‹ Daftar slidePertemuan 2: Konsep dan Triple Bottom Line (Elkington, Emerson, Friedman vs Freeman)
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Konsep & Triple Bottom Line
Social Enterprise Management — S1 Manajemen FEB UNDIP
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 2: menjelaskan konsep triple bottom line dan teori nilai terpadu SE. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai.
Jam ke-1 (50 menit)
Triple Bottom Line Elkington (1994) — profit, people, planet
Blended Value Emerson (2003) — nilai terintegrasi
Debat Friedman vs Freeman — shareholder vs stakeholder
Jam ke-2 (50 menit)
Kerangka pengukuran dampak: IRIS, GIIRS, SASB
Latihan: skor TBL tiga organisasi hipotetis
Persiapan P3 (Model Bisnis SE & BMC)
Posisi dalam alur: kerangka teoretis P2 → operasional P3 (BMC) → P5 (Keuangan) → P10 (Pengukuran Dampak).
Mengapa SE Butuh Kerangka Teoretis: Mendobrak "Win-Win"
Banyak diskusi SE berhenti di klaim "win-win" tanpa struktur — padahal trade-off nyata harus dikelola dengan kerangka eksplisit.
Analogi Tinggi Gedung
~3 Lantai
Profit (lt.1) + People (lt.2) + Planet (lt.3) — TBL bukan satu lantai, tapi tiga
Estimasi CSR Global
~USD 25 M+
Belanja CSR korporasi global (~2023, dihedge); sering tanpa pengukuran dampak terstruktur
Pertanyaan pemantik: kalau SE bilang "dampak sosial + profit sekaligus", bagaimana kita tahu keduanya benar-benar dicapai, bukan sekadar klaim retoris?
Bagian 1 · 1/4
Triple Bottom Line (Elkington 1994)
Diskusi kelas: sebutkan satu perusahaan Indonesia yang Anda anggap menerapkan TBL dengan baik. Apa buktinya?
TBL: Profit, People, Planet
Triple Bottom Line (Elkington, Cannibals with Forks, 1997; konsep 1994) mengusulkan kinerja organisasi diukur di tiga dimensi: profit (ekonomi), people (sosial), planet (lingkungan).
PROFIT (Ekonomi)
Laba bersih, ROI, cashflow, sustainability finansial
PEOPLE (Sosial)
Dampak ke komunitas, karyawan, supply chain, fairness
PLANET (Lingkungan)
Jejak karbon, air, limbah, biodiversitas, energi
TBL bukan tiga tujuan terpisah — ia menuntut integrasi ketiganya dalam setiap keputusan strategis.
Tiga Komponen TBL dalam Praktik: Analogi Indonesia
Mari kita operasionalkan TBL ke contoh konkret di Indonesia.
Dimensi
Indikator Umum
Contoh Operasional SE Indonesia
PROFIT
Laba bersih, revenue growth, cost ratio
Rumah Energi: penjualan unit biogas + carbon credit
PEOPLE
Jumlah beneficiary, job created, Gaji Layak
Dompet Dhuafa: jutaan dhuafa terbantu per tahun
PLANET
CO2 reduksi, energi terbarukan, waste reduction
Rumah Energi: ribuan ton CO2 reduksi via biogas
Integrasi
Korelasi positif antar dimensi
BMC SE harus tunjukkan tiga komponen saling memperkuat
Blended Value Proposition (Emerson 2003)
Emerson melangkah lebih jauh dari TBL: ia menyatakan bahwa semua nilai — ekonomi, sosial, lingkungan — adalah satu nilai terintegrasi yang tidak dapat dipisahkan.
Blended Value = f(Ekonomi, Sosial, Lingkungan) — tidak dapat dipisahkan
Hitung dari Nol: Skor TBL Tiga SE Indonesia Hipotetis
Skenario: Tiga SE Indonesia dengan profil berbeda. SE-A: PT fokus profit dengan program CSR kecil. SE-B: Yayasan dengan donasi besar, dampak sosial tinggi, tanpa pendapatan niaga. SE-C: SE hybrid dengan 60% revenue dari penjualan, dampak sosial terukur, energi terbarukan. Skor 1-10 untuk Profit, People, Planet masing-masing SE, lalu diskusi.
