‹ Daftar slidePertemuan 13: Pengantar Regresi Linear dan Korelasi
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP
Statistika Bisnis I
Pertemuan 13 · Pengantar Regresi Linear dan Korelasi
Bagaimana dua angka bisnis bergerak bersama — mengukur keeratannya (korelasi r) dan menarik satu garis untuk memprediksi (regresi).
RPS Minggu 13 · Sub-CPMK 6 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan memahami hubungan linier dua variabel dan prinsip dasar regresi (Sub-CPMK 6). Secara rinci:
Capaian 1 — Melihat
1
Membuat & membaca diagram pencar dan menyimpulkan pola hubungan dua variabel.
Capaian 2 — Mengukur
2
Menghitung korelasi Pearson (r) dari nol dan menafsirkan kekuatan serta arahnya.
Capaian 3 — Menguji
3
Menguji signifikansi r dengan uji-t pada taraf nyata 5%.
Capaian 4 — Memodelkan
4
Menghitung kemiringan (b) & intersep (a) regresi dan menafsirkannya dalam konteks bisnis.
Iklan Naik, Penjualan Ikut Naik — Tapi Seberapa Erat?
Seorang pemilik UMKM mencatat belanja iklan dan penjualan tiap bulan. Lihat datanya — apa yang Anda simpulkan?
Bulan
Iklan (Rp jt)
Penjualan (Rp jt)
1
2
18
2
3
23
3
4
25
4
5
30
5
6
34
6
7
38
X = Iklan · Y = Penjualan
Mata Anda sudah menangkap pola: makin besar iklan, makin besar penjualan. Hari ini kita ubah "kira-kira" itu menjadi angka pasti — dan menarik garis untuk memprediksi.
Bagian 1 dari 4
Melihat Hubungan Dua Variabel
Sebelum menghitung apa pun, kenali dulu siapa X dan siapa Y, lalu gambar diagram pencar untuk membaca polanya.
Dua Peran: Variabel Independen (X) vs Dependen (Y)
Saat menghubungkan dua variabel, kita memberi mereka peran berbeda.
Independen (X) — Penjelas
X
Sumbu Horizontal
Variabel yang kita anggap menjelaskan / memengaruhi.
Contoh: belanja iklan, jam belajar, BI-Rate.
Dependen (Y) — Terikat
Y
Sumbu Vertikal
Variabel yang dijelaskan / terpengaruh, yang ingin kita prediksi.
Contoh: penjualan, nilai ujian, IHSG.
Cara cepat ingat: Y bergantung pada X (Y = dependent). Kita memprediksi Y dari X, bukan sebaliknya. Salah menempatkan peran → garis & ramalan ikut salah.
Diagram Pencar (Scatter Plot) — Membaca Pola
Tiap titik = satu pasang (X, Y). Bentuk awan titik memberi tahu arah dan kekuatan hubungan.
Korelasi & regresi linier hanya cocok untuk pola garis lurus (pola 1 & 2). Untuk pola melengkung, r bisa menyesatkan — itu sebabnya kita selalu gambar dulu.
Coba Sendiri: Bentuk Awan Titik, Tebak Nilai r
Atur titik-titik pada scatter plot dan lihat bagaimana koefisien korelasi r berubah mengikuti bentuk awannya.
Bagian 2 dari 4
Mengukur Keeratan Hubungan
Dari mata ke angka — kovariansi menunjukkan arah, korelasi r menstandarkan jadi −1..+1, lalu uji-t menguji apakah nyata.
r = kovariansi distandarkan, antara −1 dan +1
Kovariansi — Arah Gerak Bersama
Untuk tiap titik, ukur simpangannya dari rata-rata: (X − X̄) dan (Y − Ȳ). Kalikan, lalu rata-ratakan.
Cov(X,Y) = Σ(X − X̄)(Y − Ȳ) ÷ (n − 1)
Cov > 0 → Positif
+
Saat X di atas rata-ratanya, Y juga cenderung di atas → hubungan searah.
