‹ Daftar slidePertemuan 11: Estimasi dan Interval Kepercayaan
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Statistika Bisnis I
Estimasi & Interval Kepercayaan
Pertemuan 11 · Dari Sampel ke Populasi
Dari satu sampel ke seluruh populasi: bagaimana menebak rata-rata atau proporsi populasi — dan, yang lebih penting, seberapa yakin kita boleh atas tebakan itu.
RPS Minggu 11 · Sub-CPMK 4 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan menginterpretasikan interval kepercayaan untuk rata-rata atau proporsi populasi (Sub-CPMK 4). Secara rinci:
Capaian 1 — Titik vs Interval
1
Membedakan estimasi titik dan estimasi interval, serta memahami mengapa interval lebih informatif dari satu angka tunggal.
Capaian 2 — Rata-rata
2
Menghitung CI rata-rata pada 90/95/99% — memilih z (σ diketahui) atau t (σ tidak diketahui, df = n−1).
Capaian 3 — Proporsi & Margin
3
Menghitung CI proporsi dan margin of error untuk kasus survei nyata Indonesia.
Capaian 4 — Ukuran Sampel
4
Menentukan n minimum agar margin dan kepercayaan tertentu terpenuhi — untuk rata-rata maupun proporsi.
BPS Bilang Pengangguran 5,3% — Seberapa Yakin Mereka?
BPS tidak menyensus seluruh ~280 juta penduduk tiap kali. Mereka mengambil sampel, lalu mengumumkan satu angka. Tapi angka itu pasti punya ketidakpastian. Pertanyaannya: berapa?
Estimasi Titik — Kesan Pasti
5,3%
Terdengar tepat, tetapi menyembunyikan fakta bahwa ini hanya tebakan dari sampel. Tidak ada informasi seberapa jauh ia bisa meleset.
Estimasi Interval — Jujur
5,1%–5,5%
keyakinan 95% (ilustratif)
Menyatakan ketidakpastiannya secara terbuka. Memberikan rentang tempat parameter populasi sebenarnya kemungkinan besar berada.
Hampir setiap angka "dari survei" — pengangguran, inflasi, kepuasan nasabah, hasil quick count — sebenarnya adalah interval, walau medianya hanya menyebut satu angka. Hari ini kita belajar membangun rentang itu sendiri.
Blok 1 dari 4
Dari Titik ke Interval
Mengapa satu angka tidak cukup — dan bagaimana sebuah interval kepercayaan dibangun dari estimasi titik, ditambah dan dikurangi sebuah margin.
Estimasi Titik vs Estimasi Interval
Estimasi Titik
x̄ atau p̂
Satu nilai tunggal sebagai tebakan parameter. Rata-rata sampel x̄ menebak μ; proporsi sampel p̂ menebak π.
Kelemahan: tidak ada informasi seberapa jauh ia bisa meleset — peluang tepat persis ≈ 0.
Estimasi Interval
[BB, BA]
Sebuah rentang yang diperkirakan memuat parameter, disertai tingkat kepercayaan.
Kelebihan: menyatakan ketidakpastian secara eksplisit — jujur secara ilmiah.
Estimasi interval = estimasi titik ± margin of error. Titiknya sama; yang ditambahkan adalah pernyataan jujur tentang ketidakpastian.
Anatomi Sebuah Interval Kepercayaan
Setiap interval kepercayaan punya struktur yang sama persis, apa pun parameternya:
Estimasi Interval = Estimasi Titik ± (Nilai Kritis × Standar Error)
Tiga bahan sebuah interval: 1 estimasi titik (di mana pusatnya) · 2 nilai kritis z atau t (seberapa yakin kita ingin) · 3 standar error (seberapa berisik sampelnya). Kalikan dua yang terakhir → margin of error (E).
Coba Sendiri: Tarik 100 Sampel, Amati Cakupan 95%
Tarik banyak sampel berulang dan lihat berapa persen interval kepercayaan yang benar-benar memuat parameter populasi.
Tingkat Kepercayaan & Nilai Kritis z
Tingkat kepercayaan = seberapa sering prosedur ini benar dalam jangka panjang. Makin tinggi kepercayaan → nilai kritis makin besar → interval makin lebar.
