stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Teori Probabilitas
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Statistika Bisnis II

Pertemuan 1 — Teori Probabilitas

Dasar pengambilan keputusan dalam ketidakpastian: dari menghitung peluang hingga memperbarui keyakinan berdasarkan bukti.

RPS MINGGU 1 • SUB-CPMK 1 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan pengertian probabilitas dan cara perhitungannya (Sub-CPMK 1). Secara rinci:

Capaian 1 — Konsep
DEFINISI
Mendefinisikan probabilitas melalui tiga pendekatan: klasik, relatif, dan subjektif.
Capaian 2 — Ruang Sampel
STRUKTUR
Mengidentifikasi ruang sampel, kejadian, dan komplemen dalam konteks bisnis.
Capaian 3 — Aturan Hitung
HITUNG
Menerapkan aturan penjumlahan dan perkalian probabilitas (saling lepas & saling bebas).
Capaian 4 — Bayes
BAYES
Menghitung probabilitas bersyarat dan menerapkan teorema Bayes pada kasus data bisnis Indonesia.

Di Balik Setiap Keputusan Bisnis: Ada Probabilitas

OJK / Perbankan

BRI memiliki 120 dari 500 nasabah yang pernah kredit macet (pinjaman tidak dibayar sesuai jadwal / NPL). Haruskah mereka setujui pengajuan pinjaman baru dari nasabah di luar Jawa?

BPJS Kesehatan

Dari data simulasi, 18% peserta aktif (anggota iuran lancar) BPJS mengajukan klaim rawat inap. Berapa probabilitas dua peserta acak keduanya mengajukan klaim?

Logistik / e-Commerce

Pos Indonesia mencatat 10% paket ke wilayah terpencil terlambat. Bagaimana manajer gudang memutuskan alokasi prioritas pengiriman?

Ketiga pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan pasti — tapi bisa dijawab dengan probabilitas.
Bagian 1 dari 4
Tiga Pendekatan Probabilitas
Klasik (A Priori) · Relatif (Empiris) · Subjektif — pilih pendekatan sesuai konteks data.
Klasik Relatif Subjektif

Apa Itu Probabilitas?

Probabilitas adalah ukuran numerik kemungkinan suatu kejadian / event (A) terjadi, dinyatakan sebagai bilangan antara 0 dan 1 (atau 0% sampai 100%). Aksioma Kolmogorov (1933): aturan dasar yang diterima benar tanpa dibuktikan — fondasi seluruh teori.

Tiga Aksioma Dasar

0 ≤ P(A) ≤ 1
P(S) = 1   (ruang sampel S = semua kemungkinan hasil)
P(A ∪ B) = P(A)+P(B)  jika A & B saling lepas

Tafsiran Nilai P

Nilai PTafsiran
0Mustahil terjadi
0,01–0,10Sangat jarang
0,50Sama mungkin tidak
0,90–0,99Sangat mungkin
1Pasti terjadi

Pendekatan Klasik (A Priori)

A priori (Latin: "dari sebelumnya") — dihitung secara logis sebelum percobaan, tanpa data nyata. Syarat: semua hasil harus equally likely (sama peluangnya).

P(A) = n(A) / n(S)

n(A) = jumlah hasil yang memuat kejadian A  |  n(S) = total hasil yang sama-sama mungkin

Contoh 1 — Lotere Perusahaan
0,05
= 5/100
100 kupon, 5 berhadiah → P(menang) = 5/100 = 0,05
Contoh 2 — Audit Pajak
0,20
= 2/10
10 berkas, 2 bermasalah → P(pilih berkas bermasalah) = 2/10 = 0,20
Batasan: Tidak dapat digunakan kalau hasil-hasilnya tidak sama peluangnya (mis. produk cacat vs tidak cacat).

Pendekatan Relatif (Empiris / Frekuensi Relatif)

P(A) = f / N

f = jumlah kali kejadian A muncul dalam observasi masa lalu  |  N = jumlah total observasi. Frekuensi relatif = proporsi suatu kejadian dari total observasi.

