‹ Daftar slidePertemuan 7: Variabel Acak Diskrit, Nilai Harapan, dan Variansi
FEB UNDIP · Statistika Bisnis I
Statistika Bisnis I
Pertemuan 7 · Variabel Acak Diskrit, Nilai Harapan, dan Variansi
Mengubah ketidakpastian menjadi angka: menyusun distribusi probabilitas, menghitung rata-rata jangka panjang E(X), dan mengukur risiko lewat variansi.
RPS Minggu 6 · Sub-CPMK 3 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan konsep variabel acak diskrit dan menghitung nilai ekspektasi serta variansi (Sub-CPMK 3).
Capaian 1 — Konsep
VA
Variabel Acak
Membedakan variabel acak diskrit vs kontinu dan menyusun distribusi probabilitasnya dari kasus bisnis nyata.
Capaian 2 — Keabsahan
ΣP
= 1
Memeriksa dua sifat wajib: 0 ≤ P(x) ≤ 1 dan ΣP(x) = 1 sebelum menghitung apa pun.
Capaian 3 — Ukuran
E,σ
Ekspektasi & Risiko
Menghitung E(X), Var(X), dan standar deviasi dari distribusi probabilitas diskrit.
Capaian 4 — Aplikasi
EMV
Keputusan & Poisson
Menerapkan EMV untuk keputusan bisnis dan Poisson untuk kejadian per satuan waktu.
Berapa "Rata-rata" Angka Lemparan Dadu?
Sebuah dadu adil punya enam mata: 1, 2, 3, 4, 5, 6 — masing-masing peluangnya 1/6. Kalau dilempar ribuan kali, berapa rata-rata angka yang muncul?
Tebakan Naluri
3?
atau 4?
Sebagian orang menebak "3" atau angka sembarang. Tapi jawabannya bukan bilangan bulat yang ada di dadu.
Jawaban Pasti
3,5
E(X) = 3,5
Padahal angka 3,5 tidak pernah muncul di dadu mana pun! Inilah kejutan pertama hari ini.
Pelajaran inti: Nilai harapan adalah rata-rata jangka panjang, bukan hasil yang pasti terjadi. Hari ini kita belajar menghitung angka semacam ini untuk keputusan bisnis sungguhan — ekspansi usaha, investasi saham, dan risiko operasional.
Blok 1 dari 4
Variabel Acak & Distribusi Probabilitas
Apa itu variabel acak, bedanya diskrit dan kontinu, lalu cara menulis dan memeriksa distribusi probabilitas yang sah.
Apa Itu Variabel Acak (Random Variable)?
Definisi: Variabel acak adalah aturan yang memberikan satu angka untuk setiap hasil yang mungkin dari sebuah percobaan acak. Biasanya dilambangkan huruf besar X; nilai spesifiknya huruf kecil x.
Contoh Bisnis
X
Variabel Acak
X = jumlah produk terjual per hari
X = banyak nasabah antre di teller
X = jumlah komplain ke call center
Bukan Variabel Acak
≠
Bukan Angka
"Warna mobil" atau "nama pelanggan" — bukan angka. Variabel acak selalu menghasilkan bilangan, bukan kategori atau nama.
Dua Jenis Variabel Acak: Diskrit vs Kontinu
Aspek
Diskrit
Kontinu
Cara mendapat nilai
Dicacah (dihitung satu-satu)
Diukur (bisa sepersekian)
Nilai yang mungkin
Terpisah-pisah: 0, 1, 2, …
Tak terhitung dalam suatu rentang
Contoh bisnis
Jumlah unit terjual, banyak komplain, jumlah cacat produk
Berat produk, waktu antre, suhu, nilai kurs rupiah
Hari ini fokus kita variabel acak DISKRIT — yang dicacah. Variabel kontinu (waktu, berat, kurs) dipelajari di pertemuan berikutnya.
Awas miskonsepsi: Diskrit bisa tak terhingga banyaknya nilai (mis. Poisson: 0, 1, 2, 3, …). Pembedanya bukan "banyak vs sedikit", tetapi dicacah vs diukur.
