‹ Daftar slidePertemuan 1: Pengantar Social Enterprise Management (Definisi, Sejarah, Lanskap Indonesia)
RPS minggu 1 · 2x50 menit
Pengantar Social Enterprise Management
Social Enterprise Management — S1 Manajemen FEB UNDIP
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 1: menjelaskan perkembangan SE sebagai konsep dan praktik di Indonesia. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai sebelum meninggalkan kelas.
Jam ke-1 (50 menit)
Definisi SE (Dees 3 pilar, Yunus 2 tipe) & pembedaannya dari charity/komersial
Sejarah: Rochdale Pioneers → Grameen Bank → Yunus → Indonesia
Lanskap Indonesia: data British Council, bentuk hukum, sektor dominan
Jam ke-2 (50 menit)
Tiga contoh SE Indonesia: Dompet Dhuafa, Rumah Energi, ASYA
Trade-off klasik SE: misi vs profit,Charity vs Bisnis
Posisi kuliah dalam 14 pertemuan; persiapan P2 (Triple Bottom Line)
Posisi dalam alur 14 pertemuan: fondasi konseptual sebelum kita membahas triple bottom line (P2), model bisnis SE (P3), ide pendirian (P4), hingga business plan (P14).
Mengapa Social Enterprise Membidik Masalah yang Pasar dan Negara Tidak Pecahkan
SE bergerak di ruang antara — pasar terlalu profit-oriented untuk melayani mustahik, negara terlalu lambat untuk berinovasi.
Estimasi Jumlah SE Indonesia
~1.000+
British Council 2015 (~340 teridentifikasi); estimasi terkini ribuan (dihedge)
Pertumbuhan Ekosistem Global
~USD 700 M+
Impact investing market global ~2023 (GIIN, dihedge); tumbuh dua-digit per tahun
Pertanyaan pemantik: kalau pasar dan negara tidak mencukupi, siapa yang melayani kelompok akar rumput — dhuafa, pemuda putus sekolah, komunitas terpencil? Jawabannya: sering social enterprise.
Bagian 1 · 1/4
Definisi & Spektrum SE
Diskusi kelas: apakah Gojek dengan program Gojek bagi Indonesia dapat disebut social enterprise? Mengapa ya atau tidak?
Definisi SE: Dees 3 Pilar & Yunus 2 Tipe
Social enterprise adalah organisasi yang menggunakan pendekatan kewirausahaan untuk mengatasi masalah sosial — misi sosial sebagai tujuan primer, bukan eksternalitas. (adaptasi Dees, The Meaning of Social Entrepreneurship, 2001)
Dees — Pilar 1 Adopsi Misinya
Adopsi misi sosial sebagai tujuan utama organisaai (bukan profit maximization)
Dees — Pilar 2 Inovasi
Mengejar peluang baru, inovasi, transformasi, bukan sekadar duplicate program
Dees — Pilar 3 Keberlanjutan
Bertindak dengan disiplin keuangan & manajemen, tidak tergantung donasi
Yunus (2010) membedakan Type I (SE yang tidak laba, semua surplus untuk misi) dan Type II (SE milik investor, profit sebagian untuk misi sosial).
Spektrum SE: Charity, Hybrid, Komersial
SE tidak berdiri sendiri — ia berada dalam spektrum dari charity murni ke komersial murni, dengan hybrid di tengah.
Dimensi
Charity Murni
SE Hybrid
Bisnis Komersial
Tujuan utama
Misi sosial semata
Misi sosial + pendapatan
Profit maksimal
Sumber dana
100% donasi & grant
Campuran: penjualan + donasi
100% penjualan produk/jasa
Beneficiary
Penerima gratis
Campuran: free/sliding scale/paying
Pembeli bayar penuh
Inovasi
Rendah — tradisional
Tinggi — market discipline + mission
Sangat tinggi — kompetisi
Contoh Indonesia
Yayasan amal konvensional
Dompet Dhuafa, Rumah Energi, ASYA
Gojek, Tokopedia, BCA
Tiga Komponen Definisi Operasional: Nicholson & TEA
Untuk mengidentifikasi SE secara operasional, kita gunakan tiga komponen dari Nicholson (2006) yang diadaptasi dari Total Enterprise Architecture.
