stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Pengujian Hipotesis Univariat

Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Statistika Bisnis II

Pertemuan 7 — Pengujian Hipotesis Univariat

Dari dugaan ke kesimpulan berbasis data: H0 vs H1, kesalahan Tipe I & II, uji Z, uji t, uji Wilcoxon, dan ukuran efek — semua dalam satu pertemuan.

RPS Minggu 7 Sub-CPMK1 Durasi 2 × 50 Menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun dan menginterpretasikan pengujian hipotesis univariat (Sub-CPMK1 — satu variabel yang diuji). Secara rinci:

Capaian 1 — Kerangka
Menyusun H0 dan H1 yang benar; memahami kesalahan Tipe I (α) dan Tipe II (β); membedakan p-value vs nilai kritis.
Capaian 2 — Uji Z & t
Melaksanakan uji Z rata-rata (σ diketahui) dan uji t satu sampel (σ tidak diketahui); memilih uji satu sisi vs dua sisi.
Capaian 3 — Berpasangan
Melaksanakan paired t-test dan uji Wilcoxon signed-rank untuk data sebelum-sesudah.
Capaian 4 — Efek
Menghitung Cohen's d (ukuran standar besar-kecilnya efek) dan memahami konsep power of test (1−β) untuk interpretasi bisnis bermakna.

Keputusan Bisnis di Bawah Ketidakpastian

Kapan Anda Perlu Bukti, Bukan Sekadar Intuisi? Dua skenario bisnis nyata yang membutuhkan pengujian hipotesis:

Skenario A — Keuangan
BPS (Badan Pusat Statistik — lembaga resmi pengumpul data statistik Indonesia) menyatakan rata-rata pengeluaran konsumsi keluarga Jawa Tengah Rp 2,5 juta/bulan. Tim riset Anda survei 45 keluarga Semarang dan menemukan rata-rata Rp 2,65 juta. Apakah Semarang memang di atas rata-rata provinsi, atau perbedaan ini hanya fluktuasi sampel (variasi alami akibat hanya mengambil sebagian populasi)?
Skenario B — SDM
PT Astra International menjalankan pelatihan produktivitas untuk 20 karyawan. Nilai produktivitas naik rata-rata 4 poin setelah pelatihan. Apakah kenaikan ini nyata atau bisa terjadi secara kebetulan?
Pengujian hipotesis memberi jawaban berbasis probabilitas — bukan opini, bukan tebakan. Kedua kasus ini akan kita hitung tuntas hari ini.
Blok 1 dari 4
Kerangka Pengujian Hipotesis
H0 vs H1  •  Kesalahan Tipe I & II  •  p-value vs Nilai Kritis  •  Uji Satu Sisi vs Dua Sisi
1Rumuskan hipotesis 2Tetapkan α 3Pilih uji & arah 4Hitung & putuskan

Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (H1)

H0 — Hipotesis Nol (Null Hypothesis)

Pernyataan status quo yang akan diuji. Selalu memuat tanda =, , atau .

Contoh: H0: μ = 2,5 juta (pengeluaran tidak berbeda dari rata-rata provinsi).

H1 — Hipotesis Alternatif (Alternative Hypothesis)

Klaim peneliti — yang ingin dibuktikan. Selalu berlawanan dengan H0. Tanda: , >, atau <.

Contoh: H1: μ > 2,5 juta (pengeluaran Semarang LEBIH TINGGI).

Aturan kunci: Kita tidak pernah membuktikan H0 — kita hanya menolak atau gagal menolak H0. Beban bukti ada di data. μ (mu) = rata-rata populasi; μ0 = nilai yang diklaim dalam H0.
DUA SISI
H1: μ ≠ μ0 — tidak tahu arah
SISI KANAN
H1: μ > μ0 — menduga lebih besar
SISI KIRI
H1: μ < μ0 — menduga lebih kecil