Cov < 0 → Negatif
−
Saat X di atas rata-ratanya, Y cenderung di bawah → hubungan berlawanan.
Kelemahan kovariansi: bergantung satuan (Rp vs unit vs %), jadi besarnya sulit dibandingkan antar-kasus. Solusinya → standarkan jadi korelasi r (slide berikut).
Koefisien Korelasi Pearson (r)
Kovariansi distandarkan oleh simpangan baku X dan Y → bilangan tanpa satuan, selalu antara −1 dan +1. Bentuk hitung paling praktis (langsung dari Σ):
n = jumlah pasangan · ΣXY = jumlah hasil-kali tiap pasang · ΣX², ΣY² = jumlah kuadrat · (ΣX)² = kuadrat dari jumlah (≠ ΣX²!)
Rumus ini setara dengan Cov(X,Y) ÷ (sX · sY), tapi versi-Σ ini lebih cepat di kalkulator. Cukup siapkan lima kolom:
XYXYX²Y²
Membaca r: Arah & Kekuatan
Dua hal yang dibaca dari r: tanda (arah) dan besarnya (kekuatan).
|r|
Kekuatan (pedoman)
0,00 – 0,20
sangat lemah / diabaikan
0,20 – 0,40
lemah
0,40 – 0,60
sedang
0,60 – 0,80
kuat
0,80 – 1,00
sangat kuat
Pedoman |r| ini kasar & kontekstual — di fisika r = 0,7 dianggap lemah, di ilmu sosial dianggap kuat.
Tanda → arah · |r| → keeratan, bukan kemiringan garis.
Hitung dari Nol — HDN-1: Korelasi Iklan vs Penjualan
Data 6 bulan (X = iklan Rp jt, Y = penjualan Rp jt). Susun 5 kolom, jumlahkan, lalu masukkan ke rumus.
X
Y
XY
X²
Y²
2
18
36
4
324
3
23
69
9
529
4
25
100
16
625
5
30
150
25
900
6
34
204
36
1156
7
38
266
49
1444
Σ 27
168
825
139
4978
Langkah
Perhitungan
Nilai
Pembilang
6·825 − 27·168 = 4950 − 4536
414
Penyebut-kiri
6·139 − 27² = 834 − 729
105
Penyebut-kanan
6·4978 − 168² = 29868 − 28224
1644
Akar
√(105 × 1644) = √172620
415,4756
Bagi
414 ÷ 415,4756
r ≈ 0,9964
r ≈ 0,9964 — korelasi positif sangat kuat. Belanja iklan dan penjualan bergerak hampir sempurna searah pada data ini.
Korelasi BUKAN Kausalitas
r yang besar tidak membuktikan X menyebabkan Y. Tiga kemungkinan lain selalu mengintai.
Kemungkinan 1
Hubungan Terbalik
Bisa jadi Y yang menyebabkan X, bukan sebaliknya.
Contoh: penjualan naik → perusahaan punya uang lebih untuk iklan.
Kemungkinan 2
Variabel Perancu (Z)
Faktor ketiga menggerakkan keduanya.
Contoh: penjualan es krim & kasus tenggelam berkorelasi tinggi — sebabnya cuaca panas.
Kemungkinan 3
Kebetulan (Spurious)
Korelasi muncul tanpa hubungan nyata, apalagi pada sampel kecil.
Bertambahnya n menurunkan risiko ini.
Korelasi hanya bukti hubungan, bukan sebab-akibat. Untuk klaim kausalitas perlu desain khusus (eksperimen/kuasi-eksperimen) — di luar lingkup pertemuan ini.
Apakah r Nyata? Menguji Korelasi Populasi (ρ)
r kita dari sampel. Pertanyaannya: apakah di populasi memang ada korelasi (ρ ≠ 0), atau r sekadar kebetulan sampel?
