Program Studi Manajemen • FEB
Seminar Pasar Modal
Pertemuan 10 — Studi Kasus: Penelitian tentang Kinerja Keuangan dan Return Saham Membedah satu tema riset klasik pasar modal secara utuh: dari rasio keuangan perusahaan sampai reaksi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) — sebagai contoh konkret sebelum Anda merakit proposal sendiri.
RPS MINGGU 11 • 2 × 50 MENIT
Selamat pagi/siang, Anda semua. Minggu lalu kita sudah melihat studi kasus riset empiris tentang saham dan obligasi secara umum; hari ini kita masuk lebih dalam ke satu tema yang paling sering dipilih mahasiswa manajemen keuangan: hubungan antara kinerja keuangan perusahaan dan return saham. Bayangkan Anda membeli saham BBCA — sebelum membeli, biasanya Anda melihat dulu laporan keuangannya, misalnya seberapa besar labanya dibanding modal sendiri. Nah, pertanyaan riset yang akan kita bedah hari ini persis itu — apakah rasio-rasio keuangan seperti itu benar-benar bisa menjelaskan naik-turunnya harga saham. Siapkan kalkulator Anda karena kita akan menghitung sendiri return saham dan rasio keuangan dari angka-angka nyata, bukan sekadar teori. Bagian 1 dari 3
Mengapa Kinerja Keuangan vs Return Saham?
Mengenal dua konsep inti sebelum masuk ke kerangka penelitian: kinerja keuangan perusahaan dan return saham investor.
Bagian pertama ini adalah fondasi. Sebelum Anda bisa merancang riset tentang kinerja keuangan dan return saham, Anda harus benar-benar paham apa yang diukur di masing-masing sisi — sisi perusahaan (kinerja keuangan) dan sisi investor (return saham). Contohnya, ketika Tokopedia atau GoTo melaporkan kinerja keuangan mereka ke publik, investor di BEI akan bereaksi dengan membeli atau menjual saham, dan reaksi itulah yang menghasilkan return. Mari kita bedah dua konsep ini satu per satu dengan angka yang bisa Anda hitung sendiri. Kinerja Keuangan: Mengukur "Kesehatan" Perusahaan Kinerja keuangan diukur lewat rasio keuangan yang dihitung dari laporan keuangan tahunan/triwulanan perusahaan yang terdaftar di BEI.
ROA (Return on Assets ) — laba bersih dibanding total aset, mengukur efisiensi penggunaan aset.ROE (Return on Equity ) — laba bersih dibanding ekuitas, mengukur imbal hasil bagi pemegang saham.NPM (Net Profit Margin ) — laba bersih dibanding penjualan.EPS (Earnings per Share ) — laba bersih dibagi jumlah lembar saham beredar.DER (Debt to Equity Ratio ) — total utang dibanding ekuitas, mengukur struktur modal.Rasio-rasio ini adalah proxy (variabel pengganti yang bisa diukur) dari kinerja keuangan yang sesungguhnya bersifat abstrak. Kinerja keuangan itu konsep yang abstrak — kita tidak bisa langsung "melihat" seberapa sehat sebuah perusahaan, sehingga peneliti memakai proxy berupa rasio keuangan yang bisa dihitung dari laporan keuangan. Misalnya ROA menunjukkan seberapa efisien manajemen PT Astra International memutar asetnya menjadi laba, sedangkan ROE menunjukkan seberapa besar imbal hasil yang dinikmati pemegang saham dari modal yang mereka setor. EPS penting karena investor ritel di aplikasi seperti Ajaib atau Stockbit sering melihat angka ini sebelum memutuskan membeli saham. Ingat, setiap rasio ini hanyalah pendekatan — bukan satu-satunya cara mengukur kinerja, sehingga peneliti perlu berhati-hati memilih rasio yang relevan dengan pertanyaan penelitiannya. Return Saham: Imbal Hasil yang Diterima Investor Return saham adalah total keuntungan (atau kerugian) yang diperoleh investor dari memegang satu saham selama periode tertentu.
