stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-10
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 10: Distribusi Sampling dan Teorema Limit Pusat
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Statistika Bisnis I

Distribusi Sampling & Teorema Limit Pusat

Pertemuan 10 · Mengapa Sampel Kecil Bisa Dipercaya

Mengapa rata-rata dari sebuah sampel bisa dipercaya untuk menebak rata-rata seluruh populasi — dan mengapa hampir semua statistik tunduk pada satu pola berbentuk lonceng.

RPS Minggu 10 · Sub-CPMK 4 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan distribusi sampling dan kaitannya dengan Central Limit Theorem (Sub-CPMK 4). Secara rinci:

Capaian 1 — Konsep
C₁
Menjelaskan apa itu distribusi sampling rata-rata (x̄) dengan kata sendiri — bedakan dari distribusi data mentah.
Capaian 2 — Dua Ukuran
C₂
Menghitung E(x̄) = μ dan standar error σ/√n, serta efek ukuran sampel n terhadap akurasi.
Capaian 3 — CLT & z
C₃
Menerapkan Teorema Limit Pusat dan transformasi z untuk menghitung peluang menyangkut x̄ (n ≥ 30).
Capaian 4 — Proporsi
C₄
Menghitung standar error proporsi p̂ = √(p(1−p)/n) dan peluang menyangkut p̂ untuk kasus konkret.

Bagaimana BPS Tahu Pengeluaran ~70 Juta Rumah Tangga?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan rata-rata pengeluaran rumah tangga Indonesia tiap tahun. Tetapi apakah mereka mendatangi semua rumah tangga? Tentu tidak.

Sensus — Mustahil Tiap Tahun
~70 Jt RT
Mendatangi seluruh rumah tangga butuh biaya raksasa dan waktu bertahun-tahun. Sensus penuh hanya dilakukan sekitar 10 tahun sekali.
Sampel — Solusinya (Susenas)
Ratus Ribu
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mengambil sampel beberapa ratus ribu rumah tangga, lalu menyimpulkan untuk seluruh populasi.
Pertanyaan besar hari ini: mengapa rata-rata dari sampel kecil bisa dipercaya mewakili populasi raksasa? Jawabannya adalah distribusi sampling dan Teorema Limit Pusat.
Bagian 1 dari 4
Dari Satu Sampel ke Distribusi Sampling
Bedakan populasi, sampel, dan statistik — lalu bayangkan apa yang terjadi jika kita mengambil sampel bukan sekali, tetapi berkali-kali.

Tiga Istilah yang Wajib Dibedakan

Populasi
μ, σ, p
parameter — biasanya tak diketahui
Seluruh anggota yang ingin kita pelajari. Ciri populasi disebut parameter. Contoh: seluruh buruh harian di Jawa Tengah.
Sampel
n = 36
sebagian yang kita amati
Sebagian anggota populasi yang benar-benar kita amati dan ukur. Contoh: 36 buruh yang kita wawancarai.
Statistik
x̄, s, p̂
dihitung dari sampel
Angka ringkasan dari sampel. Inilah tebakan kita atas parameter populasi yang tak diketahui.
Aturan notasi: parameter pakai huruf Yunani (μ, σ, p); statistik pakai huruf Latin/topi (x̄, s, p̂). Tertukar di sini = salah seumur materi inferensi.

Distribusi Sampling Rata-Rata (x̄) — Inti Hari Ini

Eksperimen pikiran: ambil sampel n buruh, catat rata-ratanya (x̄). Lalu ulangi ratusan kali. Tiap sampel memberi x̄ yang sedikit berbeda.

Sampel 1
x̄₁
Rp 148.000
36 buruh pertama yang dipilih acak dari populasi.
Sampel 2
x̄₂
Rp 153.000
36 buruh kedua — populasi sama, rata-rata berbeda.
Sampel 3
x̄₃
Rp 151.000
36 buruh ketiga — lagi-lagi berbeda dari dua sampel sebelumnya.
Kumpulan semua nilai x̄ yang mungkin — beserta peluangnya — itulah distribusi sampling rata-rata. Ia adalah distribusi dari sebuah statistik, bukan distribusi data mentah dalam satu sampel.

Apa Bentuk Distribusi Sampling Itu?

