Dari sampel ke kesimpulan populasi — cara ilmiah membungkus ketidakpastian dalam sebuah interval dan menguji apakah dua kelompok sungguh berbeda.
RPS MINGGU 5 • SUB-CPMK 5 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Pertemuan 5
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu melakukan estimasi dan uji beda (Sub-CPMK 5). Secara rinci:
Capaian 1 — Estimasi
Membedakan estimasi titik vs interval dan memilih distribusi yang tepat — distribusi Z (bila σ diketahui) atau distribusi t (bila σ tidak diketahui).
Capaian 2 — CI Rata-Rata
Mengonstruksi CI untuk μ menggunakan Z atau t, menghitung margin of error (E), dan menentukan n minimum menggunakan rumus n = (Z·σ/E)².
Capaian 3 — CI Proporsi
Mengonstruksi CI untuk p (proporsi populasi) dan melakukan uji beda dua proporsi lengkap dengan pooled proportion (p̄).
Capaian 4 — Uji Beda
Melakukan independent samples t-test (pooled & Welch), menghitung statistik t dan p-value, menarik keputusan pada α = 0,05.
Mengapa Satu Angka Tidak Cukup?
Bank ingin tahu rata-rata NPL (Non-Performing Loan — rasio kredit bermasalah; dipantau OJK) semua cabangnya. Mereka ambil sampel 30 cabang dan menemukan rata-rata 3,5%. Apakah itu "rata-rata sesungguhnya"?
Masalah — Estimasi Titik
Angka 3,5% hanya berlaku untuk sampel itu. Kalau diambil sampel berbeda, hasilnya mungkin 3,2% atau 3,8%. Kita tidak tahu seberapa dekat ke nilai populasi.
Solusi — Interval
Alih-alih satu angka, katakan: "Kami 95% yakin rata-rata NPL seluruh cabang berada antara 3,19% dan 3,81%." Ini jujur — dan dapat diuji.
Interval kepercayaan bukan tanda keraguan — ini transparansi ilmiah. Dunia bisnis dan kebijakan publik menggunakannya setiap hari.
Bagian 1 dari 4
Estimasi: Titik vs Interval
Dua cara menduga parameter populasi dari sampel — dan mengapa interval jauh lebih informatif.
TitikInterval
Estimasi Titik (Point Estimate)
Satu nilai tunggal dari sampel dipakai sebagai dugaan terbaik (best guess) parameter populasi yang tidak diketahui.
Parameter & Estimatornya
Parameter Populasi
Estimator (dari sampel)
μ (rata-rata)
x̄ — rata-rata sampel
σ² (varians)
s² — varians sampel
p (proporsi)
p̂ — proporsi sampel
Contoh Nyata — UMKM Semarang
Survei 40 UMKM Kota Semarang → x̄ omzet = Rp 150 juta/bulan. Ini adalah estimasi titik untuk μ omzet seluruh UMKM Semarang.
Kelemahan estimasi titik: tidak menginformasikan seberapa presisi estimasi itu. Tanpa interval, kita tak tahu seberapa jauh x̄ mungkin menyimpang dari μ.
Estimasi Interval & Tingkat Kepercayaan
Alih-alih satu angka, kita nyatakan: "Parameter populasi berada dalam rentang [bawah, atas] dengan tingkat kepercayaan (1−α)×100%."
(x̄ − E) ≤ μ ≤ (x̄ + E) di mana E = margin of error
Tingkat Kepercayaan
α
Zα/2 (distribusi normal standar)
90%
0,10
1,645
95%
0,05
1,960
99%
0,01
2,576
Makin tinggi tingkat kepercayaan → Zα/2 makin besar → interval makin lebar (lebih aman, kurang presisi). Ada trade-off yang tidak bisa dihindari.
Anatomi CI — Bongkar Isi Intervalnya
❌ MISKONSEPSI: "Ada 95% peluang μ berada dalam interval INI." → SALAH. μ adalah konstanta; ia tidak "berpeluang" berada di mana-mana. ✓ BENAR: "95% dari semua interval yang dikonstruksi dengan metode ini AKAN memuat μ." (Pernyataan tentang prosedur, bukan tentang μ.)
