Geser titik potong dan kemiringan garis Anda sendiri, lalu tekan tombol Optimum untuk membandingkan dengan solusi OLS.
Bagian 1 dari 4
Seberapa Bagus Garisnya?
Memecah variasi data menjadi yang terjelaskan dan tak terjelaskan — lalu meringkasnya dalam satu angka: R².
SSTSSRSSE
Tiga Jenis "Jarak" yang Membentuk Variasi
Untuk setiap titik data, ada tiga jarak vertikal yang penting. Semuanya diukur dari nilai-nilai Y.
SST — Total
Σ(Yᵢ−ȳ)²
variasi total
Jarak tiap Yᵢ ke rata-rata ȳ. Total variasi data sebelum regresi. Baseline tebakan tanpa garis.
SSR — Terjelaskan
Σ(ŷᵢ−ȳ)²
oleh model
Jarak garis ŷᵢ ke rata-rata ȳ. Bagian variasi yang dijelaskan oleh X (iklan).
SSE — Sisa/Galat
Σ(Yᵢ−ŷᵢ)²
tak terjelaskan
Jarak tiap Yᵢ ke garis ŷᵢ. Bagian yang tak terjelaskan model — sisa/residual.
Bayangkan: kalau Anda tak punya garis, tebakan terbaik untuk Y adalah rata-ratanya (ȳ). Garis regresi memperbaiki tebakan itu — sejauh mana perbaikannya, itulah SSR.
Identitas Pamungkas: SST = SSR + SSE
Total variasi selalu pecah persis menjadi bagian terjelaskan + bagian sisa. Ini bukan kebetulan — sifat matematis OLS.
R² ≈ 0,963. Artinya 96,3% variasi penjualan antar-toko dijelaskan oleh belanja iklan; sisanya 3,7% faktor lain (lokasi, harga, musim, dll.).
Koefisien Determinasi R² — Satu Angka Kebaikan-Suai
R² meringkas kecocokan garis menjadi satu angka antara 0 dan 1 (sering ditulis %).
R² = SSR ÷ SST = 1 − (SSE ÷ SST)
R²
Tafsir kasar
0
Garis tak menjelaskan apa-apa (sama saja pakai ȳ)
0,50
Setengah variasi terjelaskan
0,963
96,3% terjelaskan (kasus kita)
1
Semua titik tepat di garis (sempurna)
Catatan: di regresi sederhana, R² = r² (kuadrat korelasi P12). Di sini r = +0,981 → r² = 0,963. Cocok.
R² = 0,9633
Hati-hati: R² tinggi ≠ hubungan kausal, dan ≠ model benar. R² hanya bilang seberapa rapat titik mengikuti garis — bukan apakah iklan menyebabkan penjualan.
Coba Sendiri: Pecah SST Jadi SSR dan SSE, Lihat R² Berubah
Ubah kerapatan titik ke garis dan amati bagaimana SSR, SSE, serta R² bergerak mengikuti dekomposisi variasi.
Standar Error Estimasi (se) — Rata-rata "Meleset" Garis
R² adalah ukuran tanpa satuan. se memberi ukuran kesalahan dalam satuan Y (Rp juta) — seberapa jauh tipikalnya titik meleset dari garis.
se = √(SSE ÷ (n − 2)) = √MSE
Keterangan komponen
n − 2 = derajat bebas (2 parameter ditaksir: b₀ dan b₁)
MSE = mean squared error = SSE/(n−2)
Membagi n−2 (bukan n) agar taksiran tidak bias
Kasus Kita (n=8)
±5,16
Rp juta
se = √(160 ÷ 6) = √26,667 = 5,164. Garis rata-rata meleset sekitar Rp 5 juta dari penjualan sebenarnya.
Tafsir: garis kita rata-rata meleset sekitar Rp 5 juta dari penjualan sebenarnya. Makin kecil se, makin presisi prediksi. Kita akan pakai se lagi untuk uji-t dan selang prediksi.
Bagian 2 dari 4
Apakah Hubungannya Nyata?