H₀ — Hipotesis Nol
ρ = 0
Tidak ada korelasi di populasi. (yang kita coba tolak)
H₁ — Hipotesis Alternatif
ρ ≠ 0
Ada korelasi di populasi. (dua arah — bisa positif atau negatif)
Logikanya: andai sebenarnya ρ = 0, seberapa mengejutkan kita mendapat r sebesar ini dari sampel? Kalau sangat mengejutkan (jarang terjadi karena kebetulan) → tolak H₀ → korelasi signifikan.
Statistik Uji-t untuk Korelasi
Ubah r menjadi nilai t, lalu bandingkan dengan nilai kritis tabel-t pada derajat bebas (n − 2).
t = r · √(n − 2) ÷ √(1 − r²)
df = derajat bebas = n − 2 · bandingkan |t| dengan t-tabel (dua-arah, α = 5%)
Aturan Keputusan
|t| > t-tabel
Tolak H₀ → korelasi signifikan. Jika |t| ≤ t-tabel → gagal tolak H₀.
Sampel besar membuat |t| mudah membesar — korelasi kecil pun bisa "signifikan". Signifikan secara statistik ≠ penting secara praktis. Selalu lihat besarnya r, bukan cuma lolos-uji.
Hitung dari Nol — HDN-2: Uji-t untuk r ≈ 0,9964
Lanjutan HDN-1: r ≈ 0,9964, n = 6. Apakah korelasi ini signifikan pada α = 5% (dua arah)?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Hipotesis
H₀: ρ = 0 · H₁: ρ ≠ 0
—
r²
0,9964²
0,992909
1 − r²
1 − 0,992909
0,007091
√(n−2)
√4
2
√(1−r²)
√0,007091
0,084206
Statistik t
0,9964 × 2 ÷ 0,084206
t ≈ 23,67
t-tabel (df=4, 5% dua-arah)
dari tabel-t
2,776
Keputusan
23,67 > 2,776
Tolak H₀ — Korelasi iklan–penjualan signifikan pada α = 5%.
|t| = 23,67 > 2,776 → tolak H₀. Hubungannya bukan kebetulan sampel — nyata secara statistik.
Bagian 3 dari 4
Menarik Garis: Regresi Linear
Korelasi memberi satu angka keeratan; regresi memberi satu garis yang bisa Anda pakai untuk memprediksi — dipilih lewat prinsip kuadrat terkecil.
Ŷ = a + bX
Dari Awan Titik ke Satu Garis Terbaik
Lewat sekumpulan titik bisa ditarik tak terhingga garis. Mana yang "terbaik"? Kita butuh aturan yang objektif.
Residual (e)
e = Y − Ŷ
Selisih vertikal antara titik sebenarnya (Y) dan ramalan garis (Ŷ). Inilah "kesalahan" garis di tiap titik.
Ide Inti
min Σe²
Garis terbaik = yang membuat total kesalahan sekecil mungkin untuk semua titik sekaligus.
Kenapa tidak jumlahkan saja kesalahan? Karena yang positif & negatif saling meniadakan. Solusi: kuadratkan dulu tiap kesalahan, baru jumlahkan.
Prinsip Kuadrat Terkecil (Least Squares)
Garis regresi adalah garis yang meminimumkan jumlah kuadrat residual (Σe²). Satu garis, dan hanya satu, memenuhi syarat ini.
Minimumkan: Σe² = Σ(Y − Ŷ)² = Σ(Y − a − bX)²
Kenapa Dikuadratkan
e²
Menghilangkan tanda (+ dan − tak saling meniadakan) dan menghukum kesalahan besar lebih berat.
Hasilnya
b & a
Rumus pasti untuk kemiringan (b) dan intersep (a) — tak perlu coba-coba garis.
Kabar baiknya: kita tidak perlu mencoba banyak garis. Kalkulus menghasilkan dua rumus langsung untuk b dan a (slide berikut) yang otomatis memberi garis kuadrat-terkecil.
Persamaan Regresi: Populasi vs Sampel
Seperti rata-rata (μ vs x̄), regresi punya versi "kebenaran populasi" dan versi "taksiran sampel".