Tingkat Kepercayaan
α (taraf salah)
Luas tiap ekor (α/2)
Nilai Kritis z
90%
0,10
0,05
1,645
95%
0,05
0,025
1,960
99%
0,01
0,005
2,576
Tiga nilai z ini wajib Anda hafal — paling sering muncul: 1,645 · 1,960 · 2,576. Perhatikan: naik dari 95% ke 99% membuat z melonjak dari 1,96 ke 2,58 — interval melebar ~31%.
Blok 2 dari 4
Interval Rata-rata: z atau t?
Dua kasus yang harus Anda bedakan tajam — saat standar deviasi populasi diketahui (pakai z) dan saat tidak diketahui (pakai t-Student).
x̄ ± (nilai kritis) × (σ / √n)
Interval Rata-rata saat σ DIKETAHUI — Pakai z
Kasus paling sederhana: standar deviasi populasi σ sudah diketahui (mis. dari data historis sangat panjang). Distribusi rata-rata sampel mengikuti normal, jadi pakai z.
x̄ ± z · (σ / √n)
x̄ = rata-rata sampel · z = nilai kritis (1,645 / 1,96 / 2,576) · σ = standar deviasi populasi · n = ukuran sampel · σ/√n = standar error rata-rata
Mini-Contoh (σ Diketahui)
x̄ = Rp 250.000 · σ = Rp 60.000 (diketahui) · n = 40 · kepercayaan 95% SE = 60.000 / √40 = Rp 9.487 · Margin = 1,96 × 9.487 ≈ Rp 18.594 CI ≈ Rp 231.406 — Rp 268.594
Standar error mengecil saat n membesar (akar n di penyebut). Sampel besar → interval rapat → estimasi presisi. Untuk memotong SE jadi separuh, n harus empat kali lipat.
Saat σ TIDAK Diketahui: Distribusi t-Student
Di dunia nyata kita hampir tak pernah tahu σ. Kita ganti σ dengan s (standar deviasi sampel). Tetapi mengganti σ dengan tebakan menambah ketidakpastian — jadi kurva normal diganti kurva t yang sedikit lebih lebar.
Kurva Normal (z)
z
Dipakai bila σ diketahui. Ekornya lebih tipis. Tidak bergantung ukuran sampel. Nilai kritis tetap (1,96 untuk 95%).
Kurva t-Student (t)
t
Dipakai bila σ tidak diketahui (kita pakai s). Ekornya lebih tebal → interval sedikit lebih lebar → mengakui ketidakpastian ekstra. Bentuknya bergantung derajat bebas.
Makin besar n, kurva t makin mirip kurva normal. Pada n besar (≈ 30+), z dan t hampir sama. Penemunya: W.S. Gosset, yang menerbitkan dengan nama pena "Student" atas permintaan majikannya di pabrik bir Guinness.
Derajat Bebas (df) & Cara Membaca Tabel t
Bentuk kurva t ditentukan oleh derajat bebas: df = n − 1. Untuk membaca tabel t, Anda butuh dua hal: df dan tingkat kepercayaan.
df = n − 1
df
90% (t)
95% (t)
99% (t)
10
1,812
2,228
3,169
20
1,725
2,086
2,845
39
1,685
2,023
2,708
∞ (≈ z)
1,645
1,960
2,576
Untuk HDN-1 nanti: n = 40 → df = 39 → t(95%) ≈ 2,023. Perhatikan: nilai t (2,023) sedikit lebih besar dari z (1,96) — itulah "biaya" tidak tahu σ. Pada df = ∞, t persis = z.
Coba Sendiri: Geser Derajat Bebas, Amati Kurva t Mendekati z
Ubah derajat bebas dan lihat bagaimana ekor kurva t menipis, semakin mendekati kurva normal z.
Interval Rata-rata saat σ TIDAK Diketahui — Pakai t
Kasus paling umum di praktik. Strukturnya sama persis dengan rumus z; hanya z diganti t dan σ diganti s.
x̄ ± t · (s / √n) · (df = n − 1)
x̄ = rata-rata sampel · t = nilai kritis tabel t pada df = n−1 · s = standar deviasi sampel · s/√n = standar error rata-rata (versi sampel)
Pakai
Nilai Kritis
Margin (× Rp 9.487)
Interval 95% (n=40, x̄=Rp 250rb, s=Rp 60rb)
t (benar, σ tak tahu)
2,023
≈ Rp 19.192
Rp 230.808 — Rp 269.192
z (keliru di sini)
1,960
≈ Rp 18.594
Rp 231.406 — Rp 268.594
Karena σ tidak diketahui, t adalah pilihan yang benar; memakai z di sini akan membuat interval terlalu sempit — Anda terlalu percaya diri dan berisiko menyesatkan keputusan.