Analogi: Anda melempar jaring ikan. Anda 95% yakin jaring jenis ini akan menangkap ikan — bukan bahwa ikan ada di jaring ini.
Coba Sendiri: Tarik Banyak Sampel, Hitung Cakupan CI
Tarik berulang sampel acak dan lihat berapa persen interval kepercayaan yang benar-benar memuat rata-rata populasi.
Bagian 2 dari 4
CI untuk Rata-Rata Populasi (μ)
Dua skenario: σ diketahui (pakai Z) vs σ tidak diketahui (pakai t). Cara memilih, cara menghitung, cara menginterpretasi.
x̄ ± Zα/2 · σ/√n (jika σ diketahui)
σ Diketahuiσ Tidak Diketahui
CI untuk μ bila σ Diketahui — Distribusi Z
Kondisi: σ populasi diketahui ATAU n ≥ 30 dengan CLT (Central Limit Theorem — distribusi x̄ mendekati normal bila n cukup besar) berlaku.
CI: x̄ ± Zα/2 · (σ / √n)
x̄ = rata-rata sampel • σ = simpangan baku populasi • n = ukuran sampel • SE = σ/√n (standard error)
Kepercayaan
α
α/2
Zα/2
90%
0,10
0,05
1,645
95%
0,05
0,025
1,960
99%
0,01
0,005
2,576
Lebar CI = 2E = 2 · Zα/2 · σ/√n. Makin besar n → SE makin kecil → CI makin sempit (lebih presisi).
CI untuk μ bila σ Tidak Diketahui — Distribusi t
Di dunia nyata: σ hampir selalu tidak diketahui. Ganti σ dengan s (simpangan baku sampel) dan Z dengan tα/2, df=n−1.
CI: x̄ ± tα/2, n−1 · (s / √n)
df = n−1 (degrees of freedom — derajat kebebasan)
Distribusi
Nilai kritis (df=39, 95%)
Interval lebih...
Z
1,960
Sempit (meremehkan ketidakpastian σ)
t (df=39)
2,023
Sedikit lebih lebar (jujur thd ketidakpastian)
Semakin besar n (df → ∞), distribusi t-Student mendekati Z. Untuk n ≥ 120, perbedaannya praktis diabaikan. Baca tabel t: baris = df, kolom = α/2 → perpotongan = nilai kritis.
Z vs t — Diagram Keputusan
Langkah 1 — Apakah σ Diketahui?
YA → Gunakan distribusi Z.
TIDAK → Lanjut ke Langkah 2.
Langkah 2 — Apakah n ≥ 30?
YA → Gunakan distribusi t (lebih ketat). Beberapa buku izinkan Z sebagai aproksimasi.
TIDAK → Wajib t dan pastikan populasi mendekati normal.
Jika σ tidak diketahui, selalu utamakan t — lebih konservatif dan lebih tepat. Gunakan Z hanya bila σ benar-benar diketahui (jarang di riset nyata).
Aturan praktis buku pengantar (termasuk Lind): n ≥ 30 → Z boleh sebagai aproksimasi (dengan s menggantikan σ). Di riset akademik: selalu t, karena software melakukannya otomatis.
Coba Sendiri: Geser df, Amati Kurva t Mendekati Z
Geser derajat bebas (df) dan lihat bagaimana ekor kurva t menipis dan mendekati bentuk kurva Z standar.
Hitung dari Nol — HDN-1: CI Omzet UMKM Semarang
Survei 40 UMKM Kota Semarang → x̄ = Rp 150 juta/bulan, s = Rp 25 juta. Konstruksi CI 95% untuk μ omzet populasi. (σ tidak diketahui → distribusi t, df = 39.)