Contoh — Data Keterlambatan Pos Indonesia (Ilustrasi)

WilayahJumlah PaketTerlambatP(Terlambat)
Jawa1501010/150 = 0,067
Luar Jawa501010/50 = 0,200
Total2002020/200 = 0,100
Hukum Bilangan Besar: semakin banyak observasi, semakin mendekati nilai probabilitas sejati. Itulah mengapa bank dan perusahaan asuransi senang mengumpulkan data besar.

Pendekatan Subjektif

Probabilitas ditetapkan berdasarkan keyakinan, pengalaman, atau penilaian ahli — bukan formula atau data historis yang lengkap. Digunakan saat data tidak tersedia, situasi unik, atau keputusan investasi jangka panjang.

Contoh Bisnis — KPBU
70%
= P = 0,70
Analis menetapkan probabilitas 70% proyek jalan tol Semarang–Demak akan menguntungkan dalam 10 tahun (studi kelayakan / feasibility study dan pengalaman proyek serupa).
Contoh Keuangan — BEI
0,60
P(TLKM naik)
Fund manager menetapkan P(saham TLKM — PT Telkom Indonesia Tbk — naik 10% tahun ini) = 0,60, berdasarkan analisis fundamental dan kondisi makroekonomi.
Batasan: bersifat personal dan bisa berbeda antar ahli. Probabilitas subjektif tetap harus koheren: antara 0 dan 1, konsisten antar kejadian terkait.
Bagian 2 dari 4
Ruang Sampel, Kejadian & Komplemen
Membangun kosakata probabilitas: di mana hasil percobaan hidup, dan bagaimana kita memilah-milahnya.
Ruang Sampel Kejadian Komplemen

Ruang Sampel (S) dan Kejadian (A)

Ruang sampel (S): himpunan semua kemungkinan hasil yang dapat terjadi dalam suatu percobaan.
Titik sampel: satu hasil tunggal dalam S.
Kejadian (A): satu atau lebih titik sampel yang kita minati — himpunan bagian (subset) dari S.

Contoh Bisnis

PercobaanSKejadian A
Pilih nasabah debitur{Macet, Tidak Macet}A = {Kredit Macet}
Periksa produk pabrik{Cacat, Tidak Cacat}B = {Cacat}
SAAA' (komplemen)

Kejadian Komplementer — Aturan Pelengkap

Komplemen A' (dibaca "A komplemen") adalah semua hasil dalam S yang bukan A. P(A) + P(A') = 1 selalu.

P(A') = 1 − P(A)
Kejadian AP(A)P(A') = 1−P(A)Konteks
Nasabah kredit macet0,2400,760BRI ilustrasi
Paket terlambat0,1000,900Pos Indonesia ilustrasi
Klaim BPJS disetujui0,8500,150Simulasi BPJS
Strategi: Kalau P(A) susah dihitung langsung, hitung 1 − P(bukan A). Sangat berguna untuk soal "setidaknya satu".

Tabel Frekuensi — Langkah Pertama Sebelum Probabilitas

500 nasabah BRI (ilustrasi) — tabel kontingensi (contingency table / tabel silang): distribusi frekuensi dua variabel kategori sekaligus.

MacetTidak MacetTotal
Jawa40300340
Luar Jawa8080160
Total120380500
Cara konversi ke probabilitas: bagi setiap sel dengan total keseluruhan (N = 500).
Contoh: sel "Luar Jawa & Macet" = 80 → 80 ÷ 500 = 0,160  |  Total macet = 120 → 120 ÷ 500 = 0,240
Cek: jumlah seluruh sel frekuensi = 500 ✓ — setelah dibagi 500, seluruh sel probabilitas menjumlah ke 1,000 ✓

Tabel Probabilitas — Membaca Marginal & Joint

Hasil bagi semua frekuensi dengan 500 (ilustrasi BRI):

MacetTidak MacetTotal (Marginal)
Jawa0,0800,6000,680
Luar Jawa0,160 ← Joint0,1600,320
Total (Marginal)0,2400,7601,000
Marginal probability (baris/kolom Total): probabilitas satu variabel saja.
P(Macet) = 0,240  ·  P(Luar Jawa) = 0,320
Joint probability (sel dalam tabel): probabilitas dua hal terjadi bersamaan.
P(Macet dan Luar Jawa) = 0,160

Coba Sendiri: Ubah Angka Tabel, Lihat Probabilitasnya Berubah

Ubah frekuensi di tabel kontingensi dan amati bagaimana probabilitas marginal serta joint ikut berubah otomatis.