Hitung dari Nol — HDN-1: Rata-rata Nilai Transaksi
Sebuah bank mengambil sampel n = 40 transaksi. Rata-rata sampel Rp 250.000, standar deviasi sampel s = Rp 60.000. σ populasi tidak diketahui → pakai t (df = 39, t₉₅% ≈ 2,023). Bangun CI 95%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Identifikasi & tentukan t
x̄ = 250.000; s = 60.000; n = 40; df = 39
t₉₅% = 2,023
2. Standar error
s / √n = 60.000 / √40 = 60.000 / 6,3246
Rp 9.486,83
3. Margin of error
E = t × SE = 2,023 × 9.486,83
Rp 19.191,86
4. Batas bawah
250.000 − 19.191,86
Rp 230.808
5. Batas atas
250.000 + 19.191,86
Rp 269.192
CI 95% ≈ Rp 230.808 — Rp 269.192. Lebar interval ~Rp 38.384 mencerminkan ketidakpastian dari n = 40. Prosedur ini, jika diulang banyak kali, akan menghasilkan interval yang memuat rata-rata populasi pada ~95% kesempatan.
Pohon Keputusan: z atau t?
Satu pertanyaan menentukan segalanya untuk interval rata-rata: apakah σ populasi diketahui?
Situasi
Distribusi
Standar Error
σ diketahui
z
σ/√n
σ tak diketahui
t (df = n−1)
s/√n
Proporsi (n besar)
z
√(p̂(1−p̂)/n)
Aturan paling aman: σ tidak diketahui → selalu pakai t apa pun ukuran sampelnya. Pada n besar, t ≈ z — Anda tidak rugi apa-apa.
Blok 3 dari 4
Proporsi, Margin, & Ukuran Sampel
Dari rata-rata ke proporsi (persentase "ya/tidak"), lalu pertanyaan paling praktis dalam riset: berapa besar sampel yang saya butuhkan?
Interval Kepercayaan untuk Proporsi Populasi
Untuk proporsi, estimasi titiknya adalah p̂ (proporsi sampel = x/n). Strukturnya tetap "titik ± nilai kritis × standar error", dan kita pakai z.
p̂ ± z · √( p̂(1 − p̂) / n )
p̂ = x/n (proporsi "sukses" di sampel) · z = 1,645 / 1,96 / 2,576 · √(p̂(1−p̂)/n) = standar error proporsi
Mengapa z, bukan t? Karena standar error proporsi tidak melibatkan σ yang harus ditebak — ia langsung dihitung dari p̂.
Syarat aproksimasi normal:n · p̂ ≥ 5 dan n · (1 − p̂) ≥ 5 (sampel cukup besar agar distribusi binomial mendekati normal).
Hitung dari Nol — HDN-2: Kepuasan Nasabah
Survei OJK terhadap n = 500 nasabah: 320 menyatakan puas. Bangun CI 95% untuk proporsi kepuasan seluruh populasi nasabah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Estimasi titik p̂
320 / 500
0,64 (64%)
2. p̂(1 − p̂)
0,64 × 0,36
0,2304
3. Standar error
√(0,2304 / 500) = √0,0004608
0,021466
4. Margin of error
E = 1,96 × 0,021466
0,042074 (≈ 4,21%)
5. Batas bawah
0,64 − 0,042074
0,5979 (59,8%)
6. Batas atas
0,64 + 0,042074
0,6821 (68,2%)
CI 95% ≈ 59,8% — 68,2%. Kita yakin (pada tingkat 95%) bahwa proporsi nasabah puas di seluruh populasi berada di rentang itu. Margin of error survei ini ~±4,2 poin persen. Cek syarat: n·p̂ = 320 ≥ 5 ✓ dan n·(1−p̂) = 180 ≥ 5 ✓.
Margin of Error — Inti Presisi
Margin of error (E) = setengah lebar interval = nilai kritis × standar error. Ia menjawab: "seberapa jauh tebakan saya bisa meleset?"
E = z · √(p̂(1−p̂)/n) (proporsi) · E = t · (s/√n) (rata-rata)
↑ Kepercayaan
↕ E
95%→99% menaikkan z (1,96→2,58) → E membesar. Interval melebar; presisi berkurang.
↑ Ukuran Sampel n
↓ E
n di penyebut (akar n) → E mengecil. Ini satu-satunya tombol yang sepenuhnya di tangan Anda.