Jika kita gambar histogram dari ribuan x̄, muncul tiga fakta menakjubkan yang menjadi fondasi seluruh inferensi:

Fakta 1 — Pusat
E(x̄)=μ
Histogram x̄ memusat di μ (rata-rata populasi). Rata-rata dari semua rata-rata sampel = μ.
Fakta 2 — Lebih Sempit
σ/√n
Sebaran x̄ jauh lebih sempit daripada sebaran data asli. Makin besar n, makin sempit sebarannya.
Fakta 3 — Berlonceng
∼N
Bentuknya mendekati lonceng normal, bahkan jika data aslinya tidak normal (asalkan n cukup besar).
Populasi (miring)ambil ribuansampel →Distribusi sampling x̄ (lonceng normal)μFakta 3: Selalu menuju lonceng normal — apa pun bentuk populasi aslinya
Ketiga fakta ini bukan kebetulan — Fakta 1 & 2 dijamin matematika, Fakta 3 dijamin Teorema Limit Pusat (Bagian 2).
Bagian 2 dari 4
Standar Error & Teorema Limit Pusat
Di mana pusat distribusi sampling berada (E(x̄) = μ), seberapa lebar sebarannya (σ/√n), dan mengapa bentuknya selalu menuju lonceng.
σ = σ / √n

Pusat Distribusi Sampling: E(x̄) = μ

Di mana letak pusat distribusi sampling rata-rata? Jawabannya elegan: tepat di rata-rata populasi.

E(x̄) = μ

E(x̄) = nilai harapan (rata-rata jangka panjang) dari x̄  ·  μ = rata-rata populasi

Artinya x̄ adalah penaksir tak bias (unbiased) untuk μ: rata-rata x̄ tidak sistematis terlalu tinggi atau terlalu rendah. Satu sampel bisa meleset, tetapi rata-rata banyak sampel tepat sasaran.
Ilustrasi
Rp 150rb
Jika upah harian populasi μ = Rp 150.000, maka rata-rata dari ribuan x̄ juga akan ~Rp 150.000 — meski tiap sampel sedikit berbeda.
Analogi Sasaran Panah
🎯
Satu lemparan bisa meleset ke kiri atau kanan, tetapi rata-rata ratusan lemparan jatuh tepat di pusat sasaran — itulah arti unbiased.

Sebaran Distribusi Sampling: Standar Error

Seberapa lebar distribusi sampling? Diukur oleh standar error, yaitu simpangan baku dari x̄.

σ = σ / √n

σ = simpangan baku populasi  ·  n = ukuran sampel  ·  σ = standar error rata-rata

n√nσ = 30.000 / √nInterpretasi
42Rp 15.000Sampel sangat kecil — sangat tidak pasti
93Rp 10.000Masih relatif lebar
366Rp 5.000Cukup baik — dipakai di HDN-1
10010Rp 3.000Semakin sempit dan akurat
Standar error ≠ simpangan baku populasi. Standar error mengukur ketidakpastian rata-rata sampel, dan ia mengecil saat n membesar — itulah alasan sampel besar lebih akurat.

Pengaruh Ukuran Sampel (n): Akar n, Bukan n

Karena n berada di bawah akar, hubungannya tidak linear. Ini sumber satu miskonsepsi mahal.

Miskonsepsi
2× n
= 2× lebih akurat?
"Sampel 2× lebih besar → standar error 2× lebih kecil." — Salah. Karena ada akar, pengaruhnya tidak linear.
Fakta
4× n
= ½ standar error
Untuk memangkas standar error menjadi setengah, butuh sampel 4× lebih besar (karena √4 = 2).
Konsekuensi praktis: dari n=100 ke n=400 (4×) standar error baru setengah; ke n=1.600 (16×) baru seperempat. Menambah akurasi survei makin lama makin mahal — itulah diminishing returns.
n kecil (lebar)n sedangn besar (ramping)n ↑ → makin ramping

Teorema Limit Pusat (Central Limit Theorem)

Inilah hukum paling penting dalam statistik. Pernyataannya sederhana tetapi akibatnya raksasa:

Jika ukuran sampel n cukup besar, maka distribusi sampling x̄ akan mendekati distribusi normal, apa pun bentuk distribusi populasi asalnya — miring, datar, bahkan bergerigi.
Pusat & Sebaran
x̄ ∼ N
x̄ mendekati normal dengan rata-rata μ dan standar error σ/√n. Dua angka ini sudah cukup menggambarkan distribusi sampling.
Keajaibannya
Tidak peduli populasi berbentuk apa, x̄ tetap menuju lonceng. Inilah yang membuat tabel z bisa dipakai secara universal di semua kondisi.
Justru karena CLT, kita tidak perlu tahu bentuk populasi untuk berhitung tentang x̄ — cukup tahu μ, σ, dan n.

Coba Sendiri: Buktikan CLT dengan Menarik Sampel Berulang

Tarik banyak sampel dari populasi berbentuk apa pun, dan amati distribusi rata-ratanya perlahan membentuk lonceng.

