PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR, tercatat di BEI — Bursa Efek Indonesia) menghabiskan ratusan miliar rupiah per kuartal untuk iklan. Apakah belanja iklan yang lebih besar benar-benar berkorelasi dengan penjualan yang lebih tinggi?
PERTANYAAN BISNIS
Manajer pemasaran ingin tahu: setiap kenaikan Rp 1 miliar belanja iklan, penjualan naik berapa? Tanpa alat statistik, jawabannya hanya tebakan atau intuisi.
ALAT YANG KITA PELAJARI
Scatter plot → koefisien r → uji signifikansi → keputusan data-driven (berbasis data, bukan opini). Angka yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan direksi.
Di akhir pertemuan ini, Anda akan bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan data 20 kuartal laporan keuangan UNVR yang tercatat di BEI — dikerjakan tuntas dalam sesi Hitung dari Nol (HDN).
Bagian 1 dari 4
Hubungan Dua Variabel & Scatter Plot
Sebelum menghitung koefisien, visualisasikan dulu — scatter plot adalah langkah pertama yang wajib dilakukan.
Pilih Metode Korelasi Berdasarkan Data
Tiga metode utama, dipilih berdasarkan skala data dan normalitas distribusi:
Kondisi Data
Metode
Simbol
Interval/Rasio + distribusi normal (atau n besar)
Pearson
r
Ordinal, atau interval/rasio dengan distribusi sangat tidak normal
Spearman
ρ (rho)
Ordinal, sampel kecil, atau data banyak ties (nilai kembar)
Kendall
τ (tau)
Glos: Skala interval = jarak antar nilai bermakna tapi tidak punya nol mutlak (mis. suhu Celsius). Skala rasio = interval + nol mutlak (mis. penjualan Rp). Skala ordinal = berperingkat, jarak tidak bermakna (mis. kepuasan 1–5). Lakukan uji normalitas (Shapiro-Wilk atau Kolmogorov-Smirnov) sebelum memilih. Jika ragu → Spearman lebih aman daripada memaksakan Pearson.
Scatter Plot: Baca Pola Sebelum Hitung
Scatter plot (diagram pencar) menempatkan setiap pasangan (X, Y) sebagai titik. Polanya memberi petunjuk arah, kekuatan, dan bentuk hubungan.
Korelasi positif kuat (r ≈ +0,90)
Korelasi negatif sedang (r ≈ −0,55)
Tidak ada korelasi linear (r ≈ 0)
⚠ Hubungan nonlinear (r ≈ 0 tapi ada pola U)
Bagian 2 dari 4
Korelasi Pearson
Rumus r, rentang interpretasi, koefisien determinasi r², dan uji signifikansi statistik-t dengan df = n − 2.
r = Σ[(Xᵢ−X̄)(Yᵢ−Ȳ)] / √[Σ(Xᵢ−X̄)² × Σ(Yᵢ−Ȳ)²]
Koefisien Korelasi Pearson (r)
r mengukur arah dan kekuatan hubungan linear antara dua variabel interval/rasio. Rentang: −1 ≤ r ≤ +1.
r = Σ[(Xᵢ−X̄)(Yᵢ−Ȳ)] / √[Σ(Xᵢ−X̄)² · Σ(Yᵢ−Ȳ)²]
Glos: Σ (sigma) = jumlahkan semua suku • X̄/Ȳ (X-bar/Y-bar) = rata-rata X/Y • Xᵢ−X̄ = deviasi (selisih dari rata-rata) • Pembilang = kovarians (apakah X dan Y bergerak bersama) • Penyebut = normalisasi ke skala −1..+1.
Nilai |r|
Interpretasi
0,90 – 1,00
Sangat kuat
0,70 – 0,89
Kuat
0,50 – 0,69
Sedang
0,30 – 0,49
Lemah
0,00 – 0,29
Sangat lemah / tidak ada
Tanda (+/−) = arah; besar angka = kekuatan. r = −0,85 lebih kuat dari r = +0,40.
Koefisien Determinasi r²
r² (r kuadrat) = proporsi variasi Y yang dapat dijelaskan oleh variasi X. Interpretasinya lebih intuitif daripada r sendiri.
r² = r × r (kuadratkan koefisien korelasi)
CONTOH A: r = 0,80
0,64
= r² = 64%
"64% variasi penjualan UNVR dijelaskan oleh variasi belanja iklan; 36% dijelaskan faktor lain (musim, daya beli, dsb)."
CONTOH B: r = 0,40
0,16
= r² = 16%
"Hanya 16% variasi Y yang dijelaskan X. Meski r = 0,40 terasa cukup baik, kontribusinya ternyata kecil."
r² selalu positif dan ≤ 1. r = 0,7 terasa "kuat", tetapi r² = 0,49 artinya lebih dari separuh variasi Y masih tidak terjelaskan oleh X.
