Kurva lonceng yang melandasi hampir semua statistik terapan — cara membacanya, mengubah nilai apa pun menjadi skor-z, lalu menghitung probabilitas dari tabel.
RPS Minggu 9 • Sub-CPMK 3 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menggunakan distribusi normal dan skor-z untuk menyelesaikan permasalahan probabilitas (Sub-CPMK 3):
Capaian 1 — Ciri
Ciri
Menyebutkan ciri-ciri distribusi normal: simetris, lonceng, mean = median = modus, ditentukan $\mu$ & $\sigma$, luas total = 1.
Capaian 2 — Skor-z
Skor-z
Menghitung $z = (x - \mu)/\sigma$ dan memahami distribusi normal baku Z ~ N(0,1).
Capaian 3 — Probabilitas
P(•)
Membaca tabel Z untuk menghitung P(X<a), P(X>a), dan P(a<X<b) untuk minimal tiga kasus konkret.
Capaian 4 — Invers & Aproksimasi
Invers
Mencari nilai x dari probabilitas (persentil), Aturan Empiris 68–95–99,7%, dan aproksimasi normal-binomial.
Mengapa Kurva Lonceng Ada di Mana-Mana?
Coba ukur tinggi badan, berat badan, atau IPK ribuan orang, lalu buat histogramnya. Hampir selalu muncul bentuk yang sama: lonceng.
Tinggi & Berat
▲
Tinggi badan mahasiswa, berat bayi lahir — menumpuk di tengah, jarang yang ekstrem kecil atau besar.
Nilai & IPK
🎓
IPK satu angkatan, skor UTBK, hasil ujian — sebagian besar mendekati rata-rata.
Return Investasi
📈
Imbal hasil harian saham/reksa dana di BEI sering didekati kurva normal — dasar pengukuran risiko.
Kurva normal begitu sering muncul sehingga ia jadi bahasa standar statistik — kuasai satu kurva ini, dan Anda punya kunci untuk ribuan masalah nyata.
Bagian 1 dari 4
Mengenal Kurva Normal
Apa ciri-ciri distribusi normal, bagaimana $\mu$ dan $\sigma$ membentuknya, dan mengapa luas di bawah kurva sama dengan probabilitas.
SimetrisLoncengLuas = 1
Lima Ciri Distribusi Normal
Simetris terhadap garis tengah — sisi kiri = cermin sisi kanan.
Berbentuk lonceng (bell-shaped) — memuncak di tengah, melandai ke dua ekor.
Mean = median = modus — ketiganya jatuh di titik puncak yang sama.
Ditentukan dua parameter: $\mu$ (pusat) dan $\sigma$ (lebar). Ditulis $X ~ N(\mu, \sigma^{2})$.
Luas total = 1. Ekor tak pernah menyentuh sumbu (asimtotik).
Karena luas total = 1, setiap luas di bawah sepotong kurva adalah sebuah probabilitas antara 0 dan 1.
$\mu$ Menggeser, $\sigma$ Melebar atau Menyempit
Mengubah $\mu$ memindahkan kurva ke kiri/kanan; mengubah $\sigma$ mengubah lebar kurva — total luas tetap 1.
$\mu$ (Pusat)
$\mu \to$ Lokasi
Menentukan letak puncak. Naikkan $\mu \to$ kurva geser ke kanan. Contoh: rata-rata gaji $Rp 6 jt vs Rp 10 jt \to$ dua kurva berbeda posisi.
$\sigma$ (Sebaran)
$\sigma \to$ Lebar
Menentukan lebar kurva. $\sigma$ besar $\to$ pendek-melebar (data bervariasi)$; \sigma$ kecil $\to$ tinggi-ramping (data seragam).
Ada tak hingga kurva normal — satu untuk tiap pasangan $(\mu, \sigma)$. Inilah masalah yang akan kita pecahkan dengan skor-z di Bagian 2.
Coba Sendiri: Geser μ dan σ, Amati Kurva Berubah
Geser mu untuk memindah posisi kurva dan sigma untuk mengubah lebarnya — amati luas di bawah kurva tetap 1.