Return = (P1 − P0 + Dividen) ÷ P0
Capital gain — selisih harga jual (P1) dan harga beli (P0) saham.Dividend yield — dividen tunai yang dibagikan dibanding harga beli.Harga saham BBCA (Rp9.000-an) tidak sebanding dengan saham lain (Rp300-an) — return menyamakan skala. Return dinyatakan dalam persen sehingga bisa dibandingkan antarperusahaan dan antarwaktu. Return saham adalah sisi yang dirasakan investor — bukan perusahaan. Kalau Anda membeli saham BBCA di harga Rp9.500 lalu menjualnya di Rp9.800 sambil menerima dividen, keuntungan Anda dihitung sebagai return, bukan sekadar selisih harga. Alasan memakai return, bukan harga mentah, adalah karena harga satu saham BBCA yang di kisaran Rp9.000-an tidak bisa langsung dibandingkan dengan harga saham lain yang mungkin hanya Rp300, sehingga return dalam bentuk persentase membuat perbandingan menjadi adil. Di penelitian pasar modal, return saham inilah yang biasanya menjadi variabel dependen — yang ingin kita jelaskan penyebabnya. Hitung dari Nol: Return Saham Bulanan BBCA Kasus: harga saham BBCA awal bulan Rp9.500, akhir bulan Rp9.800, dan perusahaan membagikan dividen tunai Rp50 per lembar pada bulan tersebut.
Langkah Perhitungan Nilai 1. Capital gain 9.800 − 9.500 Rp300 2. Komponen dividen Dividen tunai per lembar Rp50 3. Total keuntungan 300 + 50 Rp350 4. Return (desimal) 350 ÷ 9.500 0,0368 5. Return (persen) 0,0368 × 100 3,68%
Return Saham BBCA Bulan Ini
3,68%
dari capital gain + dividen
Mari kita hitung bersama, langkah demi langkah, seperti yang akan Anda lakukan sendiri saat mengolah data skripsi nanti. Perhatikan bahwa capital gain saja hanya Rp300, tetapi begitu ditambah dividen Rp50, total keuntungan naik menjadi Rp350 — inilah pentingnya memasukkan dividen supaya perhitungan return tidak bias ke bawah. Setelah dibagi harga beli Rp9.500, kita dapatkan return sebesar 0,0368 dalam bentuk desimal, yang kalau dikalikan seratus menjadi 3,68 persen dalam sebulan. Angka semacam inilah yang nanti dikumpulkan untuk banyak perusahaan dan banyak bulan, menjadi data panel yang siap diregresikan terhadap rasio keuangan seperti ROA atau ROE. Dua Teori yang Melandasi Riset Ini Laporan keuangan yang baik adalah sinyal dari manajemen kepada investor bahwa perusahaan dalam kondisi sehat, sehingga direspons dengan kenaikan harga saham.
Contoh: laba PT Unilever Indonesia naik → investor menangkap sinyal positif → permintaan saham naik. Hipotesis pasar efisien: harga saham sudah mencerminkan seluruh informasi yang tersedia, termasuk informasi kinerja keuangan.
Implikasi: begitu laporan keuangan diumumkan, harga saham langsung menyesuaikan — bukan menunggu berbulan-bulan. Kedua teori ini menjadi justifikasi teoretis mengapa kinerja keuangan diduga memengaruhi return saham — bukan sekadar korelasi kebetulan.
Setiap riset empiris butuh landasan teori supaya hipotesisnya tidak sekadar tebakan; di tema kinerja keuangan dan return saham, dua teori yang paling sering dipakai adalah signaling theory dan efficient market hypothesis. Signaling theory menjelaskan bahwa laporan keuangan yang positif berfungsi sebagai sinyal kepada pasar — mirip ketika PT Unilever Indonesia mengumumkan laba yang meningkat dan harga sahamnya ikut terkerek naik. Sementara itu, efficient market hypothesis menjelaskan seberapa cepat sinyal itu terserap ke dalam harga — kalau pasar benar-benar efisien, reaksi harga akan terjadi hampir seketika setelah laporan diumumkan, bukan menunggu berminggu-minggu. Anda wajib mencantumkan salah satu atau kedua teori ini di bab tinjauan pustaka proposal Anda supaya hipotesis punya pijakan yang kuat. Studi Kasus: Kerangka Konseptual Riset Contoh riset: "Pengaruh ROA, ROE, dan EPS terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di BEI".
