stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-08
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 8: Analisis Korelasi: Hubungan Dua Variabel
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP

Statistika Bisnis

Pertemuan 8 — Analisis Korelasi: Hubungan Dua Variabel

Belajar mengukur arah dan kekuatan hubungan antara dua variabel bisnis — dari diagram pencar sampai koefisien korelasi Pearson — sebagai fondasi sebelum masuk ke regresi minggu depan.

RPS MINGGU 9 • 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Pertemuan ini adalah jembatan dari estimasi & pengujian hipotesis univariat (Pertemuan 7) menuju regresi (Pertemuan 9–10). Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:

Konsep & Perhitungan
  • Menjelaskan makna arah dan kekuatan hubungan dua variabel
  • Membaca diagram pencar (scatterplot) secara visual
  • Menghitung koefisien korelasi Pearson (r) secara manual
Interpretasi & Aplikasi
  • Menguji signifikansi r dan menghitung koefisien determinasi (r²)
  • Membedakan korelasi dari kausalitas — termasuk mengenali korelasi semu
  • Menerapkan analisis korelasi pada kasus bisnis nyata Indonesia
Bagian 1
Konsep & Pengukuran Korelasi

Dari diagram pencar sampai koefisien korelasi Pearson — membaca arah dan kekuatan hubungan dua variabel.

Apa Itu Korelasi?

Korelasi mengukur derajat dan arah hubungan linear antara dua variabel kuantitatif — bukan sebab-akibat, hanya kecenderungan bergerak bersama.

Dua Unsur
Setiap hubungan punya arah (positif/negatif) dan kekuatan (lemah sampai sangat kuat) — dua dimensi terpisah.
Contoh Bisnis
Biaya iklan digital & jumlah penjualan; harga saham BBCA & pergerakan IHSG; jam operasional toko & omzet harian.
Bukan Kausalitas
Korelasi kuat tidak otomatis berarti satu variabel menyebabkan yang lain berubah — kita bahas ini di Slide 14.

Diagram Pencar (Scatterplot): Alat Baca Pertama

Scatterplot (diagram pencar) memplot tiap pasangan data (x,y) sebagai satu titik — pola sebaran titik langsung menunjukkan arah hubungan sebelum kita hitung angka apa pun.

Korelasi PositifKorelasi NegatifTidak Ada Pola
Titik-titik yang mengikuti garis lurus rapat = korelasi kuat; titik-titik yang tersebar acak tanpa pola = korelasi lemah atau tidak ada.

Dua Dimensi Terpisah: Arah dan Kekuatan

Koefisien korelasi (r) berkisar dari −1 sampai +1. Tanda menunjukkan arah, angka mutlaknya menunjukkan kekuatan — dua hal yang harus dibaca terpisah.

−10+1Negatif sempurnaTak ada hubunganPositif sempurna
Arah (Tanda)
  • Positif (+): keduanya bergerak searah
  • Negatif (−): keduanya berlawanan arah
Kekuatan (Nilai Mutlak)
  • Mendekati 1: hubungan sangat kuat & konsisten
  • Mendekati 0: hubungan lemah atau tak ada

Koefisien Korelasi Pearson (r)

Rumus yang paling umum dipakai untuk data kuantitatif berskala interval/rasio dengan hubungan yang diduga linear.

r = [n∑xy − ∑x∑y] / √{[n∑x² − (∑x)²][n∑y² − (∑y)²]}
Komponen Rumus
  • n = jumlah pasangan data (observasi)
  • ∑xy = jumlah hasil kali tiap pasang x dan y
  • ∑x², ∑y² = jumlah kuadrat tiap variabel
Asumsi Dasar
  • Kedua variabel berskala interval/rasio
  • Hubungan yang diuji bersifat linear
  • Bebas dari pengaruh outlier (nilai pencilan) ekstrem

Coba Sendiri: Bandingkan Korelasi Pearson dan Spearman

Geser atau tambahkan titik data (termasuk outlier), lalu amati bagaimana nilai r Pearson dan Spearman bisa berbeda jauh.

Skala Interpretasi Kekuatan |r|

Rentang berikut adalah pedoman umum (bukan aturan mutlak) untuk membaca kekuatan hubungan berdasarkan nilai mutlak koefisien korelasi.

