stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-04
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 4: Ukuran Penyebaran dan Deteksi Outlier
FEB UNDIP · Statistika Bisnis I

Statistika Bisnis I

Pertemuan 4 · Ukuran Penyebaran dan Deteksi Outlier

Rata-rata hanya menceritakan setengah kisah — hari ini kita ukur seberapa menyebar data, inti dari risiko, dan cara menangkap nilai yang menyimpang jauh.

RPS Minggu 3 · Sub-CPMK 1 (Bagian 2) · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung ukuran penyebaran dan mengenali outlier (Sub-CPMK 1, Bagian 2). Secara rinci:

Capaian 1 — Sebaran
σ, s
Menghitung range, variansi, dan standar deviasi dari data mentah; paham beda populasi (σ²) vs sampel (s²) dan pentingnya pembagi n−1.
Capaian 2 — Risiko Relatif
CV
Menghitung dan menafsirkan koefisien variasi (CV) untuk membandingkan risiko relatif antar-aset secara adil.
Capaian 3 — Posisi & Outlier
IQR
Menentukan kuartil, IQR, pagar 1,5×IQR, menggambar boxplot, dan mengidentifikasi outlier dari satu kumpulan data.
Capaian 4 — z-score
z
Memakai z-score sebagai ukuran posisi dan alat deteksi anomali untuk membandingkan nilai lintas distribusi.

Dua Saham, Rata-rata Sama — Apa yang Membedakan?

Lihat imbal hasil bulanan dua saham. Rata-ratanya nyaris sama. Mana yang Anda pilih?

Saham Tenang
2%
rata-rata/bulan
Imbal hasil: +1%, +2%, +3%, +2%, +1%, +3%. Naik-turunnya kecil dan terkendali.
Saham Liar
3%
rata-rata/bulan
Imbal hasil: +12%, −6%, +9%, −3%, +6%, 0%. Naik-turunnya ekstrem dan tidak menentu.
Rata-rata hampir sama, tetapi "rasa"-nya jauh berbeda. Yang membedakan adalah penyebaran — dan penyebaran inilah ukuran risiko. Hari ini kita belajar mengukurnya dengan angka, bukan perasaan.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Rata-rata
Saja Tak Cukup?
Dua ukuran penyebaran paling sederhana — range dan deviasi rata-rata — lalu kita lihat kelemahannya yang menuntun ke variansi.
Range Deviasi Risiko

Range & Deviasi Rata-rata (Mean Absolute Deviation)

Range — Paling Sederhana
8
Maks − Min = 10 − 2
Range = Nilai Maks − Nilai Min. Contoh {2,4,6,8,10}: 10 − 2 = 8. Mudah, tetapi hanya memakai 2 angka & sangat peka terhadap outlier.
Deviasi Rata-rata (MAD)
2,4
MAD data {2,4,6,8,10}
Rata-rata dari |jarak tiap nilai ke rata-rata|. Contoh: x̄=6, |deviasi|=4,2,0,2,4 → MAD = 12/5 = 2,4. Memakai semua data.
MAD = Σ |x − x̄| ÷ n
Range gampang dihitung tetapi "buta" pada bentuk sebaran di tengah. MAD lebih lengkap, tetapi nilai mutlak (|…|) sulit diolah secara matematis. Solusinya: kuadratkan simpangan → lahir variansi (Bagian 2).
Bagian 2 dari 4
Variansi &
Standar Deviasi
Ukuran penyebaran paling penting dalam statistik — termasuk misteri pembagi n−1 dan koefisien variasi untuk membandingkan risiko.
s = √( Σ(x − x̄)² ÷ (n−1) )

Variansi Populasi (σ²) vs Sampel (s²)

Rumusnya hampir sama — bedanya hanya pada pembagi dan siapa data yang kita pegang.

Populasi (σ²)
÷ N
Seluruh anggota
Data seluruh anggota (mis. nilai semua 40 mahasiswa kelas). σ² = Σ(x − μ)² ÷ N. Pembagi = N. (μ = rata-rata populasi.)
Sampel (s²)
÷ n−1
Sebagian anggota
Data sebagian anggota (mis. survei 100 dari jutaan konsumen). s² = Σ(x − x̄)² ÷ (n−1). Pembagi = n−1.
Di praktik bisnis, kita hampir selalu bekerja dengan sampel — mustahil mendata semua konsumen. Jadi rumus s² (pembagi n−1) adalah yang paling sering Anda pakai.