Coba Sendiri: Geser Titik Data, Amati r Berubah
Ubah pola sebaran titik data pada scatter plot dan lihat bagaimana koefisien korelasi r dan r² berubah secara langsung.
Hitung dari Nol — HDN-1: Korelasi Iklan vs Penjualan UNVR
Data ilustratif 20 kuartal UNVR (Q1 2019–Q4 2023): Iklan X (Rp miliar) vs Penjualan Y (Rp miliar). Hitung r Pearson.
Data ringkas (2 dari 20 baris)
Kuartal
X (Iklan)
Y (Penjualan)
(X−X̄)(Y−Ȳ)
(X−X̄)²
Q1 2019
420
10.200
574.438
63.756
Q2 2019
510
10.850
264.063
26.406
…
…
…
…
…
Σ
13.450
249.500
3.327.750
329.575
Data lengkap 20 baris + verifikasi: Lampiran A materi.
Langkah perhitungan
Langkah
Perhitungan
Nilai
X̄
13.450 / 20
672,5
Ȳ
249.500 / 20
12.475
Σ(X−X̄)(Y−Ȳ)
—
3.327.750
√[Σ(X−X̄)² × Σ(Y−Ȳ)²]
√[329.575 × 33.752.500]
≈ 3.335.263
r
3.327.750 / 3.335.263
≈ 0,998
r²
0,998²
≈ 0,996
r ≈ 0,998: korelasi positif sangat kuat. r² ≈ 0,996 → 99,6% variasi penjualan dijelaskan belanja iklan. Catatan: angka ilustratif yang sengaja dibuat rapi; korelasi bisnis nyata jarang setinggi ini.
Uji Signifikansi Korelasi: Apakah r Benar-Benar ≠ 0?
Korelasi sampel bisa muncul secara kebetulan. Uji-t menguji apakah korelasi populasi ρ (rho populasi) = 0.
Hipotesis
H₀: ρ = 0 — tidak ada korelasi di populasi
H₁: ρ ≠ 0 — ada korelasi di populasi → uji dua sisi (two-tailed)
t = r√(n−2) / √(1−r²) df (derajat kebebasan) = n − 2
Aturan Keputusan
Kondisi
Keputusan
|tₕ𝑖ₜ𝜢𝜫𝜬| > tₜ𝑚𝑿𝒆𝒉(α/2, df)
Tolak H₀ — korelasi signifikan
|tₕ𝑖ₜ𝜢𝜫𝜬| ≤ tₜ𝑚𝑿𝒆𝒉
Gagal tolak H₀ — tidak signifikan
df = n − 2 karena dua parameter (rata-rata X dan rata-rata Y) diestimasi dari sampel, masing-masing "menghabiskan" satu derajat kebebasan.
HDN-1 Lanjutan: Uji Signifikansi untuk r UNVR
Dari HDN-1: r ≈ 0,998, n = 20, α = 0,05. Apakah korelasi ini signifikan?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Hitung 1 − r²
1 − 0,996
0,004
Hitung √(1 − r²)
√0,004
0,0632
Hitung r√(n−2)
0,998 × √18 = 0,998 × 4,2426
4,2341
tₕ𝑖ₜ𝜢𝜫𝜬
4,2341 / 0,0632
≈ 63,0
df
n − 2 = 20 − 2
18
tₜ𝑚𝑿𝒆𝒉 (α/2 = 0,025, df = 18)
dari tabel distribusi-t
≈ 2,101
Keputusan
|63,0| > 2,101
Tolak H₀
Tolak H₀. Korelasi antara belanja iklan dan penjualan UNVR signifikan secara statistik pada α = 5%. Kita cukup yakin korelasi positif ini bukan kebetulan sampel — ia mencerminkan hubungan nyata di populasi data kuartal UNVR.
Studi Kasus: IKK Bank Indonesia vs Pertumbuhan Penjualan Ritel
IKK (Indeks Keyakinan Konsumen — survei Bank Indonesia yang mengukur optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi, basis = 100) vs pertumbuhan penjualan ritel.
DATA (ilustratif, 12 bulan)
IKK rata-rata = 115 (range 95–130) Pertumbuhan ritel YoY (year-on-year = dibanding periode sama tahun lalu) rata-rata = 6,2% (range 2%–12%)
IKK dapat menjadi leading indicator (indikator terdepan — berubah sebelum tren ekonomi berubah) bagi perencana penjualan. Namun ingat: korelasi bukan kausalitas — sentimen tinggi mungkin muncul karena kondisi ekonomi baik, bukan penyebab penjualan naik. r² = 52% mengingatkan bahwa hampir separuh variasi penjualan masih dijelaskan faktor lain: daya beli, harga, musim, diskon.