Luas di Bawah Kurva = Probabilitas
Pada distribusi kontinu, kita tidak bertanya “peluang nilai persis a”, tetapi “peluang nilai jatuh di sebuah selang”. Jawabannya = luas di bawah kurva pada selang itu.
Pada Selang
P(a<X<b)
Luas di bawah kurva antara a dan b. Selalu bernilai antara 0 dan 1.
Pada Satu Titik
0
P(X = a) = 0. Sebuah garis tegak tak punya lebar, jadi tak punya luas.
Konsekuensi praktis: P(X<a) = P(X≤a) dan P(X>a) = P(X≥a) — tanda “sama dengan” tidak mengubah hasil pada distribusi kontinu.
Coba Sendiri: Aturan Empiris 68-95-99,7
Berat kemasan kopi UMKM: 68 persen di plus minus 1 sigma, 95 persen di plus minus 2 sigma, 99,7 persen di plus minus 3 sigma. Sisanya di luar plus minus 2 sigma = potensi di luar spek mutu.
Bagian 2 dari 4
Distribusi Normal Baku & Skor-z
Satu kurva acuan untuk menggantikan tak hingga kurva — dan rumus penerjemah universal $z = (x - \mu)/\sigma$.
$$z = (x - \mu) / \sigma$$
Masalah: Tak Hingga Kurva, Mustahil Ditabelkan
Tinggi badan $N(165; 7^{2})$, gaji $N(6 jt; 1,2 jt^{2})$, return $N(12\%; 5\%^{2})$ — semuanya kurva normal berbeda. Apakah kita perlu tabel untuk masing-masing?
Tanpa Trik
∞ Tabel
Tiap pasangan $(\mu, \sigma)$ butuh tabel sendiri $\to$ tak terbatas banyaknya. Mustahil dicetak dan dipakai di kelas.
Dengan Skor-z
1 Tabel
Ubah semua nilai ke satu skala baku $(\mu=0, \sigma=1) \to$ cukup satu tabel untuk seluruh dunia.
Ide kunci: jangan ubah tabelnya — ubah angkanya ke skala baku. Itulah pekerjaan skor-z.
Distribusi Normal Baku: Z ~ N(0, 1)
Kurva acuan istimewa: mean = 0 dan simpangan baku = 1. Sumbu mendatarnya bukan lagi nilai mentah, melainkan skor-z.
Artinya z
z = ±n
z = +1 $\to$ nilai itu 1 simpangan baku di atas rata-rata. z = −2 $\to$ 2 simpangan baku di bawah rata-rata.
Mengapa Berguna
Satu $\sigma$
Berapa pun $\mu$ dan $\sigma$ aslinya, semua nilai bisa dipetakan ke sumbu z yang sama $\to$ satu tabel cukup untuk seluruh dunia.
z hanyalah jarak dalam satuan $\sigma$ dari rata-rata. z = 0 tepat di puncak (= rata-rata).
Rumus Transformasi Skor-z
Untuk mengubah nilai mentah x menjadi skor-z, kita kurangi rata-rata lalu bagi simpangan baku:
$$z = (x - \mu) / \sigma$$
Cara Baca Rumus
$(x - \mu)$ = seberapa jauh nilai dari rata-rata dalam satuan asli (mis. rupiah).
$\div \sigma$ = ubah jarak itu menjadi “berapa kali simpangan baku” $\to$ hasil tanpa satuan.
Mini Contoh — IPK
IPK Anda 3,5 • rata-rata angkatan $\mu = 3,2$ • $\sigma = 0,3$
z = (3,5 − 3,2) / 0,3 = +1,0
Artinya: IPK Anda 1 simpangan baku di atas rata-rata.
Tanda z penting: positif = di atas rata-rata; negatif = di bawah rata-rata; nol = tepat rata-rata.
Hitung dari Nol — HDN-1: Skor-z Tiga Karyawan
Gaji karyawan terdistribusi normal $\mu = Rp 6.000.000$, $\sigma = Rp 1.200.000$. Hitung skor-z untuk tiga karyawan ini.
