
R² regresi auxiliary (X1 atas X2, X3)0,75
Tolerance1 − 0,750,25
VIF1 ÷ 0,254,00
Ambang batas kewaspadaan (rule of thumb)VIF ≥ 10
Kesimpulan4,00 < 10Belum parah
VIF X1 (SUKU BUNGA ACUAN)
4,00
di bawah ambang 10 — multikolinearitas belum mengkhawatirkan, tetap perlu dipantau

Coba Sendiri: Hitung VIF dari R² Auxiliary

Geser nilai R² regresi auxiliary dan amati bagaimana tolerance serta VIF berubah, termasuk kapan melewati ambang waspada 10.

Multikolinearitas: Konsekuensi & Solusi

KONSEKUENSI
STANDARD ERROR MEMBESAR
Koefisien jadi tidak stabil dan uji-t sering gagal signifikan, padahal secara bersama (uji-F) variabelnya berpengaruh.
SOLUSI
3 CARA UMUM
(1) Buang salah satu X yang mirip, (2) gabungkan jadi indeks komposit, atau (3) tambah ukuran sampel data.
Analis di sekuritas yang tadi kita bahas: cukup pilih salah satu antara suku bunga acuan BI atau yield SUN sebagai X — jangan dua-duanya, karena informasinya sudah tumpang tindih.

Asumsi: Tanpa Autokorelasi pada Error

Autokorelasi (autocorrelation) terjadi ketika error (residual) periode ini berkorelasi dengan error periode sebelumnya — paling sering muncul pada data deret waktu (time series).

SUMBER UMUM
DATA HARIAN/BULANAN
Penjualan Tokopedia bulan ini biasanya "mirip" bulan lalu — ada tren/musiman yang belum tertangkap model.
ALAT DETEKSI
DURBIN-WATSON
Statistik uji berkisar 0–4; nilai mendekati 2 menandakan tidak ada autokorelasi.
Autokorelasi membuat standard error diremehkan (underestimate) — variabel yang sebenarnya tidak signifikan bisa terlihat signifikan di uji-t, menyesatkan pengambil keputusan.

Hitung dari Nol: Statistik Durbin-Watson

Data ilustrasi: lima residual berurutan waktu (e1–e5) dari regresi penjualan harian sebuah UMKM daring.

LANGKAH PERHITUNGAN DW = Σ(et − et-1)² ÷ Σet²
LangkahPerhitunganNilai
Residual e1, e2, e3, e4, e52, −1, 3, −2, 1
Selisih berurutan (et − et-1)e2−e1, e3−e2, e4−e3, e5−e4−3, 4, −5, 3
Jumlah kuadrat selisih9 + 16 + 25 + 959
Jumlah kuadrat residual4 + 1 + 9 + 4 + 119
Statistik Durbin-Watson59 ÷ 193,11
DW = 3,11
> 2
mendekati batas atas 4 — mengindikasikan autokorelasi negatif, perlu ditelusuri lebih lanjut

Coba Sendiri: Statistik Durbin-Watson pada Pola Residual

Ubah pola residual berurutan waktu dan amati bagaimana nilai DW bergerak di antara 0-4 serta apa artinya di tiap zona.

Mengenali Pola Heteroskedastisitas (Sekilas)

Homoskedastisitas berarti sebaran error konstan di semua level X. Bandingkan dua pola sebaran residual berikut (diuji formal minggu depan):

Pola A — Homoskedastisitas (sehat)sebaran residual selalu sama lebar (pita konstan)Pola B — Heteroskedastisitas (gejala)sebaran melebar seperti corong — makin besar X, makin liar error
Bentuk corong (melebar) pada Pola B biasa muncul di data omzet UMKM: usaha kecil omzetnya stabil diprediksi, usaha besar omzetnya jauh lebih bervariasi & sulit ditebak persis.

Heteroskedastisitas: Konsekuensi & Solusi

KONSEKUENSI
SE TIDAK EFISIEN
Koefisien tetap tak bias, tapi standard error jadi tidak efisien — uji-t & interval keyakinan jadi kurang akurat.
SOLUSI UMUM
ROBUST SE / WLS
Robust standard error (White) atau Weighted Least Squares (WLS) memberi bobot lebih kecil ke observasi yang lebih "liar".
Kabar baiknya: heteroskedastisitas tidak merusak nilai koefisien itu sendiri — hanya merusak keandalan uji signifikansinya. Ini beda dengan multikolinearitas parah yang bisa membuat koefisien tidak stabil.