Mengapa Sampel Dibagi n−1? (Degrees of Freedom)

Bukan salah ketik. Membagi dengan n−1 membuat estimasi variansi sampel tidak bias (tidak sistematis terlalu kecil).

Intuisi "Kehilangan 1 Kebebasan"

Untuk menghitung simpangan, kita pakai yang dihitung dari data itu sendiri. Begitu x̄ ditetapkan, hanya n−1 nilai yang "bebas" — nilai ke-n sudah terpaksa supaya jumlah totalnya pas.

Analogi: diminta menyebut 5 angka ber-rata-rata 10 → 4 angka pertama bebas, angka ke-5 tidak bisa bebas.

Akibat Praktis

Membagi dengan n (bukan n−1) cenderung meremehkan variansi populasi sebenarnya.

Pembagi n−1 mengoreksinya — angka jadi sedikit lebih besar dan lebih jujur.

Untuk n besar (mis. 1.000), selisih n vs n−1 nyaris tak terasa; untuk n kecil, signifikan.

Aturan praktis: data sampel → bagi n−1; data populasi penuh → bagi N.

Standar Deviasi & Rumus Hitung (Computational Formula)

Standar deviasi = akar variansi. Satuannya sama dengan data (lebih mudah dibaca daripada variansi yang satuannya dikuadratkan).

s = √( Σ(x − x̄)² ÷ (n − 1) )
← Rumus definisi (menjelaskan makna)
s² = [ Σx² − (Σx)² ÷ n ] ÷ (n − 1)
← Rumus hitung (lebih cepat untuk data banyak)
Kedua rumus memberi hasil identik. Rumus hitung lebih cepat karena cukup menjumlahkan Σx dan Σx² sekali jalan. ⚠️ Hati-hati: Σx²(Σx)² — kuadratkan dulu vs jumlahkan dulu!

Hitung dari Nol — HDN-1: Variansi & SD Saham Blue-Chip

Imbal hasil bulanan Saham A (blue-chip, n=6): 3, 1, 2, 4, 0, 2 (%). Hitung variansi sampel & standar deviasi.

x (%)x − x̄ (x̄ = 2)(x − x̄)²
3+11
1−11
200
4+24
0−24
200
Σ = 12Σ = 0 ✓Σ = 10
x̄ = 12/6 = 2% · s² = 10 ÷ (6−1) = 2,00 · s = √2,00 = 1,41%. Cek: kolom simpangan jumlahnya 0 — bukti rata-rata benar.

Koefisien Variasi (CV) — Risiko per Unit Imbal Hasil

Masalah: standar deviasi bersatuan, jadi tak adil membandingkan dua aset dengan rata-rata berbeda. Solusi: buat tak bersatuan — bagi SD dengan rata-rata.

CV = (s ÷ x̄) × 100%
Arti CV
%
risiko per unit imbal hasil
Berapa unit risiko (SD) untuk setiap unit imbal hasil (rata-rata). Makin kecil CV → makin efisien (risiko rendah relatif terhadap hasil).
Kapan Wajib Pakai CV
rata-rata berbeda
Saat membandingkan aset dengan rata-rata berbeda atau satuan berbeda. SD saja menyesatkan; CV menyetarakan.
Jebakan klasik: "SD lebih besar = lebih berisiko." Belum tentu! Aset ber-SD besar bisa lebih efisien bila imbal hasil rata-ratanya jauh lebih tinggi. Bandingkan CV, bukan SD mentah.

Studi Kasus: Blue-Chip vs Saham Lapis Dua di BEI

Pakai HDN-1 (Saham A blue-chip) dan Saham B lapis dua. Mana yang lebih berisiko secara relatif?