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
n = 40; x̄ = 150; s = 25 (juta Rp); kepercayaan 95%; df = n−1 = 39
—
t kritis
t0,025 ; df=39 dari tabel t
2,023
Standard Error
SE = s/√n = 25/√40 = 25/6,3246
3,953 juta
Margin of Error
E = t × SE = 2,023 × 3,953
7,996 juta ≈ Rp 8,0 juta
Batas Bawah
x̄ − E = 150 − 8,0
Rp 142,0 juta
Batas Atas
x̄ + E = 150 + 8,0
Rp 158,0 juta
Kesimpulan: Dengan kepercayaan 95%, rata-rata omzet UMKM Semarang diperkirakan antara Rp 142,0 juta hingga Rp 158,0 juta per bulan. (Sumber angka: ilustrasi berbasis konteks Dinas Koperasi & UKM Kota Semarang.)
Margin of Error (E) & Ukuran Sampel Minimum
Sebelum survei, peneliti harus menjawab: berapa besar sampel yang saya butuhkan agar margin of error tidak melebihi E yang saya tetapkan?
Estimasi σ (pakai s dari pilot survey — survei kecil pendahuluan, atau literatur).
Tentukan E maksimum yang dapat diterima (presisi yang diinginkan).
Hitung n, selalu bulatkan ke atas (⌈n⌉ = ceiling).
Rumus ini menggunakan Z (bukan t) karena pada tahap perencanaan n belum diketahui; pendekatan ini konservatif dan diterima secara umum.
Hitung dari Nol — HDN-1b: n Minimum Survei UMKM
Lanjutan HDN-1: berapa sampel minimum agar E ≤ Rp 5 juta pada kepercayaan 95%? (Gunakan s = Rp 25 juta sebagai estimasi σ; Z0,025 = 1,96.)
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
E = 5; σ ≈ 25 (juta Rp); Z0,025 = 1,96
—
Substitusi
n = (1,96 × 25 / 5)²
—
Hitung dalam kurung
1,96 × 25 = 49,0 → 49,0 / 5 = 9,80
9,80
Pangkatkan
n = 9,80²
96,04
Bulatkan ke atas
⌈96,04⌉
n minimum = 97
Hasil: minimal 97 UMKM harus disurvei agar margin of error ≤ Rp 5 juta pada kepercayaan 95%. Sampel 40 (HDN-1) menghasilkan E sekitar Rp 8,0 juta — lebih longgar. Verifikasi crosscheck: n=97 → SE=25/√97=2,539; E=1,96×2,539=4,976 juta ≤ 5 juta. ✓
Bagian 3 dari 4
CI untuk Proporsi Populasi
Ketika yang kita ukur bukan rata-rata angka, melainkan persentase — berapa persen? — dan uji apakah dua proporsi berbeda.
p̂ ± Zα/2 · √(p̂q̂/n)
ProporsiUji Beda
CI untuk Proporsi Populasi (p)
Gunakan distribusi Z (bukan t) karena distribusi sampling p̂ mendekati normal bila n·p̂ ≥ 5 dan n·q̂ ≥ 5.
CI: p̂ ± Zα/2 · √(p̂ · q̂ / n) di mana q̂ = 1 − p̂
√(p̂q̂/n) = SE proporsi = simpangan baku distribusi sampling p̂
Syarat CLT untuk Proporsi (wajib dipenuhi)
n · p̂ ≥ 5 (jumlah "sukses" minimal 5 dalam sampel)
n · q̂ ≥ 5 (jumlah "gagal" minimal 5 dalam sampel)
Pada CI proporsi kita selalu pakai Z karena proporsi tidak punya derajat kebebasan seperti rata-rata. Asalkan syarat CLT terpenuhi, distribusi normal adalah aproksimasi yang cukup baik.
Studi Kasus: CI 95% Proporsi UMKM Berizin NIB (OSS)
Survei 200 UMKM Kota Semarang → 140 di antaranya sudah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha — identitas tunggal pelaku usaha via OSS/Online Single Submission, PP 5/2021). Konstruksi CI 95%.
Kesimpulan: Dengan kepercayaan 95%, antara 63,65% hingga 76,35% UMKM Kota Semarang diperkirakan telah memiliki NIB (OSS).
