Anda sudah bisa menghitung parameter regresi berganda. Sekarang pertanyaan yang lebih penting: kapan hasil regresi itu boleh dipercaya, dan apa yang terjadi bila asumsinya dilanggar.
RPS Minggu 12 · Sub-CPMK 8 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu menjelaskan asumsi regresi berganda dan mendiagnosis penyimpangannya (Sub-CPMK 8). Rincinya:
Capaian 1 — Tujuh Asumsi
7
Asumsi Klasik
Menyebut & menjelaskan asumsi Gauss-Markov dan arti tiap pelanggaran — fondasi seluruh pertemuan.
Capaian 2 — Multikolinearitas
VIF
Variance Inflation Factor
Menghitung VIF & toleransi, memutuskan multikol serius (VIF > 10) dari korelasi antar-prediktor.
Capaian 3 — Spesifikasi & Bias
β₂·δ
Rumus Bias
Menunjukkan bias variabel terhilang secara numerik — satu-satunya penyimpangan yang membiaskan koefisien.
Capaian 4 — BLUE & Diagnosis
BLUE
Best Linear Unbiased Estimator
Menghubungkan pelanggaran ke sifat BLUE — bias, inefisiensi, atau std error keliru.
Modelnya Sudah Jadi — Tapi Boleh Dipercaya?
Bayangkan output regresi penjualan toko terhadap iklan & jumlah tenaga penjual ini muncul di layar Anda:
Variabel
Koefisien
t-stat
p-value
Iklan (X₁)
4,8
0,9
0,38 (tak signifikan?)
Tenaga Penjual (X₂)
6,1
0,8
0,44 (tak signifikan?)
Uji-F keseluruhan
Sangat signifikan · R² = 0,97
Aneh: model secara keseluruhan kuat (R² 0,97, F signifikan), tapi tak ada satu pun variabel yang signifikan sendiri. Ini gejala klasik multikolinearitas — salah satu penyimpangan asumsi yang kita bedah hari ini. (Angka = ilustrasi.)
Bagian 1 dari 4
Tujuh Asumsi Regresi Klasik
Sebelum percaya pada satu pun angka regresi, kita harus tahu syarat-syaratnya. Model populasi, galat, dan tujuh asumsi Gauss-Markov.
LINEARTAK BIASGALAT
Dari Regresi Sederhana ke Berganda — Apa yang Berubah?
Idenya sama: garis kuadrat-terkecil. Yang berubah: satu X jadi beberapa X, dan garis jadi bidang.
Sederhana (yang lalu)
ŷ = b₀ + b₁X
Satu prediktor · Garis 2D
Hubungkan Y dengan satu variabel X. Geometri: garis di bidang dua dimensi. (Statistika Bisnis I P14.)
Berganda (sekarang)
ŷ = b₀ + b₁X₁ + b₂X₂ + …
Banyak prediktor · Bidang/Hyperplane
Tiap bₖ = efek parsial Xₖ: perubahan ŷ per satu satuan Xₖ dengan variabel lain ditahan konstan.
Kata kunci baru: efek parsial (ceteris paribus). b₁ = perubahan ŷ per satu satuan X₁, dengan X₂ ditahan tetap. Inilah keunggulan regresi berganda: mengontrol variabel lain sekaligus.
Hitung dari Nol — HDN-1: Koefisien Regresi Berganda
Data 5 toko (ilustratif). Y = penjualan (Rp jt); X₁ = iklan (Rp jt); X₂ = tenaga penjual (orang). Cari b₀, b₁, b₂ via persamaan normal.
ŷ = 5 + 2·X₁ + 4·X₂. Tafsir parsial: +Rp 1 jt iklan → +Rp 2 jt penjualan (tenaga penjual tetap); +1 tenaga penjual → +Rp 4 jt penjualan (iklan tetap).
Model Populasi & Suku Galat (ε) — Pusat Semua Asumsi
Asumsi regresi bukan soal data yang kita lihat, tapi soal galat ε yang tak kita lihat.
Y = β₀ + β₁X₁ + β₂X₂ + … + βₖXₖ + ε
Bagian Sistematis
β₀ + β₁X₁ + …
Dijelaskan prediktor
Bagian Y yang dijelaskan prediktor. β = parameter populasi yang sebenarnya (tidak kita tahu, kita taksir dengan b).
Bagian Acak (ε)
ε
Galat · Tak Teramati
Semua faktor lain + keacakan. Tidak bisa dilihat. Estimasinya = residual e = Y − ŷ yang bisa kita hitung.
Hampir semua asumsi klasik adalah pernyataan tentang ε: rata-ratanya nol, variansnya tetap, tak saling berkorelasi, dan (untuk uji) berdistribusi normal. Residual e adalah "mata" kita untuk memeriksa ε.