Menguji apakah kemiringan sungguh berbeda dari nol — lewat uji-t dan uji-F — lalu membuat selang kepercayaan dan prediksi.
t = b₁ ÷ se(b₁)
β₁ (Populasi) vs b₁ (Sampel) — Mengapa Slope Perlu Diuji
β₁ — Yang Sebenarnya
β₁ = ?
populasi
Kemiringan populasi — hubungan iklan-penjualan untuk semua toko. Tak pernah kita ketahui secara pasti.
b₁ — Taksiran Kita
b₁ = 5
dari sampel 8 toko
Kemiringan dari sampel 8 toko. Hanya tebakan atas β₁; berubah kalau sampel berganti.
H₀: β₁ = 0 vs H₁: β₁ ≠ 0
b₁ = 5 hampir tak pernah persis nol, meski iklan benar-benar tak berpengaruh — sampel selalu berisik. Pertanyaannya: apakah b₁ = 5 cukup jauh dari nol untuk dipercaya? Itu butuh uji statistik.
Uji-t untuk Kemiringan (H₀: β₁ = 0)
Bandingkan kemiringan dengan ketidakpastiannya. Kalau jauh lebih besar dari std error-nya → tolak H₀.
t = b₁ ÷ se(b₁) · se(b₁) = se ÷ √Σ(Xᵢ − x̄)²
Langkah Keputusan
1 Hitung t-stat dari b₁ dan se(b₁)
2 Cari t-kritis: tabel-t, df = n−2, dua sisi, α = 5%
se(b₁) mengecil bila se kecil (titik rapat ke garis)
se(b₁) mengecil bila X menyebar lebar (Σ(Xᵢ−x̄)² besar)
Data baik = residual kecil + X bervariasi → taksiran makin presisi
Hitung dari Nol — HDN-2: Apakah Iklan Berpengaruh?
Uji H₀: β₁ = 0. Diketahui dari sebelumnya: b₁ = 5; se = 5,164; Σ(Xᵢ − x̄)² = 168; n = 8.
Langkah
Perhitungan
Nilai
se(b₁)
5,1640 ÷ √168 = 5,1640 ÷ 12,9615
0,3984
t-stat
b₁ ÷ se(b₁) = 5 ÷ 0,3984
12,55
df & t-kritis
df = 8 − 2 = 6 | t₀,₀₂₅,₆ dari tabel-t
2,447
Keputusan
|12,55| > 2,447 → tolak H₀
Signifikan
t = 12,55 ≫ 2,447 → tolak H₀ p ≈ 0,0000157 < 0,05. Kemiringan iklan sangat signifikan: iklan benar-benar berpengaruh terhadap penjualan, bukan kebetulan.
Jarak ke Nol
12,55
std error dari nol
b₁ = 5 berjarak lebih dari 12 std error dari nol. Hampir mustahil terjadi jika β₁ = 0.
Uji-F (ANOVA Regresi) — dan Mengapa F = t²
Cara kedua menguji signifikansi: bandingkan variasi terjelaskan vs sisa. Di regresi sederhana, hasilnya selalu sama dengan uji-t.
F = MSR ÷ MSE = (SSR/1) ÷ (SSE/(n−2))
Sumber
SS
df
MS
F
Regresi
4.200
1
4.200
157,5
Galat
160
6
26,667
—
Total
4.360
7
—
—
F = 157,5 > F-kritis(0,05; 1, 6) = 5,99 → tolak H₀. Cek: t² = 12,55² = 157,5 = F. Pada regresi sederhana, uji-t dan uji-F identik — tak mungkin memberi kesimpulan berbeda.
Selang Kepercayaan & Selang Prediksi (Pengantar)
Taksiran titik selalu disertai ketidakpastian. Dua jenis selang yang harus Anda bedakan:
SK Slope (β₁) — 95%
[4,03 ; 5,97]
b₁ ± t·se(b₁)
= 5 ± 2,447 × 0,3984. Tak memuat 0 → konsisten dengan kesimpulan signifikan. β₁ populasi kemungkinan 4 sampai 6.
Prediksi Y saat X₀ = 10
ŷ = 70
Rp 70 juta
Selang rata-rata (sempit): [65,4 ; 74,6] ±Rp 4,6 jt. Selang individu (lebar): [56,6 ; 83,4] ±Rp 13,4 jt.
Selang prediksi individu selalu lebih lebar dari selang rata-rata — memprediksi satu toko lebih berisiko daripada menebak rata-rata banyak toko di iklan yang sama.