Dua Jenis Kesalahan yang Mungkin Terjadi

H0 Benar (dalam realita)H0 Salah (dalam realita)
Tolak H0Kesalahan Tipe I (α)
Menghukum orang tak bersalah
Keputusan Benar
Power = 1 − β
Gagal Tolak H0Keputusan BenarKesalahan Tipe II (β)
Membebaskan pelaku
α (alpha) — Tipe I: Probabilitas menolak H0 padahal H0 benar. Dikendalikan peneliti (misal: α = 0,05). Analogi: menghukum orang tak bersalah.
β (beta) — Tipe II: Probabilitas gagal menolak H0 padahal H0 salah. Analogi: membebaskan pelaku. Power = 1 − β = kemampuan uji mendeteksi efek nyata.

p-value vs Nilai Kritis — Dua Cara Putuskan

Cara 1 — Nilai Kritis (Critical Value)
  • Hitung statistik uji (Z atau t) dari data
  • Bandingkan dengan nilai kritis dari tabel (Zα atau tα,df)
  • Jika |statistik uji| > nilai kritis → Tolak H0

Lebih mudah dihitung manual dengan tabel distribusi.

Cara 2 — p-value (Nilai-p)
  • Hitung p-value = P(data seekstrem ini | H0 benar)
  • Jika p-value < α → Tolak H0

Lebih umum di software (SPSS, R, Stata); memberi informasi lebih kaya.

Miskonsepsi berbahaya: p-value ≠ probabilitas H0 benar. p-value = P(data | H0 benar). Kalau p = 0,03: "Jika H0 benar, peluang mendapat data seekstrem ini hanya 3%." — bukan "H0 hanya 3% benar."

Keduanya HARUS menghasilkan keputusan yang sama untuk data dan α yang sama. Pilih salah satu, konsisten.

Uji Satu Sisi vs Dua Sisi

AspekDua Sisi (Two-tailed)Satu Sisi KananSatu Sisi Kiri
H1μ ≠ μ0μ > μ0μ < μ0
Area kritisα/2 di setiap ekorα di ekor kananα di ekor kiri
Z kritis (α=0,05)±1,96+1,645−1,645
Kapan pakaiTidak tahu arahMenduga lebih besarMenduga lebih kecil
PERINGATAN: Pilihan satu/dua sisi harus ditetapkan sebelum melihat data. Mengganti arah setelah melihat hasil = p-hacking = pelanggaran etika riset. Z kritis (nilai Z yang memisahkan daerah tolak dan terima) untuk satu sisi memang lebih kecil (1,645 vs 1,96), tetapi itu hanya sah bila arah ditetapkan dari awal.
Blok 2 dari 4
Uji Z dan Uji t Satu Sampel
Kapan pakai Z vs t  •  Hitung statistik uji  •  Interpretasi keputusan  •  Hitung dari Nol: Pengeluaran Keluarga Semarang
Distribusi ZDistribusi t (ekor tebal)t → Z saat df → ∞

Uji Z Rata-Rata — Rumus dan Komponen

Z = (x̄ − μ₀) / (σ / √n)
SimbolNamaAsal / Keterangan
Rata-rata sampel (x-bar)Data yang Anda kumpulkan
μ₀Rata-rata populasi klaim H0Pernyataan di H0
σSimpangan baku populasi (sigma)Diketahui (misal dari sensus)
nUkuran sampelJumlah responden
σ/√nStandard error (SE)Ukuran variabilitas rata-rata sampel
Kondisi pakai: σ diketahui, ATAU n ≥ 30 (aproksimasi buku teks lama). Catatan modern: bila σ tidak diketahui, preferensi terbaik selalu uji t (apa pun n).   Keputusan: Tolak H0 jika |Z| > Z kritis (tabel Z).
Hitung dari Nol — HDN-1

HDN-1: Uji Z — Pengeluaran Keluarga Semarang

Soal: BPS menyatakan μ₀ = Rp 2,5 juta/bulan (Jawa Tengah). Survei: n = 45 keluarga, x̄ = Rp 2,65 juta, σ = Rp 0,4 juta (diketahui dari sensus). H0: μ = 2,5 vs H1: μ > 2,5 pada α = 0,05.