Distribusi Probabilitas Diskrit
Distribusi probabilitas = daftar lengkap semua nilai x yang mungkin beserta peluangnya P(x). Ini seperti "kartu identitas" lengkap sebuah variabel acak.
x (jumlah gambar, 2 koin)
0
1
2
Σ
P(x)
1/4 = 0,25
2/4 = 0,50
1/4 = 0,25
1,00 ✓
Sifat 1: 0 ≤ P(x) ≤ 1 untuk setiap nilai x Sifat 2: Σ P(x) = 1 (total seluruh peluang = tepat 1)
Setiap distribusi yang sah wajib memenuhi keduanya. Peluang tak boleh negatif atau >1, dan totalnya harus pas 1 — kalau tidak, hentikan dan cari kesalahannya dulu.
Latihan Cepat: Sah atau Tidak Sah?
Kasus A — Tidak Sah
1,2
Σ P(x) = 1,2 > 1
P(x) = {0,3 ; 0,5 ; 0,4}. Jumlah = 1,2 > 1 → langgar Sifat 2. Ditolak.
Kasus B — Tidak Sah
−0,1
Ada P(x) negatif
P(x) = {0,6 ; −0,1 ; 0,5}. Ada peluang negatif → langgar Sifat 1. Ditolak.
Kasus C — Sah
1,0
Σ P(x) = 1,0 ✓
P(x) = {0,2 ; 0,3 ; 0,5}. Semua antara 0–1 dan total = 1,0. Diterima.
Sebelum menghitung E(X) atau variansi, selalu cek dua sifat dulu. Kalau distribusinya tidak sah, semua hitungan setelahnya sia-sia.
Blok 2 dari 4
Mengukur Distribusi: Nilai Harapan & Variansi
Dua angka yang meringkas seluruh distribusi — E(X) sebagai pusat (rata-rata jangka panjang) dan variansi sebagai sebaran (ukuran risiko).
E(X) = Σ x · P(x)
Nilai Harapan E(X) — Rata-rata Jangka Panjang
Berapa nilai "rata-rata" yang dihasilkan variabel acak jika percobaan diulang sangat banyak kali? Kalikan tiap nilai dengan peluangnya, lalu jumlahkan.
E(X) = μ = Σ [ x · P(x) ]
x = nilai yang mungkin · P(x) = peluangnya · μ (mu) = lambang lain untuk E(X) · setiap nilai ditimbang peluangnya (weighted average)
x (gambar, 2 koin)
P(x)
x · P(x)
0
0,25
0 × 0,25 = 0,00
1
0,50
1 × 0,50 = 0,50
2
0,25
2 × 0,25 = 0,50
Σ
1,00
E(X) = 1,00 gambar
Hitung dari Nol — HDN-1: Nilai Harapan & Risiko Proyek
Sebuah proyek investasi: rugi −Rp 100 jt (p=0,2), impas Rp 0 (p=0,3), untung Rp 200 jt (p=0,5). Hitung E(X), Var(X), dan SD.
Mengapa dikuadratkan? (1) Agar selisih positif & negatif tidak saling meniadakan. (2) Agar simpangan besar diberi "hukuman" lebih berat. Akarnya (SD) mengembalikan satuan ke ukuran asli, mis. rupiah.
Interpretasi: E(X) Bukan Hasil yang Pasti Terjadi
Dadu — E(X)
3,5
tidak pernah muncul
E(X) = 3,5 — padahal angka 3,5 tidak ada di dadu mana pun. Tapi rata-rata ribuan lemparan mendekati 3,5.
Proyek HDN-1 — E(X)
+80
juta Rp
Padahal hasil yang mungkin hanya −100, 0, atau +200. Angka 80 tidak ada dalam daftar kemungkinan!
Miskonsepsi terbesar: menganggap nilai harapan pasti terjadi. E(X) adalah rata-rata jangka panjang dari banyak pengulangan, bukan ramalan satu kejadian tunggal.
