stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Asumsi Klasik Regresi Berganda & Penyimpangannya
FEB UNDIP · Statistika Bisnis II

Asumsi Klasik
Regresi Berganda

Pertemuan 12 · Asumsi Klasik & Penyimpangannya

Model regresi Anda bisa terlihat "bagus" — R² tinggi, koefisien signifikan — tetapi diam-diam menyesatkan. Hari ini kita uji lima asumsi yang harus dipenuhi agar hasil regresi layak dipercaya.

RPS Minggu 12 · Sub-CPMK 8 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan asumsi yang harus dipenuhi dalam regresi berganda dan penyimpangannya (Sub-CPMK 8). Secara rinci:

Capaian 1 — Sebutkan
5
Asumsi Klasik
Menjelaskan lima asumsi klasik dan konsekuensi bila masing-masing dilanggar.
Capaian 2 — Hitung
4
Diagnostik Uji
Menghitung VIF, Goldfeld-Quandt F, Durbin-Watson, dan Jarque-Bera dari data.
Capaian 3 — Putuskan
Terpenuhi / Dilanggar
Memutuskan status asumsi dengan aturan ambang yang benar tiap uji.
Capaian 4 — Perbaiki
Remedy Tepat
Memilih tindakan perbaikan (remedy) yang tepat untuk tiap pelanggaran.

Modelnya "Lulus Ujian", Tapi Hasilnya Bohong?

Anda analis di sebuah perusahaan ritel. Model: Penjualan = f(Biaya Iklan, Jumlah Toko, Jumlah Karyawan). Output: R² = 0,91, semua koefisien signifikan (p < 0,05). Manajer senang — tetapi bolehkah langsung dipakai untuk keputusan?

Kalau Langsung Percaya
!
Bahaya tersembunyi
"R² tinggi, p kecil — pasti modelnya hebat!" Masalah: galat baku bisa salah hitung, sehingga "signifikan" itu palsu.
Kalau Periksa Asumsi
Cara yang benar
Cek dulu: apakah X saling tumpang-tindih (jumlah toko ≈ jumlah karyawan)? Apakah galat menyebar rata? Baru putuskan.
Pertanyaannya bukan "apakah R²-nya tinggi?" melainkan "apakah model ini memenuhi syarat agar angka-angkanya layak dipercaya?". Tanpa uji asumsi, R² tinggi bisa menjadi jebakan.
Blok 1 dari 4
Mengapa Asumsi Penting
Sebelum menguji satu per satu, kita pahami dulu janji besar OLS: teorema Gauss-Markov dan estimator BLUE. Asumsi adalah harga yang harus dibayar agar regresi Anda "terbaik".

Teorema Gauss-Markov & Estimator BLUE

Jika asumsi klasik dipenuhi, OLS menghasilkan estimator BLUEBest Linear Unbiased Estimator.

B-L-U-E Artinya
BLUE
Best — varians terkecil di kelasnya
Linear — kombinasi linear dari data
Unbiased — rata-rata estimasi = nilai sebenarnya
Estimator — cara menaksir parameter populasi
Kenapa Penting
!
Hanya bila BLUE, uji t & F sahih dan selang kepercayaan benar. Langgar asumsi → status BLUE hilang → kesimpulan bisa meleset.
Inti yang sering salah: pelanggaran asumsi tidak selalu membuat koefisien bias. Multikolinearitas & heteroskedastisitas membuat estimasi tidak presisi / galat baku salah, bukan bias. Yang membuat bias adalah salah spesifikasi model (mis. variabel penting tertinggal).

Peta Lima Asumsi Klasik Regresi Berganda

#AsumsiArtinyaBila Dilanggar
1LinearitasHubungan X–Y memang garis lurusModel salah bentuk; estimasi menyesatkan
2Non-multikolinearitasAntar-X tidak saling tumpang-tindih kuatGalat baku membengkak; koefisien tak stabil
3HomoskedastisitasSebaran galat rata di semua nilai XGalat baku bias; uji t/F menyesatkan
4Non-autokorelasiGalat antar-amatan tidak berkorelasiGalat baku bias (umum pada deret waktu)
5Normalitas residualResidual menyebar normalUji t/F kurang sahih pada sampel kecil
Catatan: fokus uji kuantitatif hari ini = multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, normalitas. Foto slide ini sebagai peta induk pertemuan.