Populasi (tak teramati)
Y = β₀ + β₁X + ε
Sampel (kita hitung)
Ŷ = a + bX
Populasi
Sampel
Makna
β₀
a
intersep (titik potong sumbu Y)
β₁
b
kemiringan (perubahan Ŷ per satuan X)
ε (error)
e (residual)
simpangan acak yang tidak dapat dijelaskan
a dan b adalah penaksir dari β₀ dan β₁ yang sebenarnya. Kita tak pernah tahu β yang asli; kita hanya menaksirnya dari sampel — itu sebabnya ada uji signifikansi & selang kepercayaan (lanjutan).
Dua rumus, dari jumlahan yang sama seperti korelasi. Hitung b dulu, baru a.
Kemiringan b (slope)
b = [ nΣXY − ΣX·ΣY ] ÷ [ nΣX² − (ΣX)² ]
Intersep a (intercept)
a = Ȳ − b · X̄
Hemat tenaga: ΣXY, ΣX, ΣY, ΣX², n yang sudah Anda hitung untuk r dipakai ulang di sini. Pembilang b = pembilang r yang sama (nΣXY − ΣXΣY). Korelasi dan regresi berbagi "bahan baku" yang sama.
Hitung dari Nol — HDN-3: Garis Regresi Iklan → Penjualan
Pakai jumlahan yang sama dari HDN-1 (n=6, ΣX=27, ΣY=168, ΣXY=825, ΣX²=139). Cari b lalu a.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Pembilang b
6·825 − 27·168 = 4950 − 4536
414
Penyebut b
6·139 − 27² = 834 − 729
105
Kemiringan b
414 ÷ 105
3,9429
Rata-rata
X̄ = 27/6 = 4,5 · Ȳ = 168/6 = 28
—
Intersep a
28 − 3,9429 × 4,5 = 28 − 17,7429
10,2571
Persamaan
Ŷ = 10,2571 + 3,9429 X
Garis Regresi
Ŷ = 10,26 + 3,94X
dalam Rp juta
Ramalan: Jika iklan = Rp 8 jt Ŷ = 10,2571 + 3,9429 × 8 = 10,2571 + 31,5429 ≈ Rp 41,8 jt penjualan.
Menafsirkan b & a — Bahasa Angka jadi Bahasa Bisnis
Angka tak berarti tanpa tafsir. Untuk Ŷ = 10,2571 + 3,9429 X (iklan→penjualan, dalam Rp jt):
Kemiringan b = 3,9429
+3,94
per Rp 1 juta iklan
Setiap Rp 1 juta tambahan belanja iklan dikaitkan dengan kenaikan penjualan ~Rp 3,94 juta (rata-rata). Tanda positif → searah.
Intersep a = 10,2571
10,26
saat X = 0
Saat iklan = 0, ramalan penjualan ~Rp 10,26 juta (penjualan dasar tanpa iklan).
Hati-hati menafsir a: X = 0 sering di luar rentang data (di sini X mulai dari 2 jt). Menafsir a sebagai "penjualan tanpa iklan" adalah ekstrapolasi — bisa keliru. Sebaliknya, b hampir selalu bermakna bisnis langsung.
Korelasi & Regresi di Sekitar Anda: Empat Kasus Indonesia
Konsep hari ini ada di mana-mana dalam ekonomi Indonesia. Empat contoh yang sering dianalisis:
Kasus 1 — UMKM
Iklan vs Penjualan ▲ Positif — tambahan promosi dikaitkan kenaikan omzet. (kasus yang kita kerjakan)
Kasus 2 — Pasar Modal
BI-Rate vs IHSG (BEI) ▼ Kerap Negatif — saat BI naikkan suku bunga acuan, IHSG cenderung tertekan (biaya dana naik, dana pindah ke deposito/obligasi). (kecenderungan; verifikasi data BI/BEI)
Kasus 3 — Makro BPS
Inflasi vs Konsumsi Rumah Tangga ▼ Kerap Negatif — inflasi tinggi menggerus daya beli → tekanan negatif pada konsumsi riil. (data BPS; di-hedge)
Kasus 4 — Ekspor Komoditas
Kurs USD/IDR vs Harga Komoditas Ekspor ▲ Sering Positif (dlm Rp) — rupiah melemah → nilai rupiah ekspor batubara/sawit/nikel naik. (kecenderungan; tergantung periode)
Semua arah di atas adalah kecenderungan umum — besar & arah riil wajib dihitung dari data aktual (BPS, BI, BEI) dan tetap ingat: korelasi ≠ kausalitas.