Sekilas: Normalitas Residual (Detail Minggu Depan)

Asumsi terakhir: residual (error) harus berdistribusi normal — bentuk lonceng simetris yang sudah Anda pelajari di Pertemuan 3 (Kurva Normal & Nilai-Z).

KENAPA PENTING
UJI-T & UJI-F VALID
Uji signifikansi koefisien (uji-t) dan kelayakan model (uji-F) mengasumsikan residual normal, terutama pada sampel kecil.
CARA UJI (P12)
JARQUE-BERA
Minggu depan kita praktik uji formal Jarque-Bera & histogram residual langsung di software statistik.
Kabar baik: dengan sampel besar (aturan praktis n > 30), pelanggaran normalitas residual biasanya tidak terlalu fatal berkat Teorema Limit Pusat (Central Limit Theorem).
Bagian 3 dari 3
Studi Kasus & Latihan
Membaca gejala penyimpangan pada kasus nyata, lalu berlatih mendiagnosis regresi Anda sendiri.

Studi Kasus: Diagnosis Regresi Harga Saham BBCA

Model: Harga BBCA = f(Suku Bunga Acuan, Yield SUN 10 Tahun, Volume Transaksi Harian). Mari diagnosis bersama.

AsumsiGejala yang DitemukanDiagnosis
MultikolinearitasVIF suku bunga acuan = 4,00 (di bawah 10)Belum parah
AutokorelasiDurbin-Watson = 3,11 (jauh dari 2)Terindikasi
LinearitasScatterplot X-Y tampak melengkung ringanPerlu ditelusuri
HeteroskedastisitasDiuji formal Pertemuan 12Belum diperiksa
Karena data ini deret waktu harian, autokorelasi paling mungkin jadi biang masalah — analis perlu menambah variabel lag (nilai periode sebelumnya) atau memakai model time series yang lebih sesuai.

Latihan: Diagnosis Cepat Regresi Kelompok Anda

Kerjakan berkelompok (3–4 orang), 15 menit. Gunakan model regresi berganda yang sudah Anda susun di Pertemuan 10, lalu jawab tiga pertanyaan berikut secara ringkas:

PERTANYAAN 1
SALING MIRIP?
Adakah dua X di model Anda yang secara konsep/data berkorelasi tinggi satu sama lain?
PERTANYAAN 2
DATA WAKTU?
Apakah data Anda deret waktu berurutan yang berisiko autokorelasi?
PERTANYAAN 3
POLA LURUS?
Kalau di-plot, apakah hubungan X dan Y terlihat lurus atau melengkung?
Dua kelompok akan diminta presentasi singkat (2 menit) di akhir sesi — sebutkan asumsi mana yang paling berisiko dilanggar di model Anda dan kenapa.

Kesalahan Umum Memeriksa Asumsi Klasik

KESALAHAN 1
HANYA LIHAT R²
Puas dengan R² tinggi tanpa pernah memeriksa VIF, Durbin-Watson, atau pola residual sama sekali.
KESALAHAN 2
VIF SEDIKIT LEWAT LANGSUNG PANIK
VIF sedikit di atas 10 tidak selalu berarti model rusak total — pertimbangkan konteks & ukuran sampel dulu.
KESALAHAN 3
ABAIKAN URUTAN WAKTU DATA
Menganggap semua data "acak" padahal datanya deret waktu — lupa cek Durbin-Watson sama sekali.
KESALAHAN 4
SALAH OBAT UNTUK GEJALA
Memakai robust SE untuk mengatasi multikolinearitas (padahal itu obat heteroskedastisitas) — tak menyelesaikan akar masalah.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya

CHEAT SHEET — 5 ASUMSI KLASIK OLS
AsumsiIndikator/Alat Cek
LinearitasScatterplot X-Y — harus tampak lurus
Tanpa MultikolinearitasVIF — waspada jika ≥ 10
HomoskedastisitasBreusch-Pagan/White (detail Pertemuan 12)
Tanpa AutokorelasiDurbin-Watson — ideal mendekati 2
Normalitas ResidualJarque-Bera (detail Pertemuan 12)
MINGGU DEPAN (P12)
Pengujian Asumsi Klasik — praktik normalitas & homoskedastisitas formal dengan software statistik.
TUGAS
DIAGNOSIS TERTULIS
Tuliskan diagnosis tiga asumsi (linearitas, multikol, autokorelasi) model kelompok Anda, kumpulkan sebelum P12.