Residual: Bahan Baku Semua Diagnostik

Hampir semua uji asumsi bekerja pada residual — bukan data mentah. Residual = selisih nilai aktual dan nilai prediksi model.

eᵢ = Yᵢ − Ŷᵢ    (e = residual · Y = aktual · Ŷ = prediksi)
eᵢGaris regresi ŶXY
Residual Kecil
Titik aktual dekat garis regresi → model menebak baik di titik itu.
Pola Residual = Sinyal
Jika residual punya pola (corong, gelombang, miring), berarti ada asumsi yang dilanggar.
Kunci: uji normalitas memeriksa residual, bukan X atau Y. Uji homoskedastisitas memeriksa sebaran residual. Uji autokorelasi memeriksa urutan residual.
Blok 2 dari 4
Multikolinearitas & Heteroskedastisitas
Dua pelanggaran tersering pada data lintas-perusahaan/lintas-individu: variabel bebas yang saling tumpang-tindih (multikolinearitas) dan sebaran galat yang tidak merata (heteroskedastisitas). Lengkap dengan dua Hitung dari Nol.

Multikolinearitas — Saat Variabel Bebas Saling "Bercermin"

Terjadi bila dua/lebih variabel bebas berkorelasi tinggi. Model bingung membagi "jasa" tiap variabel.

Gejala Khas
R²↑ t↓
tinggi tetapi banyak koefisien tidak signifikan (uji t). Koefisien berubah drastis / berganti tanda saat variabel ditambah atau dikurangi.
Konsekuensi
SE↑
Koefisien tetap TAK BIAS, tetapi galat baku membengkak → uji t lemah → variabel yang sebenarnya penting tampak "tidak signifikan".
Miskonsepsi yang dibongkar: multikolinearitas tidak membuat koefisien salah/bias. Ia membuat estimasi tidak presisi. Itulah mengapa gejalanya khas: R² tinggi tapi t-nya banyak yang tidak signifikan.
Contoh Indonesia: Model laba bank = f(total aset, total modal). Aset & modal sangat berkorelasi → keduanya bisa tampak tidak signifikan, padahal jelas relevan.

Mendeteksi Multikolinearitas: VIF & Tolerance

Ukuran baku = VIF (Variance Inflation Factor). Untuk tiap variabel bebas Xj, regresikan Xj terhadap variabel bebas lainnya → dapat j.

VIFj = 1 ÷ (1 − R²j)
Tolerance = 1 ÷ VIF = (1 − R²j)
VIFToleranceTafsiran
< 5> 0,20Aman
5 – 100,10 – 0,20Waspada
> 10< 0,10Multikolinearitas serius
Aturan praktis yang dipakai luas (a.l. Ghozali): VIF > 10 atau Tolerance < 0,10 → indikasi multikolinearitas serius.

Hitung dari Nol — HDN-1: VIF dari R² Auxiliary

Model laba ritel: Y = f(X₁ biaya iklan, X₂ jumlah toko, X₃ jumlah karyawan). Regresi bantu tiap Xj terhadap variabel bebas lain memberi R²j berikut. Hitung VIF tiap variabel.

Variabelj (auxiliary)VIF = 1/(1 − R²j)Tafsiran
X₁ biaya iklan0,501/(1−0,50) = 1/0,50 = 2,00Aman
X₂ jumlah toko0,901/(1−0,90) = 1/0,10 = 10,00Batas / serius
X₃ jumlah karyawan0,951/(1−0,95) = 1/0,05 = 20,00Serius
Keputusan: X₂ (VIF = 10) dan X₃ (VIF = 20) menandakan multikolinearitas serius — jumlah toko & jumlah karyawan tumpang-tindih.
Remedy: pilih salah satu, atau gabungkan jadi rasio (mis. karyawan per toko).

Heteroskedastisitas — Sebaran Galat yang Tidak Merata

Homoskedastisitas (yang diinginkan) = sebaran galat sama di semua nilai X. Heteroskedastisitas (pelanggaran) = sebaran galat berubah — biasanya melebar seperti corong.

Homoskedastik (ideal)Pita selebar tetap ✓
Heteroskedastik — Pola CorongVar galat naik → pola corong ✗
Konsekuensi: koefisien tetap tak bias, tetapi galat baku menjadi salah → uji t & F menyesatkan. Contoh: belanja rumah tangga vs pendapatan — keluarga berpendapatan tinggi punya variasi belanja jauh lebih lebar.