Justru di sinilah kekuatannya: asuransi, kasino, dan investor untung bukan dari satu kejadian, tetapi dari rata-rata ribuan kejadian yang menguntungkan secara ekspektasi.
Blok 3 dari 4
Keputusan Bisnis & Dua Distribusi Baku
Memakai nilai harapan untuk memilih di bawah ketidakpastian (EMV), lalu dua distribusi diskrit yang paling sering muncul: seragam dan Poisson.
Nilai Harapan Moneter (EMV) untuk Memutuskan
EMV = nilai harapan dalam satuan uang. Untuk tiap pilihan keputusan, hitung E(hasil); pilih yang EMV-nya terbaik.
EMV(keputusan) = Σ [ hasil × P(keadaan) ]
Keputusan ↓ / Keadaan →
Lesu (p=0,3)
Sedang (p=0,4)
Ramai (p=0,3)
EMV (juta Rp)
Stok banyak
−60
+40
+150
31
Stok sedikit
+10
+30
+50
28
EMV "stok banyak" = 31 > "stok sedikit" = 28 → pilih stok banyak secara nilai harapan. Namun "stok banyak" juga berisiko (rugi Rp 60 jt saat lesu) — bandingkan juga variansinya sebelum memutuskan.
Coba Sendiri: Ubah Payoff & Peluang, Lihat EMV Berubah
Atur nilai hasil dan peluang tiap keadaan untuk melihat E(X), variansi, dan EMV keputusan mana yang unggul.
Studi Kasus Indonesia: Ekspansi UMKM
Pemilik kedai kopi di Semarang menimbang membuka cabang kedua. Estimasi laba tahunan: sukses +Rp 300 jt (p=0,5), sedang +Rp 50 jt (p=0,3), gagal −Rp 150 jt (p=0,2). Bandingkan dengan tidak ekspansi (Rp 0).
Laba tetap Rp 0 — tidak ada perubahan, tidak ada pertumbuhan.
EMV buka cabang = +Rp 135 jt > 0 → secara nilai harapan, ekspansi layak. Catatan: ada peluang 20% rugi Rp 150 jt — pastikan pemilik punya dana cadangan untuk menahan skenario terburuk sebelum memutuskan ekspansi.
Imbal Hasil & Risiko Saham di Bursa Efek Indonesia
Imbal hasil setahun ke depan sebuah saham di BEI bergantung kondisi ekonomi. E(r) = imbal hasil harapan; SD(r) = risiko.
Kondisi ekonomi
P
r (%)
r · P
(r − E(r))² · P
Resesi
0,2
−10
−2,0
76,05
Normal
0,5
8
4,0
1,125
Boom
0,3
25
7,5
72,075
Σ
1,0
—
E(r) = 9,5%
Var = 149,25
Imbal Hasil Harapan
9,5%
E(r)
Risiko (SD)
12,2%
SD(r) = √149,25
Dasar trade-off risiko–imbal hasil: saham menawarkan E(r) 9,5% tetapi dengan risiko SD 12,2%. Investor membandingkan E(r) dan SD antar-saham sebelum memilih portofolio.
Distribusi Seragam Diskrit (Discrete Uniform)
Kasus paling sederhana: semua nilai punya peluang sama. Contoh sempurna: dadu adil, undian berhadiah, pemilihan sampel acak.
P(x) = 1/N untuk setiap nilai (N = banyak nilai yang mungkin)
Contoh — Dadu
1/6
P(x) tiap sisi
N = 6 → tiap sisi P(x) = 1/6 ≈ 0,167. E(X) = 3,5; Var = 35/12 ≈ 2,917; SD ≈ 1,71.
Ciri Khas
▬▬▬
Histogram Datar
Semua batang sama tinggi — tak ada nilai yang lebih mungkin dari yang lain. E(X) jatuh tepat di tengah rentang.
Seragam = "demokrasi peluang" — setiap hasil punya hak sama. Contoh nyata di Indonesia: undian berhadiah dengan tiket setara, nomor antre acak, atau pengambilan sampel acak dari daftar nasabah.