Karyawan
Perhitungan $z = (x - \mu) / \sigma$
z
Gaji Rp 7.200.000
(7.200.000 − 6.000.000) / 1.200.000
+1,00
Gaji Rp 6.000.000
(6.000.000 − 6.000.000) / 1.200.000
0,00
Gaji Rp 4.800.000
(4.800.000 − 6.000.000) / 1.200.000
−1,00
$1\sigma di$ Atas
+1,00
Rp 7.200.000
Tepat Rata-Rata
0,00
Rp 6.000.000
$1\sigma di$ Bawah
−1,00
Rp 4.800.000
Skor-z mengubah rupiah menjadi posisi relatif — tiga angka besar kini langsung memberi tahu kedudukan tiap karyawan dalam kelompok.
Bagian 3 dari 4
Membaca Tabel & Menghitung Peluang
Dari skor-z ke probabilitas lewat tabel Z — tiga bentuk soal P(X<a), P(X>a), P(a<X<b), lalu membalik arahnya untuk mencari nilai x.
Cara Membaca Tabel Z (Luas Kumulatif)
Tabel Z kumulatif memberi luas di sebelah KIRI sebuah skor-z, yaitu P(Z < z). Baris = z sampai satu desimal; kolom = desimal kedua.
Potongan Tabel Z (kumulatif)
z
0,00
0,01
0,02
1,5
0,9332
0,9345
0,9357
1,6
0,9452
0,9463
0,9474
1,7
0,9554
0,9564
0,9573
$z = 1,60 \to$ baris 1,6 × kolom 0,00 $\to$ sel = 0,9452 $\to P(Z$ < 1,60) = 94,52\%
Pastikan jenis tabel Anda: ada tabel kumulatif (luas kiri) dan tabel 0-ke-z (luas dari 0 ke z). Materi ini memakai tabel kumulatif P(Z<z).
Tiga Bentuk Soal Probabilitas Normal
Bentuk 1 — P(X < a)
Luas Kiri
Langsung baca tabel $di z = (a-\mu)/\sigma$. P(X<a) = P(Z<z)
Bentuk 2 — P(X > a)
1 − Kiri
Karena total = 1: P(X>a) = 1 − P(Z<z)
Bentuk 3 — P(a < X < b)
Kiri-b − Kiri-a
= P(Z<$z_{b}) - P(Z$<$z_{a})$ (luas kiri besar dikurangi kecil)
Strategi selalu sama: (1) gambar kurva & arsir daerah yang diminta, (2) ubah ke z, (3) baca tabel, (4) sesuaikan (kurangi dari 1, atau selisihkan).
Hitung dari Nol — HDN-2: Peluang Return Reksa Dana > 20%
Return tahunan sebuah reksa dana terdistribusi normal $\mu = 12\%$, $\sigma = 5\%$. Berapa peluang return melebihi 20% dalam setahun?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
$\mu = 12; \sigma = 5; a = 20$; cari P(X > 20)
—
Ubah ke z
z = (20 − 12) / 5
1,60
Baca tabel (luas kiri)
P(Z < 1,60)
0,9452
Luas kanan
1 − 0,9452
0,0548
P(return > 20%)
5,48%
Hanya ~5 dari 100 tahun reksa dana ini diharapkan menghasilkan return di atas 20%.
$z = 1,60 \to$ return 20\% berada 1,6 simpangan baku di atas rata-rata. Semakin jauh ke kanan, semakin kecil peluangnya.
Hitung dari Nol — HDN-3: Peluang Reksa Dana Merugi
Reksa dana yang sama $\mu = 12\%$, $\sigma = 5\%$. Berapa peluang setahun merugi, yaitu return di bawah 0%?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
$\mu = 12; \sigma = 5; a = 0$; cari P(X < 0)
—
Ubah ke z
z = (0 − 12) / 5
−2,40
Pakai simetri
P(Z < −2,40) = 1 − P(Z < 2,40) = 1 − 0,9918
0,0082
P(return < 0%) — Risiko Rugi
0,82%
Kurang dari 1% — risiko rugi reksa dana ini sangat kecil.