Mendeteksi Heteroskedastisitas

Grafik (Cepat)
Plot
Plot residual vs Ŷ. Pola acak tak berbentuk = homoskedastik. Pola corong/kerucut = heteroskedastik. Selalu buat plot ini lebih dulu.
Uji Formal
F
Goldfeld-Quandt, Glejser, atau Breusch-Pagan/White. Hari ini fokus Goldfeld-Quandt — paling mudah dihitung tangan.
F = (RSS₂ ÷ df₂) ÷ (RSS₁ ÷ df₁)

RSS₂ = kelompok nilai X besar · RSS₁ = kelompok nilai X kecil · df = nk − k
Prosedur: urutkan data menurut X → buang ~⅕ data tengah → regresi terpisah dua kelompok → bandingkan RSS.

Uji Glejser (populer di skripsi Indonesia): regresikan |residual| terhadap X. Bila koefisien X signifikan → ada heteroskedastisitas.

Hitung dari Nol — HDN-2: Uji Goldfeld-Quandt

Data n = 20 (belanja vs pendapatan) diurut menurut pendapatan, 4 data tengah dibuang, sisanya 2 kelompok @ 8 amatan. Model k = 2. RSS₁ = 12 · RSS₂ = 60. α = 5%.

LangkahPerhitunganNilai
1. HipotesisH₀: homoskedastik · H₁: heteroskedastik
2. df tiap kelompokdf = nk − k = 8 − 26
3a. MS kelompok besarRSS₂ / df₂ = 60 / 610
3b. MS kelompok kecilRSS₁ / df₁ = 12 / 62
4. Statistik FF = 10 / 25,0
5. F kritisF(0,05 ; 6 ; 6) dari tabel≈ 4,28
6. Keputusan5,0 > 4,28 → jatuh di daerah tolakTolak H₀
Keputusan: tolak H₀ → HETEROSKEDASTIK. F = 5,0 > 4,28 (p ≈ 0,036 < 0,05). Galat di kelompok pendapatan besar jauh lebih lebar.
Remedy: galat baku robust (HC) atau transformasi (mis. log Y).
Blok 3 dari 4
Autokorelasi & Normalitas Residual
Dua asumsi terakhir: galat yang "mengingat" masa lalu (autokorelasi, khas data deret waktu) dideteksi dengan Durbin-Watson; dan residual yang menyebar normal, diuji dengan Jarque-Bera. Dua Hitung dari Nol lagi.

Autokorelasi — Saat Galat "Mengingat" Masa Lalu

Terjadi bila galat satu amatan berkorelasi dengan galat amatan lain — paling sering galat berurutan waktu (et dengan et-1).

Autokorelasi Positif
≈+
Galat cenderung diikuti galat bertanda sama (deretan + lalu deretan −). Pola residual bergelombang panjang. Paling umum di data ekonomi.
Autokorelasi Negatif
≈−
Galat berganti tanda bergantian (+ − + −). Pola residual zig-zag rapat. Lebih jarang.
Konsekuensi: koefisien tetap tak bias, tetapi galat baku bias (biasanya terlalu kecil) → uji t terlalu optimistis (signifikansi palsu). Hampir selalu masalah pada data deret waktu, bukan data lintas-individu acak.
Contoh Indonesia: Penjualan bulanan ritel — bulan ramai cenderung diikuti bulan ramai (pola musiman) → galat model berkorelasi antar-bulan.

Mendeteksi Autokorelasi: Durbin-Watson

Statistik Durbin-Watson (DW) mengukur autokorelasi orde-1 dari residual berurutan. Nilainya selalu berkisar 0 – 4.

DW = Σt=2n(et − et-1)² ÷ Σt=1n et²

Hubungan: DW ≈ 2(1 − ρ̂), ρ̂ = korelasi et dengan et-1

Nilai DWρ̂Tafsiran
≈ 2≈ 0Tidak ada autokorelasi (ideal)
mendekati 0→ +1Autokorelasi positif
mendekati 4→ −1Autokorelasi negatif
Lebih tepat: bandingkan DW dengan batas dL & dU dari tabel Durbin-Watson (menurut n & jumlah prediktor). DW < dL → ada autokorelasi positif · DW > dU → aman · di antara = zona tak pasti.

Hitung dari Nol — HDN-3: Durbin-Watson

Residual deret waktu n = 10 (bulanan): e = [2,0; 1,5; 1,0; −0,5; −1,0; −1,5; −1,0; 0,5; 1,0; −2,0]. Hitung DW.