Tujuh Asumsi Regresi Linear Klasik (CLRM)
#
Asumsi
Artinya
Cara Cek
1
Linearitas (dalam parameter)
Y = fungsi linear β + ε
Scatter / plot residual
2
E(ε) = 0
Rata-rata galat nol di tiap nilai X
Otomatis bila ada b₀
3
Homoskedastisitas
Var(ε) tetap di semua X
Plot residual / uji BP
4
Non-autokorelasi
Galat antar-observasi tak berkorelasi
Durbin-Watson
5
Tak ada multikol sempurna
X tak saling = kombinasi linear pasti
VIF / korelasi
6
Eksogenitas X
X tak berkorelasi dengan ε
Teori / spesifikasi
7
Normalitas ε(untuk uji)
Galat berdistribusi normal
Histogram / Q-Q / uji
Asumsi 1–6 = inti Gauss-Markov (menjamin OLS = BLUE). Asumsi 7 (normalitas) ditambahkan agar uji-t & uji-F sah pada sampel kecil — bukan untuk ketakbiasan koefisien.
Miskonsepsi #1: Yang Harus Normal Itu Residual, Bukan X/Y
Keliru ✗
X & Y normal?
Bukan asumsi regresi
"Variabel X dan Y harus berdistribusi normal." — Salah. X boleh apa saja (bahkan dummy 0/1), Y boleh miring. Menguji normalitas X adalah pekerjaan sia-sia.
Benar ✓
Residual e
Diperiksa lewat e = Y − ŷ
Yang diasumsikan normal hanya galat ε (diperiksa lewat residual). Itu pun terutama penting di sampel kecil — sampel besar dilindungi CLT.
Di sampel besar, berkat Teorema Limit Pusat (Statistika Bisnis I P10), uji-t & uji-F tetap sahih kira-kira meski galat tak persis normal. Normalitas paling krusial saat n kecil. Cek: histogram residual, Q-Q plot, atau uji Jarque-Bera / Shapiro-Wilk.
Bagian 2 dari 4
BLUE — Hadiah Bila Asumsi Terpenuhi
Kalau asumsi Gauss-Markov terpenuhi, OLS bukan sekadar "sebuah" estimator — ia yang terbaik. Apa artinya, dan apa yang hilang bila asumsi runtuh.
OLS + asumsi 1–6 ⟹ BLUE
Teorema Gauss-Markov: OLS adalah BLUE
Bila asumsi 1–6 terpenuhi, estimator OLS adalah B-L-U-E:
B — Best
B
Paling Efisien
Varians terkecil di antara semua estimator linear tak bias. OLS paling presisi — paling jarang jauh dari sasaran β.
L — Linear
L
Kombinasi Linear Y
Koefisien = kombinasi linear dari nilai-nilai Y. Sifat ini memungkinkan derivasi matematis yang eksak.
U — Unbiased
U
Tak Bias
Rata-rata taksiran = nilai sebenarnya: E(bₖ) = βₖ. Tidak meleset secara sistematis ke satu arah.
E — Estimator
E
Penaksir Parameter
Sebuah penaksir parameter populasi β dari sampel. OLS menghasilkan b yang terbaik di kelasnya.
Inti: di antara semua cara "adil" (tak bias) menaksir β secara linear, OLS yang paling presisi. Itu jaminan matematis — bukan kebetulan.
Coba Sendiri: Langgar Asumsi, Lihat OLS Kehilangan Gelar BLUE
Aktifkan satu per satu pelanggaran asumsi klasik dan amati bagaimana sifat Best, Linear, Unbiased dari OLS terpengaruh.
Peta Diagnosis: Pelanggaran Mana, Akibat Apa?
Pelanggaran
Koefisien Bias?
Std Error Rusak?
Akibat Utama
Multikolinearitas
Tidak
Membengkak
t kecil palsu — variabel tampak tak signifikan
Heteroskedastisitas
Tidak
Ya (keliru)
Uji-t / p-value menyesatkan
Autokorelasi
Tidak
Ya (keliru)
Uji-t / p-value menyesatkan
Variabel Terhilang (endogen)
Ya !
—
Koefisien bias & menyesatkan
Non-normalitas (n kecil)
Tidak
Uji tak sah
p-value tak akurat
Pelajaran kunci: kebanyakan pelanggaran TIDAK membuat koefisien bias — yang rusak std error / uji-nya. Pengecualian berbahaya: variabel terhilang / endogenitas → koefisien benar-benar bias.
Bagian 3 dari 4
Multikolinearitas & Spesifikasi Model
Dua penyimpangan paling sering di skripsi FEB: variabel bebas yang saling tumpang tindih (multikol), dan variabel penting yang lupa dimasukkan (salah spesifikasi).