LangkahPerhitunganNilai
1. Tetapkan hipotesisH0: μ = 2,5 juta; H1: μ > 2,5 juta (satu sisi kanan)
2. α dan Z kritisα = 0,05; satu sisi kanan → Tabel ZZ kritis = 1,645
3. Standard errorSE = σ/√n = 0,4/√45 = 0,4/6,708SE = 0,0596 juta
4. Z hitungZ = (2,65 − 2,5)/0,0596 = 0,15/0,0596Z = 2,517
5. BandingkanZ hitung (2,517) > Z kritis (1,645)→ Tolak H0
6. Kesimpulan bisnisCukup bukti pada α 5% bahwa pengeluaran keluarga Semarang lebih tinggi dari rata-rata Jawa Tengah. (p-value ≈ 0,006)

Uji t Satu Sampel (One-Sample t-Test)

Kapan: σ populasi tidak diketahui; hanya punya s (simpangan baku sampel, dihitung dari data dengan pembagi n−1).

t = (x̄ − μ₀) / (s / √n)
SimbolNamaKeterangan
sSimpangan baku sampelEstimasi σ populasi; dihitung dengan pembagi n−1
dfDerajat kebebasan (degrees of freedom)df = n − 1
t kritisBatas tolak H0Dari tabel t dengan df dan α (ekor tebal → sedikit lebih besar dari Z)
Makin besar df (besar n), distribusi t mendekati distribusi Z normal baku.   Keputusan: Tolak H0 jika |t hitung| > t kritis (df, α, satu/dua sisi).
Hitung dari Nol — HDN-2

HDN-2: Uji t — Pengeluaran Keluarga Semarang (σ Tidak Diketahui)

Soal: Sama seperti HDN-1, tetapi sekarang σ tidak diketahui. Data: n = 45, x̄ = 2,65 juta, s = 0,4 juta. H0: μ = 2,5 vs H1: μ > 2,5, α = 0,05.

LangkahPerhitunganNilai
1. HipotesisH0: μ = 2,5 juta; H1: μ > 2,5 juta (satu sisi kanan)
2. df dan t kritisdf = 45 − 1 = 44; tabel t (df=44; α=0,05; satu sisi)t kritis ≈ 1,680
3. Standard errorSE = s/√n = 0,4/√45 = 0,4/6,708SE = 0,0596 juta
4. t hitungt = (2,65 − 2,5)/0,0596 = 0,15/0,0596t = 2,517
5. Putuskant hitung (2,517) > t kritis (1,680)→ Tolak H0
6. KesimpulanBukti statistis cukup (α = 5%): pengeluaran Semarang lebih tinggi dari rata-rata Jateng. Kesimpulan sama dengan HDN-1.

t kritis lebih besar dari Z kritis (1,680 vs 1,645) karena distribusi t memiliki ekor lebih tebal. Namun t hitung (2,517) melampaui keduanya — keputusan tetap Tolak H0.

Studi Kasus: Target Tabungan Nasabah BRI BritAma

Manajer cabang BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyatakan rata-rata saldo tabungan BritAma nasabahnya Rp 5 juta. Auditor internal mengambil sampel 36 rekening: x̄ = Rp 4,6 juta, s = Rp 1,2 juta. Uji klaim manajer pada α = 0,05.

Setup Pengujian
  • H0: μ = 5 juta; H1: μ ≠ 5 juta (dua sisi)
  • df = 36 − 1 = 35; t kritis = ±2,030
  • SE = 1,2/√36 = 1,2/6 = 0,200 juta
Hitung Cepat
  • t = (4,6 − 5,0)/0,2 = −0,4/0,2 = −2,00
  • |−2,00| = 2,00 < 2,030 (t kritis)
  • Gagal Tolak H0
Interpretasi: Pada α = 5%, bukti tidak cukup kuat untuk menolak klaim manajer. Namun margin tipis (t hitung = −2,00 vs t kritis = ±2,030) layak dicatat untuk audit lanjutan. "Gagal tolak H0" ≠ H0 terbukti benar — hanya berarti bukti belum cukup kuat. BRI BritAma dan Rp 5 juta adalah ilustrasi fiktif.
Blok 3 dari 4
Uji t Berpasangan & Uji Wilcoxon
Data sebelum–sesudah  •  Paired t-test  •  Uji non-parametrik Wilcoxon signed-rank  •  Kasus SDM PT Astra
t₁Intervensit₂

Uji t Berpasangan — Kapan dan Mengapa?