Variabel Independen ROA ROE EPS Variabel Dependen Return Saham Kontrol: Ukuran Perusahaan, DER Ini adalah bentuk paling khas kerangka konseptual pada riset tema kinerja keuangan dan return saham — tiga rasio profitabilitas sebagai variabel independen di sebelah kiri, return saham sebagai variabel dependen di sebelah kanan, dan garis panah di tengah menunjukkan arah pengaruh yang dihipotesiskan. Perhatikan kotak putus-putus di bawah — itu adalah variabel kontrol seperti ukuran perusahaan dan DER, yang dimasukkan supaya pengaruh ROA, ROE, dan EPS terhadap return saham tidak bias karena faktor lain yang ikut memengaruhi, misalnya perusahaan besar seperti PT Astra International secara alami punya karakteristik return yang berbeda dari perusahaan kecil. Kerangka seperti ini biasanya muncul sebagai gambar di bab dua skripsi, tepat sebelum bagian hipotesis. Nanti di pertemuan proposal, Anda akan diminta menggambar kerangka serupa untuk topik Anda sendiri. Bagian 2 dari 3
Merancang Model dan Hipotesis
Dari kerangka konseptual menjadi model penelitian yang siap diuji dengan data.
Setelah memahami konsep dan teori di bagian pertama, sekarang kita masuk ke bagian yang lebih teknis: bagaimana kerangka konseptual tadi diterjemahkan menjadi model penelitian yang bisa diuji dengan data nyata, lengkap dengan hipotesis yang terukur. Bagian ini penting karena inilah yang akan Anda tulis di bab tiga proposal — bukan sekadar cerita, tetapi rumusan yang bisa diuji secara statistik. Kita akan pakai contoh kasus kinerja keuangan-return saham yang sama supaya alurnya konsisten dan mudah diikuti. Menyusun Model Penelitian Model penelitian menerjemahkan kerangka konseptual menjadi persamaan yang bisa diuji secara statistik.
Returnit = α + β1 ROAit + β2 ROEit + β3 EPSit + β4 DERit + εit
i, t — perusahaan ke-i, tahun/periode ke-t (data panel).α — konstanta; β — koefisien pengaruh tiap variabel.ε — error term, faktor lain yang tidak dimodelkan.Menggabungkan banyak perusahaan (cross-section) dan banyak tahun (time series). Contoh: 40 perusahaan manufaktur BEI × 5 tahun = 200 observasi. Model penelitian adalah jembatan antara gambar kerangka konseptual dan analisis data — di sinilah setiap variabel yang tadi Anda gambarkan diterjemahkan menjadi simbol dalam persamaan regresi. Perhatikan subskrip i dan t: itu menandakan bahwa data yang dipakai adalah data panel, gabungan antarperusahaan seperti PT Astra International dan PT Indofood, dan antarwaktu, misalnya lima tahun berturut-turut. Beta satu sampai beta empat adalah angka yang nanti dihasilkan dari pengolahan data — itulah yang akan menjawab apakah ROA benar-benar memengaruhi return saham secara signifikan. Bentuk model seperti ini akan Anda pelajari lebih dalam tekniknya di mata kuliah Ekonometrika atau Analisis Data Panel, tetapi konsep dasarnya harus sudah Anda pahami sejak menyusun proposal. Hitung dari Nol: ROA dan ROE dari Laporan Keuangan Kasus: PT Maju Bersama Tbk melaporkan laba bersih Rp120 miliar, total ekuitas Rp800 miliar, dan total aset Rp2.000 miliar.
