stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-10
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 10: Regresi Linear Berganda

Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

X₁ PrediktorX₂ PrediktorX₃ DummyY

Statistika Bisnis II

Pertemuan 10 — Regresi Linear Berganda

Dari satu prediktor ke banyak prediktor — mengukur pengaruh simultan X₁, X₂, …, Xₖ terhadap Y, dengan pengujian F dan t.

RPS Minggu 11  ·  Sub-CPMK 6  ·  Durasi 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu (Sub-CPMK 6):

Tujuan 1
T1
Menuliskan & menafsirkan model regresi berganda Ŷ = β₀ + β₁X₁ + … + βₖXₖ untuk minimal dua prediktor.
Tujuan 2
T2
Mengestimasi koefisien OLS (Ordinary Least Squares) dan menginterpretasikan makna koefisien parsial ceteris paribus — "hal lain dipegang konstan".
Tujuan 3
T3
Menghitung & menginterpretasikan R² adjusted, uji F overall, dan uji t parsial pada α = 0,05.
Tujuan 4
T4
Mengidentifikasi masalah multikolinearitas awal dan menggunakan variabel dummy 0/1 untuk variabel kategoris.

Mengapa Satu Prediktor Tidak Cukup?

Regresi sederhana hanya memakai satu prediktor — padahal dunia bisnis multidimensi.

Regresi Sederhana
Ŷ = β₀ + β₁X₁
  • Hanya satu prediktor — variabel lain diabaikan
  • Risiko: estimasi β₁ bisa bias karena variabel yang terabaikan (omitted variable bias)
  • Contoh: omzet UMKM hanya dari lama usaha — mengabaikan jumlah karyawan & lokasi
Regresi Berganda
Ŷ = β₀ + β₁X₁ + β₂X₂ + β₃X₃
  • Setiap β dihitung sambil mengontrol prediktor lain
  • Estimasi lebih akurat & tidak meminjam kredit variabel lain
  • Contoh: omzet dimodelkan dari lama usaha + karyawan + lokasi (dummy) sekaligus
Menambah prediktor relevan → R² naik, estimasi lebih bersih. Menambah prediktor tidak relevan → R² adjusted turun (ada penalti). Prediktor (variabel bebas / variabel independen) = variabel X; Y = variabel respons (variabel terikat / variabel dependen).
Bagian 1  ·  Slide 5–9
Model Regresi Berganda

Persamaan, asumsi, dan prinsip estimasi OLS (Ordinary Least Squares — metode kuadrat terkecil)

Ŷ = β₀ + β₁X₁ + β₂X₂ + β₃X₃

Model Populasi vs Model Taksiran

Model Populasi (tidak diketahui)
Y = β₀ + β₁X₁ + … + βₖXₖ + ε
  • β₀, β₁, …, βₖ = parameter populasi sejati (tidak bisa diketahui pasti)
  • ε (epsilon / error term / galat) = semua variasi Y yang tidak dijelaskan prediktor
Model Taksiran OLS (dari sampel)
Ŷ = b₀ + b₁X₁ + b₂X₂ + … + bₖXₖ
  • b₀, b₁, …, bₖ = koefisien estimasi dari data sampel
  • Ŷ (fitted value / nilai dugaan) = nilai Y yang diprediksi model
  • Residual: eᵢ = Yᵢ − Ŷᵢ (kesalahan aktual pada observasi ke-i)
Tujuan OLS: minimalkan Σeᵢ² = Σ(Yᵢ − Ŷᵢ)² — di mana Σ (sigma) berarti "jumlahkan untuk seluruh observasi i = 1 hingga n". Konvensi angka Indonesia: titik = pemisah ribuan, koma = desimal. Contoh: 1.845,2 = seribu delapan ratus empat puluh lima koma dua.

Asumsi OLS & Intuisi Estimasi

OLS menghasilkan estimasi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator — estimator linear tak-bias terbaik) jika asumsi Gauss-Markov terpenuhi.

A1 — Linearitas

Hubungan Y dan X memang linear — tidak melengkung secara sistematis.

A2 — Tidak Ada Multikolinearitas Sempurna ⚠
X₁X₂r < 1

Prediktor tidak 100% berkorelasi satu sama lain. Akan dibahas lebih dalam di Bagian 3.