Ciri Data yang Cocok
  • Satu kelompok subjek yang sama diukur dua kali (sebelum & sesudah)
  • Atau dua pengukuran pada subjek yang sama dalam kondisi berbeda
  • Asumsi: perbedaan d_i = sesudah − sebelum berdistribusi mendekati normal
Keunggulan vs Dua Sampel Independen
  • Menghilangkan variabilitas antar-individu dari analisis
  • Lebih sensitif (power lebih tinggi) untuk mendeteksi efek perlakuan
Contoh konteks bisnis Indonesia: Produktivitas karyawan sebelum vs sesudah pelatihan SDM (PT Astra). • Kepuasan konsumen sebelum vs sesudah redesain produk (FMCG). • Return saham BBCA (Bank BCA, emiten saham di BEI) sebelum vs sesudah pengumuman dividen.

d_i = selisih individu ke-i = nilai sesudah minus nilai sebelum. Bila asumsi normalitas d_i tidak terpenuhi → gunakan uji Wilcoxon signed-rank (non-parametrik).

Rumus Uji t Berpasangan (Paired t-Test)

d_i = X₂ᵢ − X₁ᵢ

Langkah 1: Hitung selisih berpasangan tiap subjek (sesudah − sebelum). Konsisten untuk semua i.

d̄ = Σd_i / n    s_d = √[Σ(d_i−d̄)²/(n−1)]

Langkah 2: Rata-rata (d̄ = d-bar) dan simpangan baku (s_d) dari selisih berpasangan.

t = d̄ / (s_d / √n)

Langkah 3: Statistik uji. df = n − 1. H0: μ_d = 0; H1: μ_d > 0 (atau ≠ 0).

Catatan: μ_d (mu-d) adalah rata-rata populasi perbedaan. Ini pada dasarnya uji t satu sampel yang diterapkan pada variabel baru d_i. s_d mengukur variabilitas perubahan saja — bukan variabilitas total antar-individu — sehingga "kebisingan" jauh lebih kecil dan uji lebih sensitif.
Hitung dari Nol — HDN-3

HDN-3: Uji t Berpasangan — Pelatihan SDM PT Astra (n = 20)

H0: μ_d = 0 (pelatihan tidak berdampak) vs H1: μ_d > 0 (produktivitas meningkat). α = 0,05. Skor produktivitas skala 0–100; d_i = X₂−X₁.

Kar.X₁X₂d_id_i²
17075+525
27275+39
36875+749
47175+416
56975+636
Sub-total Kel. A25135
66973+416
76773+636
87173+24
96573+864
106873+525
Sub-total Kel. B25145
Kar.X₁X₂d_id_i²
117376+39
127176+525
136976+749
147276+416
157076+636
Sub-total Kel. C25135
166670+416
176470+636
186570+525
196770+39
206370+749
Sub-total Kel. D25135
TOTAL100550
LangkahPerhitunganNilai
Σd_i / n = 100 / 205,00
s_d²[550 − (100²/20)] / (20−1) = [550−500] / 19 = 50/192,632
s_d√2,6321,622
SE1,622 / √20 = 1,622 / 4,4720,363
t hitung5,00 / 0,363t = 13,774
df; t kritisdf = 19; α=0,05; satu sisi → tabel tt kritis = 1,729
Keputusan13,774 > 1,729→ Tolak H0

Kesimpulan: Pelatihan SDM PT Astra terbukti meningkatkan produktivitas (t = 13,774; df = 19; p < 0,001). Data ilustrasi fiktif.

Uji Wilcoxon Signed-Rank — Alternatif Non-Parametrik

Non-parametrik = tidak mengasumsikan distribusi tertentu pada populasi. Gunakan bila: asumsi normalitas d_i tidak terpenuhi; data ordinal (skala Likert); ada pencilan (outlier) ekstrem.