SE = MISI SOSIAL (prim) + URUSAN NIAGA (sustainable)
Hitung dari Nol: Skor SE 3 Komponen Organisasi Hipotetis
Skenario: Tiga organisasi A, B, C. A adalah yayasan amal yang 100% pendapatannya dari donasi; B adalah PT startup yang 80% pendapatannya dari penjualan, dengan program CSR yang 5% dari profit; C adalah koperasi yang 70% pendapatan dari usaha anggota dan 30% dari donasi, dengan misi pemberdayaan UMKM eksplisit di AD/ART. Beri skor masing-masing di tiga komponen SE (misi sosial prim, urusan niaga sustainable, dan keputusan: SE atau bukan).
Org
Misi Sosial Prim
Urusan Niaga Sustainable
Keputusan
A Yayasan 100% donasi
Ya (misinya sosial)
Tidak (tidak ada urusan niaga)
Bukan SE — charity murni
B PT startup 80% jualan
Tidak (misi profit; CSR 5% peripheral)
Ya (jualan kuat)
Bukan SE — bisnis komersial dengan CSR
C Koperasi 70% usaha
Ya (misi pemberdayaan UMKM di AD)
Ya (70% pendapatan dari usaha)
SE — keduanya kuat
Kesimpulan
C = SE
Hanya C memenuhi definisi operasional SE — misi sosial prim dan urusan niaga sustainable secara substantif
Bagian 2 · 2/4
Sejarah Singkat SE: Rochdale → Yunus → Indonesia
Diskusi kelas: apakah koperasi kredit di Indonesia yang sudah ada sejak kolonial dapat disebut pendahulu social enterprise? Mengapa?
Akar Sejarah SE: Empat Tonggak Kunci
Empat tonggak yang membentuk evolusi SE modern dari koperasi abad ke-19 hingga gerakan global pasca-Yunus.
Tonggak 1 & 2
Rochdale Pioneers (1844, Inggris) — 28 pekerja mendirikan koperasi konsumsi dengan prinsip demokrasi satu anggota satu suara; akar cooperative movement
Gerakan Koperasi Global (akhir abad 19-20) — Raiffeisen (koperasi kredit Jerman), Desjardins (Kanada); model bisnis untuk pemberdayaan kelompok marginal
Tonggak 3 & 4
Grameen Bank & Yunus (1976, Bangladesh) — microcredit untuk perempuan miskin tanpa agunan; Nobel Peace Prize 2006; inspirasi global microfinance
Social Enterprise Movement (2000-an) — Dees (2001), Yunus (2010), Nicholls (2006); ekosistem impact investing, B-Corp, GIIN
Pesan kunci: SE bukan tren sesaat — akarnya 180 tahun (Rochdale), tapi konsepnya kembali relevan pasca-Yunus sebagai jawaban atas kegagalan pasar dan negara dalam masalah sosial abad 21.
Konteks Indonesia: SE di Antara Yayasan, Koperasi, dan PT
Indonesia tidak punyaUU khusus SE — sebagian besar beroperasi sebagai yayasan, koperasi, atau PT dengan misi sosial eksplisit.
Bentuk Hukum 1 & 2
Yayasan (UU 16/2001 jo. 28/2004) — bentuk paling umum; Dompet Dhuafa, Indonesia Mengajar; bisa punya unit usaha
Koperasi (UU 25/1992) — bentuk SE tertua; Koperasi Kredit, Koperasi Produksi; ASYA (wakaf tunai via koperasi)
Bentuk Hukum 3 & 4
PT (UU 40/2007) — dipakai SE yang lebih komersial; Rumah Energi, Riliv; misi sosial di AD/ART
Hibrida & Belum Terdaftar — komunitas informal, asosiasi; bank sampah kampung, komunitas pendidikan
Tantangan: tidak adaUU SE nasional → bentuk hukum sering tidak fit dengan karakter SE; privasi governance dan akuntansi mengikuti bentuk hukum yang dipilih.
Studi Kasus Mini: Dompet Dhuafa, Rumah Energi, ASYA
Tiga SE Indonesia dari tiga era dan tiga model berbeda — semua mengilustrasikan prinsip SE dalam praktik.
Inklusi energi hijau: biogas, listrik mikro untuk rumah tangga desa tanpa akses
ASYA
2020
Koperasi + digital
Wakaf tunai mikro: platform online untuk wakaf tunai kecil-massal
Tiga pelajaran: (1) Bentuk hukum bisa beragam — yang penting misi sosial prim; (2) Model bisnis SE bisa evolusi dari yayasan ke koperasi digital; (3) Inovasi SE Indonesia menyeimbangkan tradisi (zakat, wakaf) dengan teknologi modern.