Multikolinearitas — Ketika Variabel Bebas Saling Tumpang Tindih
Gejala (Tanda-Tanda)
R² ↑, t ↓
Paradoks khas multikol
R² tinggi tapi koefisien banyak tak signifikan
Tanda koefisien terbalik dari teori
Koefisien berubah drastis saat variabel ditambah/dibuang
Std error sangat besar
Penyebab
r(X₁,X₂) ↑
Korelasi antar-prediktor kuat
Iklan ↔ tenaga penjual bergerak berbarengan
Total aset ↔ total penjualan nyaris identik
Komputer sulit memisahkan kontribusi masing-masing
Multikolinearitas sempurna (r = ±1) → koefisien tak bisa dihitung (det = 0). Yang lebih umum: multikol tinggi tapi tak sempurna → koefisien terhitung, std error membengkak.
Mengukur Multikolinearitas: VIF & Toleransi
VIF mengukur seberapa membengkak varians koefisien akibat korelasi dengan prediktor lain.
R²ⱼ = R² dari regresi bantu Xⱼ terhadap semua prediktor lain. Untuk 2 prediktor: R²ⱼ = r²₁₂.
Korelasi r
R²ⱼ = r²
VIF
Tafsir
0,00
0,0000
1,00
Tak ada multikol
0,70
0,4900
1,96
Ringan, aman
0,90
0,8100
5,26
Perlu waspada
0,95
0,9025
10,26
Batas serius
0,99
0,9801
50,25
Berat
Aturan praktis baku: VIF > 10 (⇔ R²ⱼ > 0,9 ⇔ Toleransi < 0,1) → multikolinearitas serius. Sebagian buku pakai ambang lebih ketat VIF > 5.
Hitung dari Nol — HDN-2: VIF dari Korelasi
Data 8 toko (ilustratif). X₁ = iklan, X₂ = tenaga penjual. Diketahui korelasi antar-keduanya r₁₂ = 0,9941. Hitung VIF & toleransi, lalu putuskan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
R² bantu = r₁₂²
0,9941²
0,9883
Toleransi = 1 − R²ⱼ
1 − 0,9883
0,0117
VIF = 1 / Toleransi
1 / 0,0117
85,5
Keputusan
85,5 ≫ 10 (dan Tol < 0,1)
Multikol SERIUS
VIF ≈ 85,5 ≫ 10 → multikolinearitas serius. Varians koefisien membengkak ~85× dibanding bila X₁ & X₂ tak berkorelasi → std error meledak → uji-t tak bisa dipercaya. Solusi: buang salah satu, gabung jadi indeks, atau tambah data (lihat Slide 25).
Salah Spesifikasi: Bahaya Variabel Terhilang
Kalau variabel penting yang berkorelasi dengan X dihilangkan, pengaruhnya "menyelinap" ke koefisien lain → bias. Ini satu-satunya penyimpangan yang membiaskan koefisien.
Model Penuh (Benar)
Y = β₀ + β₁X₁ + β₂X₂ + ε
Dua prediktor · Efek murni
b₁ = efek murni X₁ (X₂ dikontrol). Koefisien tak bias.
Model Pendek (X₂ Hilang)
Y = a₀ + a₁X₁ + u
X₂ terhilang · Bias!
a₁ = efek X₁ + titipan pengaruh X₂ lewat korelasinya dengan X₁. Bias!
Arah bias: β₂ > 0 dan korelasi(X₁,X₂) > 0 → a₁ kelebihan (overstate). Inilah penyebab umum koefisien "kelihatan besar" di skripsi yang modelnya kurang lengkap.
Hitung dari Nol — HDN-3: Besar Bias Variabel Terhilang
Model benar: Y = 10 + 3·X₁ + 5·X₂ (8 toko ilustratif). Apa jadinya koefisien iklan bila X₂ dihilangkan?
Langkah
Perhitungan
Nilai
β₁ benar (model penuh OLS)
OLS dua variabel
3,000
β₂ benar (model penuh OLS)
OLS dua variabel
5,000
δ = slope X₂ atas X₁
Regresi bantu X₂ ~ X₁
0,3214
Bias = β₂ · δ
5 × 0,3214
+1,6071
a₁ pendek = β₁ + bias
3 + 1,6071
4,6071
Cek langsung: regresi pendek Y ~ X₁ saja benar-benar memberi a₁ = 4,607 (≠ 3 yang benar). Koefisien iklan kelebihan 54% karena menyerap efek tenaga penjual yang terhilang. R² model pendek = 0,9955 — tetap tinggi! R² tinggi tidak melindungi dari bias.
Adjusted R² — Hukuman untuk Variabel Sampah
Masalah R² biasa: selalu naik tiap variabel ditambah, bahkan variabel sampah. Adjusted R² menghukum penambahan tak berguna.