Langkah Perhitungan Nilai 1. Ambil laba bersih dari laporan laba rugi Rp120 M 2. ROE (desimal) 120 ÷ 800 (ekuitas) 0,15 3. ROE (persen) 0,15 × 100 15% 4. ROA (desimal) 120 ÷ 2.000 (total aset) 0,06 5. ROA (persen) 0,06 × 100 6%
ROE vs ROA — PT Maju Bersama Tbk
15% | 6%
laba bersih yang sama, penyebut berbeda
Perhatikan bahwa laba bersih yang dipakai persis sama, Rp120 miliar, tetapi hasil ROE dan ROA jauh berbeda karena penyebutnya berbeda — ROE membagi dengan ekuitas yang lebih kecil, sedangkan ROA membagi dengan total aset yang lebih besar karena mencakup utang juga. Inilah sebabnya di banyak riset, ROE cenderung menghasilkan angka persentase yang lebih tinggi daripada ROA untuk perusahaan yang sama, dan mahasiswa sering keliru menyimpulkan bahwa perusahaan "lebih untung" hanya dari satu rasio saja. Ketika Anda mengolah data untuk proposal nanti, pastikan Anda tahu persis rasio mana yang Anda pakai dan mengapa — apakah Anda ingin melihat efisiensi aset (ROA) atau imbal hasil bagi pemegang saham (ROE). Latihan menghitung manual seperti ini penting supaya nanti ketika memakai software statistik, Anda tetap bisa menebak kira-kira berapa besaran yang wajar. Coba Sendiri: Bongkar ROA dan ROE ala DuPont Geser margin laba, perputaran aset, dan leverage untuk melihat bagaimana ROE terbentuk dari tiga komponen berbeda.
Mari minta satu mahasiswa maju untuk mencoba widget ini. Silakan geser margin laba bersih, lalu perhatikan bagaimana ROE ikut berubah meski perputaran aset dan leverage tetap sama. Sekarang coba naikkan leverage — perhatikan angka ROE yang melonjak padahal profitabilitas usaha sebenarnya tidak membaik, ini contoh nyata kenapa ROE tinggi tidak selalu berarti perusahaan sehat. Dekomposisi seperti ini akan berguna ketika Anda menafsirkan hasil regresi ROA/ROE terhadap return saham nanti. Merumuskan Hipotesis dari Model Setiap koefisien β dalam model diterjemahkan menjadi satu hipotesis kerja (H1, H2, dst.).
H1: ROA berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.H2: ROE berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.H3: EPS berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.H4: DER berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham.Ingat dari pertemuan 5: H1 adalah hipotesis alternatif yang diuji melalui penolakan H0 (tidak ada pengaruh) — bukan dibuktikan langsung.
Anda sudah belajar cara merumuskan H0 dan H1 di pertemuan lima; sekarang kita terapkan pada kasus nyata di mana setiap rasio keuangan mendapat satu hipotesis sendiri. Perhatikan arah hipotesis: ROA, ROE, dan EPS diduga berpengaruh positif karena secara teori kinerja yang baik menarik investor, sementara DER diduga berpengaruh negatif karena utang yang tinggi biasanya dianggap berisiko oleh investor, seperti kekhawatiran investor terhadap emiten properti yang leverage-nya tinggi. Hipotesis semacam ini nantinya diuji satu per satu memakai uji-t pada hasil regresi, dan kesimpulannya adalah "H1 diterima" atau "H1 ditolak", bukan "H1 terbukti benar secara mutlak". Kesalahan umum mahasiswa adalah menulis hipotesis tanpa arah yang jelas — selalu pastikan Anda menyebutkan apakah pengaruhnya positif atau negatif. Walkthrough: Dari Data Mentah ke Kesimpulan Studi kasus tunggal — bagaimana peneliti nyata mengolah data kinerja keuangan-return saham langkah demi langkah.
1 Unduh laporan keuangan tahunan dari situs BEI atau annual report perusahaan sampel.2 Hitung ROA, ROE, EPS, DER untuk tiap perusahaan tiap tahun.3 Kumpulkan harga saham bulanan/tahunan dan hitung return dengan rumus di Slide 5.4 Susun semua angka menjadi satu tabel data panel (perusahaan × tahun).5 Jalankan regresi panel, uji hipotesis H1–H4, lalu interpretasikan hasilnya.Mari kita bayangkan langkah demi langkah seperti peneliti sungguhan yang sedang mengerjakan skripsi tentang kinerja keuangan dan return saham perusahaan consumer goods di BEI. Langkah pertama adalah mengunduh laporan keuangan tahunan, yang sekarang bisa diakses gratis lewat situs resmi BEI atau situs investor relations perusahaan seperti Unilever Indonesia. Setelah data laporan keuangan terkumpul, peneliti menghitung rasio-rasio yang sudah kita pelajari, lalu menggabungkannya dengan data harga saham bulanan yang bisa diunduh dari Yahoo Finance atau RTI Business. Tahap paling menentukan adalah menyusun semuanya menjadi satu tabel data panel yang rapi sebelum dimasukkan ke software statistik seperti Eviews atau Stata untuk diuji — di sinilah kesabaran mengolah data benar-benar diuji. Bagian 3 dari 3
Metode Analisis dan Perangkap Riset
Teknik uji yang tepat, jebakan metodologis yang sering terlewat, dan mengapa hasil riset bisa berbeda-beda.
