‹ Daftar slidePertemuan 4: Ukuran Penyebaran dan Deteksi Outlier
FEB UNDIP · Statistika Bisnis I
Statistika Bisnis I
Pertemuan 4 · Ukuran Penyebaran dan Deteksi Outlier
Rata-rata hanya menceritakan setengah kisah — hari ini kita ukur seberapa menyebar data, inti dari risiko, dan cara menangkap nilai yang menyimpang jauh.
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung ukuran penyebaran dan mengenali outlier (Sub-CPMK 1, Bagian 2). Secara rinci:
Capaian 1 — Sebaran
σ, s
Menghitung range, variansi, dan standar deviasi dari data mentah; paham beda populasi (σ²) vs sampel (s²) dan pentingnya pembagi n−1.
Capaian 2 — Risiko Relatif
CV
Menghitung dan menafsirkan koefisien variasi (CV) untuk membandingkan risiko relatif antar-aset secara adil.
Capaian 3 — Posisi & Outlier
IQR
Menentukan kuartil, IQR, pagar 1,5×IQR, menggambar boxplot, dan mengidentifikasi outlier dari satu kumpulan data.
Capaian 4 — z-score
z
Memakai z-score sebagai ukuran posisi dan alat deteksi anomali untuk membandingkan nilai lintas distribusi.
Dua Saham, Rata-rata Sama — Apa yang Membedakan?
Lihat imbal hasil bulanan dua saham. Rata-ratanya nyaris sama. Mana yang Anda pilih?
Saham Tenang
2%
rata-rata/bulan
Imbal hasil: +1%, +2%, +3%, +2%, +1%, +3%. Naik-turunnya kecil dan terkendali.
Saham Liar
3%
rata-rata/bulan
Imbal hasil: +12%, −6%, +9%, −3%, +6%, 0%. Naik-turunnya ekstrem dan tidak menentu.
Rata-rata hampir sama, tetapi "rasa"-nya jauh berbeda. Yang membedakan adalah penyebaran — dan penyebaran inilah ukuran risiko. Hari ini kita belajar mengukurnya dengan angka, bukan perasaan.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Rata-rata Saja Tak Cukup?
Dua ukuran penyebaran paling sederhana — range dan deviasi rata-rata — lalu kita lihat kelemahannya yang menuntun ke variansi.
RangeDeviasiRisiko
Range & Deviasi Rata-rata (Mean Absolute Deviation)
Range — Paling Sederhana
8
Maks − Min = 10 − 2
Range = Nilai Maks − Nilai Min. Contoh {2,4,6,8,10}: 10 − 2 = 8. Mudah, tetapi hanya memakai 2 angka & sangat peka terhadap outlier.
Deviasi Rata-rata (MAD)
2,4
MAD data {2,4,6,8,10}
Rata-rata dari |jarak tiap nilai ke rata-rata|. Contoh: x̄=6, |deviasi|=4,2,0,2,4 → MAD = 12/5 = 2,4. Memakai semua data.
MAD = Σ |x − x̄| ÷ n
Range gampang dihitung tetapi "buta" pada bentuk sebaran di tengah. MAD lebih lengkap, tetapi nilai mutlak (|…|) sulit diolah secara matematis. Solusinya: kuadratkan simpangan → lahir variansi (Bagian 2).
Bagian 2 dari 4
Variansi & Standar Deviasi
Ukuran penyebaran paling penting dalam statistik — termasuk misteri pembagi n−1 dan koefisien variasi untuk membandingkan risiko.
s = √( Σ(x − x̄)² ÷ (n−1) )
Variansi Populasi (σ²) vs Sampel (s²)
Rumusnya hampir sama — bedanya hanya pada pembagi dan siapa data yang kita pegang.
Populasi (σ²)
÷ N
Seluruh anggota
Data seluruh anggota (mis. nilai semua 40 mahasiswa kelas). σ² = Σ(x − μ)² ÷ N. Pembagi = N. (μ = rata-rata populasi.)
Sampel (s²)
÷ n−1
Sebagian anggota
Data sebagian anggota (mis. survei 100 dari jutaan konsumen). s² = Σ(x − x̄)² ÷ (n−1). Pembagi = n−1.