A3 — Galat Berperilaku Rapi
E(ε)=0 · homoskedastik

Rata-rata nol, varians konstan (homoskedastik), tidak berkorelasi antarobservasi.

Catatan penting: Normalitas galat BUKAN syarat BLUE. Teorema Gauss-Markov hanya membutuhkan A1–A3 untuk menjamin OLS adalah BLUE. Normalitas hanya diperlukan agar uji t dan F valid secara eksak pada sampel kecil.

Estimasi OLS: β̂ = (X'X)⁻¹X'Y

Regresi berganda = menyelesaikan k+1 persamaan serentak. Matriks adalah cara ringkas menulis sistem persamaan itu.

β̂ = (X'X)⁻¹X'Y
Komponen Rumus
  • X = matriks desain n×(k+1) — kolom pertama semua bernilai 1 (untuk intercept)
  • X' (X transpose) = X dengan baris dan kolom ditukar
  • (X'X)⁻¹ = invers matriks, seperti "membagi" dalam aljabar matriks
  • Y = vektor respons n×1
  • β̂ = vektor koefisien [b₀, b₁, …, bₖ]ᵀ
Dalam Praktik
  • Untuk k=2: 3 persamaan normal diselesaikan bersama → b₀, b₁, b₂
  • Tidak perlu inversi matriks manual — gunakan software
  • Excel Data Analysis · SPSS · R (lm()) · Python (statsmodels)
  • Fokus Anda: input data benar, baca output tepat, interpretasi koefisien bermakna
Anda tidak perlu menginversi matriks secara manual. Pahami bahwa software melakukannya untuk Anda. Fokus pada interpretasi output.

Hitung dari Nol 1 — UMKM Kuliner Semarang (n=30)

Data 30 UMKM kuliner Semarang — Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang (nilai ilustratif)

Variabel
SimbolKeterangan
YOmzet (Rp juta/bulan)
X₁Lama usaha (tahun)
X₂Jumlah karyawan
X₃Lokasi dummy (1=pusat kota, 0=pinggiran)

Output software regresi berganda (k=3, n=30):

Ŷ = 8,42 + 1,85X₁ + 3,20X₂ + 5,60X₃
Langkah membaca output:
  1. Catat persamaan regresi berganda
  2. Interpretasikan tiap koefisien (slide berikutnya)
  3. Periksa R², R² adjusted, F-stat, p-value
Output regresi (regression output) = tabel hasil yang dihasilkan software statistik, memuat koefisien, standar error, t-stat, p-value, R², dan F-stat. Nilai parameter diperoleh dari software karena k=3 membutuhkan inversi matriks 4×4.

Interpretasi Koefisien Parsial: Ceteris Paribus

Ŷ = 8,42 + 1,85X₁ + 3,20X₂ + 5,60X₃
b₀ = 8,42
Ketika X₁=0, X₂=0, X₃=0 → omzet dugaan Rp 8,42 juta/bulan (UMKM baru, nol karyawan, pinggiran). Hati-hati: intercept bisa tidak bermakna praktis.
b₁ = 1,85
Setiap +1 tahun lama usaha → omzet naik ~Rp 1,85 juta/bulan, dengan X₂ dan X₃ dipegang konstan.
b₂ = 3,20
Setiap +1 karyawan → omzet naik ~Rp 3,20 juta/bulan, dengan X₁ dan X₃ dipegang konstan.
b₃ = 5,60
UMKM pusat kota (X₃=1) memiliki omzet ~Rp 5,60 juta/bulan lebih tinggi vs. pinggiran (X₃=0), dengan X₁ dan X₂ konstan.
Kata kunci: "…dengan variabel lain dipegang konstan" = ceteris paribus (Latin: "hal-hal lain dipegang konstan"). Koefisien parsial ≠ korelasi bivariate — bisa berbeda nilai, bahkan berbeda tanda.

Coba Sendiri: Putar Bidang Regresi 3D, Amati Koefisien Parsial

Putar bidang regresi tiga dimensi dan ubah nilai satu prediktor sementara prediktor lain tetap konstan.