Bagian 3 dari 4
Aturan Penjumlahan & Perkalian
Dua aturan dasar untuk menggabungkan probabilitas — penjumlahan untuk ATAU, perkalian untuk DAN.
Penjumlahan (ATAU) Perkalian (DAN)

Aturan Penjumlahan — Saling Lepas (Mutually Exclusive)

Saling lepas / mutually exclusive: dua kejadian yang tidak bisa terjadi dalam satu percobaan pada saat yang bersamaan. P(A ∩ B) = 0.

P(A ∪ B) = P(A) + P(B)
Contoh — Status Kredit Nasabah BRI
Seorang nasabah tidak bisa sekaligus "Kredit Lancar" dan "Kredit Macet" → saling lepas.
P(Lancar) = 0,76  ·  P(Macet) = 0,24
P(Lancar atau Macet) = 0,76 + 0,24 = 1,00 ✓ (mencakup seluruh ruang sampel)
SABtidak berpotongan

Aturan Penjumlahan — Tidak Saling Lepas (Non-Exclusive)

Kondisi: dua kejadian bisa terjadi bersamaan (ada irisan / overlap). Pengurangan P(A ∩ B) untuk menghindari double counting (penghitungan ganda) area irisan.

P(A ∪ B) = P(A) + P(B) − P(A ∩ B)
Contoh — Tabel Nasabah BRI (Slide 12):
A = {Kredit Macet}  ·  B = {Luar Jawa}
P(A) = 0,240  ·  P(B) = 0,320  ·  P(A ∩ B) = 0,160
P(Macet atau Luar Jawa) = 0,240 + 0,320 − 0,160 = 0,400
Artinya: 40% nasabah adalah kredit macet, atau berdomisili di luar Jawa, atau keduanya.
SAA∩BB

HDN-1 — Probabilitas Paket Terlambat (Pos Indonesia)

Soal: 200 paket; 20 terlambat (10 dari Jawa, 10 dari luar Jawa). Hitung: (a) P(terlambat), (b) P(tepat waktu), (c) P(terlambat ∩ Jawa).

LangkahPerhitunganNilai
1. Identifikasi total observasiN = 200200 paket
2. Hitung P(terlambat)20 / 2000,100
3. P(tepat waktu) = komplemen1 − 0,1000,900
4. Identifikasi terlambat di Jawa10 paket dari Jawa
5. Hitung P(terlambat ∩ Jawa)10 / 2000,050
6. Cek: P(tlb) = P(tlb∩Jawa) + P(tlb∩LJ)0,050 + 0,050= 0,100 ✓
Hasil akhir: P(terlambat) = 0,10 · P(tepat waktu) = 0,90 · P(terlambat ∩ Jawa) = 0,05

Aturan Perkalian — Probabilitas DAN

Kasus 1: Independen / Saling Bebas

Kejadian A tidak mempengaruhi P(B), dan sebaliknya.

P(A ∩ B) = P(A) × P(B)
Contoh: P(Paket A terlambat) × P(Paket B terlambat)
= 0,10 × 0,10 = 0,01 (jika pengiriman independen)
Kasus 2: Dependen / Tidak Bebas

Kejadian A mempengaruhi peluang B terjadi.

P(A ∩ B) = P(A) × P(B|A)
P(B|A) = probabilitas bersyarat — probabilitas B terjadi dengan syarat A sudah terjadi.
Contoh: ambil 2 berkas audit dari 10 tanpa pengembalian → dependen.