PROSEDUR 5 LANGKAH:

  1. Hitung d_i = sesudah − sebelum; abaikan d_i = 0
  2. Urutkan |d_i| dari kecil ke besar; beri rank 1, 2, 3, …
  3. Beri tanda rank sesuai tanda d_i (positif/negatif). Tie = rata-rata rank.
  4. Hitung W+ (jumlah rank positif) dan W− (jumlah rank negatif)
  5. W = min(W+, W−). Bandingkan dengan tabel Wilcoxon (n, α)
Keputusan: Tolak H0 jika W ≤ W kritis dari tabel Wilcoxon. W kecil = efek kuat. (Kebalikan dari uji t!)
Hipotesis: H0: median d_i = 0; H1: median d_i ≠ 0 (atau > 0 / < 0 satu sisi).
Uji dicetuskan Frank Wilcoxon (1945) — bekerja dengan peringkat (rank), bukan nilai asli.

Studi Kasus: KPI Karyawan BUMN — Coaching

Kemnaker dan BUMN (Pertamina, PLN) menerapkan program coaching. Sampel 12 karyawan, skor KPI (1–10) sebelum & sesudah coaching. d_i = sesudah − sebelum. Tie-rank = rata-rata rank untuk |d_i| yang sama.

Kar.SblmSsdhd_i|d_i|Rank (tie-avg)Rank bertanda
C7,07,2+0,20,21,5+1,5
F7,57,3−0,20,21,5−1,5
J6,56,8+0,30,33,5+3,5
L6,05,7−0,30,33,5−3,5
B5,56,0+0,50,55+5
G6,07,0+1,01,07+7
H5,56,5+1,01,07+7
I8,09,0+1,01,07+7
A6,07,5+1,51,510,5+10,5
D6,58,0+1,51,510,5+10,5
E5,06,5+1,51,510,5+10,5
K7,08,5+1,51,510,5+10,5
W+ = 73  |  W− = 5  |  W = min(73, 5)W = 5
Tabel Wilcoxon n=12, α=0,05 satu sisi: W kritis ≈ 17.  |  W (5) ≤ W kritis (17) → Tolak H0. Coaching secara signifikan meningkatkan KPI karyawan BUMN. Cek: W+ + W− = 73 + 5 = 78 = 12×13/2 ✓

Tiga Asumsi yang Sering Diabaikan (dan Risikonya)

ASUMSI 1 — NORMALITAS

Uji t butuh d_i mendekati normal (atau n besar untuk CLT — Central Limit Theorem). Bila n < 30 dan data menceng/ada pencilan (outlier) → uji Wilcoxon. Cek: histogram, Q-Q plot (titik-titik mengikuti garis diagonal = normal), uji Shapiro-Wilk.

ASUMSI 2 — RANDOM SAMPLING

Sampel harus representatif. Bila convenience sample (hanya karyawan yang mau disurvei) → hasil tidak bisa digeneralisasi ke populasi, tidak peduli berapa besar n-nya. Ini seringkali lebih merusak dari asumsi statistis.

ASUMSI 3 — INDEPENDENSI

Tiap pengamatan independen dari yang lain (kecuali pasangan yang sudah diperhitungkan). Bila ada klaster (cluster — karyawan satu divisi saling memengaruhi) → perlu metode yang memperhitungkan klaster.

Peringatan: Melanggar asumsi tanpa menyadarinya = kesimpulan yang salah walau hitungan benar. Cek asumsi DULU sebelum memilih uji.
Blok 4 dari 4
Power, Ukuran Efek, dan Rangkuman
1 − β (power of test)  •  Cohen's d  •  Signifikan statistik ≠ penting bisnis  •  Cheat sheet
Distribusi H0Distribusi H1← β tumpang tindih │ Power (1−β) →

Power of Test — Kemampuan Mendeteksi Efek Nyata

Definisi: Power = 1 − β = probabilitas menolak H0 ketika H0 memang salah (efek nyata ada). β = probabilitas kesalahan Tipe II (gagal mendeteksi efek nyata).
FaktorNaik → PowerAlasan
Ukuran sampel n↑ n → ↑ powerStandard error mengecil → uji lebih sensitif
Ukuran efek |μ₁ − μ₀|↑ efek → ↑ powerPerbedaan lebih mudah terdeteksi
α (tingkat signifikansi)↑ α → ↑ powerZona tolak diperlebar (tapi risiko Tipe I naik)
σ (variabilitas)↓ σ → ↑ powerData lebih homogen → sinyal lebih jelas
Patokan Jacob Cohen (1988)
0,80
Power ≥ 0,80 = memadai untuk riset sosial-bisnis
Power analysis a priori: Sebelum penelitian, gunakan G*Power (gratis) atau fungsi pwr di R untuk menentukan n minimum. Contoh: untuk mendeteksi efek kecil (Cohen's d = 0,4) dengan power 80% dan α = 0,05, dibutuhkan n minimum tertentu — hitung dengan software, bukan manual.