Bagian 2  ·  Slide 11–15
Mengukur Kebaikan Model

R² adjusted, Uji F overall, dan Uji t parsial — tiga alat yang saling melengkapi

R²  |  F  |  t

R² dan R² Adjusted — Dua Ukuran Kebaikan

R² — Koefisien Determinasi
R² = SSR / SST = 1 − SSE/SST
  • SST (Sum of Squares Total) = Σ(Yᵢ − Ȳ)² — total variabilitas Y
  • SSR (Sum of Squares Regression) = Σ(Ŷᵢ − Ȳ)² — variasi dijelaskan model
  • SSE (Sum of Squares Error) = Σ(Yᵢ − Ŷᵢ)² — variasi tidak dijelaskan
  • SST = SSR + SSE selalu berlaku
  • ⚠ R² selalu naik saat prediktor ditambah — bisa menyesatkan
R² Adjusted — Dengan Penalti Prediktor
R²_adj = 1 − [(1−R²)(n−1) / (n−k−1)]
  • n = jumlah observasi; k = jumlah prediktor (tidak termasuk intercept)
  • Memberikan penalti untuk prediktor tambahan yang tidak berguna
  • R²_adj bisa turun jika prediktor baru tidak meningkatkan fit secara bermakna
  • Gunakan R²_adj untuk membandingkan model dengan jumlah prediktor berbeda
Σ (sigma) = "jumlahkan untuk seluruh i dari 1 hingga n". Patokan informal: untuk data bisnis cross-sectional, R²_adj di atas 0,50 sudah cukup baik — yang penting koefisien masuk akal secara teori.

Uji F Overall: Apakah Model Berguna?

Hipotesis Uji F
H₀: β₁ = β₂ = … = βₖ = 0
H₁: minimal satu βⱼ ≠ 0

H₀ = "tidak ada prediktor yang berguna sama sekali". H₁ = "minimal satu prediktor berguna".

Statistik Uji
F = MSR / MSE = (SSR/k) / (SSE/(n−k−1))
  • MSR (Mean Square Regression) = SSR/k
  • MSE (Mean Square Error) = SSE/(n−k−1)
  • df (degrees of freedom / derajat kebebasan) pembilang = k
  • df penyebut = n − k − 1
Aturan keputusan (α = 0,05):
Tolak H₀ jika F_hitung > F_tabel(k, n−k−1; α) atau p-value < 0,05 → model signifikan

Catatan: Uji F menjawab "apakah model keseluruhan berguna?" — bukan "prediktor mana yang penting?" (itu tugas uji t).

Tabel ANOVA Regresi — Cara Membaca

Tabel ANOVA (Analysis of Variance / Analisis Ragam) = jantung output regresi berganda

SumberSSdfMSF_hitungp-value
RegresiSSRkMSR = SSR/kF = MSR/MSE
Galat (Residual)SSEn−k−1MSE = SSE/(n−k−1)
TotalSSTn−1

Contoh UMKM Semarang (k=3, n=30, nilai ilustratif):

SumberSSdfMSFp-value
Regresi1.845,23615,118,74< 0,001
Galat852,62632,8
Total2.697,829
R² = 1.845,2 / 2.697,8 = 0,684 → 68,4% variasi omzet dijelaskan model. F_hitung = 18,74 > F_tabel(3,26;0,05) ≈ 2,98 → Tolak H₀ pada α=0,05 — model secara keseluruhan signifikan (p < 0,001).

Uji t Parsial: Siapa Prediktor yang Signifikan?

t_hitung = bⱼ / SE(bⱼ)
  • H₀: βⱼ = 0 (Xⱼ tidak berkontribusi signifikan)
  • H₁: βⱼ ≠ 0 (Xⱼ berkontribusi signifikan)
  • df = n − k − 1
  • SE(bⱼ) (Standard Error koefisien) = ukuran ketidakpastian estimasi bⱼ
  • Tolak H₀ jika |t_hitung| > t_tabel atau p-value < 0,05 (uji dua sisi)
VariabelbⱼSE(bⱼ)t_hitungp-valueKet.
b₀ Intercept8,422,153,920,001Sig.
b₁ Lama usaha (X₁)1,850,483,850,001Sig.
b₂ Karyawan (X₂)3,200,724,44<0,001Sig.
b₃ Lokasi dummy (X₃)5,601,344,18<0,001Sig.

df = 26; t_tabel(α=0,05, dua sisi) ≈ 2,056. Semua |t| > 2,056 → tolak H₀.

Dalam laporan riset, lazim bintang signifikansi: * = p<0,05; ** = p<0,01; *** = p<0,001 — standar yang sama di jurnal internasional maupun SINTA.