Distribusi Poisson — Kejadian per Satuan Waktu
Berapa peluang terjadi x kejadian dalam satu satuan waktu, jika rata-ratanya λ (lambda)? Mis.: komplain per hari, klaim asuransi per hari, kedatangan nasabah per jam.
Ciri khas Poisson: mean = variansi = λ. Kalau rata-rata 3 komplain/hari, variansinya juga 3 dan SD = √3 ≈ 1,73. Tidak perlu rumus variansi terpisah — ingat satu angka λ, sudah dapat keduanya.
Syarat Poisson: kejadian jarang & acak, bebas satu sama lain, dengan laju rata-rata tetap per satuan waktu.
Hitung dari Nol — HDN-2: Komplain Call Center (Poisson)
Call center menerima rata-rata λ = 3 komplain/hari. Hitung P(X=0), P(X=2), dan P(X≥1). Gunakan e−3 ≈ 0,049787.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Siapkan e−λ
e−3
0,049787
P(X = 0)
(0,049787 · 3⁰) / 0! = 0,049787 · 1 / 1
0,0498 (4,98%)
P(X = 2)
(0,049787 · 3²) / 2! = (0,049787 · 9) / 2
0,2240 (22,40%)
P(X ≥ 1)
1 − P(X=0) = 1 − 0,0498 ← trik komplemen
0,9502 (95,02%)
Interpretasi bisnis: hampir setiap hari (95%) ada minimal satu komplain; peluang hari "bersih" tanpa komplain hanya ~5%. Manajer wajib selalu siapkan staf — hari nol komplain itu langka.
Poisson di Praktik Indonesia
Klaim Asuransi (λ = 2/hari)
86,5%
P(X ≥ 1)
P(X=0) = e−2 ≈ 0,1353 (13,5%)
P(X≥1) ≈ 0,8647 (86,5%)
Var = λ = 2; SD = √2 ≈ 1,41
Dipakai aktuaris untuk menetapkan premi & cadangan klaim.
Transaksi Gagal BI-FAST (λ = 4/jam)
19,5%
P(X = 3)
P(X=3) = (e−4·4³)/3! ≈ 0,1954 (19,5%)
P(X≤1) ≈ 0,0916 (9,2%)
Tim keandalan sistem pakai Poisson untuk monitor kegagalan transaksi.
Karena mean = variansi = λ, satu angka λ sudah memberi pusat dan sebaran — model sangat ekonomis untuk aktuaris dan manajer operasi yang membutuhkan estimasi cepat.
Lima Jebakan yang Sering Membuat Salah Hitung
Jebakan 1 & 2 — Fondasi
1ΣP(x) ≠ 1 — selalu cek dua sifat distribusi sebelum menghitung apa pun.
2E(X) disangka hasil pasti — E(X) adalah rata-rata jangka panjang, boleh jatuh di antara nilai nyata (3,5; +80).
Kerjakan 5 menit. Cek ΣP(x) = 1 dulu, susun tabel, lalu hitung. Untuk Poisson, siapkan e−λ lebih dulu. Kita bahas jawaban bersama setelah selesai.
Persiapan Pertemuan Berikutnya
Hari ini Anda belajar variabel acak diskrit — yang dicacah. Pertemuan depan kita masuk variabel acak kontinu dan distribusi normal (kurva lonceng), tempat nilai harapan & variansi tetap jadi tokoh utama.
Pertemuan Depan — Kontinu & Normal
Variabel kontinu: waktu, berat, kurs
Distribusi normal & kurva lonceng
Luas di bawah kurva = peluang
Z-score: berapa SD dari rata-rata
Tugas Mandiri — Latih
HDN
1 & 2
Ulangi HDN-1 & HDN-2 dengan angka Anda sendiri sampai langkah-langkahnya terasa otomatis. Terutama: e−λ, faktorial, dan rumus variansi. Bawa kalkulator ilmiah ke kelas.
Kuasai E(X), variansi, dan Poisson malam ini. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya — Variabel Acak Kontinu & Distribusi Normal.