Di praktik bisnis, kita hampir selalu bekerja dengan sampel — mustahil mendata semua konsumen. Jadi rumus s² (pembagi n−1) adalah yang paling sering Anda pakai.
Mengapa Sampel Dibagi n−1? (Degrees of Freedom)
Bukan salah ketik. Membagi dengan n−1 membuat estimasi variansi sampel tidak bias (tidak sistematis terlalu kecil).
Intuisi "Kehilangan 1 Kebebasan"
Untuk menghitung simpangan, kita pakai x̄ yang dihitung dari data itu sendiri. Begitu x̄ ditetapkan, hanya n−1 nilai yang "bebas" — nilai ke-n sudah terpaksa supaya jumlah totalnya pas.
Analogi: diminta menyebut 5 angka ber-rata-rata 10 → 4 angka pertama bebas, angka ke-5 tidak bisa bebas.
Akibat Praktis
Membagi dengan n (bukan n−1) cenderung meremehkan variansi populasi sebenarnya.
Pembagi n−1 mengoreksinya — angka jadi sedikit lebih besar dan lebih jujur.
Untuk n besar (mis. 1.000), selisih n vs n−1 nyaris tak terasa; untuk n kecil, signifikan.
Aturan praktis: data sampel → bagi n−1; data populasi penuh → bagi N.
Standar Deviasi & Rumus Hitung (Computational Formula)
Standar deviasi = akar variansi. Satuannya sama dengan data (lebih mudah dibaca daripada variansi yang satuannya dikuadratkan).
s = √( Σ(x − x̄)² ÷ (n − 1) )
← Rumus definisi (menjelaskan makna)
s² = [ Σx² − (Σx)² ÷ n ] ÷ (n − 1)
← Rumus hitung (lebih cepat untuk data banyak)
Kedua rumus memberi hasil identik. Rumus hitung lebih cepat karena cukup menjumlahkan Σx dan Σx² sekali jalan. ⚠️ Hati-hati: Σx² ≠ (Σx)² — kuadratkan dulu vs jumlahkan dulu!
Hitung dari Nol — HDN-1: Variansi & SD Saham Blue-Chip
Imbal hasil bulanan Saham A (blue-chip, n=6): 3, 1, 2, 4, 0, 2 (%). Hitung variansi sampel & standar deviasi.
Koefisien Variasi (CV) — Risiko per Unit Imbal Hasil
Masalah: standar deviasi bersatuan, jadi tak adil membandingkan dua aset dengan rata-rata berbeda. Solusi: buat tak bersatuan — bagi SD dengan rata-rata.
CV = (s ÷ x̄) × 100%
Arti CV
%
risiko per unit imbal hasil
Berapa unit risiko (SD) untuk setiap unit imbal hasil (rata-rata). Makin kecil CV → makin efisien (risiko rendah relatif terhadap hasil).
Kapan Wajib Pakai CV
≠
rata-rata berbeda
Saat membandingkan aset dengan rata-rata berbeda atau satuan berbeda. SD saja menyesatkan; CV menyetarakan.
Jebakan klasik: "SD lebih besar = lebih berisiko." Belum tentu! Aset ber-SD besar bisa lebih efisien bila imbal hasil rata-ratanya jauh lebih tinggi. Bandingkan CV, bukan SD mentah.
Studi Kasus: Blue-Chip vs Saham Lapis Dua di BEI
Pakai HDN-1 (Saham A blue-chip) dan Saham B lapis dua. Mana yang lebih berisiko secara relatif?
Saham B punya rata-rata imbal hasil lebih tinggi (3% vs 2%), tetapi CV-nya jauh lebih besar (236,6% vs 70,7%) — artinya jauh lebih berisiko per unit imbal hasil. Investor konservatif (mis. dana pensiun) memilih Saham A: efisiensi risiko, bukan sekadar potensi untung.
Bagian 3 dari 4
Ukuran Posisi & Deteksi Outlier
Kuartil, desil, persentil, IQR, dan boxplot — alat untuk membaca sebaran sekilas dan menangkap nilai yang menyimpang.
KuartilIQRBoxplotOutlier
Kuartil, Desil, Persentil — Membagi Data Terurut
Urutkan data dari kecil ke besar, lalu potong jadi bagian sama banyak. Ukuran posisi menjawab: "nilai ini ada di peringkat mana?"