Cara Membedakan Independen vs Dependen

Pertanyaan kunci: "Apakah mengetahui A terjadi mengubah probabilitas B?"
• Jika Ya → Dependen → gunakan P(A∩B) = P(A) × P(B|A)
• Jika Tidak → Independen → gunakan P(A∩B) = P(A) × P(B)
Uji formal: A dan B independen jika dan hanya jika P(A∩B) = P(A) × P(B)
Contoh Independen
BEBAS
Dua mesin produksi berbeda pabrik. Mesin A rusak → tidak memengaruhi probabilitas Mesin B rusak (terpisah fisik & operasional). P(A∩B) = P(A) × P(B)
Contoh Dependen
TERKAIT
Kualitas bahan baku dari supplier yang sama — kalau batch (kelompok produksi) pertama cacat, kemungkinan batch kedua cacat meningkat (sumber sama). Gunakan P(B|A)
Bagian 4 dari 4
Probabilitas Bersyarat & Teorema Bayes
Memperbarui probabilitas saat informasi baru tersedia — inti analitik bisnis modern.
Bersyarat Bayes

Probabilitas Bersyarat P(B|A)

P(B|A) = probabilitas kejadian B terjadi, dengan syarat diketahui bahwa kejadian A sudah terjadi. Prior = sebelum kondisi diketahui; posterior = setelah kondisi diketahui.

P(B|A) = P(A ∩ B) / P(A)
Contoh — Tabel BRI (Slide 12):
P(Macet | Luar Jawa) = ?
P(Macet ∩ LJ) = 0,160  ·  P(LJ) = 0,320
P(Macet | LJ) = 0,160 / 0,320 = 0,500

Tafsiran: Di antara nasabah luar Jawa, 50% mengalami kredit macet.
Perbandingan
0,240
P(Macet) — keseluruhan
vs. P(Macet | Luar Jawa) = 0,500
Probabilitas macet di luar Jawa lebih dari dua kali lipat rata-rata. Manajer yang hanya melihat 24% akan under-estimate risiko nasabah luar Jawa.

Jebakan Kritis: P(A|B) ≠ P(B|A)

Transposisi kondisional: kesalahan membalikkan A dan B — sangat umum dan sering menghasilkan kesimpulan salah.

MacetTidak MacetTotal
Jawa40300340
Luar Jawa8080160
Total120380500
P(Macet | Luar Jawa) = 80 / 160 = 0,500
"Nasabah luar Jawa, berapa yang macet?"
Universe: 160 nasabah luar Jawa
P(Luar Jawa | Macet) = 80 / 120 = 0,667
"Nasabah macet, berapa yang dari luar Jawa?"
Universe: 120 nasabah macet

Analogi: P(flu | hujan) ≠ P(hujan | flu) — flu saat hujan tidak sama dengan hujan saat flu.

Teorema Bayes — Memperbarui Probabilitas

Prior (sebelum bukti) + Bukti B → Posterior (setelah bukti). Digunakan saat kita tahu P(B|A) tapi ingin menghitung P(A|B) — kebalikannya.

P(A|B) = [P(A) × P(B|A)] / [P(A) × P(B|A) + P(A') × P(B|A')]
KomponenArti
P(A)Prior — sebelum tahu B
P(B|A)Likelihood — seberapa mungkin B jika A benar
P(A|B)Posterior — setelah tahu B, berapa peluang A?
PriorP(A)Bukti BmasukPosterior P(A|B)

Coba Sendiri: Hitung Posterior dengan Kalkulator Bayes

Geser nilai prior dan likelihood, lihat bagaimana posterior P(A|B) berubah secara langsung.

HDN-2 — Kredit Macet Nasabah BRI (Teorema Bayes)

Soal: 500 nasabah BRI; 120 macet; 80 macet berasal dari luar Jawa; total luar Jawa = 160. Hitung P(macet | luar Jawa) via Bayes. A = {Macet}; A' = {Tidak Macet}; B = {Luar Jawa}.