Rentang |r|Kekuatan HubunganContoh Kasus
0,00 – 0,19Sangat lemah / dapat diabaikanWarna logo & jumlah pengunjung toko
0,20 – 0,39LemahJumlah karyawan & rating layanan
0,40 – 0,59SedangLama promosi & jumlah follower baru
0,60 – 0,79KuatBiaya iklan & jumlah penjualan (kasus kita)
0,80 – 1,00Sangat kuatHarga saham BBCA & pergerakan indeks IHSG

Hitung dari Nol #1: Koefisien Korelasi Pearson

Data 5 bulan sebuah toko online UMKM: Biaya Iklan (x, juta Rp) = 2, 4, 6, 8, 10 — Penjualan (y, unit) = 18, 30, 28, 50, 44.

LangkahPerhitunganNilai
∑x — total biaya iklan2+4+6+8+1030
∑y — total penjualan18+30+28+50+44170
∑xy — jumlah hasil kali tiap pasangan(2×18)+(4×30)+(6×28)+(8×50)+(10×44)1.164
∑x² — jumlah kuadrat x2²+4²+6²+8²+10²220
∑y² — jumlah kuadrat y18²+30²+28²+50²+44²6.444
r (n=5)
0,884
[5(1.164) − (30)(170)] / √{[5(220)−30²][5(6.444)−170²]}
Bagian 2
Signifikansi, Determinasi & Jebakan Korelasi

Menguji apakah r kita bermakna secara statistik, lalu menghindari kesalahan tafsir paling umum.

Menguji Signifikansi Korelasi

r dari sampel belum tentu berlaku untuk populasi. Kita uji hipotesis: H₀: ρ = 0 (tidak ada korelasi di populasi) lawan H₁: ρ ≠ 0.

t = r √(n−2) / √(1−r²)    dengan df = n−2
Logika Uji
  • Hitung t-hitung dari r dan n sampel
  • Bandingkan dengan t-tabel pada α dan df tertentu
  • |t-hitung| > t-tabel → H₀ ditolak, r signifikan
Kenapa Perlu Diuji?
  • Sampel kecil bisa menghasilkan r besar secara kebetulan
  • Uji ini memberi dasar untuk klaim ke populasi
  • Sama logikanya dengan uji-t Pertemuan 7, kini diterapkan ke r

Hitung dari Nol #2: Uji Signifikansi r

Melanjutkan kasus Slide 9: r = 0,884, n = 5. Kita uji pada α = 0,05 dua sisi.

LangkahPerhitunganNilai
r² — kuadrat koefisien korelasi0,884²0,781
1 − r²1 − 0,7810,219
df — derajat bebasn − 2 = 5 − 23
t-hitung0,884 × √3 / √0,2193,27
t-tabel (df=3, α=0,05 dua sisi)dari tabel distribusi t3,182
Kesimpulan
3,27 > 3,182
H₀ ditolak — korelasi signifikan pada α=0,05

Koefisien Determinasi (r²)

r² menunjukkan proporsi variasi satu variabel yang bisa dijelaskan oleh variasi variabel lainnya — selalu bernilai 0 sampai 1 (atau 0% sampai 100%).

Dari Kasus Kita
78,1%
r² = 0,781 — dari perhitungan Slide 12
78,1% variasi penjualan toko UMKM ini bisa dijelaskan oleh variasi biaya iklan; sisanya 21,9% dijelaskan faktor lain (musim, harga pesaing, cuaca, dsb).
Kenapa Penting?
  • r besar tapi r² kecil → kekuatan penjelas sebenarnya rendah
  • r = 0,5 hanya berarti r² = 25% variasi terjelaskan
  • Jadi dasar utama goodness of fit di regresi minggu depan

Jebakan #1: Korelasi ≠ Kausalitas

Korelasi tinggi hanya menunjukkan pola bergerak bersama — bukan bukti bahwa satu variabel menyebabkan perubahan pada variabel lain.

LangkahContoh KasusKesimpulan
1. Amati korelasi tinggiPenjualan payung & jumlah kecelakaan motor di Jakarta sama-sama naik bulan tertentur positif kuat
2. Godaan simpulan salah"Payung menyebabkan kecelakaan motor"?Tidak masuk akal secara logika bisnis
3. Cari variabel ketigaMusim hujan mendorong pembelian payung dan membuat jalan licinVariabel pengganggu (confounding variable) ditemukan
4. Simpulan yang benarMusim hujan adalah penyebab bersama — bukan payung yang menyebabkan kecelakaanKorelasi valid, kausalitas keliru

Jebakan #2: Korelasi Semu (Spurious Correlation)

Spurious correlation (korelasi semu) adalah korelasi statistik yang kuat tapi tidak punya hubungan bermakna sama sekali — sering muncul karena tren waktu yang kebetulan sejalan.