Apa itu Uji Beda? — Fondasi Sebelum Kita Menghitung
Kita sudah tahu cara membangun CI. Sekarang kita jawab pertanyaan berbeda: apakah dua kelompok sungguh berbeda, atau perbedaan yang terlihat hanya kebetulan sampling?
Logika Dasar — 4 Langkah
Rumuskan H₀ (tidak ada perbedaan) dan H₁ (ada perbedaan).
Hitung statistik uji (z atau t) = selisih diamati / SE.
Bandingkan dengan nilai kritis, ATAU hitung p-value.
Ambil keputusan: tolak H₀ jika statistik > nilai kritis (atau p < α).
Sinyal vs Noise
Statistik uji = (sinyal) / (noise)
Sinyal = perbedaan yang kita amati (mis. p̂₁ − p̂₂)
Noise = SE — variasi acak yang diharapkan dari sampling
Makin besar rasio ini → makin yakin perbedaannya nyata.
Aturan keputusan: Jika |statistik uji| > nilai kritis → tolak H₀. Jika p-value < α → tolak H₀. Kedua cara setara.
Uji Beda Dua Proporsi (Z-Test)
Apakah proporsi kepatuhan NIB berbeda antara UMKM Kota Semarang vs Kabupaten Semarang?
Proporsi kepatuhan NIB berbeda signifikan antara Kota dan Kabupaten Semarang.
Langkah aritmetika penuh tersedia di Lampiran A materi. Signifikansi statistik ≠ signifikansi praktis — selisih 12 poin persen cukup substansial untuk kebijakan.
Bagian 4 dari 4
Uji Beda Dua Rata-Rata (Independent Samples)
Pertanyaan yang paling sering ditanyakan manajer: "Apakah kinerja dua cabang/divisi/produk benar-benar berbeda?" — jawaban statistiknya ada di sini.
t = (x̄₁ − x̄₂) / SE
PooledWelch
Logika Uji Beda Dua Rata-Rata (Independent Samples)
Kita ingin tahu apakah selisih (x̄₁ − x̄₂) cukup besar untuk tidak bisa dijelaskan oleh variasi acak sampling semata.
H₀: μ₁ = μ₂ (tidak ada perbedaan rata-rata populasi) • H₁: μ₁ ≠ μ₂ (uji dua arah)
Statistik t = (x̄₁ − x̄₂) / SEselisih. Jika |t| > tkritis atau p-value < α → tolak H₀.
Batas pertemuan ini: Fokus pada independent samples (dua kelompok tidak berpasangan). Untuk paired t-test (subjek sama diukur dua kali: t = d̄ / (sd/√n), df = n−1) → Pertemuan 6.
SEW = √(s₁²/n₁ + s₂²/n₂) t = (x̄₁ − x̄₂) / SEW dfW = Welch–Satterthwaite (software) Intuisi: Welch "menghukum" df ketika varians/ukuran timpang.
Kapan pakai mana? Bila s₁ dan s₂ mirip (rasio < 2): boleh pooled. Bila jelas berbeda: Welch lebih aman. Software (SPSS/R) otomatis menyediakan keduanya via Levene's Test (uji kesamaan varians).
Hitung dari Nol — HDN-2: Uji Beda NPL Dua Cabang
Cabang A (n=30, x̄=3,2%, s=0,8%) vs Cabang B (n=35, x̄=3,8%, s=0,9%). NPL = Non-Performing Loan; OJK menetapkan batas 5%. Apakah berbeda signifikan pada α=0,05? (Welch t-test.)
Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan rata-rata NPL antara Cabang A (3,2%) dan Cabang B (3,8%) pada α=0,05. Manajemen perlu menyelidiki penyebab NPL Cabang B yang lebih tinggi.
Interpretasi p-value — Jangan Salah Kaprah
p-value adalah konsep paling sering disalahartikan dalam statistika bisnis. Berikut klarifikasinya:
Dari mana p-value berasal? Untuk uji dua arah: p = 2 × (area di luar |statistik uji|). HDN-2: t = −2,845, df = 63 → area di luar 2,845 ≈ 0,003 → p = 2 × 0,003 = 0,006.