Hitung dari Nol 2 — Emiten LQ45 IDX (n=25)

ROE (Return on Equity, %) ~ DER + TATO + NPM — data laporan keuangan tahunan IDX (nilai ilustratif)

Output Regresi Berganda
Ŷ = −4,21 + 2,18X₁ + 8,74X₂ + 1,52X₃

R²_adj = 0,712 → 71,2% variasi ROE dijelaskan model
F_hitung = 20,36 (p < 0,001) → model signifikan keseluruhan
df galat = n − k − 1 = 25 − 3 − 1 = 21

Variabelbⱼt_hitungp-valueSig.?
X₁ DER (Debt-to-Equity Ratio, kali)2,181,840,081Tidak
X₂ TATO (Total Asset Turnover, kali)8,744,92<0,001Ya
X₃ NPM (Net Profit Margin, %)1,523,670,001Ya
TATO dan NPM = driver ROE yang signifikan (konsisten dengan dekomposisi DuPont: ROE = NPM × TATO × ekuitas multiplier). DER tidak signifikan pada α=0,05 dalam model ini (p=0,081).

Emiten ilustratif: BBCA, TLKM, ASII, UNVR, BBRI, ICBP, BMRI, KLBF (LQ45 IDX). Data aktual bervariasi per tahun laporan keuangan.

Bagian 3  ·  Slide 17–20
Variabel Dummy & Multikolinearitas

Mengkodekan kategori dengan dummy 0/1 dan mendeteksi masalah antar prediktor

0 / 1

Variabel Dummy: Mengkodekan Kategori 0/1

Variabel kategoris (lokasi, sektor, jenis kelamin) tidak bisa langsung masuk regresi sebagai angka 1, 2, 3 — pengkodean ordinal memaksakan urutan yang tidak ada.

Solusi: Dummy Coding 0/1
Untuk k kategori → buat (k−1) variabel dummy.
Satu kategori = "kategori referensi" (kode 0) = basis pembanding.
Contoh: Lokasi UMKM (2 kategori)
X₃ = 1 jika pusat kota, X₃ = 0 jika pinggiran (referensi).
b₃ = selisih rata-rata Y antara pusat kota vs. pinggiran, dengan X₁ dan X₂ konstan.

Tiga sektor (manufaktur, jasa, perdagangan):

ObservasiSektorD₁ (jasa)D₂ (dagang)D₃ (manuf.)
AJasa100
BPerdagangan010
CManufaktur001
D₃ = 1 − D₁ − D₂ untuk setiap baris → kolom D₃ tidak membawa informasi baru!
Memasukkan D₃ = dummy trap (multikolinearitas sempurna) → OLS gagal estimasi.

Referensi: manufaktur (D₁=0, D₂=0). Hanya butuh 2 dummy untuk 3 kategori.

Interpretasi Dummy Lokasi dalam Contoh UMKM

Ŷ = 8,42 + 1,85X₁ + 3,20X₂ + 5,60X₃
Dua Persamaan dari Satu Model

UMKM Pinggiran (X₃ = 0):

Ŷ = 8,42 + 1,85X₁ + 3,20X₂

UMKM Pusat Kota (X₃ = 1):

Ŷ = 14,02 + 1,85X₁ + 3,20X₂

8,42 + 5,60 = 14,02 — dummy menggeser intercept sebesar b₃ = 5,60.

X₁ (lama usaha)Ŷ (omzet)Pinggiran(intercept 8,42)Pusat Kota(intercept 14,02)b₃ = 5,60

Dua garis paralel — slope sama, intercept berbeda sebesar b₃ = 5,60.

Multikolinearitas: Masalah Ketika Prediktor Saling Berkorelasi

Multikolinearitas (multicollinearity) = korelasi yang kuat antara dua atau lebih variabel prediktor dalam model regresi berganda.

Tanpa Multikolinearitas
  • SE(bⱼ) kecil → t_hitung besar
  • Koefisien stabil — tidak berubah drastis saat prediktor lain ditambah/dihapus
  • Tanda koefisien sesuai ekspektasi teori
  • Uji t memberikan kesimpulan yang andal
Dengan Multikolinearitas Tinggi ⚠
  • SE(bⱼ) membesar → t_hitung mengecil → prediktor tampak "tidak signifikan"
  • Koefisien tidak stabil — bisa berubah drastis
  • Tanda koefisien bisa "terbalik" dari teori
  • Contoh: DER dan NPM di data keuangan sering berkorelasi kuat
Aturan praktis: Multikolinearitas sempurna (r=1) → OLS tidak bisa dihitung. Multikolinearitas tinggi (|r| > 0,80–0,90) → problem praktis serius. VIF (Variance Inflation Factor — ukuran seberapa besar varians estimasi koefisien "mengembang") > 10 = sinyal bahaya (materi lanjutan, Ekonometrika).