LangkahPerhitunganNilai
1. Σet²4 + 2,25 + 1 + 0,25 + 1 + 2,25 + 1 + 0,25 + 1 + 417
2. Selisih (et − et-1)−0,5; −0,5; −1,5; −0,5; −0,5; +0,5; +1,5; +0,5; −3,0
3. Σ(et − et-10,25+0,25+2,25+0,25+0,25+0,25+2,25+0,25+9,015
4. Statistik DWDW = 15 / 170,88
5. Taksiran ρ̂ρ̂ ≈ 1 − DW/2 = 1 − 0,44+0,56
6. KeputusanDW = 0,88 jauh di bawah 2 (mendekati 0)Autokorelasi positif
Keputusan: ada autokorelasi positif (DW = 0,88 · ρ̂ ≈ +0,56). DW jauh di bawah 2.
Remedy: model dinamis (tambah lag), transformasi Cochrane-Orcutt, atau galat baku Newey-West.

Normalitas Residual — Mengapa & Bagaimana

Asumsi: residual menyebar normal. Penting agar uji t & F sahih, terutama pada sampel kecil. (Sampel besar: dalil limit pusat membuatnya kurang kritis.)

Cara Grafik
QQ
Histogram residual (berbentuk lonceng?) dan Normal Q-Q plot (titik mengikuti garis diagonal?). Selalu buat ini sebagai langkah pertama.
Cara Formal
JB
Uji Jarque-Bera (skewness & kurtosis), Kolmogorov-Smirnov, atau Shapiro-Wilk. Hari ini fokus Jarque-Bera.
Miskonsepsi yang dibongkar: yang diuji normal adalah RESIDUAL, bukan variabel X atau Y mentah.
H₀ uji normalitas: residual normal → kita berharap GAGAL tolak H₀ (p > 0,05 = residual normal = baik).
Contoh Indonesia: Model harga rumah sering punya residual menceng kanan (beberapa rumah sangat mahal) → sering diatasi dengan log harga.

Hitung dari Nol — HDN-4: Uji Jarque-Bera

Dari n = 120 residual model harga, dihitung skewness S = 1,0 dan kurtosis K = 4,5. Uji normalitas pada α = 5%.

JB = (n/6) × [ S² + (K − 3)² ÷ 4 ]
LangkahPerhitunganNilai
1. HipotesisH₀: residual normal · H₁: tidak normal
2. Komponen skewnessS² = 1,0²1,00
3. Komponen kurtosis(K−3)²/4 = (4,5−3)²/4 = (1,5)²/4 = 2,25/40,5625
4. Jumlah dalam kurung1,00 + 0,56251,5625
5. Statistik JB(120/6) × 1,5625 = 20 × 1,562531,25
6. Nilai kritisχ²(0,05 ; df = 2)5,99
7. Keputusan31,25 > 5,99 → jatuh di daerah tolakTolak H₀
Keputusan: tolak H₀ → residual TIDAK normal (JB = 31,25 > 5,99 · p < 0,001). Residual menceng & lebih runcing dari normal.
Remedy: transformasi (log/akar), buang outlier ekstrem, atau perbesar sampel (CLT).
Blok 4 dari 4
Alur Diagnostik, Remedy & Rangkuman
Menyatukan semuanya menjadi satu alur pemeriksaan praktis, memetakan obat untuk tiap pelanggaran, lalu cheat sheet, studi kasus Indonesia, dan latihan.

Alur Diagnostik 5 Asumsi — Checklist Praktis

Jalankan urut setiap kali membangun model regresi berganda. Arah keputusan tiap uji tidak seragam — hafalkan kolom "Aman bila".

#AsumsiAlat UjiAman Bila
1LinearitasScatter X–Y; Ramsey RESETHubungan tampak lurus / RESET tak signifikan
2Non-multikolinearitasVIF / ToleranceVIF < 10 (Tolerance > 0,10)
3HomoskedastisitasGoldfeld-Quandt / GlejserUji tidak signifikan (gagal tolak H₀)
4Non-autokorelasiDurbin-WatsonDW dekat 2 (dU < DW < 4 − dU)
5Normalitas residualJarque-Bera / K-SUji tidak signifikan (p > 0,05)
Arah keputusan tiap uji tidak seragam: VIF & DW dibaca langsung (kecil/dekat-2 = aman). GQ & JB adalah uji hipotesis — "aman" = gagal tolak H₀. Foto slide ini.

Empat Pelanggaran di Data Bisnis Indonesia

Multikolinearitas — Perbankan
Model laba bank: f(total aset + total modal + DPK). Ketiganya bergerak bersama → VIF tinggi.
Obat: pilih satu ukuran skala atau pakai rasio (CAR, ROA).
Heteroskedastisitas — Belanja RT
Belanja vs pendapatan rumah tangga (gaya SUSENAS). Variasi belanja melebar di pendapatan tinggi → pola corong.
Obat: log, galat baku robust (HC).
Autokorelasi — Penjualan Bulanan
Penjualan ritel bulanan punya pola musiman; galat antar-bulan berkorelasi → DW rendah.
Obat: tambah lag/dummy musim, Newey-West.
Normalitas — Harga Saham/Properti
Return saham & harga properti sering menceng/berekor tebal → residual tak normal.
Obat: transformasi, perbesar sampel (CLT).
Pola umum: data lintas-perusahaan → rawan multikol & hetero · data deret waktu → rawan autokorelasi · data harga/return → rawan non-normalitas.