Korelasi Parsial: Mengontrol Variabel Ketiga
Korelasi parsial mengukur hubungan X dan Y setelah mengeluarkan pengaruh variabel ketiga Z (dikontrol). Berguna mendeteksi korelasi palsu (spurious correlation).
rXY = 0,80 • rXZ = 0,60 • rYZ = 0,50 r(XY.Z) = (0,80 − 0,60 × 0,50) / √[(1−0,36)(1−0,25)] = 0,50 / √(0,48) ≈ 0,72 Setelah musim dikontrol, korelasi turun dari 0,80 → 0,72.
Matriks Korelasi: Banyak Variabel Sekaligus
Ketika ada lebih dari dua variabel, ringkas semua pasangan korelasi dalam matriks korelasi — tabel simetris yang menampilkan koefisien untuk semua pasangan sekaligus.
Contoh: 4 variabel keuangan BNI (ilustratif)
Pendapatan
Biaya Promosi
Kepuasan Nasabah
Loyalitas
Pendapatan
1,00
0,82
0,67
0,71
Biaya Promosi
0,82
1,00
0,54
0,58
Kepuasan Nasabah
0,67
0,54
1,00
0,89
Loyalitas
0,71
0,58
0,89
1,00
Tiga aturan matriks korelasi: (1) Diagonal = 1,00 (setiap variabel sempurna berkorelasi dengan dirinya sendiri). (2) Matriks simetris — rXY = rYX. (3) Baca pasangan dengan nilai tertinggi: di sini Kepuasan Nasabah & Loyalitas = 0,89 (korelasi tertinggi — konsisten dengan teori pemasaran).
Korelasi ≠ Kausalitas: Jangan Terjebak
Korelasi tinggi hanya berarti dua variabel bergerak bersama. Ia tidak membuktikan bahwa satu menyebabkan yang lain.
CONTOH KELIRU
"Penjualan payung & kasus flu berkorelasi tinggi → apakah payung menyebabkan flu?" — Tidak. Keduanya naik karena musim hujan (variabel ketiga — confounding variable).
CONTOH BISNIS
"Perusahaan dengan lebih banyak karyawan berbaju merah memiliki profitabilitas lebih tinggi" → korelasi ada, tetapi warna baju bukan penyebab; ukuran perusahaan adalah confounding variable.
Tiga Kondisi Kausalitas (Mill's Method)
Korelasi ada — perlu tapi tidak cukup
Urutan temporal — X mendahului Y secara waktu
Tidak ada confounding — tidak ada variabel lain yang menjelaskan hubungan
Untuk membuktikan kausalitas, butuh desain riset yang lebih kuat: eksperimen, DiD (Difference-in-Differences — metode ekonometrika membandingkan perubahan dua kelompok), atau IV/RDD — di luar lingkup korelasi bivariate.
Bagian 3 dari 4
Korelasi Rank: Spearman & Kendall
Alternatif nonparametrik (tidak mengasumsikan distribusi tertentu) ketika data ordinal atau distribusi jauh dari normal — tetap kuat, tetap bermakna.
ρ = 1 − 6Σdᵢ² / n(n²−1)
Kapan Gunakan Korelasi Rank?
GUNAKAN SPEARMAN/KENDALL JIKA:
Data ordinal (peringkat, skor Likert, rating)
Interval/rasio tetapi distribusi sangat tidak normal (skewed — condong, outlier ekstrem)
Sampel kecil (n < 30) dengan data tidak normal
Ada outlier yang mempengaruhi hasil Pearson
TETAP GUNAKAN PEARSON JIKA:
Data interval/rasio (harga, pendapatan, volume)
Distribusi mendekati normal atau n besar (n > 30, CLT)
Tidak ada outlier ekstrem
Ingin interpretasi langsung dengan unit asli
Spearman vs Kendall: keduanya valid untuk data ordinal. Spearman lebih umum dan mudah dihitung; Kendall lebih stabil untuk sampel kecil dengan banyak ties (nilai yang sama persis antar observasi dalam ranking). CLT = Central Limit Theorem (teorema batas sentral — rata-rata sampel besar mendekati distribusi normal).
Coba Sendiri: Tambah Outlier, Bandingkan Pearson vs Spearman
Tambahkan titik outlier ekstrem pada data dan amati bagaimana r Pearson goyah sementara rho Spearman tetap stabil.
Korelasi Spearman (ρ): Ubah ke Rank, Lalu Hitung
Spearman mengganti nilai asli dengan peringkat (rank), lalu menghitung selisih peringkat.