Deteksi Awal Multikolinearitas via Matriks Korelasi

Matriks korelasi (correlation matrix) — tabel simetris koefisien korelasi Pearson r antara setiap pasang prediktor.

Contoh LQ45 — Korelasi Antar Prediktor (n=25, ilustratif):

DERTATONPM
DER1,00−0,21−0,38
TATO−0,211,000,18
NPM−0,380,181,00

Semua |r| antar prediktor < 0,50 → multikolinearitas rendah → estimasi OLS relatif stabil.

Aturan praktis (awal):

|r| < 0,50 → aman
0,50 ≤ |r| < 0,80 → perlu diperhatikan
|r| ≥ 0,80 → sinyal masalah serius → cek VIF
Catatan: Matriks korelasi antar prediktor ≠ korelasi Y dengan prediktor. Korelasi Y dengan prediktor yang tinggi = bagus (prediktor kuat). Korelasi antar prediktor yang tinggi = masalah (multikolinearitas).

Coba Sendiri: Naikkan Korelasi Antar Prediktor, Amati VIF

Ubah korelasi antar dua prediktor dan lihat bagaimana VIF, standard error koefisien, dan stabilitas estimasi berubah.

Studi Kasus: Properti Residensial vs Aksesibilitas

Harga rumah Jabodetabek dipengaruhi luas bangunan, jarak ke stasiun MRT/KRL, dan kawasan — data BPS DKI Jakarta (ilustratif)

Model Regresi Berganda
  • Y = Harga rumah (Rp juta)
  • X₁ = Luas bangunan (m²)
  • X₂ = Jarak ke stasiun terdekat (km)
  • X₃ = Kawasan (1 = CBD / dekat pusat, 0 = pinggiran). CBD (Central Business District / Kawasan Pusat Bisnis) seperti Sudirman-Thamrin Jakarta.

Jika b₂ = −8,5 (Rp juta per km): setiap 1 km lebih jauh dari stasiun, harga turun Rp 8,5 juta, dengan luas dan kawasan konstan.

Pertanyaan Diskusi Kelas (2 menit):

  • Tanda apa yang Anda harapkan untuk b₁, b₂, dan b₃? Mengapa?
  • Jika b₂ = −8,5 (Rp juta per km), apa artinya secara praktis?
  • Apa yang terjadi pada b₁ jika X₂ dan X₃ tidak dimasukkan?
  • Apakah ada dugaan multikolinearitas antara X₂ dan X₃? Mengapa?
Aksesibilitas (accessibility) = kemudahan menjangkau fasilitas dari suatu lokasi. Kawasan CBD biasanya juga dekat stasiun → X₂ dan X₃ mungkin berkorelasi negatif → perlu cek matriks korelasi!

Prediksi dengan Model Berganda

Ŷ = 8,42 + 1,85X₁ + 3,20X₂ + 5,60X₃
Prediksi 1 — Pusat Kota
32,37
Rp juta/bulan
X₁=3 thn, X₂=4 karyawan, X₃=1 (pusat kota)
= 8,42 + 1,85(3) + 3,20(4) + 5,60(1)
= 8,42 + 5,55 + 12,80 + 5,60
= 32,37
Prediksi 2 — Pinggiran
24,07
Rp juta/bulan
X₁=5 thn, X₂=2 karyawan, X₃=0 (pinggiran)
= 8,42 + 1,85(5) + 3,20(2) + 5,60(0)
= 8,42 + 9,25 + 6,40 + 0
= 24,07
Batasan prediksi — PENTING: Jangan ekstrapolasi jauh di luar rentang data training (misal: UMKM 50 karyawan padahal data maks 10). Model regresi = model linear; hubungan mungkin tidak linear di luar rentang. Prediksi adalah rata-rata kondisional (E[Y|X]) — estimasi rata-rata, bukan nilai individu tunggal yang pasti.