Koneksi: Value-at-Risk (VaR)
Value-at-Risk adalah ukuran kerugian maksimum pada tingkat keyakinan tertentu — alat baku manajemen risiko bank yang diawasi OJK.
Perhitungan luas ekor kiri ini adalah logika dasar VaR. Bank menghitung P(return < cutoff) setiap hari.
Hitung dari Nol — HDN-4: Peluang IPK Antara 3,0 dan 3,5
IPK satu angkatan terdistribusi normal $\mu = 3,2$, $\sigma = 0,3$. Berapa peluang seorang mahasiswa ber-IPK antara 3,0 dan 3,5?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
$\mu = 3,2; \sigma = 0,3$; cari P(3,0 < X < 3,5)
—
z batas bawah
$z_{a} = (3,0 - 3,2) / 0,3$
−0,67
z batas atas
$z_{b} = (3,5 - 3,2) / 0,3$
+1,00
Luas kiri $z_{b}$
P(Z < 1,00)
0,8413
Luas kiri $z_{a}$
P(Z < −0,67) = 1 − 0,7486
0,2514
Selisihkan
0,8413 − 0,2514
0,5899
Hasil
58,99%
Hampir 59% mahasiswa FEB berada di rentang IPK 3,0–3,5. Dua skor-z dihitung terpisah, lalu luasnya diselisihkan.
Membalik Arah: Dari Probabilitas ke Nilai x
Sejauh ini: nilai $\to z \to$ peluang. Sekarang kita balik: peluang $\to z \to$ nilai. Berguna untuk mencari ambang/persentil.
Langkah Invers
Tentukan luas yang diminta (mis. 10% tertinggi = luas kanan 0,10, berarti luas kiri 0,90).
Cari di dalam tabel angka luas terdekat $\to$ baca z-nya di tepi. Luas $0,90 \to z \approx $ 1,28.
Balik rumus z menjadi: $x = \mu + z$ ⋅ $\sigma$.
$$x = \mu + z ⋅ \sigma$$
Rumus invers ini hanya rumus z yang dipindah-ruas: dari $z = (x-\mu)/\sigma$ menjadi $x = \mu + z$⋅$\sigma$. Bukan rumus baru — aljabar biasa.
Coba Sendiri: Invers Normal: Persentil ke Nilai
Cari skor di persentil 90 untuk cutoff kredit A, atau stok yang cukup untuk 95 persen permintaan. z = invers-normal, lalu x = mu + z kali sigma.
Hitung dari Nol — HDN-5: Ambang Gaji 10% Tertinggi
Gaji karyawan $\mu = Rp 6.000.000$, $\sigma = Rp 1.200.000$. Perusahaan ingin memberi bonus pada 10% gaji tertinggi. Berapa gaji ambang (cutoff)?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Terjemahkan luas
10\% tertinggi $\to$ luas kanan $0,10 \to$ luas kiri 0,90
—
Cari z dari tabel
luas kiri $\approx 0,90 \to z$
1,28
Rumus invers
x = 6.000.000 + 1,28 × 1.200.000
—
Hitung
6.000.000 + 1.536.000
Rp 7.536.000
Gaji Ambang
Rp 7,54 jt
Karyawan bergaji di atas Rp 7.536.000 termasuk 10% tertinggi dan berhak bonus. Logika yang sama dipakai untuk menetapkan passing grade UTBK atau skor kredit minimal bank.
Bagian 4 dari 4
Aturan Empiris & Aproksimasi Binomial
Satu aturan cepat 68–95–99,7% untuk perkiraan kilat, lalu cara menjembatani distribusi binomial yang diskret ke kurva normal yang mulus.
Aturan Empiris 68–95–99,7%
Untuk semua distribusi normal, luas di sekitar rata-rata mengikuti pola tetap (dalam satuan $\sigma)$:
$\pm 1\sigma$
≈ 68%
Tepatnya 68,27%
$\pm 2\sigma$
≈ 95%
Tepatnya 95,45%
$\pm 3\sigma$
≈ 99,7%
Tepatnya 99,73%
Contoh: IPK $N(3,2; 0,3^{2})$. Sekitar 95\% mahasiswa ber-IPK antara 3,2 - 2(0,3) = 2,6 dan 3,2 + 2(0,3) = 3,8.