Kuartil (4 Bagian)
Q1·Q2·Q3
Q1 = 25% data di bawahnya · Q2 = median (50%) · Q3 = 75% data di bawahnya.
Desil (10 Bagian)
D1…D9
D5 = median. Contoh: D7 = nilai yang 70% data ada di bawahnya.
Persentil (100 Bagian)
P1…P99
P50 = median, P25 = Q1, P75 = Q3. Dipakai untuk rapor "peringkat persentil".
Lokasi Pₚ = (n + 1) × (p ÷ 100)
Semua satu keluarga: Q1 = P25 = D2,5. Bahasanya beda, idenya sama: bagi data terurut jadi potongan sama banyak.
IQR & Aturan Pagar 1,5 × IQR
IQR (Interquartile Range) = lebar 50% data tengah. Tahan outlier karena mengabaikan 25% ekor bawah & 25% ekor atas.
IQR = Q3 − Q1
Pagar bawah = Q1 − 1,5 × IQR · Pagar atas = Q3 + 1,5 × IQR
Aturan deteksi outlier: nilai di luar pagar (lebih kecil dari pagar bawah atau lebih besar dari pagar atas) ditandai sebagai outlier. Angka 1,5 adalah konvensi baku Tukey — bukan hukum alam, tetapi standar yang dipakai luas.
IQR sering lebih disukai daripada range/SD saat data punya outlier, karena tidak terseret nilai ekstrem.
Five-number summary: 12 · 15 · 19 · 24 · 48. Kumis atas berhenti di 26; titik outlier di 48. Selidiki — jangan langsung hapus!
Studi Kasus: Sebaran Harga Pangan Antar-Kota (Gaya Data BPS)
Tiga boxplot berdampingan — harga beras (Rp/kg) dari berbagai pasar di tiga kota. Satu gambar, satu pandang.
Tanpa membaca satu pun tabel angka, boxplot langsung menjawab: kota mana yang harganya konsisten dan di mana ada pasar menyimpang yang perlu ditindaklanjuti.
Bagian 4 dari 4
Aturan Sebaran & z-score
Aturan Empiris dan Teorema Chebyshev memberi tahu berapa banyak data dalam jangkauan SD tertentu; z-score mengukur posisi dan menangkap anomali.
z = (x − x̄) ÷ s
Aturan Empiris (68–95–99,7%) — untuk Data Berbentuk Lonceng
Jika data berdistribusi kira-kira normal (lonceng simetris), penyebarannya mengikuti pola yang sangat teratur:
±1 SD
68%
data dalam x̄ ± 1s
±2 SD
95%
data dalam x̄ ± 2s
±3 SD
99,7%
data dalam x̄ ± 3s
Contoh: Imbal hasil rata-rata 10%, SD 4% → ~95% bulan ada di rentang 2% s.d. 18%. Nilai di luar ±3 SD (<−2% atau >22%) sangat langka.
Syarat penting: aturan ini berlaku hanya bila data berbentuk lonceng. Untuk data miring atau tak diketahui bentuknya, pakai Chebyshev (slide berikut).
Teorema Chebyshev — Berlaku untuk Distribusi Apa Pun
Kalau bentuk data tidak diketahui atau bukan lonceng, Chebyshev tetap memberi jaminan minimum (lebih longgar, tetapi selalu benar).
Minimal ( 1 − 1/k² ) × 100% data berada dalam x̄ ± k·s (k > 1)
k (jumlah SD)
1 − 1/k²
Jaminan minimum
2
1 − 1/4 = 0,75
≥ 75% dalam ±2 SD
3
1 − 1/9 = 0,889
≥ 88,9% dalam ±3 SD
4
1 − 1/16 = 0,9375
≥ 93,75% dalam ±4 SD
Bandingkan dengan Empiris: untuk ±2 SD, Empiris bilang ~95% (tepat, syarat lonceng), Chebyshev menjamin ≥75% (longgar, untuk apa pun). Empiris lebih tajam, Chebyshev lebih aman.
z-score — Mengukur Posisi dalam Satuan Standar Deviasi
z-score menjawab: "sebuah nilai itu berapa standar deviasi dari rata-rata?" Tanda + berarti di atas rata-rata, − berarti di bawah.
z = (x − x̄) ÷ s (populasi: z = (x − μ) ÷ σ)
Membandingkan Skala Berbeda
z
Nilai 80 di tes (x̄=70, s=5) → z = +2,0. Nilai 85 di tes (x̄=75, s=10) → z = +1,0. Yang z = +2 lebih unggul secara relatif, walau angka mentahnya lebih kecil.