Remedy — Obat untuk Tiap Pelanggaran

PelanggaranKonsekuensi UtamaTindakan Perbaikan (Remedy)
MultikolinearitasGalat baku membengkak; koefisien tak stabilBuang/gabung variabel kembar; pakai rasio; tambah data; PCA/ridge
HeteroskedastisitasGalat baku bias → uji t/F salahGalat baku robust (HC); transformasi (log/akar); WLS
AutokorelasiGalat baku bias (terlalu kecil)Tambah lag; Cochrane-Orcutt; galat baku Newey-West
Non-normalitasUji t/F kurang sahih (sampel kecil)Transformasi (log); buang outlier; perbesar n (CLT)
Prinsip etika: jangan langsung buang data atau utak-atik variabel hanya agar "lolos uji". Pahami mengapa asumsi dilanggar (skala, musim, outlier) lalu pilih remedy yang masuk akal secara teori — bukan demi kosmetik p-value.

Cheat Sheet — Uji Asumsi Klasik

AsumsiUjiRumus Inti"Aman" Bila
MultikolinearitasVIFVIF = 1/(1 − R²j)VIF < 10
HomoskedastisitasGoldfeld-QuandtF = (RSS₂/df) ÷ (RSS₁/df)F < F-kritis (gagal tolak)
Non-autokorelasiDurbin-WatsonDW = Σ(et−et-1)² / Σet²DW ≈ 2 (dU<DW<4−dU)
Normalitas residualJarque-BeraJB = (n/6)[S² + (K−3)²/4]JB < χ²(2) (gagal tolak)
Ingat arah keputusan: VIF & DW dibaca langsung (kecil/dekat-2 = aman). GQ & JB = uji hipotesis → "aman" = gagal tolak H₀.
Prinsip terakhir: pelanggaran asumsi ≠ koefisien bias. Yang rusak = galat baku / presisi estimasi.

Latihan & Diskusi Kelas

Kerjakan 7 menit. Tulis langkah lengkap: rumus → substitusi angka → hasil → keputusan + alasan. Kunci ada di Lampiran B materi.

Latihan 1 — VIF
?
Hitung VIF
Regresi bantu sebuah variabel bebas memberi j = 0,80. Hitung VIF dan Tolerance, lalu putuskan: multikolinearitas serius atau tidak?
(Petunjuk: ambang VIF = 10.)
Latihan 2 — Durbin-Watson
?
Hitung DW
Dari residual deret waktu diketahui Σ(et−et-1)² = 36 dan Σet² = 24. Hitung DW, taksir ρ̂, dan simpulkan jenis autokorelasinya.
(Petunjuk: DW = 36/24.)
Diskusi setelah latihan: D1 — "VIF variabel Anda = 12; haruskah langsung dibuang?" · D2 — "Model lintas-perusahaan (cross-section) menghasilkan DW = 1,1 — perlu khawatir autokorelasi?"

Rangkuman & Persiapan Berikutnya

Hari ini Anda belajar memeriksa kesehatan model regresi: lima asumsi klasik, empat uji diagnostik (VIF · Goldfeld-Quandt · Durbin-Watson · Jarque-Bera), dan obat untuk tiap pelanggaran.

Inti yang Wajib Dikuasai
  • Lima asumsi & konsekuensinya masing-masing
  • VIF = 1/(1 − R²j) · ambang 10
  • DW dekat 2 = aman · mendekati 0 = autokorelasi positif
  • GQ & JB: aman = gagal tolak H₀
  • Pelanggaran ≠ koefisien bias — galat baku yang rusak
Tugas Mandiri
→13
Persiapan berikutnya
Ulangi HDN-1 s/d HDN-4 dengan angka Anda sendiri. Baca Ghozali (2018) bab Uji Asumsi Klasik. Persiapan Pertemuan 13 — uji normalitas & kesamaan varians; Pertemuan 14 — statistik inferensial & kelayakan model.
Kuasai keempat diagnostik dan arah keputusannya. Uji asumsi klasik adalah gerbang wajib sebelum hasil regresi Anda layak dipercaya — dari skripsi sampai laporan bisnis nyata.