Aproksimasi Normal terhadap Binomial
Distribusi binomial (diskret, hitung keberhasilan dari n percobaan) bisa didekati kurva normal saat n besar — perhitungan jadi jauh lebih ringan.
Parameter Penghubung
$\mu$ & $\sigma$
Dari binomial: $$\mu = n$$ ⋅ p dan $\sigma = \sqrt(n$⋅p⋅(1-p)). Pakai ini sebagai $\mu, \sigma$ kurva normal pengganti.
Syarat Aman
≥ 5
Aproksimasi baik bila n⋅p ≥ 5 DAN n⋅(1−p) ≥ 5 (sampel cukup besar, tidak terlalu condong).
Karena binomial meloncat (diskret) tetapi normal mulus (kontinu), perlu koreksi kontinuitas: geser batas ±0,5 sebelum mengubah ke z.
Istilah Baru
binomial = distribusi jumlah keberhasilan dalam n percobaan independen dengan peluang sukses p tiap percobaan.
koreksi kontinuitas = penyesuaian ±0,5 saat mengganti distribusi diskret dengan kontinu, agar luasnya pas.
Coba Sendiri: Aproksimasi Normal ke Binomial
Saat np dan n(1-p) >= 10, binomial dapat didekati normal. Hemat komputasi di n besar. Pakai koreksi kontinuitas plus minus 0,5.
Hitung dari Nol — HDN-6: Aproksimasi Binomial + Koreksi Kontinuitas
Sebuah bank menelepon n = 200 nasabah; tiap nasabah menyetujui produk dengan peluang p = 0,40. Berapa peluang minimal 90 menyetujui, P(X ≥ 90)?
Nilai binomial eksak ≈ 8,57% — aproksimasi sangat dekat! Ini membuktikan normalitas mendekati binomial dengan sempurna saat n besar.
Di Mana Distribusi Normal Dipakai di Indonesia?
Risiko Investasi (VaR)
📈 OJK
Bank & manajer investasi memodelkan return harian saham/reksa dana sebagai normal untuk menghitung Value-at-Risk — kerugian maksimum pada keyakinan 95%/99%. Diawasi OJK.
Skor Kredit
🏢 Bank
Bank menyebar credit score nasabah mendekati normal; ambang persentil (invers) menentukan siapa layak kredit dan berapa limitnya.
Seleksi & Passing Grade
🎓 SNBT
Skor UTBK/SNBT, tes masuk kerja, dan IPK didekati normal; persentil menentukan ambang lolos (mis. 30% teratas).
Pola yang sama — z, tabel, persentil — memutuskan triliunan rupiah risiko bank dan masa depan jutaan pelamar. Itulah mengapa bab ini wajib dikuasai.
Semua bermula dari satu ide: ubah ke skor-z, lalu luas = peluang. Tujuh baris ini menutup hampir seluruh soal bab normal.
Latihan & Persiapan Pertemuan 10
Hari ini Anda belajar menghitung probabilitas dengan distribusi normal & skor-z. Mari kunci pemahaman lewat latihan, lalu kita siapkan langkah berikutnya.
Latihan Mandiri
3 Soal
Tinggi badan $N(165; 7^{2}) cm$: (1) Berapa P(tinggi > 175)? (2) Cari tinggi ambang 5% tertinggi. (3) Pakai Aturan Empiris: rentang ±$2\sigma$. Kunci di Lampiran B materi.
Pertemuan 10 — Preview
Dari distribusi populasi ke distribusi rata-rata sampel — pengantar distribusi sampling & Teorema Limit Pusat.
Fondasi seluruh inferensi statistik. Skor-z yang Anda kuasai hari ini akan terus dipakai sampai akhir semester.
Tugas: ulangi HDN-1 s/d HDN-6 dengan angka Anda sendiri; bawa tabel Z & kalkulator ke pertemuan berikutnya. Sampai jumpa di Pertemuan 10!