Di bagian terakhir ini kita masuk ke teknik analisis yang sesuai untuk tema kinerja keuangan-return saham, sekaligus perangkap-perangkap metodologis yang sering luput dari perhatian mahasiswa. Anda akan melihat bahwa riset dengan topik yang sama bisa menghasilkan kesimpulan berbeda-beda tergantung periode data, sektor perusahaan, dan cara mengukur variabel — itulah yang disebut gap literatur yang bisa Anda manfaatkan sebagai celah penelitian. Bagian ini juga menjadi jembatan menuju pertemuan sebelas tentang market microstructure dan likuiditas. Teknik Analisis: Regresi Data Panel Karena datanya menggabungkan banyak perusahaan dan banyak tahun, teknik yang lazim dipakai adalah regresi data panel.
Common Effect
Mengabaikan perbedaan antarperusahaan & waktu — jarang dipakai sendirian.
Fixed Effect
Mengakui karakteristik unik tiap perusahaan (mis. budaya PT Astra vs PT Indofood) tetap.
Random Effect
Karakteristik perusahaan dianggap acak — dipilih lewat Uji Hausman.
Pemilihan model diuji lewat Uji Chow (Common vs Fixed) dan Uji Hausman (Fixed vs Random) — bukan asal pilih.
Karena data yang kita bangun tadi berbentuk panel — banyak perusahaan dikali banyak tahun — teknik regresi biasa yang hanya satu dimensi tidak cukup, sehingga peneliti memakai regresi data panel dengan tiga pendekatan utama. Fixed effect cocok kalau kita menduga setiap perusahaan punya karakteristik unik yang tetap dari waktu ke waktu, misalnya budaya manajemen PT Astra International yang berbeda dari PT Indofood, sedangkan random effect menganggap perbedaan itu bersifat acak antarperusahaan. Pemilihan di antara ketiganya bukan selera pribadi, melainkan lewat uji statistik formal — Uji Chow untuk memilih antara common dan fixed effect, lalu Uji Hausman untuk memilih antara fixed dan random effect. Anda akan mempraktikkan uji-uji ini secara langsung di mata kuliah Analisis Data Panel atau Ekonometrika Lanjutan. Perangkap yang Sering Terlewat Laporan keuangan tahun berjalan baru terbit beberapa bulan kemudian — pasar bereaksi lebih dulu terhadap ekspektasi, bukan angka final.
Endogenitas — kinerja keuangan dan return saham bisa saling memengaruhi (return tinggi menaikkan akses modal, memperbaiki kinerja).
Multikolinearitas — ROA dan ROE sering berkorelasi tinggi karena sama-sama berasal dari laba bersih.
Periode krisis (mis. pandemi 2020) bisa membuat hubungan kinerja-return "terbalik" sementara.
Empat perangkap ini adalah yang paling sering membuat hasil riset mahasiswa dipertanyakan penguji. Yang pertama, jeda waktu — laporan keuangan tahun buku baru diumumkan sekitar Maret atau April tahun berikutnya, sehingga kalau Anda mencocokkan data secara tidak hati-hati, Anda bisa keliru mengukur reaksi pasar. Kedua, endogenitas — istilah untuk situasi ketika hubungan sebab-akibat bisa berjalan dua arah, misalnya return saham yang tinggi memudahkan perusahaan seperti Bank BCA menerbitkan saham baru dengan harga premium, yang pada gilirannya memperbaiki rasio keuangannya. Ketiga, multikolinearitas — istilah untuk gejala ketika dua variabel independen saling berkorelasi tinggi, seperti ROA dan ROE yang sama-sama berasal dari laba bersih, sehingga sulit dipisahkan pengaruh masing-masing. Terakhir, ingat bahwa periode krisis seperti pandemi COVID-19 bisa membuat pola hubungan yang biasanya positif menjadi tidak konsisten, jadi selalu periksa periode data Anda. Kenapa Hasil Riset Bisa Berbeda-beda? Tiga contoh (ilustratif) riset dengan tema serupa namun kesimpulan berbeda — inilah yang disebut gap literatur .