Saham A — Blue-Chip
70,7%
CV Saham A
Rata-rata = 2%; s ≈ 1,41%. CV = (1,41 ÷ 2) × 100% = 70,71%.
Saham B — Lapis Dua
236,6%
CV Saham B
Imbal hasil: 12, −6, 9, −3, 6, 0 (%). Rata-rata = 3%; s ≈ 7,10%. CV = (7,10 ÷ 3) × 100% = 236,64%.
Saham B punya rata-rata imbal hasil lebih tinggi (3% vs 2%), tetapi CV-nya jauh lebih besar (236,6% vs 70,7%) — artinya jauh lebih berisiko per unit imbal hasil. Investor konservatif (mis. dana pensiun) memilih Saham A: efisiensi risiko, bukan sekadar potensi untung.
Bagian 3 dari 4
Ukuran Posisi &
Deteksi Outlier
Kuartil, desil, persentil, IQR, dan boxplot — alat untuk membaca sebaran sekilas dan menangkap nilai yang menyimpang.
Kuartil IQR Boxplot Outlier

Kuartil, Desil, Persentil — Membagi Data Terurut

Urutkan data dari kecil ke besar, lalu potong jadi bagian sama banyak. Ukuran posisi menjawab: "nilai ini ada di peringkat mana?"

Kuartil (4 Bagian)
Q1·Q2·Q3
Q1 = 25% data di bawahnya · Q2 = median (50%) · Q3 = 75% data di bawahnya.
Desil (10 Bagian)
D1…D9
D5 = median. Contoh: D7 = nilai yang 70% data ada di bawahnya.
Persentil (100 Bagian)
P1…P99
P50 = median, P25 = Q1, P75 = Q3. Dipakai untuk rapor "peringkat persentil".
Lokasi Pₚ = (n + 1) × (p ÷ 100)
Semua satu keluarga: Q1 = P25 = D2,5. Bahasanya beda, idenya sama: bagi data terurut jadi potongan sama banyak.

IQR & Aturan Pagar 1,5 × IQR

IQR (Interquartile Range) = lebar 50% data tengah. Tahan outlier karena mengabaikan 25% ekor bawah & 25% ekor atas.

IQR = Q3 − Q1
Pagar bawah = Q1 − 1,5 × IQR  ·  Pagar atas = Q3 + 1,5 × IQR
Aturan deteksi outlier: nilai di luar pagar (lebih kecil dari pagar bawah atau lebih besar dari pagar atas) ditandai sebagai outlier. Angka 1,5 adalah konvensi baku Tukey — bukan hukum alam, tetapi standar yang dipakai luas.

IQR sering lebih disukai daripada range/SD saat data punya outlier, karena tidak terseret nilai ekstrem.

Boxplot & Ringkasan Lima-Angka (Five-Number Summary)

Boxplot adalah "potret" sebaran data dalam satu gambar — dibangun dari lima angka kunci: Min · Q1 · Median · Q3 · Maks.

Anatomi Boxplot
  • Kotak = Q1 sampai Q3 (lebar = IQR)
  • Garis dalam kotak = median (Q2)
  • Kumis (whisker) = ke data terjauh dalam pagar
  • Titik di luar kumis = outlier
Apa yang Dibaca Sekilas
  • Letak median → data simetris/miring
  • Panjang kotak → sebaran data tengah
  • Panjang kumis → ekor distribusi
  • Ada/tidaknya titik outlier
MinQ1MedianQ3Maks (dalam pagar)Outlierkumis bawahkumis atas← IQR →

Coba Sendiri: Bandingkan Variansi, IQR, dan Boxplot

Ubah sebaran data dan amati bagaimana variansi/SD, kuartil, serta bentuk boxplot berubah bersamaan.

Hitung dari Nol — HDN-2: Outlier Penjualan Harian

Penjualan harian (unit), n=11: 18, 14, 22, 16, 12, 26, 20, 15, 24, 19, 48. Cari Q1, Q3, IQR, pagar, outlier.

LangkahPerhitunganNilai
Urutkan (n=11)12, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 22, 24, 26, 48Median = data ke-6 = 19
Lokasi Q1(11+1) × 0,25 = posisi ke-3Q1 = 15
Lokasi Q3(11+1) × 0,75 = posisi ke-9Q3 = 24
IQR24 − 159
Pagar bawah15 − 1,5 × 9 = 15 − 13,51,5
Pagar atas24 + 1,5 × 9 = 24 + 13,537,5
Outlier?48 > 37,5 → ya48 = OUTLIER
Five-number summary: 12 · 15 · 19 · 24 · 48. Kumis atas berhenti di 26; titik outlier di 48. Selidiki — jangan langsung hapus!

