‹ Daftar slidePertemuan 14: Perilaku Keorganisasian dan Teori Organisasi Modern
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Perilaku Keorganisasian & Teori Organisasi Modern
Pertemuan 14 — Menutup Perjalanan Sejarah Pemikiran Manajemen
Menyatukan seluruh perjalanan semester — dari Taylor, Fayol, Hawthorne, hingga Drucker — ke dalam satu kerangka utuh: bagaimana perilaku manusia dan desain organisasi saling membentuk manajemen masa kini.
RPS minggu 15 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu menjelaskan keterkaitan antara perilaku individu/kelompok dan desain organisasi modern, serta memetakan keduanya pada akar sejarah pemikiran manajemen.
CAPAIAN 1 — MIKRO
Perilaku Organisasi (OB)
Memahami motivasi, dinamika kelompok, dan kepemimpinan sebagai fondasi perilaku individu dalam organisasi.
CAPAIAN 2 — MAKRO
Teori Organisasi Modern
Memahami organisasi sebagai sistem terbuka, desain struktur adaptif, dan budaya organisasi.
CAPAIAN 3 — HISTORIS
Benang Merah Sejarah
Menghubungkan OB & teori organisasi modern dengan akar pemikiran klasik yang sudah dipelajari sepanjang semester.
CAPAIAN 4 — APLIKASI
Konteks Indonesia
Menganalisis tantangan manajerial kontemporer melalui studi kasus perusahaan & organisasi Indonesia.
Mengapa Pabrik Taylor Berbeda dengan Kantor Gojek Hari Ini?
Seratus tahun lalu, Taylor mengukur gerakan tangan buruh dengan stopwatch. Hari ini, perusahaan teknologi memberi karyawan kebebasan memilih jam kerja. Apa yang berubah?
ERA MANAJEMEN SAINTIFIK
Manusia sebagai "Mesin"
Kontrol ketat, satu cara terbaik
Fokus pada efisiensi gerakan & standardisasi tugas — motivasi diasumsikan hanya soal uang.
ERA ORGANISASI MODERN
Manusia sebagai "Aset Berpikir"
Otonomi, motivasi majemuk
Fokus pada motivasi intrinsik, kerja tim lintas fungsi, dan struktur yang lentur mengikuti perubahan pasar.
Pergeseran ini bukan kebetulan — ia adalah hasil akumulasi temuan Hawthorne, Follett, Barnard, hingga Drucker yang sudah Anda pelajari sejak awal semester.
Bagian 1 dari 3
Perilaku Individu & Kelompok dalam Organisasi
Menelusuri motivasi, dinamika kelompok, dan kepemimpinan sebagai inti perilaku organisasi (Organizational Behavior/OB).
MotivasiDinamika TimKepemimpinan
Apa Itu Perilaku Organisasi (Organizational Behavior)?
Perilaku organisasi (OB) adalah bidang studi yang mempelajari pengaruh individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi, guna meningkatkan efektivitas organisasi.
OB lahir dari kritik terhadap manajemen saintifik yang mengabaikan sisi sosial-psikologis pekerja — akar historisnya ada pada gerakan hubungan manusiawi (human relations) pasca-Hawthorne.
LEVEL INDIVIDU
Persepsi & Motivasi
Bagaimana sikap, kepribadian, dan motivasi memengaruhi kinerja satu orang karyawan.
LEVEL KELOMPOK
Tim & Komunikasi
Bagaimana dinamika kelompok, konflik, dan kepemimpinan tim memengaruhi hasil kerja bersama.
LEVEL ORGANISASI
Struktur & Budaya
Bagaimana desain organisasi dan budaya perusahaan membentuk perilaku kolektif secara luas.
Evolusi Teori Motivasi: Dari Uang ke Makna
Pemahaman tentang apa yang memotivasi manusia bekerja berkembang jauh melampaui asumsi Taylor bahwa uang adalah satu-satunya pendorong.
Walkthrough: Tahapan Perkembangan Tim (Model Tuckman)
Kasus: tim baru divisi digital sebuah bank nasional dibentuk untuk meluncurkan aplikasi mobile banking dalam 6 bulan. Bagaimana tim ini berkembang?
LIMA TAHAP TUCKMAN
1. Forming: anggota tim baru saling kenal, sopan & hati-hati, peran belum jelas.
2. Storming: muncul konflik soal cara kerja — tim developer vs tim desain berbeda pendapat soal prioritas fitur.
3. Norming: tim menyepakati aturan main bersama, mulai saling percaya dan berbagi peran.
4. Performing: tim bekerja produktif & mandiri, fokus penuh menyelesaikan aplikasi tepat waktu.
5. Adjourning: setelah aplikasi diluncurkan, tim proyek dibubarkan atau dialihkan ke proyek baru.
Tim yang melewati fase storming secara sehat justru menjadi lebih solid — konflik bukan tanda kegagalan, melainkan bagian alami pematangan tim.