❌ SALAH
✓ BENAR
"p = 0,006 berarti ada 0,6% peluang H₀ benar."
"Jika H₀ benar, peluang mendapat hasil seekstrem ini atau lebih ekstrem adalah 0,6%."
"p-value kecil = perbedaannya besar secara praktis."
"p-value kecil hanya berarti sinyal statistik kuat; perbedaan bisa kecil tapi n sangat besar."
"p > 0,05 berarti H₀ terbukti benar."
"p > 0,05 hanya berarti kita GAGAL tolak H₀ — tidak cukup bukti, bukan bukti ketidakberadaan."
Signifikansi statistik ≠ signifikansi praktis. Selalu laporkan effect size (ukuran besar-kecilnya perbedaan secara praktis, mis. Cohen's d) bersama p-value.
90%, 95%, atau 99%? — Panduan Memilih Tingkat Kepercayaan
Dampak konkret pada kasus HDN-1 (n=40, s=25 juta Rp, t dengan df=39):
Kepercayaan
t kritis
E (juta Rp)
CI (juta Rp)
Karakteristik
90%
1,685
6,66
[143,3 ; 156,7]
Sempit, lebih presisi, risiko lebih tinggi
95%
2,023
7,99 ≈ 8,0
[142,0 ; 158,0]
Standar de facto
99%
2,708
10,70
[139,3 ; 160,7]
Lebar, sangat konservatif
Panduan Kontekstual
90%: Eksplorasi awal, biaya survei terbatas.
95%: Standar akademik dan bisnis umum.
99%: Keputusan medis/keamanan/regulasi berrisiko tinggi.
Default Anda: 95%, kecuali konteks atau klien mensyaratkan lain. Selisih lebar CI antara 90% dan 99% adalah ≈ 8 juta Rp — besar secara praktis.
Cheat Sheet — Rumus Inti Estimasi & CI
Konteks
Rumus
Kritis
CI μ (σ diketahui)
x̄ ± Zα/2 · σ/√n
Z dari tabel
CI μ (σ tidak diketahui)
x̄ ± tα/2,n−1 · s/√n
t dari tabel, df=n−1
n minimum
⌈(Zα/2 · σ/E)²⌉
Bulatkan ke atas
CI proporsi p
p̂ ± Zα/2 · √(p̂q̂/n)
Cek: np̂≥5, nq̂≥5
t-test dua rata-rata (Welch)
(x̄₁−x̄₂) / √(s₁²/n₁+s₂²/n₂)
df Satterthwaite
z-test dua proporsi
(p̂₁−p̂₂) / √[p̄(1−p̄)(1/n₁+1/n₂)]
p̄ = pooled
Satu ide menghubungkan semua: estimasi titik ± nilai_kritis × SE. Semua rumus di atas adalah variasi dari formula induk ini.
Latihan Kelas & Persiapan Pertemuan 6
Latihan 1 — CI Rata-Rata
Survei IKK (Indeks Keyakinan Konsumen — indeks BI yang mengukur optimisme konsumen): 500 responden, rata-rata skor IKK = 112,4 poin, s = 8,2 poin. Hitung CI 95% untuk rata-rata IKK populasi konsumen Semarang. Petunjuk: σ tidak diketahui → distribusi t.
Latihan 2 — Uji Beda
Kelompok pria (n=50, x̄=115,1, s=7,8) vs wanita (n=60, x̄=110,3, s=8,6) dalam survei IKK yang sama. Apakah rata-rata IKK berbeda signifikan pada α=0,05? Gunakan Welch t-test. Tuliskan H₀, H₁, statistik t, dan kesimpulan.
Pertemuan 6: Uji hipotesis satu sampel (Z-test dan t-test satu kelompok) + uji chi-square goodness-of-fit. Baca Lind Bab 10 (uji hipotesis) sebelum hadir.