Bagian 3 dari 4
Membaca Output Komputer & Asumsi
Di dunia nyata Anda menekan tombol, bukan menghitung manual. Kunci: membaca tabel output dengan benar — dan tahu kapan regresi boleh dipercaya.
Membaca Tabel Output Regresi (Anatomi)
Apa pun software-nya (R, Stata, Excel, SPSS), tabel koefisien punya kolom yang sama. Inilah cara membacanya:
Variabel
Koefisien
Std. Error
t-stat
p-value
(Intercept) b₀
20,000
4,024
4,97
0,0025
Iklan (X) b₁
5,000
0,398
12,55
<0,0001
R² = 0,963 · se estimasi = 5,164 · F = 157,5 (p < 0,0001) · n = 8
Cara baca cepat (3 angka kunci):
b₁ = 5 → arah & besar efek (tiap +Rp 1 jt iklan → +Rp 5 jt penjualan)
p-value b₁ < 0,05 → iklan signifikan berpengaruh
R² = 0,963 → model menjelaskan 96,3% variasi penjualan
Empat Asumsi Dasar Regresi Linear
Hasil regresi hanya valid jika asumsi ini terpenuhi. Hafalkan dengan singkatan L-I-N-E.
L — Linearitas
L
scatter plot
Hubungan X dan Y memang garis lurus (bukan melengkung). Cek: scatter plot sebelum regresi.
I — Independensi
I
residual bebas
Residual antar-observasi saling bebas (tak berpola/berurutan). Penting di data deret waktu.
N — Normalitas
N
Q-Q plot / histogram
Residual berdistribusi normal. Cek: histogram atau Q-Q plot residual.
E — Equal Variance
E
homoskedastisitas
Sebaran residual sama lebar di semua nilai X — tidak menyempit atau melebar (tak ada corong).
Kalau asumsi dilanggar, koefisien masih bisa dihitung tetapi uji-t/p-value bisa menyesatkan. Selalu periksa plot residual dulu (slide berikut).
Memeriksa Residual Lewat Plot (Diagnostik Cepat)
Plot residual terhadap ŷ adalah cara tercepat memeriksa asumsi. Yang Anda harapkan: titik tersebar acak di sekitar nol, tanpa pola.
Pola Sehat — Asumsi Terpenuhi
Pola Bermasalah — Waspada!
Untuk data kita, residual = +6, −6, −2, +2, +2, −2, −6, +6 (jumlah = 0). Cukup acak & simetris — asumsi tak terlihat dilanggar berat pada sampel kecil ini.
Bagian 4 dari 4
Tutorial R / Stata + Penutup
Menjalankan regresi sungguhan: input data, perintah, baca output, dan visualisasi scatter + garis. Lalu kesimpulan manajerial.
Tutorial R — lm() untuk Regresi, plot() untuk Visual
Empat baris dan Anda punya regresi lengkap. Ketik di konsol R/RStudio:
# Masukkan data iklan <- c(2,4,6,8,10,12,14,16) penjualan <- c(36,34,48,62,72,78,84,106)
# Bangun model regresi model <- lm(penjualan ~ iklan) summary(model) # output lengkap
regress Y X — urutan: Y (terikat) dulu, lalu X (bebas). Stata otomatis tampilkan tabel ANOVA + selang kepercayaan 95%.
Output Stata — ringkasan
Source | SS df MS Regresi | 4200 1 4200 Galat | 160 6 26,67 ────────────────────────── iklan Coef. 5,000 Std.Err 0,398 t 12,55 P>|t| 0,000 95% CI [4,025 ; 5,975]
R-squared = 0,9633 F(1, 6) = 157,50
Kesimpulan Manajerial: Iklan → Penjualan
Angka sudah lengkap. Sekarang langkah terpenting: ubah jadi kalimat keputusan yang bisa Anda bawa ke rapat anggaran.
Temuan Statistik
ŷ = 20 + 5·X
R² = 0,963 · t = 12,55 (p < 0,001)
Setiap +Rp 1 jt iklan → +Rp 5 jt penjualan. Model sangat cocok (96,3% variasi terjelaskan).