Seberapa Besar "Cukup Besar"? Aturan n ≥ 30

CLT menjamin normalitas hanya jika n cukup besar. Aturan praktis buku teks: n ≥ 30. Tetapi "cukup" bergantung pada bentuk populasi.

Populasi Sudah Normal
n kecil
x̄ normal untuk n berapa pun
Jika populasi memang sudah normal, tak perlu menunggu n = 30. x̄ sudah normal bahkan untuk sampel kecil.
Populasi Agak Miring
n ≥ 30
umumnya sudah cukup
Untuk populasi yang sedikit miring, n ≥ 30 umumnya sudah membuat x̄ mendekati normal dengan baik.
Populasi Sangat Miring
n > 30
butuh lebih besar
Makin aneh bentuk populasi, makin besar n yang dibutuhkan agar CLT benar-benar bekerja.
n ≥ 30 adalah pegangan praktis yang aman untuk sebagian besar kasus bisnis. Jika populasi sudah diketahui normal, syarat ini gugur — z bisa dipakai langsung.
Bagian 3 dari 4
Menghitung Peluang dengan z
Begitu kita tahu x̄ mendekati normal, kita bisa memakai transformasi z dan tabel z untuk menjawab pertanyaan peluang — baik untuk rata-rata maupun proporsi.
z = (x̄ − μ) / (σ/√n)

Transformasi z untuk Rata-Rata Sampel

Sama seperti z untuk satu nilai, tetapi penyebutnya berubah dari σ menjadi standar error σ/√n.

Untuk satu nilai X (Pertemuan 9)
z = (X − μ) / σ

Penyebut = σ (simpangan baku populasi)

Untuk rata-rata x̄ (Pertemuan 10)
z = (x̄ − μ) / (σ/√n)

Penyebut = σ/√n (standar error!)

Kesalahan paling sering: lupa membagi σ dengan √n. Untuk pertanyaan tentang rata-rata sampel, penyebutnya wajib standar error, bukan σ saja.
Mini-langkah: 1 Hitung z   2 Buka tabel z   3 Konversi ke peluang (luas di bawah kurva)

Hitung dari Nol — HDN-1: Rata-Rata Upah Buruh

Upah harian buruh: μ = Rp 150.000, σ = Rp 30.000. Sampel n = 36 buruh. Berapa peluang rata-rata sampel melebihi Rp 160.000?

LangkahPerhitunganNilai
1 Identifikasiμ = 150.000; σ = 30.000; n = 36; tanya P(x̄ > 160.000)
2 Cek CLTn = 36 ≥ 30 → x̄ mendekati normal ✓aman pakai z
3 Standar errorσ/√n = 30.000 / √36 = 30.000 / 6Rp 5.000
4 Hitung z(160.000 − 150.000) / 5.000 = 10.000 / 5.000z = 2,00
5 Tabel zP(Z ≤ 2,00) = 0,9772 → luas di kiri0,9772
6 PeluangP(x̄ > 160.000) = 1 − 0,97720,0228 = 2,28%
Hasil: ~2,28%. Hanya sekitar 2 dari 100 sampel berukuran 36 yang akan punya rata-rata di atas Rp 160.000 — sampel rata-rata setinggi itu tergolong sangat langka.

Distribusi Sampling Proporsi (p̂)

Semua yang kita pelajari untuk rata-rata juga berlaku untuk proporsi — misalnya persentase UMKM yang sudah go-digital. Hanya rumus standar error-nya yang berbeda.

Pusat Distribusi Sampling p̂
E(p̂) = p
Proporsi sampel p̂ adalah penaksir tak bias untuk proporsi populasi p — persis seperti x̄ tak bias untuk μ.
Standar Error Proporsi
σ
σ = √( p(1−p) / n ) — mengecil saat n membesar, sama seperti standar error rata-rata.
z = (p̂ − p) / √( p(1−p)/n )
Syarat CLT untuk proporsi: n·p ≥ 5 dan n(1−p) ≥ 5 (sebagian buku pakai ambang 10). Untuk p = 0,40 & n = 100: 100×0,4 = 40 ≥ 5 & 100×0,6 = 60 ≥ 5 ✓

Hitung dari Nol — HDN-2: Proporsi UMKM Go-Digital

Proporsi populasi UMKM yang sudah go-digital p = 0,40. Diambil sampel n = 100 UMKM. Berapa peluang proporsi sampelnya kurang dari 0,30?