Ambang Outlier Umum
|z|>3
Banyak praktisi menandai nilai dengan |z| > 3 (lebih dari 3 SD dari rata-rata) sebagai kandidat outlier/anomali yang patut diperiksa.
z-score menyetarakan apa pun ke "bahasa standar deviasi" — itulah mengapa ia dipakai membandingkan rapor, hasil tes, sampai mendeteksi transaksi mencurigakan.
Coba Sendiri: Hitung z-score & Cek Aturan Empiris
Masukkan nilai, rata-rata, dan SD untuk melihat posisi z-score serta persentase area di bawah kurva 68-95-99,7%.
Studi Kasus: Menangkap Transaksi Anomali dengan z-score
Sistem pemantauan transaksi (gaya yang dipakai bank & PPATK untuk anti-pencucian uang) memakai z-score untuk menandai transaksi yang menyimpang jauh dari pola normal nasabah.
Pola Normal Nasabah
z = +1,0
Transaksi Rp 33 juta → wajar
Transaksi bulanan: x̄ = Rp 25 juta, s = Rp 8 juta. Transaksi Rp 33 juta → z = (33−25)/8 = +1,0. Masih dalam rentang normal.
Transaksi Mencurigakan
z = +6,9
Transaksi Rp 80 juta → DITANDAI
Transaksi Rp 80 juta → z = (80−25)/8 = +6,875 ≈ +6,9. Jauh di atas 3 SD → sistem otomatis MENANDAI untuk pemeriksaan.
z = +6,9 berarti transaksi ini hampir tujuh standar deviasi di atas kebiasaan nasabah. Sistem tidak menuduh, hanya menandai untuk ditinjau analis — statistik memberi sinyal, manusia yang memutuskan.
Enam Jebakan Saat Mengukur Penyebaran
1Salah pembagi — data sampel dibagi n, bukan n−1 → variansi bias terlalu kecil.
2Σx² vs (Σx)² — tertukar di rumus hitung → hasil ngawur. Σx² = kuadratkan dulu; (Σx)² = jumlahkan dulu.
3Bandingkan SD mentah padahal rata-ratanya beda → harus pakai CV.
4Empiris ke data miring — 68-95-99,7% hanya untuk lonceng; data miring → Chebyshev.
6Lupa urutkan sebelum cari kuartil — kuartil hanya benar pada data terurut.
Cek cepat sebelum menyerahkan jawaban: (1) pembagi n−1? · (2) Σx² vs (Σx)²? · (3) data sudah terurut?
Cheat Sheet — Ukuran Penyebaran & Posisi
Ukuran
Rumus
Untuk
Range
Maks − Min
Sebaran kasar, cepat
Deviasi rata-rata (MAD)
Σ|x − x̄| / n
Sebaran pakai semua data
Variansi sampel (s²)
Σ(x − x̄)² / (n−1)
Sebaran utama (sampel)
Standar deviasi (s)
√variansi
Sebaran satuan asli
Koef. variasi (CV)
(s / x̄) × 100%
Banding risiko relatif
IQR
Q3 − Q1
Sebaran tahan outlier
Pagar outlier
Q1 − 1,5·IQR · Q3 + 1,5·IQR
Deteksi outlier
z-score
(x − x̄) / s
Posisi & anomali
Aturan sebaran: Empiris (68–95–99,7%, hanya lonceng) · Chebyshev (≥ 1−1/k², distribusi apa pun). Semua ukuran ini menjawab satu hal: seberapa jauh data tersebar dari pusatnya.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Variansi & CV
s, CV
7 menit
Imbal hasil bulanan reksa dana: 5, 3, 7, 4, 6 (%). Hitung rata-rata, variansi sampel, standar deviasi, dan CV. Petunjuk: buat tabel x, x−x̄, (x−x̄)²; cek Σ simpangan = 0.