Studi Kasus: Sebaran Harga Pangan Antar-Kota (Gaya Data BPS)

Tiga boxplot berdampingan — harga beras (Rp/kg) dari berbagai pasar di tiga kota. Satu gambar, satu pandang.

14.00013.00012.00011.000Kota APasokan stabilKota BPasokan beragamoutlierKota CAda pasar harga melonj.
Tanpa membaca satu pun tabel angka, boxplot langsung menjawab: kota mana yang harganya konsisten dan di mana ada pasar menyimpang yang perlu ditindaklanjuti.
Bagian 4 dari 4
Aturan Sebaran & z-score
Aturan Empiris dan Teorema Chebyshev memberi tahu berapa banyak data dalam jangkauan SD tertentu; z-score mengukur posisi dan menangkap anomali.
z = (x − x̄) ÷ s

Aturan Empiris (68–95–99,7%) — untuk Data Berbentuk Lonceng

Jika data berdistribusi kira-kira normal (lonceng simetris), penyebarannya mengikuti pola yang sangat teratur:

±1 SD
68%
data dalam x̄ ± 1s
±2 SD
95%
data dalam x̄ ± 2s
±3 SD
99,7%
data dalam x̄ ± 3s

Contoh: Imbal hasil rata-rata 10%, SD 4% → ~95% bulan ada di rentang 2% s.d. 18%. Nilai di luar ±3 SD (<−2% atau >22%) sangat langka.

Syarat penting: aturan ini berlaku hanya bila data berbentuk lonceng. Untuk data miring atau tak diketahui bentuknya, pakai Chebyshev (slide berikut).

Teorema Chebyshev — Berlaku untuk Distribusi Apa Pun

Kalau bentuk data tidak diketahui atau bukan lonceng, Chebyshev tetap memberi jaminan minimum (lebih longgar, tetapi selalu benar).

Minimal ( 1 − 1/k² ) × 100% data berada dalam x̄ ± k·s   (k > 1)
k (jumlah SD)1 − 1/k²Jaminan minimum
21 − 1/4 = 0,75≥ 75% dalam ±2 SD
31 − 1/9 = 0,889≥ 88,9% dalam ±3 SD
41 − 1/16 = 0,9375≥ 93,75% dalam ±4 SD
Bandingkan dengan Empiris: untuk ±2 SD, Empiris bilang ~95% (tepat, syarat lonceng), Chebyshev menjamin ≥75% (longgar, untuk apa pun). Empiris lebih tajam, Chebyshev lebih aman.

z-score — Mengukur Posisi dalam Satuan Standar Deviasi

z-score menjawab: "sebuah nilai itu berapa standar deviasi dari rata-rata?" Tanda + berarti di atas rata-rata, − berarti di bawah.

z = (x − x̄) ÷ s    (populasi: z = (x − μ) ÷ σ)
Membandingkan Skala Berbeda
z
Nilai 80 di tes (x̄=70, s=5) → z = +2,0. Nilai 85 di tes (x̄=75, s=10) → z = +1,0. Yang z = +2 lebih unggul secara relatif, walau angka mentahnya lebih kecil.
Ambang Outlier Umum
|z|>3
Banyak praktisi menandai nilai dengan |z| > 3 (lebih dari 3 SD dari rata-rata) sebagai kandidat outlier/anomali yang patut diperiksa.
z-score menyetarakan apa pun ke "bahasa standar deviasi" — itulah mengapa ia dipakai membandingkan rapor, hasil tes, sampai mendeteksi transaksi mencurigakan.

Coba Sendiri: Hitung z-score & Cek Aturan Empiris

Masukkan nilai, rata-rata, dan SD untuk melihat posisi z-score serta persentase area di bawah kurva 68-95-99,7%.

Studi Kasus: Menangkap Transaksi Anomali dengan z-score

Sistem pemantauan transaksi (gaya yang dipakai bank & PPATK untuk anti-pencucian uang) memakai z-score untuk menandai transaksi yang menyimpang jauh dari pola normal nasabah.