Lima Jebakan Regresi Berganda yang Sering Terjadi

1. Menambah prediktor tanpa teori
R² naik, tapi R²_adj bisa turun; model kehilangan parsimoni (parsimony) — prinsip model paling sederhana yang cukup menjelaskan data adalah yang terbaik.
2. Melupakan cek multikolinearitas
SE membengkak; koefisien tidak stabil; salah kesimpulan signifikansi. Cek matriks korelasi SEBELUM regresi.
3. Menginterpretasikan b seperti regresi sederhana
Koefisien parsial BUKAN korelasi bivariate — bisa berbeda tanda sekalipun (reversal paradox / Simpson's paradox).
4. Mengabaikan asumsi residual
Jika residual tidak rapi (heterokedastik, tidak normal pada sampel kecil), uji t dan F tidak valid. Cek residual plot.
5. Ekstrapolasi berlebihan
Prediksi di luar rentang data = tidak andal; tandai jelas sebagai spekulasi dalam laporan.
Dalam laporan/skripsi: selalu tampilkan tabel koefisien lengkap (SE, t, p), R²_adj, F, dan diskusi asumsi residual.

Peta Konsep Regresi Berganda

Regresi Linear BergandaModel & Estimasi OLSPengujian StatistikEkstensiAsumsi OLS (A1–A3)Koef. Parsial ceteris paribusResidual eᵢ = Yᵢ−ŶᵢR²_adj (fit)Uji F (overall)Uji t (parsial)Dummy 0/1 (k−1)Matriks KorelasiVIF (lanjutan)Tiga pilar: Model · Pengujian · Ekstensi — ketiganya harus hadir dalam laporan regresi berganda yang lengkap.

Diskusi & Latihan Kelas

Latihan A — Interpretasi (5 menit, individu)
Ŷ = 120 + 0,8X₁ + 15X₂ − 5X₃

Y = premi asuransi jiwa (Rp ribu/bulan); X₁ = usia (tahun); X₂ = nilai pertanggungan (Rp juta); X₃ = dummy tidak merokok (1=tidak merokok, 0=perokok).

  • Interpretasikan b₁, b₂, b₃ secara lengkap dengan frasa ceteris paribus.
  • Siapa yang lebih murah preminya, perokok atau tidak perokok? Berapa selisihnya?
Latihan B — Diskusi (5 menit, pasangan)

Jika F_hitung = 45,2 (p < 0,001) dan R²_adj = 0,82, tetapi uji t untuk X₃ menunjukkan p = 0,38:

  • Apa kesimpulan Anda terhadap model dan terhadap X₃?
  • Apakah Anda tetap memasukkan X₃ dalam model? Jelaskan pertimbangannya.
  • Pertimbangan: teori, jarak p dari 0,05, perubahan koefisien X₁ dan X₂ jika X₃ dihapus.
Ini diskusi penelitian nyata — tidak ada satu jawaban benar. Berpikirlah secara teoritis DAN statistik.

Persiapan Pertemuan 11

"Model regresi berganda Ŷ = β₀ + β₁X₁ + … + βₖXₖ memungkinkan estimasi pengaruh parsial tiap prediktor ceteris paribus, diuji dengan F (overall) dan t (parsial), diperkaya dengan dummy dan dijaga kualitasnya dari multikolinearitas."

Exit Ticket — Periksa Pemahaman Anda
  • Saya bisa menuliskan dan menginterpretasikan model berganda dengan 3 prediktor termasuk dummy
  • Saya bisa membedakan makna R², R²_adj, uji F, dan uji t
  • Saya bisa mengidentifikasi tanda masalah multikolinearitas dari matriks korelasi
Tugas: Kerjakan 3 soal pilihan dari Lampiran B — pilih yang paling menantang, bukan yang paling mudah. Dikumpulkan awal Pertemuan 11.
Pertemuan 11 — Regresi Berganda (Lanjutan)
  • Uji asumsi residual: normalitas, homoskedastisitas
  • Regresi bertahap (stepwise regression) dan pemilihan model
  • Korelasi parsial dan semi-parsial
Exit ticket = cara cepat mahasiswa mengecek pemahaman sendiri sebelum meninggalkan kelas. Jika ada butir yang belum tercentang, itu sinyal bagian mana yang perlu diulang sebelum Pertemuan 11.