Coba Sendiri: Simulasikan Perjalanan Tim Lewat Lima Tahap Tuckman
Geser maju tiap tahap tim — Forming sampai Adjourning — dan amati bagaimana dinamika kekompakan serta risiko social loafing berubah di tiap fase.
Kepemimpinan: Dari "Bakat Bawaan" ke Kepemimpinan Situasional
Teori kepemimpinan juga berevolusi — dari mencari "pemimpin terlahir hebat" menuju gaya yang menyesuaikan konteks dan orang yang dipimpin.
PENDEKATAN LAMA
Teori sifat (trait): pemimpin hebat memiliki ciri bawaan (kharisma, kecerdasan).
Teori perilaku: fokus pada gaya otoriter vs demokratis (mirip pertentangan Taylor vs Follett).
PENDEKATAN MODERN
Kepemimpinan situasional: gaya menyesuaikan tingkat kematangan anak buah.
Kepemimpinan transformasional: menginspirasi visi bersama, relevan untuk startup & organisasi yang berubah cepat.
Pemimpin transformasional pada perusahaan seperti Gojek atau Bukalapak sering ditandai kemampuan menyatukan tim lintas divisi di tengah perubahan strategi yang cepat.
Bagian 2 dari 3
Dari Teori Klasik ke Teori Organisasi Modern
Menaikkan sudut pandang dari individu ke organisasi sebagai satu kesatuan: sistem terbuka, desain struktur, dan budaya.
Sistem TerbukaDesain StrukturBudaya
Peta Perjalanan: Dari Taylor hingga Teori Organisasi Modern
Teori organisasi modern bukan lahir dari ruang kosong — ia adalah akumulasi kritik & penyempurnaan atas setiap era yang sudah Anda pelajari.
Organisasi sebagai Sistem Terbuka
Berbeda dari pandangan klasik yang menutup organisasi dari lingkungan, teori organisasi modern melihat perusahaan sebagai sistem terbuka yang terus bertukar dengan lingkungannya.
INPUT
Sumber Daya
Modal, tenaga kerja, bahan baku, informasi pasar yang diserap dari lingkungan eksternal.
PROSES
Transformasi Internal
Struktur, budaya, dan perilaku organisasi mengolah input menjadi produk/jasa.
OUTPUT & UMPAN BALIK
Respons Pasar
Produk sampai ke konsumen, lalu umpan balik pasar memengaruhi input berikutnya.
Teori kontingensi menegaskan: tidak ada satu struktur terbaik untuk semua organisasi — struktur yang tepat bergantung pada ukuran, teknologi, dan ketidakpastian lingkungan (kritik langsung terhadap "satu cara terbaik" ala Taylor).
Walkthrough: Transformasi Struktur Organisasi Menuju Agile
Kasus: sebuah BUMN transportasi bertransformasi dari struktur hierarkis kaku menjadi struktur berbasis tim lintas fungsi agar mampu bersaing dengan aplikasi digital swasta.
TAHAPAN TRANSFORMASI STRUKTUR
1. Struktur awal: hierarki fungsional berlapis (mirip birokrasi Weber) — keputusan lambat, banyak persetujuan berjenjang.
2. Pemicu perubahan: pesaing digital merespons pasar dalam hitungan hari, bukan bulan.
3. Desain ulang: dibentuk tim lintas fungsi kecil (produk, teknologi, operasional) yang otonom mengambil keputusan harian.
4. Struktur baru: organisasi lebih datar (flat), lapisan manajemen menengah dikurangi, komunikasi langsung ke tim eksekusi.
5. Hasil: waktu peluncuran fitur baru turun drastis, meski butuh budaya kepercayaan & kepemimpinan yang lebih partisipatif.
Struktur datar bukan tanpa risiko — tanpa kepercayaan & kejelasan peran, ia bisa berujung kebingungan tanggung jawab.
Budaya Organisasi: Perekat yang Tidak Terlihat
Model gunung es Edgar Schein menjelaskan mengapa budaya organisasi sulit diubah hanya lewat slogan atau poster di dinding kantor.
Mengelola Perubahan: Model Tiga Tahap Kurt Lewin
Struktur baru dan budaya baru tidak bisa dipaksakan begitu saja — perubahan organisasi memerlukan proses bertahap agar tidak ditolak karyawan.
TAHAP 1
Unfreeze
Menyadarkan organisasi bahwa cara lama sudah tidak memadai — biasanya dipicu data kinerja yang menurun.
TAHAP 2
Change
Menerapkan struktur, proses, atau perilaku baru — periode paling rentan terjadi resistensi.
TAHAP 3
Refreeze
Melembagakan cara baru menjadi kebiasaan & budaya permanen, agar tidak kembali ke pola lama.
Resistensi terhadap perubahan bukan tanda karyawan "malas" — sering kali itu respons wajar atas rasa tidak aman, mirip yang dialami buruh pabrik saat manajemen saintifik pertama diperkenalkan.