Studi Sampel & Periode Temuan Utama Studi A Manufaktur, 2015–2019 ROA signifikan positif terhadap return Studi B Perbankan, 2018–2022 ROA tidak signifikan; EPS signifikan positif Studi C Konsumer, 2019–2023 (masa pandemi) ROE signifikan negatif (anomali)
Perbedaan sektor, periode, dan proksi variabel inilah yang membuka celah penelitian baru bagi proposal Anda.
Tabel ini menggambarkan pola yang sangat umum di jurnal-jurnal manajemen keuangan Indonesia — topik yang sama, judul yang mirip, tetapi kesimpulan yang berbeda tergantung sektor dan periode yang diteliti. Studi pada sektor manufaktur sebelum pandemi cenderung menemukan ROA berpengaruh positif seperti dugaan teori, sedangkan studi pada sektor perbankan menemukan hasil yang berbeda karena karakteristik laporan keuangan bank memang unik. Yang paling menarik adalah studi ketiga, yang menemukan ROE justru berpengaruh negatif pada masa pandemi — kemungkinan karena investor saat itu lebih mengkhawatirkan arus kas jangka pendek dibanding profitabilitas historis. Sebagai calon peneliti, perbedaan-perbedaan seperti inilah yang harus Anda cari di bab tinjauan pustaka, karena di situlah letak "gap" atau celah yang membuat proposal Anda punya kebaruan (novelty) dibanding riset-riset sebelumnya. Rangkuman Visual: Alur Riset End-to-End Kerangka Teori Kumpulkan Data Laporan Keuangan + Harga Uji Asumsi Klasik Regresi Panel Interpre- tasi Lima kotak ini merangkum seluruh perjalanan riset kinerja keuangan-return saham yang sudah kita bahas hari ini.
Diagram ini adalah ringkasan visual dari seluruh perjalanan yang sudah kita lalui hari ini, dari kerangka teori di ujung kiri sampai interpretasi hasil di ujung kanan. Setiap kotak mewakili satu tahapan yang sudah kita bahas — mulai dari signaling theory dan efficient market hypothesis, lalu mengumpulkan data laporan keuangan dan harga saham seperti yang kita hitung di BBCA dan PT Maju Bersama tadi, kemudian menguji asumsi klasik seperti normalitas dan multikolinearitas, menjalankan regresi panel dengan fixed atau random effect, dan akhirnya menafsirkan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Cobalah membayangkan diagram serupa ini nanti dengan topik proposal Anda sendiri — bentuknya akan selalu mirip, hanya isi kotaknya yang berbeda sesuai variabel yang Anda pilih. Coba Sendiri: Susun Alur Riset Anda Sendiri Klik tiap tahap alur riset untuk melihat contoh isian dari fenomena awal sampai draf proposal jadi.
Silakan satu mahasiswa maju dan klik tahapan demi tahapan pada widget ini, mulai dari fenomena yang diamati sampai kerangka proposal yang utuh. Perhatikan bagaimana setiap tahap yang sudah kita bahas hari ini — kerangka teori, pengumpulan data, uji asumsi, regresi panel, interpretasi — punya posisinya masing-masing dalam alur besar ini. Cobalah bayangkan topik proposal Anda sendiri mengisi tiap kotak ini satu per satu. Ini menjadi bekal Anda menuju pertemuan sebelas tentang market microstructure, yang juga akan mengikuti alur riset yang sama. Latihan Kelas: Rancang Kerangka Mini Kerjakan berpasangan (10 menit), lalu satu pasangan akan diminta presentasi singkat.