Lima Jebakan yang Sering Membuat Salah
1 Korelasi Disangka Kausalitas
r tinggi ≠ sebab-akibat. Selalu curigai variabel perancu — faktor ketiga yang menggerakkan keduanya.
2 ΣX² vs (ΣX)² Tertukar
Jumlah-dari-kuadrat ≠ kuadrat-dari-jumlah. Penyebab #1 salah hitung r & b. Sangat sering di ujian!
3 Memaksakan Garis pada Pola Melengkung
r linier menyesatkan untuk hubungan non-linier. Gambar dulu! Scatter plot adalah langkah pertama.
4 Tertukar Peran X & Y
Garis "Y atas X" beda dari "X atas Y". Pastikan variabel dependen selalu di posisi Y (sumbu vertikal).
5 Ekstrapolasi Liar
Meramal jauh di luar rentang data (termasuk menafsir a saat X = 0 di luar data). Pola bisa berbeda di luar rentang pengamatan.
Tiga cek wajib sebelum serahkan jawaban: (1) gambar scatter dulu · (2) cek ΣX² ≠ (ΣX)² · (3) pastikan peran X/Y benar.
Bagian 4 dari 4
Rangkuman & Latihan
Cheat sheet rumus inti — siapkan sekali, pakai untuk semuanya — lalu latihan mandiri untuk mengunci pemahaman.
Semua dari lima jumlahan yang sama: n, ΣX, ΣY, ΣXY, ΣX², ΣY². Korelasi & regresi berbagi bahan baku — siapkan sekali, pakai untuk semua.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Korelasi
r = ?
Lima karyawan — jam lembur (X) dan output (Y): (1,3), (2,7), (3,5), (4,11), (5,9)
Hitung r. Petunjuk: susun 5 kolom; jawabannya bulat.
Latihan 2 — Regresi
Ŷ = ?
Jam belajar (X) vs nilai (Y): (2,50), (4,60), (5,68), (6,72), (8,90)
Cari b, a, dan persamaannya. Ramalkan nilai untuk 7 jam belajar. Kunci: Lampiran B.
Kerjakan ~7 menit. Gambar scatter dulu, siapkan tabel 5 kolom, lalu masukkan ke rumus. Cek ΣX² ≠ (ΣX)². Kita bahas bersama setelah selesai.
Rangkuman & Persiapan Berikutnya
Hari ini Anda belajar mengukur hubungan (korelasi r), mengujinya (uji-t), dan memodelkannya (regresi Ŷ = a + bX). Pertemuan depan kita perdalam kualitas & penggunaan model regresi.
Arah Berikutnya — Regresi Lanjut
Koefisien Determinasi (R²) — berapa % variasi Y terjelaskan oleh X?
Ketepatan Ramalan — standard error estimasi.
Asumsi & Evaluasi Model — kapan regresi linear sahih?
Tugas Mandiri — Latih
HDN 1–3
Ulangi ketiga Hitung dari Nol dengan data Anda sendiri (mis. uang saku vs pengeluaran). Verifikasi di Excel: =CORREL(), =SLOPE(), =INTERCEPT()
Kuasai lima rumus inti & alur "lima kolom → r → uji-t → garis". Korelasi & regresi adalah fondasi analisis data bisnis yang akan Anda pakai terus, termasuk di skripsi.