R²ₐdⱼ = 1 − (1 − R²) · (n − 1) / (n − k − 1)
n = ukuran sampel · k = jumlah prediktor. Penalti membesar seiring k.
k (Jumlah X)
R²
R²ₐdⱼ (n = 8)
1
0,85
0,825
2
0,85
0,790
3
0,85
0,738 (turun!)
R² sama 0,85, tapi adjusted turun saat k naik — itu hukuman untuk variabel yang tak menambah penjelasan. Gunakan R²ₐdⱼ untuk membandingkan model berbeda jumlah variabel.
Bagian 4 dari 4
Heteroskedastisitas & Autokorelasi
Dua pelanggaran tentang perilaku galat: variansnya tak sama (hetero), dan galat antar-waktu saling berkorelasi (autokorelasi). Keduanya merusak std error, bukan koefisien.
Heteroskedastisitas — Varians Galat yang Tak Konstan
Asumsi homoskedastisitas: sebaran galat sama lebar di semua nilai X. Pelanggarannya = heteroskedastisitas (sering berbentuk corong).
Sering muncul di data lintas-unit dengan skala beragam (penjualan toko kecil vs raksasa). Akibat: koefisien tetap tak bias, tapi std error keliru → uji-t menyesatkan. Deteksi: plot residual; uji formal Breusch-Pagan / White (terapan pertemuan berikut).
Autokorelasi & Uji Durbin-Watson
Autokorelasi: galat satu periode berkorelasi dengan periode sebelumnya. Umum di data deret waktu. Uji bakunya: Durbin-Watson (DW).
DW = Σ(eₜ − eₜ₋₁)² / Σeₜ²
DW ≈
Tafsir
0
Autokorelasi positif kuat
2
Tak ada autokorelasi (ideal)
4
Autokorelasi negatif kuat
DW dekat 2 = sehat. DW jauh di bawah 2 (mis. < 1,5) → curiga autokorelasi positif. (Batas pasti d_L, d_U dari tabel DW sesuai n & k.) Akibat: std error keliru → uji-t menyesatkan.
Hitung dari Nol — HDN-4: Statistik Durbin-Watson
Diberi 10 residual berurutan (deret waktu). Hitung DW, lalu simpulkan. Dua kasus dibandingkan.
Kasus A (sehat): e = 1, 1, −1, −1, 1, 1, −1, −1, 1, −1
Langkah
Perhitungan
Nilai
Σeₜ²
10 × (1)² — tiap residual ±1
10
Selisih (eₜ − eₜ₋₁)
0, −2, 0, 2, 0, −2, 0, 2, −2
—
Σ(eₜ − eₜ₋₁)²
0+4+0+4+0+4+0+4+4
20
DW = Σ(...) / Σeₜ²
20 / 10
2,00 → Sehat
Kasus A: DW = 2,00 → tak ada autokorelasi (sehat).
Bandingkan Kasus B (residual menanjak: −3, −2, −1, 0,5, 1, 2, 1,5, 0, −1, −2):
DW ≈ 0,40 → autokorelasi positif kuat (galat menempel berurutan).
Studi Kasus: Mendiagnosis Output Regresi Penjualan Toko
Anda menerima output regresi penjualan ritel (Y) terhadap iklan (X₁) & tenaga penjual (X₂), n = 30 toko. Jalankan checklist asumsi:
Cek
Temuan (ilustrasi)
Vonis
VIF
X₁ = 6,2 ; X₂ = 6,2
⚠ Waspada (mendekati 10, belum serius)
Plot residual vs ŷ
Melebar (corong)
✗ Heteroskedastisitas
Durbin-Watson
DW = 1,1
✗ Autokorelasi positif
Normalitas residual
Q-Q hampir lurus
✓ Wajar (n = 30 cukup)
Tanda koefisien
b₁, b₂ > 0 sesuai teori
✓ Masuk akal
Vonis: koefisien (arah/besar) masih dipercaya (tak bias), tetapi uji-t & p-value harus dikoreksi karena hetero + autokorelasi. Laporkan dengan std error robust, jangan baca p-value mentah.
Apa yang Harus Dilakukan Bila Asumsi Dilanggar?
Masalah
Obat Praktis
Multikolinearitas
Buang salah satu variabel kembar · gabungkan jadi indeks · tambah ukuran sampel (lanjutan: PCA / ridge)
Variabel Terhilang
Masukkan variabel yang hilang · pakai variabel kontrol/proxy (lanjutan: variabel instrumen)
Heteroskedastisitas
Std error robust (White) · transformasi log Y · WLS (weighted least squares)
Autokorelasi
Std error Newey-West · tambah lag · transformasi selisih
Non-normalitas
Perbesar sampel (CLT) · transformasi · periksa outlier
Prinsip: diagnosa dulu, baru obati. Untuk skripsi S1, yang wajib dilaporkan: VIF · plot residual · DW · uji normalitas — beserta penjelasan tindakan yang Anda ambil.