↑ Keragaman Data
↑ E
Data makin bervariasi → E membesar. Proporsi paling "berisik" di p̂ = 0,5 (maks. variasi).
Hubungan akar: untuk memotong E jadi setengah, n harus empat kali lipat. Contoh: n=400 → E≈4,90%; n=1.200 → E≈2,83%. Presisi itu mahal.
Menentukan Ukuran Sampel untuk Proporsi
Balik logikanya: tetapkan margin (E) dan kepercayaan (z) yang Anda inginkan, lalu cari n yang dibutuhkan. Tinggal selesaikan rumus E untuk n.
n = z² · p̂(1 − p̂) / E²
E = margin yang ditargetkan (mis. 0,03 = 3%) · z = nilai kritis · p̂ = perkiraan proporsi
Ada data awal p̂?
Pakai p̂
Jika ada survei pendahuluan atau data historis, masukkan nilai p̂ yang diketahui → n lebih kecil (lebih efisien).
Tidak ada data awal?
p̂ = 0,5
Asumsi konservatif: p̂(1−p̂) maksimum di 0,5 (= 0,25) → menghasilkan n terbesar → paling aman, tidak akan kekurangan sampel.
Selalu bulatkan n ke ATAS. Hasil n hampir selalu pecahan. Membulatkan ke bawah berarti sampel kurang dari yang dibutuhkan → target presisi tidak tercapai.
Hitung dari Nol — HDN-3: Berapa Nasabah Harus Disurvei?
Lanjutan HDN-2. Kita ingin survei kepuasan dengan margin of error ≤ 3% (E = 0,03) pada kepercayaan 95% (z = 1,96). Berapa ukuran sampel minimum?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Skenario A — Pakai p̂ = 0,64 (dari HDN-2)
1,96² × 0,2304 / 0,03² = 3,8416 × 0,2304 / 0,0009
983,45
→ Bulatkan ke atas
n = 984
Skenario B — Konservatif p̂ = 0,5
1,96² × 0,25 / 0,03² = 3,8416 × 0,25 / 0,0009
1.067,11
→ Bulatkan ke atas
n = 1.068
Skenario A (p̂ = 0,64)
984
responden minimum
Skenario B (p̂ = 0,5, konservatif)
1.068
responden minimum
Selisih 84 responden = "harga" ketidaktahuan awal tentang p̂. Bila sudah tahu p̂ ≈ 0,64, cukup 984; bila ingin aman tanpa asumsi → 1.068.
Menentukan Ukuran Sampel untuk Rata-rata
Logika sama, hanya "isi" standar error-nya yang ganti. Tetapkan E dan z, cari n.
n = ( z · σ / E )²
E = margin dalam satuan asli (mis. rupiah) · σ = standar deviasi (dari studi awal/historis; bila hanya ada s, pakai s sebagai taksiran)
Mini-Contoh — Nilai Transaksi Bank
Target Margin
Perhitungan n = (z·σ/E)²
n Minimum
E ≤ Rp 10.000 (95%)
(1,96 × 60.000 / 10.000)² = (11,76)² = 138,30
139
E ≤ Rp 5.000 (95%)
(1,96 × 60.000 / 5.000)² = (23,52)² = 553,19
554
Pola identik dengan proporsi: memperketat margin dari Rp 10.000 ke Rp 5.000 → n empat kali lipat (139 → 554). Presisi itu mahal — sifat kuadratik dari hukum akar.
Interval Kepercayaan di Sekitar Anda (Indonesia)
Konsep hari ini bukan teori menara gading — ia melandasi angka-angka yang Anda baca tiap bulan.
Rilis BPS — Rata-rata & Proporsi
Sakernas
Tingkat pengangguran terbuka & inflasi diestimasi dari sampel survei. Tiap angka punya interval & margin, walau headline hanya menyebut satu angka.
Survei OJK — Kepuasan Nasabah
OJK
Indeks kepuasan & literasi keuangan adalah proporsi dari sampel nasabah → CI proporsi + margin of error (persis HDN-2).
Rata-rata NPL Perbankan
NPL
Menaksir rata-rata rasio kredit bermasalah lintas bank dari sampel → CI rata-rata pakai t bila σ tak diketahui.
Margin Survei Lembaga Riset
±2,83%
n ≈ 1.200, p̂ ≈ 0,5 (ilustratif)
"Margin of error ±2,83%" pada survei opini publik = persis konsep Slide 18. Dihitung dari n dan p̂.