Terjemahan Bisnis
Iklan Berpengaruh
signifikan & kuat
Estimasi: tambah iklan Rp 10 jt → penjualan naik ~Rp 50 jt. Rekomendasikan ke rapat anggaran dengan selang kepercayaan: [Rp 40,3 jt ; Rp 59,7 jt].
Tetap hati-hati (analis jujur):
Ini korelasi kuat, bukan bukti kausal mutlak
Berlaku dalam rentang data iklan Rp 2–16 jt; jangan ekstrapolasi ke Rp 100 jt
Faktor lain (lokasi, harga, musim) belum dikontrol
Lima Jebakan yang Sering Membuat Salah Tafsir
Jebakan 1 — R² Tinggi = Kausal
Keliru. R² hanya kecocokan garis; sebab-akibat butuh desain riset, bukan angka R². Contoh: es krim vs orang tenggelam — R² tinggi, tapi bukan sebab-akibat (keduanya digerakkan cuaca panas).
Jebakan 2 — Slope Besar = Signifikan
Keliru. Yang menentukan rasio b₁/se(b₁), bukan besar b₁. Koefisien kecil bisa lebih signifikan jika std error-nya sangat kecil.
Jebakan 3 — p-value = Peluang H₀ Benar
Keliru. p-value = peluang melihat data seekstrem ini jika H₀ benar. Bukan peluang hipotesis nol itu sendiri benar.
Jebakan 4 — Ekstrapolasi
Memprediksi jauh di luar rentang X yang diamati (iklan Rp 2–16 jt). Garis bisa tak berlaku di luar rentang itu.
Jebakan 5 — Lupa Cek Asumsi L-I-N-E. Koefisien tetap keluar meski asumsi dilanggar; tapi uji-t bisa menyesatkan. Empat cek wajib: arah & besar koefisien · p-value · R² · plot residual.
Cheat Sheet — Rumus Inti Regresi Sederhana
Enam besaran yang membentuk seluruh regresi sederhana. Foto slide ini untuk belajar UAS.
Besaran
Rumus
Untuk
Dekomposisi
SST = SSR + SSE
Memecah variasi total
R²
SSR/SST = 1 − SSE/SST
Kebaikan-suai (% terjelaskan)
se estimasi
√(SSE/(n−2))
Meleset tipikal (satuan Y)
se(b₁)
se / √Σ(Xᵢ−x̄)²
Ketidakpastian slope
Uji-t slope
t = b₁/se(b₁), df = n−2
Apakah β₁ ≠ 0?
Uji-F
F = MSR/MSE = (SSR/1)/(SSE/(n−2))
Idem — F = t² di regresi sederhana
Logika tunggal: pecah variasi (R²) → bandingkan efek dengan ketidakpastiannya (t/F) → laporkan dengan rentang (SK). Lalu cek asumsi L-I-N-E sebelum menyimpulkan.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — R² & ANOVA
SST = 500
SSE = 80 · n = 12
Sebuah regresi permintaan kredit (Y, Rp miliar) terhadap suku bunga (X, %) menghasilkan SST = 500, SSE = 80. Hitung SSR, R², dan se estimasi. Petunjuk: SSR = SST − SSE; df = n−2.
Latihan 2 — Uji-t & Keputusan
b₁ = −12
se(b₁) = 3 · n = 12
Output regresi memberi b₁ = −12, se(b₁) = 3, n = 12. Uji H₀: β₁ = 0 pada α = 5%. Signifikan? Apa artinya bagi keputusan menaikkan suku bunga? Petunjuk: t = b₁/se(b₁); t-kritis df=10 ≈ 2,228.
Kerjakan 7 menit. Tulis hipotesis dulu, hitung, bandingkan dengan t-kritis, lalu tulis satu kalimat kesimpulan manajerial. Kunci ada di Lampiran B materi kuliah.
Penutup Semester & Persiapan UAS
Selamat — Anda telah menyelesaikan perjalanan dari data mentah sampai inferensi dan software. Regresi adalah puncaknya.
Bawa kalkulator ke UAS. Yang diuji bukan hafalan rumus, tapi kemampuan menghitung, menafsirkan, dan menyimpulkan. Sampai jumpa di ujian — dan selamat melanjutkan ke Statistika Bisnis II / Metode Penelitian!