Pola Normal Nasabah
z = +1,0
Transaksi Rp 33 juta → wajar
Transaksi bulanan: x̄ = Rp 25 juta, s = Rp 8 juta. Transaksi Rp 33 juta → z = (33−25)/8 = +1,0. Masih dalam rentang normal.
Transaksi Mencurigakan
z = +6,9
Transaksi Rp 80 juta → DITANDAI
Transaksi Rp 80 juta → z = (80−25)/8 = +6,875 ≈ +6,9. Jauh di atas 3 SD → sistem otomatis MENANDAI untuk pemeriksaan.
z = +6,9 berarti transaksi ini hampir tujuh standar deviasi di atas kebiasaan nasabah. Sistem tidak menuduh, hanya menandai untuk ditinjau analis — statistik memberi sinyal, manusia yang memutuskan.

Enam Jebakan Saat Mengukur Penyebaran

1 Salah pembagi — data sampel dibagi n, bukan n−1 → variansi bias terlalu kecil.
2 Σx² vs (Σx)² — tertukar di rumus hitung → hasil ngawur. Σx² = kuadratkan dulu; (Σx)² = jumlahkan dulu.
3 Bandingkan SD mentah padahal rata-ratanya beda → harus pakai CV.
4 Empiris ke data miring — 68-95-99,7% hanya untuk lonceng; data miring → Chebyshev.
5 Hapus outlier otomatis — outlier kadang justru informasi terpenting (fraud, krisis, peluang). Selidiki dulu!
6 Lupa urutkan sebelum cari kuartil — kuartil hanya benar pada data terurut.
Cek cepat sebelum menyerahkan jawaban: (1) pembagi n−1? · (2) Σx² vs (Σx)²? · (3) data sudah terurut?

Cheat Sheet — Ukuran Penyebaran & Posisi

UkuranRumusUntuk
RangeMaks − MinSebaran kasar, cepat
Deviasi rata-rata (MAD)Σ|x − x̄| / nSebaran pakai semua data
Variansi sampel (s²)Σ(x − x̄)² / (n−1)Sebaran utama (sampel)
Standar deviasi (s)√variansiSebaran satuan asli
Koef. variasi (CV)(s / x̄) × 100%Banding risiko relatif
IQRQ3 − Q1Sebaran tahan outlier
Pagar outlierQ1 − 1,5·IQR  ·  Q3 + 1,5·IQRDeteksi outlier
z-score(x − x̄) / sPosisi & anomali
Aturan sebaran: Empiris (68–95–99,7%, hanya lonceng) · Chebyshev (≥ 1−1/k², distribusi apa pun). Semua ukuran ini menjawab satu hal: seberapa jauh data tersebar dari pusatnya.

Latihan & Diskusi Kelas

Latihan 1 — Variansi & CV
s, CV
7 menit
Imbal hasil bulanan reksa dana: 5, 3, 7, 4, 6 (%). Hitung rata-rata, variansi sampel, standar deviasi, dan CV. Petunjuk: buat tabel x, x−x̄, (x−x̄)²; cek Σ simpangan = 0.
Latihan 2 — Outlier & Boxplot
IQR
7 menit
Jam lembur 9 karyawan: 2, 3, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 20. Tentukan Q1, Q3, IQR, pagar 1,5×IQR, dan identifikasi outlier. Petunjuk: urutkan dulu!
Langkah disiplin: untuk variansi buat tabel & cek jumlah simpangan = 0; untuk boxplot urutkan dulu, lalu pagar. Kunci ada di Lampiran B materi kuliah.

Persiapan Pertemuan 5 — Konsep Peluang

Hari ini Anda menguasai ukuran penyebaran & deteksi outlier — pelengkap ukuran pemusatan minggu lalu. Bersama, keduanya melukiskan data secara utuh.

Pertemuan 5 — Peluang (Probabilitas)

Dari mendeskripsikan data → ke mengukur ketidakpastian. Konsep peluang melandasi distribusi normal & z-score yang baru Anda kenal hari ini.

Bawa kalkulator ke kelas berikutnya.

Tugas Mandiri — Latih
SD & CV
pilih saham/reksa dana
Ambil 1 saham/reksa dana favorit, kumpulkan ~6 imbal hasil bulanan, hitung sendiri SD & CV-nya. Bandingkan dengan aset lain!
Kuasai standar deviasi, CV, IQR, dan z-score malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 5 — Konsep Peluang!