Audit: Auditor menentukan ukuran sampel transaksi yang diperiksa berdasarkan margin error & tingkat keyakinan yang ditargetkan — penerapan langsung rumus n hari ini.
Blok 4 dari 4
Tafsir yang Benar & Rangkuman
Bagian tersulit bukan menghitung interval, melainkan menafsirkannya tanpa terjebak miskonsepsi yang sangat umum — bahkan di kalangan profesional.
Interpretasi BENAR vs Miskonsepsi
Miskonsepsi (Keliru)
SALAH
"Ada peluang 95% bahwa rata-rata populasi berada di dalam interval [Rp 231rb — Rp 269rb] ini."
Mengapa salah? Parameter populasi adalah nilai tetap; ia entah di dalam atau di luar interval ini — tidak ada "peluang" baginya.
Interpretasi Benar
BENAR
"Jika prosedur ini diulang pada banyak sampel berbeda, ~95% dari interval-interval yang dihasilkan akan memuat rata-rata populasi sebenarnya."
Yang acak adalah intervalnya, bukan parameternya.
Miskonsepsi lain: (a) "95% data ada di dalam interval" — keliru, interval soal rata-rata, bukan sebaran individu; (b) "interval 99% lebih baik" — tidak selalu, 99% lebih yakin tetapi kurang presisi.
Kalimat aman: "Kita 95% yakin bahwa rata-rata populasi berada antara A dan B" — diterima sebagai bahasa praktis, ASAL Anda paham 95% itu sifat prosedur, bukan peluang atas parameter.
Cheat Sheet — Empat Rumus Inti Estimasi
Tujuan
Rumus
Kapan Dipakai
CI rata-rata, σ diketahui
x̄ ± z · (σ/√n)
σ populasi diketahui (jarang)
CI rata-rata, σ tak diketahui
x̄ ± t · (s/√n), df = n−1
σ tak diketahui (umum — default)
CI proporsi
p̂ ± z · √(p̂(1−p̂)/n)
data "ya/tidak", n besar
Ukuran sampel proporsi
n = z² · p̂(1−p̂) / E²
rancang survei (p̂ tak tahu → 0,5)
Ukuran sampel rata-rata
n = (z · σ / E)²
rancang pengambilan data kontinu
Tiga z legendaris wajib hafal: 90% → 1,645 · 95% → 1,960 · 99% → 2,576 Pola tunggal semua rumus: Estimasi Titik ± (Nilai Kritis × Standar Error) Aturan emas: Selalu bulatkan n ke ATAS · σ tak diketahui → pakai t
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — CI Rata-rata (t)
CI t
Sampel n = 25 waktu layanan teller: rata-rata 8 menit, s = 2 menit. σ tak diketahui. Bangun CI 95% (df = 24, t ≈ 2,064).
Petunjuk: x̄ ± t · s/√n
Latihan 2 — CI Proporsi & n
CI p̂
Survei n = 400 pelanggan, 260 puas. (a) Bangun CI 95% proporsi puas. (b) Berapa n agar margin ≤ 2,5% pada 95%?
Petunjuk (a): p̂ = 260/400 = 0,65
Kerjakan 7 menit. Langkah disiplin: (1) tentukan parameter (rata-rata/proporsi), (2) pilih z atau t, (3) hitung SE, (4) hitung margin. Kunci ada di Lampiran B materi kuliah.
Persiapan Pertemuan Berikutnya
Hari ini Anda belajar menebak parameter populasi dengan jujur (rentang + keyakinan). Pertemuan depan kita menguji klaim tentang parameter itu — uji hipotesis.
Pertemuan Berikutnya — Uji Hipotesis
Dari "berapa nilainya?" (estimasi) ke "apakah benar nilainya = X?" (pengujian)
Konsep z, t, dan α hari ini menjadi fondasi langsung uji hipotesis
Bawa tabel z & t ke kelas berikutnya
Refleks "σ tahu/tak tahu → z/t" harus sudah otomatis
Tugas Mandiri — Latih
HDN 1–3
Ulangi HDN-1, HDN-2, dan HDN-3 dengan angka Anda sendiri sampai refleks "σ tahu/tak tahu → z/t" terasa otomatis. Pastikan selalu bulatkan n ke atas.
Kuasai empat rumus inti & tafsir yang benar malam ini. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya — Pengujian Hipotesis!