LangkahContoh KasusKesimpulan
1. Data time-series naik bersamaJumlah pengguna dompet digital di Indonesia & harga emas dunia sama-sama naik 2018–2023r positif tinggi secara matematis
2. Uji akal sehat bisnisTidak ada mekanisme ekonomi yang menghubungkan adopsi dompet digital dengan harga emas duniaHubungan tidak masuk akal secara teori
3. Identifikasi penyebab sebenarnyaKeduanya sekadar sama-sama bertumbuh seiring waktu — tren global, bukan hubungan langsungKorelasi semu (kebetulan tren)
Aturan praktis: sebelum mempercayai korelasi tinggi, selalu tanyakan — apakah ada teori bisnis atau ekonomi yang masuk akal di balik hubungan ini?

Latihan: Hitung & Interpretasikan Korelasi Anda Sendiri

Kerjakan berpasangan (2 orang), waktu 15 menit, kumpulkan lewat LMS sebelum kelas berakhir.

Data yang Diberikan
  • 6 bulan data: jumlah konten promosi Instagram (x) & jumlah pesanan toko (y)
  • Dataset lengkap ada di lampiran LMS minggu ini
Instruksi
  • Hitung r secara manual (tunjukkan seluruh langkah ∑x, ∑y, ∑xy, ∑x², ∑y²)
  • Uji signifikansi r pada α=0,05
  • Tulis 1 paragraf: apakah korelasi ini masuk akal secara teori bisnis, atau berisiko semu?
Bagian 3
Aplikasi Korelasi dalam Bisnis

Dari analisis pasar modal sampai kesalahan umum yang wajib Anda hindari saat membaca korelasi.

Studi Kasus: Korelasi di Pasar Modal & E-commerce

Analis dan manajer bisnis di Indonesia memakai korelasi setiap hari untuk membaca risiko dan pola pasar — berikut dua contoh nyata.

Analisis Saham BEI
  • Harga saham BBCA berkorelasi sangat kuat (r ≈ 0,9) dengan pergerakan IHSG karena bobotnya besar di indeks
  • Analis memakai korelasi antar-saham untuk membangun portofolio terdiversifikasi — pilih saham berkorelasi rendah agar risiko tidak menumpuk
Marketplace & UMKM Digital
  • Tokopedia/Shopee memantau korelasi antara skor ulasan toko dan tingkat konversi pembelian
  • UMKM memakai korelasi biaya iklan & penjualan (kasus kita) untuk menentukan alokasi anggaran marketing bulan depan

Kesalahan Umum saat Membaca Korelasi

Empat kesalahan yang paling sering ditemukan dalam laporan riset pasar dan tugas mahasiswa — hindari ini di latihan Anda maupun UAS nanti.

KesalahanContohCara Menghindari
1. Langsung simpulkan kausalitas"r tinggi berarti X pasti menyebabkan Y"Selalu cek teori bisnis & variabel pengganggu (Slide 14)
2. Lupa cek scatterplotMenghitung r pada data yang sebenarnya berpola melengkung, bukan lurusPlot dulu (Slide 5) sebelum hitung angka
3. Abaikan outlierSatu transaksi ekstrem menarik r secara drastisPeriksa data ekstrem sebelum menghitung
4. Tidak uji signifikansiKlaim korelasi "kuat" dari sampel sangat kecil tanpa uji-tSelalu uji signifikansi (Slide 11–12) sebelum klaim ke populasi

Rangkuman & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya

Hari ini Anda belajar mengukur, menguji, dan menafsirkan hubungan dua variabel secara bertanggung jawab.

Yang Sudah Dikuasai
Menghitung r manual, menguji signifikansinya, menghitung r², dan mengenali korelasi semu vs kausalitas.
Kunci Diingat
Korelasi = hubungan bergerak bersama, bukan sebab-akibat. Selalu cek scatterplot & teori bisnis sebelum percaya angka r.
Minggu Depan
Pertemuan 9: Regresi Sederhana — dari "seberapa erat hubungan" menuju "berapa besar Y berubah bila X berubah".
Bawa hasil latihan Slide 16 ke pertemuan depan — data yang sama akan kita pakai lagi untuk membangun persamaan regresi.