SE
Profit
People
Planet
Skor Total
Implikasi
SE-A PT fokus profit
9
3
2
14
Bukan SE sejati — bisnis komersial dengan CSR
SE-B Yayasan donasi
2
9
5
16
Charity murni — bukan SE karena tidak sustainable
SE-C Hybrid 60% niaga
6
8
8
22
SE sejati — integrasi baik ketiga dimensi
Kesimpulan
SE-C = SE sejati
Hanya SE-C mencapai skor tinggi di tiga dimensi — integrasi profit-people-planet yang membuatnya SE
Bagian 2 · 2/4
Friedman vs Freeman — Latar Intelektual
Diskusi kelas: kalau Anda pendiri SE, lebih dekat dengan pandangan Friedman atau Freeman? Mengapa?
Friedman (1970): Shareholder Primacy
Milton Friedman dalam artikel terkenal "The Social Responsibility of Business is to Increase its Profits" (NYT, 1970) berargumen bahwa tanggung jawab sosial bisnis adalah menambah profit untuk shareholder.
Argumen Utama Friedman
Manajer adalah agent shareholder; tugasnya maximization profit
Donasi dengan uang perusahaan = "taxasi tanpa perwakilan"
Solusi sosial adalah tugas pemerintah & individu, bukan bisnis
Implikasi & Kritik
Implikasi: bisnis fokus profit; eksternalitas ditangani pemerintah
Kritik: asumsi pasar sempurna tidak realistis; eksternalitas sering tidak terinternalisir
Friedman bukan menolak kepedulian sosial — ia menolak bisnis (bukan individu) yang melakukan kepedulian sosial dengan uang shareholder.
Freeman (1984): Stakeholder Theory
R. Edward Freeman (Strategic Management: A Stakeholder Approach, 1984) berargumen bahwa bisnis harus melayani semua stakeholder, bukan hanya shareholder.
Argumen Utama Freeman
Bisnis adalah jaringan stakeholder: shareholder, karyawan, pelanggan, supplier, komunitas
Keputusan strategis harus mempertimbangkan semua stakeholder
Value creation terjadi melalui kolaborasi stakeholder, bukan ekstraksi
Implikasi & Kontribusi
Implikasi: bisnis punya tanggung jawab luas, triple bottom line
Kontribusi: dasar teoretis CSR, ESG, shared value (Porter & Kramer)
SE sebagai ekstrem Freeman: misi sosial jadi tujuan prim, profit instrumen
Freeman memberi dasar teoretis untuk SE: bisnis bukan hanya alat shareholder, tetapi arena kolaborasi banyak stakeholder untuk value creation bersama.
Friedman vs Freeman: Tabel Komparatif
Empat dimensi kunci yang membedakan kedua pandangan — dan di mana SE berdiri.
Dimensi
Friedman (Shareholder)
Freeman (Stakeholder)
SE (Misi Prim)
Tujuan bisnis
Profit maximization untuk shareholder
Value untuk semua stakeholder
Misi sosial sebagai tujuan prim
Manajer sebagai
Agent shareholder
Steward semua stakeholder
Steward misi sosial
Tanggung jawab sosial
Melalui profit & pajak
Direct via keputusan bisnis
Inti dari keberadaan
Profit
Tujuan akhir
Satu dari beberapa tujuan
Instrumen untuk misi
Pengukuran
Financial only
Triple Bottom Line
Impact measurement + TBL
Hitung dari Nol: Stakeholder Mapping SE Pendidikan
Skenario: SE pendidikan vokasi melayani pemuda putus sekolah, dengan pendanaan dari donatur korporasi dan individual, kemitraan dengan sekolah komunitas, dan staf profesional. Petakan 5 stakeholder utama, kepentingan mereka, dan satu konflik potensial antar stakeholder.
Stakeholder
Kepentingan
Kontribusi
Pemuda (beneficiary)
Pelatihan gratis + penempatan kerja
Partisipasi aktif, feedback
Donatur korporasi
CSR impact + brand exposure
50% pendanaan
Donatur individual
Dampak sosial + tax deduction
30% pendanaan
Sekolah komunitas (mitra)
Siswa berkualitas + revenue sharing
Lokasi, jaringan lokal
Staf profesional
Gaji layak + misi sosial
Eksekusi program
Konflik potensial: Donatur korporasi mungkin menuntut branding berlebihan (logo besar, foto) yang membuat beneficiary merasa diperalat. SE harus menavigasi tension ini dengan term sheet yang jelas tentang batas branding.