Langkah Prosedur
1. Ranking X — beri peringkat 1 (terkecil) s.d. n (terbesar). Jika ada ties, beri rata-rata peringkat.
2. Ranking Y — sama untuk variabel Y.
3. Hitung dᵢ = Rank(Xᵢ) − Rank(Yᵢ) untuk tiap observasi.
4. Kuadratkan dᵢ² untuk tiap observasi.
5. Jumlahkan Σdᵢ².
6. Masukkan ke rumus di bawah.
ρ = 1 − 6Σdᵢ² / [n(n²−1)]
di mana: dᵢ = selisih peringkat X dan Y untuk observasi ke-i • Berlaku tepat jika tidak ada ties.
ρ = +1 → urutan X dan Y identik ρ = −1 → urutan terbalik sempurna ρ = 0 → tidak ada konsistensi urutan
Hitung dari Nol — HDN-2: Spearman ρ (Garuda Indonesia, 15 Karyawan)
Data peringkat kepuasan kerja (X) dan loyalitas (Y) dari 15 karyawan Garuda Indonesia (ilustratif). Hitung ρ Spearman.
Tabel Data & Perhitungan
Karyawan
Rank X
Rank Y
dᵢ
dᵢ²
1
1
2
−1
1
2
3
1
2
4
3
2
4
−2
4
4
5
3
2
4
5
4
6
−2
4
6–14
…
…
±2
4 tiap
15
14
15
−1
1
Σ
0
54
Hitung ρ
Langkah
Perhitungan
Nilai
6 × Σdᵢ²
6 × 54
324
n(n²−1)
15 × (225−1) = 15 × 224
3.360
6Σdᵢ²/n(n²−1)
324 / 3.360
0,0964
ρ
1 − 0,0964
≈ 0,904
ρ ≈ 0,904: korelasi positif sangat kuat antara kepuasan kerja dan loyalitas karyawan.
HDN-2 Lanjutan: Uji Signifikansi ρ Spearman
Apakah ρ = 0,904 dengan n = 15 signifikan pada α = 0,05?
Pendekatan statistik-t untuk Spearman — valid untuk n > 10; rumus sama dengan Pearson (gunakan ρ sebagai pengganti r).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1 − ρ²
1 − 0,904² = 1 − 0,817
0,183
√(1 − ρ²)
√0,183
0,4279
ρ√(n−2)
0,904 × √13 = 0,904 × 3,6056
3,2594
tₕ𝑖ₜ𝜢𝜫𝜬
3,2594 / 0,4279
≈ 7,62
df
n − 2 = 15 − 2
13
tₜ𝑚𝑿𝒆𝒉 (α/2 = 0,025, df = 13)
dari tabel-t
≈ 2,160
Keputusan
|7,62| > 2,160
Tolak H₀
Tolak H₀. Korelasi rank antara kepuasan kerja dan loyalitas signifikan pada α = 5%. Laporan: "Terdapat korelasi Spearman yang positif dan sangat kuat antara kepuasan kerja dan loyalitas karyawan (ρ = 0,904, p < 0,05)."
Kendall's Tau (τ): Ide Konkordansi
Kendall τ mengukur proporsi pasangan konkordansi (urutan sama) minus pasangan diskordansi (urutan terbalik) dari semua pasangan yang mungkin.
τ = (C − D) / [n(n−1)/2]
C = pasangan konkordansi (urutan relatif X dan Y sama antar dua observasi) • D = pasangan diskordansi (urutan terbalik) • n(n−1)/2 = total pasangan.
Kendall τ umumnya lebih kecil dari Spearman ρ untuk data yang sama — jangan dibandingkan langsung angkanya. Arah dan signifikansinya yang perlu disamakan.
Contoh Mini (n = 3: A, B, C)
Pasangan
X
Y
C / D
(A, B)
A<B (1<2)
A<B (1<3)
C
(A, C)
A<C (1<3)
A<C (1<2)
C
(B, C)
B<C (2<3)
B>C (3>2)
D
C = 2, D = 1 • Total pasangan = 3 τ = (2−1)/3 ≈ 0,333
Bagian 4 dari 4
Perluasan & Keputusan
Peta keputusan metode, cheat sheet rumus, dan persiapan materi berikutnya.
Estimasi koefisien a dan b (OLS — Ordinary Least Squares, metode kuadrat terkecil biasa)
r² dalam konteks regresi = goodness of fit (seberapa baik model menjelaskan data)
Prasyarat: korelasi linear yang kuat
Tugas Mandiri: Ambil data dua variabel keuangan dari laporan tahunan satu emiten BEI (min. 8 tahun). Hitung r Pearson dan uji signifikansinya menggunakan prosedur yang sudah dipelajari. Kumpulkan di pertemuan berikutnya.