Bagian 3 · 3/4
Trade-off Klasik SE
Diskusi kelas: kalau SE harus memilih antara dampak sosial maksimal dan profit maksimal, mana yang Anda prioritaskan? Mengapa?
Trade-off 1: Misi vs Profit
Dilema klasik SE — saat keputusan finansial dan misi sosial berbenturan, mana yang menang?
Contoh konkret: SE pendidikan harus memutuskan apakah menerima siswa dari keluarga mampu yang bisa bayar penuh (meningkatkan profit) atau fokus pada siswa miskin yang gratis (meningkatkan dampak).
Trade-off 2: Charity vs Bisnis
Trade-off kedua: seberapa charity (tergantung donasi) versus seberapa bisnis (self-sustained)?
Lean ke Charity
Pro: dampak maksimal, biaya rendah untuk beneficiary
Kontra: rentan fluktuasi donasi; dependency
Contoh: banyak yayasan amal klasik
Lean ke Bisnis
Pro: sustainable, otonomi, scalable
Kontra: beneficiary harus bayar; mission drift risk
Contoh: SE komersial seperti Rumah Energi
Hybrid Model
Solusi: sliding scale pricing, cross-subsidy
Pro: kombinasi dampak + sustainability
Contoh: rumah sakit慈善 yang punya kelas VIP mensubsidi kelas gratis
Tidak ada posisi yang benar absolut — pilihan tergantung karakter masalah sosial, beneficiary, dan ekosistem pendanaan yang tersedia.
Hitung dari Nol: Hybrid Pricing SE Pendidikan
Skenario: SE pendidikan vokasi melayani 100 siswa per tahun. Biaya tetap Rp 500 juta/tahun, biaya variabel Rp 3 juta/siswa. Skenario pricing: 30 siswa miskin gratis, 40 siswa sliding scale bayar Rp 2 juta, 30 siswa penuh bayar Rp 8 juta. Berapa total revenue, total cost, dan surplus/defisit? Apakah model ini viable?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Revenue siswa gratis
30 × Rp 0
Rp 0
2. Revenue sliding scale
40 × Rp 2 juta
Rp 80.000.000
3. Revenue siswa penuh
30 × Rp 8 juta
Rp 240.000.000
4. Total revenue
Langkah 1 + 2 + 3
Rp 320.000.000
5. Total cost
Rp 500 juta + (100 × Rp 3 juta)
Rp 800.000.000
6. Defisit (donasi harus cover)
Rp 800 juta − Rp 320 juta
Rp 480.000.000
Kesimpulan
Defisit Rp 480 juta
Hybrid model ini butuh subsidii donasi 60% dari total cost — viable jika ada donatur institusional yang konsisten
Bagian 4 · 4/4
Membingkai Mata Kuliah & Persiapan P2
Diskusi kelas: dari empat blok hari ini (definisi, sejarah, kasus, trade-off), mana yang paling menarik bagi Anda sebagai fokus belajar semester ini?
Posisi Kuliah dalam 14 Pertemuan
Empat blok tematik yang akan kita tempuh sepanjang semester.
Blok A: Konsep Dasar (P1-P2)
P1: Pengantar SE (hari ini) — definisi, sejarah, lanskap Indonesia
P2: Konsep & triple bottom line — Elkington, Emerson, Friedman vs Freeman
Blok B: Manajemen SE (P3-P10)
P3-P4: Model bisnis & ide pendirian (BMC, design thinking)
P11: Tantangan & peluang — kebijakan, regulasi, digital
P12: Capacity building & kemitraan — McKinsey 7S, Austin
P13: Studi kasus SE Indonesia — Dompet Dhuafa, Rumah Energi, dll
Blok D: Sintesis (P14)
P14: Rencana strategis & business plan SE
Penyusunan pitch deck & tugas akhir
Ringkasan Kunci Pertemuan 1
Definisi SE
Misi sosial prim + urusan niaga sustainable (Dees + Yunus)
Akar Sejarah
Rochdale (1844) → Koperasi → Grameen (1976) → SE Movement (2000-an)
Trade-off Klasik
Misi vs Profit; Charity vs Bisnis — harus dikelola sadar, bukan diabaikan
Bawa tiga lensa ini (definisi operasional · sejarah · trade-off) sebagai peta rujukan sepanjang semester.
Persiapan P2: baca Yunus (2010) bab 1-2 tentang social business; baca Dees (2001) "The Meaning of Social Entrepreneurship"; familiarisasi diri dengan triple bottom line Elkington (1994). Bawa satu pertanyaan tentang SE yang ingin Anda dalami sepanjang semester.