Coba Sendiri: Geser n dan Ukuran Efek, Amati Power

Ubah ukuran sampel dan ukuran efek, lihat bagaimana daerah error Tipe I, Tipe II, dan power saling bergeser.

Ukuran Efek — Cohen's d: Besar Kecilnya Perbedaan

d = (x̄ − μ₀) / s    (uji satu sampel)
d = d̄ / s_d    (paired t-test)

Cohen's d = ukuran efek standar dalam satuan simpangan baku. Dikembangkan Jacob Cohen (1988). d = 1 berarti perbedaan rata-rata sebesar satu simpangan baku. Penting: bagi s, BUKAN s/√n.

Nilai |d|Interpretasi
< 0,2Sangat kecil — hampir tidak bermakna praktis
0,2 – 0,49Kecil — perlu intervensi besar untuk terasa
0,5 – 0,79Sedang — terdeteksi pengamat teliti
≥ 0,8Besar — jelas terasa dalam operasional bisnis
HDN-1 — Semarang vs BPS
0,375
d = (2,65−2,5)/0,4 → efek kecil-sedang
HDN-3 — PT Astra (ilustrasi)
3,084
d = 5,00/1,622 → efek sangat besar (fiktif)

Cheat Sheet — Empat Uji Utama Hari Ini

AspekUji Z (satu sampel)Uji t (satu sampel)Paired t-testWilcoxon
Kondisiσ diketahui / n≥30σ tidak diketahuiBerpasangan, normalNon-parametrik
StatistikZ=(x̄−μ₀)/(σ/√n)t=(x̄−μ₀)/(s/√n)t=d̄/(s_d/√n)W=min(W+,W−)
dfn−1n−1— (tabel W)
H0μ = μ₀μ = μ₀μ_d = 0Median d = 0
Tolak H0 jika|Z| > Z kritis|t| > t kritis|t| > t kritisW ≤ W kritis
Ukuran efekd=(x̄−μ₀)/σd=(x̄−μ₀)/sd=d̄/s_dr=Z/√n (n>25)*
ContohBPS vs Semarang (σ=0,4)BPS vs Semarang (s=0,4)PT Astra (d=3,084)KPI BUMN coaching

*r=Z/√n = ukuran efek rank-biserial Wilcoxon (0,1=kecil; 0,3=sedang; 0,5=besar). Untuk n ≤ 25, laporkan W dan nilai kritis; r dihitung software.

Alur pemilihan uji: Apakah berpasangan? → Ya → paired t / Wilcoxon.  |  Tidak → σ diketahui? → Ya → Z.  |  Tidak → t satu sampel. Dalam praktik: hampir selalu uji t atau paired t.

Simpulan Hari Ini & Persiapan Pertemuan 8

TIGA TAKEAWAY UTAMA:
1Pengujian hipotesis = protokol keputusan berbasis data: H0/H1 → ukur kesalahan (α/β) → hitung statistik → putuskan.
2Pilih uji yang tepat: Z (σ diketahui) | t satu sampel (σ tidak diketahui) | paired t (berpasangan, normal) | Wilcoxon (non-parametrik).
3Selalu laporkan ukuran efek (Cohen's d) bersama p-value — signifikansi statistis ≠ kepentingan bisnis.
Pertemuan 8 — Preview
  • Pengujian Hipotesis Bivariat (dua sampel independen)
  • Uji t dua sampel
  • Uji F — ANOVA satu arah (Analysis of Variance)
Tugas Sebelum Pertemuan 8
  • Kerjakan Soal 1, 3, dan 5 (Lampiran B materi)
  • Hitung manual dengan kertas dan kalkulator
  • Bawa hasil hitungan ke kelas
"Statistika bisnis bukan soal menghitung benar — tapi soal membuat keputusan lebih baik dari saingan."