Bagian 3 · 3/4
Kerangka Pengukuran Dampak
Diskusi kelas: kalau Anda harus melaporkan dampak SE kepada donatur, metrik apa yang Anda gunakan?
IRIS, GIIRS, SASB: Tiga Kerangka Global
Tiga kerangka pengukuran dampak global yang memberi struktur operasional pada TBL dan blended value.
IRIS+ (GIIN)
IRIS+ dari Global Impact Investing Network
Katalog 500+ indikator standar dampak
Digunakan impact investor global
GIIRS (B-Lab)
GIIRS dari B-Lab, untuk rating SE & B-Corp
Skor 80+ = B-Corp certified
Fokus pada operasi & governance
SASB
SASB Sustainability Accounting Standards Board
Standar industri-spesifik (77 industri)
Untuk pelaporan ke investor publik
Untuk SE Indonesia: IRIS+ paling relevan untuk fundraising impact investor; GIIRS untuk B-Corp ambition; SASB untuk SE yang plan IPO atau pelaporan ke investor institusional.
Studi Kasus Mini: TBL di Praktik Indonesia
Tiga SE Indonesia dengan profil TBL berbeda — bagaimana mereka melaporkan dampak?
SE
Profit Strategy
People Impact
Planet Impact
Dompet Dhuafa
Anak usaha komersial + zakat-infaq
Jutaan dhuafa terbantu per tahun
Program lingkungan (penghijauan, energi)
Rumah Energi
Penjualan unit biogas + carbon credit
Ribuan keluarga desa terbantu
Inti: ribuan ton CO2 reduksi per tahun
Indonesia Mengajar
Donasi korporasi + individual
Ribuan guru muda terkirim, ratusan sekolah
Tidak eksplisit (fokus pendidikan)
Tiga pelajaran: (1) TBL dapat diadaptasi ke berbagai model SE; (2) Tidak semua SE harus punya planet kuat — fokus misi bisa spesifik; (3) Reporting TBL meningkatkan kredibilitas & akses pendanaan.
Bagian 4 · 4/4
Integrasi & Persiapan P3
Diskusi kelas: dari TBL, Blended Value, Friedman-Freeman, dan IRIS/GIIRS/SASB, mana yang paling Anda sambut sebagai lensa untuk tugas akhir business plan Anda?
Integrasi: Empat Kerangka dalam Satu Peta
Empat kerangka hari ini sebenarnya saling melengkapi — bukan pilihan salah satu.
Latar Filosofis
Friedman vs Freeman — untuk siapa bisnis dijalankan?
SE lebih dekat Freeman: misi sosial prim, profit instrumen
Kerangka Konseptual
TBL Elkington — tiga dimensi: profit, people, planet
Blended Value Emerson — integrasi nilai terpadu
Kerangka Operasional
IRIS+/GIIRS/SASB — indikator & rating konkret
P10 akan mendalami SROI untuk kuantifikasi dampak
Implementasi (P3-P14)
BMC SE (P3) — value proposition terintegrasi
Keuangan SE (P5) — dual reporting
Business Plan (P14) — impact thesis & blended value prop
Ringkasan Kunci Pertemuan 2
Triple Bottom Line
Profit, People, Planet — tiga dimensi kinerja yang harus diintegrasikan (Elkington 1994)
Blended Value
Satu nilai terintegrasi: ekonomi + sosial + lingkungan (Emerson 2003)
Friedman vs Freeman
SE lebih dekat Freeman — misi sosial prim, profit instrumen
Bawa tiga lensa ini (TBL · Blended Value · Friedman-Freeman) sebagai peta rujukan teoretis sepanjang semester.
Persiapan P3: baca Osterwalder (Business Model Generation, 2010) tentang 9 blok BMC; familiarisasi diri dengan Social Business Model Canvas (SBMC) yang akan kita bahas besok; bawa satu ide SE sederhana untuk di-mapping di BMC.
Coba Sendiri: Triple Bottom Line Scorer
Geser bobat ekonomi/sosial/lingkungan, lihat skor keseimbangan TBL usaha sosial Anda.