LangkahPerhitunganNilai
1 Identifikasip = 0,40; n = 100; tanya P(p̂ < 0,30)
2 Cek CLTn·p = 40 ≥ 5; n(1−p) = 60 ≥ 5 ✓aman pakai z
3 Standar error√(0,40 × 0,60 / 100) = √(0,0024)0,049
4 Hitung z(0,30 − 0,40) / 0,049 = −0,10 / 0,049z ≈ −2,04
5 Tabel zP(Z < −2,04) — ekor kiri kurva normal0,0207
6 PeluangP(p̂ < 0,30) = 0,0207~2,1%
Hasil: ~2,1%. Jika benar 40% UMKM sudah go-digital, sangat jarang sebuah sampel 100 UMKM menunjukkan di bawah 30% — hanya ~2 dari 100 sampel.

Faktor Koreksi Populasi Terbatas (Finite Population Correction)

Rumus σ/√n mengasumsikan populasi sangat besar. Jika sampel mengambil porsi besar dari populasi kecil, standar error perlu dikoreksi ke bawah.

σ = (σ/√n) × √( (N − n) / (N − 1) )

N = ukuran populasi  ·  bagian akar = faktor koreksi (FPC), nilainya selalu < 1

Contoh: N=500, n=50
0,950
FPC = √(450/499) ≈ 0,950
Standar error turun ~5% dibanding tanpa FPC. Pengaruh kecil tetapi ada.
Kapan Diabaikan?
<5%
n < 5% dari N
Jika n kurang dari 5% populasi, FPC dapat diabaikan — hampir semua survei nasional masuk kategori ini.
Aturan praktis: FPC bisa diabaikan jika n < 5% dari N. Hampir semua survei nasional (BPS Susenas) masuk kategori ini. Penting hanya saat sampel besar relatif populasi kecil.

Distribusi Sampling di Dunia Nyata Indonesia

Tiga lembaga ini menggunakan distribusi sampling setiap hari untuk menghasilkan angka yang Anda dengar di berita.

BPS — Susenas & Sakernas
~5% TPT
Rata-rata pengeluaran RT (Susenas) dan tingkat pengangguran (Sakernas) dihitung dari sampel, lalu dilaporkan dengan standar error sebagai ukuran ketelitian.
BEI — Return Emiten
BBCA · TLKM
Rata-rata imbal hasil (return) dari sampel emiten dipakai analis untuk menyimpulkan kinerja sektor. Sebaran rata-rata sampel = distribusi sampling.
BI — Survei UMKM
p̂ digital
Survei BI mengestimasi proporsi UMKM terdigitalisasi dari sampel; standar error √(p(1−p)/n) menentukan lebar selang ketelitiannya.
Setiap kali Anda dengar "tingkat pengangguran ~5%" atau "rata-rata pengeluaran Rp X", di baliknya ada distribusi sampling — angka itu tebakan dari sampel, lengkap dengan ketidakpastian terukur.

Mengapa CLT adalah Fondasi Seluruh Inferensi Statistik

CLT bukan sekadar topik satu pertemuan — ia adalah mesin yang menyalakan semua yang akan Anda pelajari setelah ini.

Tanpa CLT
  • Tidak tahu seberapa jauh x̄ atau p̂ meleset dari parameter.
  • Estimasi jadi tebakan buta tanpa ukuran ketelitian.
  • Tabel z tidak bisa dipakai sembarangan.
Dengan CLT
  • x̄ ∼ normal dengan pusat μ dan sebaran σ/√n.
  • Bisa membuat selang kepercayaan (P11–12).
  • Bisa menguji hipotesis (P13–14).
  • Bisa menghitung margin of error survei.
Setiap selang kepercayaan dan setiap uji hipotesis berdiri di atas satu kalimat: x̄ mendekati normal dengan standar error σ/√n. Kuasai hari ini, dan sisa semester jadi ringan.

Lima Jebakan yang Sering Membuat Salah

1 Standar error vs simpangan baku
Pertanyaan tentang rata-rata sampel pakai σ/√n, bukan σ. Lupa membagi √n = salah fatal.
2 Distribusi sampling vs data mentah
Distribusi sampling = sebaran x̄ lintas sampel, bukan sebaran data dalam satu sampel.
3 CLT butuh populasi normal?
Justru sebaliknya: CLT bekerja apa pun bentuk populasi, asalkan n besar.
4 Linear-kan akar n
2× sampel ≠ 2× lebih akurat. Butuh 4× sampel untuk separuh standar error.
5 Lupa cek syarat
Untuk x̄: cek n ≥ 30. Untuk p̂: cek n·p ≥ 5 dan n(1−p) ≥ 5.
Tiga cek cepat sebelum menjawab soal:
(1) Rata-rata atau proporsi?   (2) Penyebut z sudah σ/√n?   (3) Syarat CLT terpenuhi?