Pilih dua perusahaan dari sektor berbeda yang terdaftar di BEI (mis. satu sektor perbankan, satu sektor konsumer). Tentukan 2 rasio keuangan sebagai variabel independen dan return saham sebagai variabel dependen. Gambar kerangka konseptual sederhana (kotak + panah) seperti contoh Slide 7. Rumuskan 1 hipotesis (H1) lengkap dengan arah pengaruhnya (positif/negatif). Siapkan jawaban Anda di kertas/laptop — dosen akan memanggil 2–3 pasangan secara acak untuk presentasi 2 menit.
Sekarang giliran Anda mempraktikkan apa yang sudah kita bahas — silakan berpasangan dengan teman di sebelah Anda dan pilih dua perusahaan dari sektor berbeda, misalnya Bank BRI dari sektor perbankan dan Indofood dari sektor konsumer, supaya Anda merasakan bahwa karakteristik rasio keuangan tiap sektor bisa sangat berbeda. Setelah itu, tentukan dua rasio keuangan yang menurut Anda paling relevan, gambar kerangka konseptualnya seperti contoh yang sudah kita lihat, dan rumuskan satu hipotesis lengkap dengan arah pengaruhnya. Saya akan berkeliling selama sepuluh menit untuk membantu jika ada yang kesulitan, dan setelah itu dua atau tiga pasangan akan dipanggil secara acak untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelas selama dua menit. Latihan ini penting karena bentuknya persis seperti yang akan Anda kerjakan sungguhan saat menyusun draf bab dua proposal Anda. Ringkasan Pertemuan 10 Konsep kinerja keuangan (ROA, ROE, EPS, DER) dan return saham (capital gain + dividen). Landasan teori: signaling theory dan efficient market hypothesis. Model penelitian, hipotesis H1–H4, dan teknik regresi data panel. Perangkap metodologis: lag, endogenitas, multikolinearitas, anomali krisis. Studi kasus riset market microstructure dan likuiditas pasar — tema riset lain yang bisa Anda pilih. Bawa catatan latihan hari ini — akan berguna saat menyusun bab dua proposal di Pertemuan 12. Mari kita rangkum perjalanan hari ini: kita mulai dari memahami dua konsep inti, kinerja keuangan dan return saham, lalu melihat landasan teori yang menjustifikasi hubungan keduanya, kemudian menyusun model penelitian lengkap dengan hipotesis, dan terakhir mengenali perangkap-perangkap metodologis yang sering membuat hasil riset diragukan penguji. Latihan tadi menunjukkan bahwa Anda sudah bisa mempraktikkan kerangka penelitian sederhana untuk perusahaan sungguhan, seperti Bank BRI atau Indofood. Minggu depan kita akan melihat studi kasus tema riset lain, yaitu market microstructure dan likuiditas pasar, sebagai alternatif topik bagi Anda yang mungkin kurang tertarik pada tema kinerja keuangan. Simpan baik-baik catatan dan hasil latihan hari ini karena akan langsung terpakai ketika kita mulai merakit bab pendahuluan dan tinjauan pustaka proposal Anda di Pertemuan 12. Terima Kasih Pertanyaan, keraguan, atau ide topik penelitian Anda sendiri tentang kinerja keuangan dan return saham? Mari kita diskusikan.
SAMPAI JUMPA DI PERTEMUAN 11
Terima Kasih atas partisipasi aktif Anda hari ini, terutama saat mengerjakan latihan menghitung return saham BBCA dan ROA-ROE PT Maju Bersama tadi. Sebelum kita tutup, silakan sampaikan kalau ada bagian yang masih membingungkan — misalnya soal perbedaan fixed effect dan random effect, atau soal bagaimana memilih rasio keuangan yang tepat untuk topik Anda. Kalau ada yang sudah punya bayangan topik sendiri tentang kinerja keuangan dan return saham, silakan mulai dituliskan poin-poinnya sejak sekarang supaya proses menyusun proposal di pertemuan-pertemuan berikutnya menjadi lebih ringan. Sampai jumpa minggu depan di pertemuan sebelas, kita akan membahas studi kasus market microstructure dan likuiditas pasar.