Coba Sendiri: Kelola Resistensi Lewat Unfreeze-Change-Refreeze
Geser tahap perubahan organisasi — Unfreeze, Change, Refreeze — dan lihat bagaimana tingkat resistensi & stres karyawan berubah di tiap tahap.
Bagian 3 dari 3
Sintesis Semester & Relevansi Kontemporer
Menyatukan perilaku organisasi & teori organisasi, melihat studi kasus Indonesia, lalu menutup mata kuliah dengan tantangan manajerial masa kini.
Studi KasusSintesisPenutup
Studi Kasus: Transformasi Organisasi di Indonesia
Dua contoh nyata bagaimana perilaku organisasi & teori organisasi modern bekerja bersamaan dalam praktik.
GOJEK: BUDAYA & STRUKTUR AGILE
Struktur tim kecil lintas fungsi ("squad") untuk tiap fitur produk.
Budaya memberi otonomi tinggi, namun tetap menjaga visi bersama ("satu peta jalan").
Kepemimpinan transformasional untuk menyelaraskan ratusan tim kecil.
BUMN: TRANSFORMASI BUDAYA KERJA
Warisan struktur birokratis Weberian — hierarki jelas, prosedur baku.
Program "core values AKHLAK" sebagai upaya unfreeze budaya lama.
Tantangan: mengubah asumsi dasar (gunung es Schein), bukan sekadar slogan.
Baik startup maupun BUMN sama-sama membuktikan: struktur (teori organisasi) dan perilaku manusia di dalamnya (OB) harus selaras, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
Bagaimana OB & Teori Organisasi Saling Menjelaskan?
Perilaku organisasi (mikro) dan teori organisasi (makro) bukan dua bidang terpisah — keduanya saling memengaruhi dalam lingkaran sebab-akibat.
Struktur & Budaya (Teori Organisasi) → membentuk Motivasi & Perilaku (OB) → menghasilkan Kinerja & Perubahan → mendorong Desain Ulang Struktur
Contoh: struktur birokratis yang kaku (teori organisasi) cenderung menurunkan motivasi intrinsik karyawan (OB) → kinerja stagnan → memicu tekanan untuk mendesain ulang struktur menjadi lebih datar/agile.
Tantangan Manajerial Kontemporer: Menyambung ke Drucker
Melanjutkan pemikiran Drucker minggu lalu, manajer masa kini menghadapi lingkungan yang jauh lebih tidak pasti dibanding era Taylor maupun Hawthorne.
TANTANGAN 1
Kerja Jarak Jauh & Hibrida
Bagaimana membangun budaya & kepercayaan tim tanpa interaksi fisik setiap hari.
TANTANGAN 2
Kecerdasan Buatan (AI)
Bagaimana AI mengubah desain pekerjaan & menuntut keahlian baru dari pekerja pengetahuan.
Drucker memprediksi era "pekerja pengetahuan" sejak dekade 1960-an — pertanyaan besar Anda hari ini: bagaimana teori organisasi & perilaku organisasi harus beradaptasi lagi menghadapi AI & kerja hibrida?
Latihan Mandiri: Diagnosis Organisasi
Kerjakan secara individu, lalu kita bahas bersama pada 15 menit terakhir pertemuan ini — sekaligus menjadi bahan diskusi penutup mata kuliah.
KASUS: KOPERASI UMKM "MAJU BERSAMA"
Koperasi ini memiliki struktur sangat hierarkis; semua keputusan harus melalui ketua koperasi.
Anggota (karyawan) mengeluh motivasi rendah karena tidak pernah dilibatkan dalam keputusan.
Ketua ingin bertransformasi menjadi lebih partisipatif tanpa kehilangan kendali kualitas.
Tugas Anda: (1) identifikasi masalah dari sudut pandang OB (motivasi) dan teori organisasi (struktur); (2) usulkan tahapan perubahan memakai model Lewin (unfreeze-change-refreeze); (3) kaitkan usulan Anda dengan minimal satu tokoh pemikiran yang sudah dipelajari sepanjang semester.
Ringkasan Eksekutif & Penutup Semester
Poin-poin utama yang harus Anda ingat dari sesi terakhir Sejarah Pemikiran Manajemen ini:
INTISARI 1
OB & Teori Organisasi Saling Terkait
Perilaku individu/kelompok (mikro) dan struktur/budaya organisasi (makro) membentuk satu lingkaran sebab-akibat, bukan dua bidang terpisah.
INTISARI 2
Manajemen Modern = Akumulasi Sejarah
Setiap gagasan kontemporer — motivasi, agile, budaya — berakar langsung pada kritik & penyempurnaan atas Taylor, Fayol, Weber, hingga Drucker.
Pesan penutup: memahami sejarah pemikiran manajemen bukan sekadar hafalan tokoh dan tahun — ia adalah alat untuk mengenali pola yang terus berulang setiap kali organisasi menghadapi perubahan, sehingga Anda sebagai calon manajer bisa membuat keputusan yang lebih bijak.