LangkahPerhitunganNilai
1. P(A) — Prior macet120 / 5000,240
2. P(A') = 1 − P(A)1 − 0,2400,760
3. P(B|A) — LJ di antara macet80 / 1200,667
3b. LJ tidak macet = total LJ − LJ macet160 − 8080 orang
4. P(B|A') — LJ di antara tidak macet80 / 3800,211
5. Pembilang P(A) × P(B|A)0,240 × 0,6670,160
6. Penyebut P(B) total0,160 + (0,760 × 0,211)0,160 + 0,160 = 0,320
7. P(A|B) — Posterior0,160 / 0,3200,500

Verifikasi: sama dengan 80/160 = 0,500 via rumus bersyarat langsung ✓

Studi Kasus: Simulasi Klaim BPJS Kesehatan

Konteks: 18% peserta aktif BPJS Kesehatan (anggota iuran lancar) mengajukan klaim rawat inap (rawat ≥ 1 hari) per tahun (data simulasi). Manajemen memilih dua peserta secara acak.

P(Klaim) = 0,18  ·  P(Tidak Klaim) = 1 − 0,18 = 0,82
Asumsi: keputusan klaim masing-masing peserta independen.
PertanyaanPerhitunganHasil
(a) Keduanya klaim0,18 × 0,180,0324 (3,2%)
(b) Tidak satupun klaim0,82 × 0,820,6724 (67,2%)
(c) Setidaknya satu klaim1 − 0,67240,3276 (32,8%)
Soal (c) pakai strategi komplemen — lebih mudah dari menghitung tiga skenario terpisah.

Cheat Sheet — Semua Rumus Hari Ini

KonsepRumusKondisi
Probabilitas klasikP(A) = n(A) / n(S)Equally likely
Probabilitas relatifP(A) = f / NData observasi
KomplemenP(A') = 1 − P(A)Selalu berlaku
Penjumlahan — saling lepasP(A∪B) = P(A) + P(B)P(A∩B) = 0
Penjumlahan — umumP(A∪B) = P(A) + P(B) − P(A∩B)Bisa overlap
Perkalian — independenP(A∩B) = P(A) × P(B)A tidak pengaruhi B
Perkalian — dependenP(A∩B) = P(A) × P(B|A)A pengaruhi B
BersyaratP(B|A) = P(A∩B) / P(A)P(A) > 0
Teorema BayesP(A|B) = P(A)×P(B|A) / P(B)Lihat Slide 22

Sebelum menerapkan rumus, selalu tanya: "ATAU atau DAN? Saling Lepas? Independen?"

Persiapan Pertemuan 2

Rekap empat capaian hari ini:

✓ Tiga pendekatan probabilitas ✓ Ruang sampel, kejadian, komplemen ✓ Aturan penjumlahan & perkalian ✓ Probabilitas bersyarat & Bayes
Tugas Mandiri
5 SOAL
Kerjakan Lampiran B dari materi kuliah (5 soal pilihan ganda + esai). Konsultasikan jawaban dengan teman sebelum Pertemuan 2.
Pertemuan 2
DISTRIBUSI
Distribusi Probabilitas — variabel acak diskret, distribusi binomial, nilai harapan dan varians. Prasyarat: kuasai aturan penjumlahan dari hari ini.
“Probabilitas adalah bahasa ketidakpastian. Anda baru saja mempelajari tata bahasanya.”

Referensi & Sumber

Sumber Utama RPS

  • Lind, D. A., Marchal, W. G., & Wathen, S. A. (2015). Statistical Techniques in Business & Economics (16th ed.), Bab 5–6. McGraw-Hill.
  • Berenson, M. L., Levine, D. M., & Krehbiel, T. C. (2012). Basic Business Statistics (12th ed.), Bab 4. Pearson.
  • Triola, M. F. (2018). Elementary Statistics (13th ed.), Bab 4. Pearson.

Catatan Data

Semua angka dalam slide ini (nasabah BRI, keterlambatan Pos Indonesia, klaim BPJS) adalah ilustrasi pedagogis — dibuat untuk tujuan pengajaran, bukan data resmi yang diterbitkan. Lihat Lampiran D materi kuliah untuk status akurasi tiap klaim.
Verifikasi aritmetika HDN-1 & HDN-2 tersedia di Lampiran A materi kuliah — semua baris dicek ulang secara manual.