Cheat Sheet — Rumus Inti Distribusi Sampling

KonsepRumusUntuk
Pusat (rata-rata)E(x̄) = μx̄ tak bias untuk μ
Standar error rata-rataσ = σ/√nSebaran x̄ (lebar distribusi sampling)
z untuk rata-rataz = (x̄ − μ)/(σ/√n)Peluang menyangkut x̄ via tabel z
Pusat (proporsi)E(p̂) = pp̂ tak bias untuk p
Standar error proporsiσ = √(p(1−p)/n)Sebaran p̂
z untuk proporsiz = (p̂ − p)/√(p(1−p)/n)Peluang menyangkut p̂ via tabel z
FPC (populasi terbatas)× √((N−n)/(N−1))Koreksi jika n ≥ 5% dari N
Semua rumus ini turunan satu ide: x̄ (atau p̂) mendekati normal, berpusat di parameter, dengan sebaran = standar error. Kuasai CLT, dan tabel ini jadi logis, bukan hafalan.

Peta Konsep: Bagaimana Semua Terhubung

DISTRIBUSI SAMPLING(sebaran statistik lintas sampel)TEOREMA LIMIT PUSATn ≥ 30 → x̄ mendekati NORMALRATA-RATA x̄E(x̄) = μσ= σ/√nPROPORSI p̂E(p̂) = pσ= √(p(1−p)/n)→ P11–12: Selang Kepercayaan→ P13–14: Uji Hipotesis→ transformasi z → tabel z → peluang
Distribusi sampling bukan topik berdiri sendiri — ia fondasi yang dipakai untuk membangun selang kepercayaan dan uji hipotesis di sisa semester.

Latihan & Diskusi Kelas

Latihan 1 — Rata-Rata
Berat karung beras suatu pabrik: μ = 50 kg, σ = 2 kg. Diambil sampel n = 64 karung.

Berapa peluang rata-rata sampel antara 49,6 dan 50,4 kg?

Petunjuk: hitung SE, lalu dua nilai z.
Latihan 2 — Proporsi
Proporsi pelanggan puas suatu bank p = 0,40. Diambil sampel n = 100.

Berapa peluang proporsi sampel lebih dari 0,50?

Petunjuk: SE proporsi, satu nilai z.
Kerjakan 5 menit. Tentukan dulu: rata-rata atau proporsi? → hitung standar error yang tepat → transformasi z → peluang. Kita bahas bersama (kunci di Lampiran B).

Persiapan Pertemuan 11

Hari ini Anda belajar mengapa rata-rata sampel bisa dipercaya. Pertemuan depan kita pakai itu untuk menaksir parameter populasi lewat selang kepercayaan.

Pertemuan 11 — Estimasi & Selang Kepercayaan
  • Estimasi titik vs estimasi selang
  • Selang kepercayaan untuk rata-rata (μ)
  • Margin of error — apa artinya?
  • Arti tingkat kepercayaan 90/95/99%
Tugas Mandiri — Latih!
HDN-1 & 2
Ulangi kedua Hitung dari Nol dengan angka Anda sendiri sampai langkahnya terasa otomatis. Hafal rumus standar error rata-rata dan proporsi. Bawa tabel z ke kelas berikutnya.
Kuasai standar error & CLT malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 11 — Estimasi & Selang Kepercayaan.

Rangkuman Pertemuan 10

KonsepInti yang Harus Anda Kuasai
Distribusi samplingSebaran sebuah statistik (x̄, p̂) jika sampel diulang berkali-kali — bukan sebaran data mentah dalam satu sampel.
PusatE(x̄) = μ; E(p̂) = p → statistik sampel tak bias untuk parameternya.
Standar errorσ = σ/√n; σ = √(p(1−p)/n) → mengecil saat n naik; bukan simpangan baku populasi.
Pengaruh nAkar n: butuh sampel untuk pangkas standar error jadi ½. Hubungan tidak linear.
CLTn besar (≥ 30) → x̄ mendekati normal, apa pun bentuk populasi. Inilah yang membolehkan tabel z.
zz = (x̄ − μ)/(σ/√n) → hitung peluang via tabel z. Penyebut = standar error, bukan σ biasa.
Fondasi inferensiCLT menyalakan selang kepercayaan (P11–12) & uji hipotesis (P13–14) di sisa semester.
Jika Anda bisa menjelaskan setiap baris ini dengan kalimat sendiri tanpa membuka buku, Anda sudah menguasai Pertemuan 10.